11 : Tertampar

1263 Words
Alyssa ada janji les dengan siswa Olimpiade hari ini. Sepulang sekolah tepatnya pukul lima sore hingga jam tujuh malam. Dia mengemasi barang-barang dan menuju ke kantor mengambil tas yang ia tinggal disana. Shilla tidak masuk hari ini karena jadwal free nya mengajar. Gadis itu memanfaatkan waktu free nya untuk kekampus. Dikantor masih ada beberapa rekan-rekan sesama PLK nya yang belum pulang. sepertinya mereka sedang mengerjakan sesuatu dan ada juga yang bercengkrama di pantri. "Belum pulang, Lyss?". Alyssa yang sedang mengambil minum bertemu dengan mereka, tentu saja. "Ini mau pulang. Kalian gak pulang?". "Bentar lagi". Kebanyakan yang tinggal sekarang adalah anak PLK dari Universitas lain. "Oh ya, Lyss. Kita mau tanya sesuatu nih". "Apa?". "Lo beneran udah nikah ya?". Tatapan Salwa, -anak jurusan ekonomi- seperti jijik kepadanya. Alyssa menghela nafas pendek "Udah. November lalu. Ada apa?". "Trus udah hamil?". Lagi Alyssa mengangguk. "Ini lagi hamil". Jawabnya cuek. Alyssa sedikit malas meladeni pertanyaan yang akhirnya akan menjurumuskan mereka untuk bersikap julid. Wahai netijen, berhentilah. Pikirnya. "Kok gak bilang ya?". Alyssa mendelik. "Buat apa bilang? Penting nya kalian tau apa coba?". Salwa bungkam. Tapi temannya yang lain malah menyahut. "Ya kan biar kami gak berspekulasi yang aneh-aneh". Kata Gita. "Kalian gak nanya juga, toh! Kenapa gue harus berkoar kalau udah nikah?". "Tapi---". "Gak berfaedah tau gak sih!". Mereka bungkam, tak berani melanjutkan. Alyssa meninggal kan mereka dengan wajah jutek. Lantas mengelus perut yang agak membuncit itu. "Sabar Lyssa! Lo harus jaga emosi dan gak boleh marah-marah". Doktrin nya pelan. Sepintas ia melihat sosok Zaki yang sedang berdiri di depan pintu masuk kantor. Pemuda itu juga menatap  dirinya. Ia teringat tadi malam saat Shilla dirumah, gadis itu bercerita kalau Zaki pernah berkata  sesuatu yang membuat hati gadis itu terluka. "Dasar b******k". Umpat nya lirih. Ia tak tega melihat Shilla yang begitu rapuh karena ucapan menghantam Zaki penuh dengan tusukan tak kasat mata. Tak ingin membuat Rio menunggu lebih lama, Alyssa pun bergegas menuju parkiran. " Lyssa tunggu!". Wanita itu berhenti. "Kenapa?". "Kamu kenapa? Kok jutek gitu sih?". Alyssa mendengus singkat. "Mau apa?". Zaki nampak bingung tapi tak kunjung melanjutkan ucapannya. Lalu Alyssa berlalu begitu saja. Namun dengan cepat di cegah oleh Zaki. "Tunggu--". "Apasih? Kalau gak ada yang mau di omongin mending pulang!". Bentak nya. Ini efek  kejadian di pantri tadi membuat Alyssa meledak tak jelas. Tiba-tiba Rio keluar dari mobil karena sedari tadi laki-laki itu memperhatikan mereka. "Ada apa ini?". Praktis Alyssa langsung masuk ke mobil nya. Zaki menatap nanar wanita itu. "Kenapa Pak?". Rio masih sopan kepada nya, masih memanggil Zaki dengan embel-embel 'Pak'. Membuat pemuda itu merasa segan kepada nya. Rio dengan secara aura dingin yang dimilikinya. "Tidak ada". Jawab Zaki cepat. Kemudian ia berlalu meninggalkan sekolah. Rio menghela nafas panjang. Hari ini terasa lelah untuknya. Terlebih masalah di kantor membuat ia memforsir tenaga. "Kamu kenapa, Lyssa?". Tanya Rio lembut. Saat Rio memasuki mobil pun, Alyssa tetap dengan mode juteknya. "Gak ada. Pulang buruan. Nanti jam 5 siswa ku datang". Ujarnya. Rio mengangguk pasrah. *** Jangan salah kan Rio kalau pemuda itu benar-benar lelah. Ia sampai jatuh sakit saking kelelahan selama seminggu ini terus pulang larut dan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Alyssa mengambil tindakan sebelum les dimulai. Ia membuatkan bubur dan memberikan obat penurun panas kepada suami nya itu. "Kamu gak siap-siap mau les?". "Kamu dulu yang aku bereskan. Biar aku gak khawatir". Rio merasa tersanjung dengan sekelumit kalimat manis itu. walaupun Alyssa mengatakan dengan nada datar, tapi ia tau Alyssa tulus padanya. "Jujur, kamu kenapa tadi?". Rio menatap Alyssa dengan serius. Sepertinya wanita itu tidak bisa berdiam lebih lama. Jadilah ia menceritakan apa yang terjadi tadi. Rio mendengar kan dengan seksama. Ada rasa jengkel juga ketika guru- guru PLK itu bertanya demikian. Dengan sabar Rio mengelus pundak Alyssa. Mencoba mendamaikan hati istri nya. "Jangan pikirkan omongan mereka ya! Kamu gak boleh stress pokoknya. Ada anak kita disini". Praktis Rio membawa telapak tangannya  menuju perut Alyssa. "Besok aku mau ke kampus. Aku free mengajar".  