Mereka terkejut melihat seseorang yang datang itu. Belum sampai dua menit ternyata lelaki itu menampakkan dirinya.
Fano berjalan santai dan gagah disertai seringaian tipisnya. Dia menyentuh pundak Alyssa dengan lembut namun segera ditepis oleh wanita itu.
Agni dan Asha sudah siap memasang diri untuk melindungi sahabat mereka.
"Lo sombong banget sih! Lama gak jumpa jadi berubah gini ya". Celoteh Fano. Alyssa hanya diam tak ingin menyahut. Fano lah yang berhasil merusak masa depannya.
"Ngomong dong, Lyss. Kenapa jadi diam begini?". Fano masih saja menuntut tak jelas. Lalu Alyssa menghela nafas pendek.
"Sorry to say, but gue musti pergi ngurus seminar. Bye gais!". Kata nya. Fano yang tak Terima ditolak sedemikian rupa cepat-cepat menahan lengan wanita itu.
"Lo kenapa Lyssa?".
"Gak ada. Semoga Tuhan membuka kan pintu hati yang baik untuk lo, ya!". Sahut alyssa kemudian. Fano yang tak mengerti lantas menatap kedua sahabat Alyssa.
"Lo bodoh atau emang bodoh banget, Fano? Lo lupa apa yang udah lo lakuin beberapa bulan lalu ketika kita di diskotik?". Bulu kuduk Fano meremang karena ucapan Asha kembali membuka ingatan nya.
Tak pelik, Fano hanya tersenyum sinis "Yah, gue inget. Sayang rencana gue gagal total karena dia lari entah dengan siapa". Tanpa pikir panjang Fano menyusul Alyssa.
"Bener-bener deh ya! b******n kuadrat dia! Kita harus cegah hal buruk terjadi, Ag! Gue gak mau Alyssa dan bayi nya kenapa-kenapa". Kata Asha.
Agni mengangguk setuju lalu menyusul mereka dalam diam.
**
Alyssa sudah mendaftarkan seminar nya kepada ketua jurusan. Ia akan seminar seminggu lagi, untuk itu Ia akan mencari dosen yang akan menjadi dosen pembahas di seminar nya. Alyssa berharap hari ini akan cepat berlalu.
Lagi-lagi ia melihat Fano yang berjalan tergesa,, bukan lebih tepatnya mengajar dirinya. Alyssa harus ekstra sabar.
"Lo daftar seminar, Lys?". Alyssa mengangguk seadanya. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Ia melirik jam yang ada diponsel yang sudah tertera pukul setengah sebelas.
Ia mendesah lirih, ia ingin makan siang bersama. Entahlah ia ingin terus bersama Rio. Ia takut Rio sibuk jika ia meminta.
Menyadari raut wajah wanita yang ia dekati berubah murung, Fano dengan sigap bertanya
"Lo sedih kenapa?".
"Gue mau makan, tapi belum jam makan siang". Kata nya.
Fano terkekeh, apa hubungan nya? Makan ya makan, pikir lelaki itu.
Tapi tak dengan Alyssa "Yuk gue temenin!". Alyssa langsung menepis tangan Fano yang serta merta dari tadi menyentuh.
"Gak mau, Fan. Gue mau cari dosen pembahas dulu".
"Tapi lo bilang mau makan--".
"Bisa nanti. Gue harus cepat". Alyssa berlalu meninggalkan Fano.
"Sialan! Gue ditolak lagi!". Umpat nya tak suka.
"Oke gapapa, kali ini lo bisa lepas. Tapi besok jangan harap bisa, Alyssa!".
***
Di lain tempat, sebuah kantor terbesar di Asia bernama Sams Techno Company, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan industri dan dipimpin oleh CEO muda yang sebentar lagi akan lulus dari sekolah menengah nya.
"Rio, kamu sudah selesai?". Seorang wanita diperkirakan berumur 45 tahun bertanya. Ia melihat bos nya itu tengah minum untuk melegakan dahaganya.
"Sudah Tante! Apa mereka sudah datang?". Jiani mengangguk lalu membawa berkas penting yang sudah di tanda tangani Rio.
Jiani adalah sekretaris diperusahaan nya. Wanita paruh baya itu merupakan sekretaris papa nya dulu. Dan ia tak berniat menggantikan posisi Jiani. Karena ia tau seperti apa Jiani.
Sejak awal ia dibawa ke perusahaan dan diperkenalkan sampai kedalam-dalamnya, termasuk kepada Jiani. Sejak dari sanalah ia memanggil Jiani dengan sebutan 'Tante'.
Jiani sendiri sudah berkeluarga dan memiliki dua anak berusia 10 tahun. Maklum, wanita itu dan sang suami sempat belum mendapatkan rejeki ketika beberapa tahun menikah. Tapi sekarang, syukurlah keluarga mereka telah lengkap dengan hadirnya anak.
Berbicara anak, pikiran Rio langsung tertuju kepada istri dan calon bayi mereka. Ia merindukan mereka berdua.
Ingin rasanya Rio menghubungi Alyssa tapi takut mengganggu wanitanya karena ia sibuk mengurus seminar proposal.
Ya, Rio sudah mendapatkan berita itu sebelum pergi bekerja tadi.
"Kamu kenapa Rio?". Tanya Jiani.
"Gak ada tante. Aku cuma rindu Alyssa, belakangan ini waktu kami berdua sudah mulai jarang". Keluh Rio. Jiani tersenyum dan menepuk pundak Rio yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
"Namanya juga bekerja, waktu mu pasti akan tersita, Nak! Aku dan suami ku pun begitu. Tapi kami mencoba untuk saling memahami dan percaya satu sama lain. Dan meluangkan waktu dihari libur". Kata Jiani.
Rio selalu tenang jika Jiani sudah berkata yang membuatnya semangat lagi. Sebelum menikah pun, ia juga minta pendapat Jiani akan bagaimana dirinya nanti.
"Hari minggu kalau kalian berdua gak sibuk, datang lah kerumah. Tamara dan Tiffany berulang tahun yang ke 10". Rio tersenyum mendengar nya. Kedua adik kembar nya akan merayakan pesta. Sudah pasti ia akan datang.
"Nanti Rio bicara dengan Alyssa, Tan. Semoga dia mau ikut". Jiani mengangguk paham. Lalu rapat besar itu dimulai hingga jam makan siang tiba.
**
"Pak Rio!". Seseorang memanggil nya. Rio mendapati seorang wanita dengan tinggi yang hampir sama dengan dirinya berjalan tergesa menghampiri.
Seakan tau privasi atasannya, Jiani menghela langkah dari Rio.
"Maaf, menganggu waktu bapak. Saya Rena sekretaris dari Pak Saddam". Rio mengangguk paham. Ia ingat Pak Saddam adalah relasi bisnisnya. Namun sayang, beliau tak nampak hadir dan hanya digantikan oleh sang sekretaris.
"Ada apa?". Tanya Rio. Sejenak Rena mengangumi sosok tampan yang berbalut jas mahal itu. Ia bisa merasakan otot-otot kencang Rio mencuat dibalik jas tersebut. Ia wanita modern dan metropolitan. Sudah khatam soal pria tampan dengan segala isinya. Ewhh.
Rena tersenyum manis dan menyerahkan sebuah amplop kepada Rio.
"Untuk?". Kekakuan dan sikap jutek Rio menambah kesan hot untuk Rena kepada nya. Dan Rena harus memiliki itu semua.
"Pak Saddam menitipkan berkas ini untuk bapak, beliau berpesan demikian". Tanpa menunggu lama Rio menerima amplop tersebut lalu berterima kasih dan pergi begitu saja tanpa repot-repot mengajak Rena.
"Pak Rio ingin makan siang?". Rio sedikit jengah dengan panggilan 'Pak' yang disematkan untuk dirinya. Apalagi ia tau kalau Rena pasti lebih tua diatasnya. Mungkin sudah hampir kepala tiga. Pikir Rio.
"Ya--". Jawab Rio menggantung. Mereka berhenti di lift yang sama dan turun di lantai yang sama.
Rio ingin menjemput Alyssa ke kampus wanita itu. Perdana untuknya karena Alyssa yang meminta setelah ia selesai rapat tadi.
"Makan siang dimana Pak?". Rena masih saja berusaha bersikap ramah. Padahal menurut Rio, tak perlu repot-repot.
"Untuk apa anda tau?". Tanya Rio dengan suara beratnya. Dia menatap tajam Rena yang mati kutu.
Rena hanya membalas dengan senyum sensualnya lalu merapatkan tubuh nya ke d**a bidang Rio. Beruntung banyak yang satu lift dengan mereka dan kesempatan bagus untuk nya karena posisi Rena yang bisa dibilang terjepit.
Rio menghela nafas muak melihat tingkah sekretaris Pak Saddam ini. Ingin rasanya ia menarik Rena dan menjatuhkan nya dari lantai paling tinggi di gedung ini.
Rena sengaja menempelkan dirinya hingga orang-orang dihadapanya keluar dari lift. Kini hanya tinggal mereka berdua. Dan Rio sudah mendorongnya dengan kasar.
"Awww!". Rintih Rena karena punggung nya terbentur dinding lift. Rio tak mau memusingkan.
"Pak Rio kenapa dorong saya sih?". Bentak Rena. See, Rio benar kan. Perempuan lintah itu sangat memuakkan.
"Tanyakan