Kata Alyssa setelah dirinya merasa baikan. "Pergilah. Apa perlu aku antar?". Alyssa menggeleng pelan. Kemudian keluar dari kamar, membiarkan Rio untuk tidur sejenak. ** Vanya dan keempat temannya sudah datang di kediaman Samudera. cukup mudah bagi anak Olimpiade itu menemukan rumah Rio. "Kita belajar di belakang ya, biar sejuk sedikit". Kata Alyssa. Kelima muridnya itu mengangguk patuh dan mengikuti Alyssa. Vanya melihat interior rumah gurunya dengan takjub. Ia seperti pernah ke sini sebelum nya. Tapi tidak tau kapan. Ia lupa. "Gak asing deh Miss--". "Kenapa?". Tanya Alyssa. "Kayaknya aku pernah kesini tapi aku lupa kapan". Jantung Alyssa berdentum keras mendengar penyataan tersebut. Apakah Vanya kenal dengan Rio? "Oh ya? Coba diingat dulu". Sahut Alyssa berusaha santai. "Kalau gak salah sih ya, Miss waktu aku kelas 1 SMP. Tau ah aku lupa, hehe". Cengir gadis itu. Alyssa mengulas senyum simpul lalu memulai pembelajaran. Mencoba mengenyahkan pikiran buruk untuk sesaat. Selama les, Alyssa sesekali memeriksa kamar. Melihat apakah panas Rio sudah turun atau belum. Dan ya, Laki-laki itu sudah lebih baik sekarang. "Mereka sudah pulang?". "Belum. Vanya dan teman-temannya mau sholat magrib dulu disini". Rio hanya mengangguk kecil. Tak masalah baginya jika ada yang hendak beribadah dirumahnya. Toh, tak akan menggangu. Pikir Rio. ** "Miss Alyssa, makasih ya untuk hari ini. Makasih juga udah ngebolehin kami sholat". Mereka berpamitan dengan Alyssa, seperti biasa mencium punggung tangannya dengan sopan. "Sama-sama". Balas nya. "Kalau gitu kami pulang dulu ya, Miss". Alyssa melambaikan tangannya kepada mereka. Ia menghela nafas lelah tapi cukup menyenangkan baginya. *** Keesokan hari nya ia datang ke kampus. Ada yang harus ia urus untuk berkas seminar. Ya, setelah melakukan bimbingan online dengan pembimbing skripsinya, Alyssa akan seminar proposal. Di kampus ia bertemu dengan teman-temannya yang sudah lama tidak berjumpa. Salah duanya adalah Asha dan Agni. Mereka terkejut melihat Alyssa. Tentu saja. Meskipun mereka sempat meminta maaf lewat Via bulan kemarin, tetap saja mereka belum meminta maaf secara langsung. "Lyssa". Panggil Agni. Gadis itu menunduk dalam, masih merasa bersalah. "Gue udah maafin lo berdua kok". Kata Alyssa tenang. Asha dan Agni kompak menatap satu sama lain. Ada rasa lega, tapi tetap saja mengganjal tak rela. "Via udah cerita. Semua udah lewat--". Tanpa pikir panjang, Asha dan Agni langsung memeluk nya dengan erat. sama seperti Via waktu itu. Mereka menangis di pundak Alyssa. Pun, dengan Alyssa kini. "Maafin kita, Lyss. Maaf banget. Entah apa harus kami lakukan untuk menebus rasa bersalah ini--". "Gak perlu, Sha. Kalian tetap jadi sahabat gue aja udah cukup. Lebih dari cukup". Ujar Alyssa. "Kenapa lo baik banget? Kenapa gak lo tampar aja kita berdua? Padahal kita udah jahat banget ninggalin lo dan abaikan elo ketika dibawa orang lain". Agni semakin terisak dan Alyssa menenangkan nya. "Gue dilahirkan bukan untuk jadi pembenci ataupun pendendam. Sia-sia hidup gue kalau gitu". Lanjut wanita itu. Asha terkekeh sekaligus menitikkan air matanya. Diantara mereka berempat, Alyssa memang yang kalem. Tapi sekali berbicara, bisa melambung kan dirinya sendiri. Alis pede. Disaat haru biru seperti ini contohnya. "Jangan nangis lagi. Kalian ga malu apa sama anak gue?". Agni pun meredakan tangisnya. "Lyss, soal waktu itu. Kita udah tau siapa yang masukin obat ke minuman lo". Alyssa terdiam. "Fano. Fano yang masukin obat itu ke minuman lo. Ada buktinya kalau lo nggak percaya". Lanjut Asha. Gadis itu membuka galeri dan memperlihatkan video berdurasi satu menit yang menampakkan sosok Fano Erwandha, salah satu teman sejurusan nya --tapi beda prodi-- sedang memasukkan suatu bubuk putih kedalam minuman. "Yang ngambil video ini Davin, pacar Agni". Kata Asha menambah kan. Alyssa tak percaya jika Fano lah dalangnya. Padahal Fano yang berbaik hati mengajaknya untuk merilekskan diri di acara tersebut. Tapi ternyata Fano memiliki rencana lain. "Alyssa! Long time no see, dear!" Alyssa berbalik dan harinya jatuh begitu saja. *** #SalamAnakRantau
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD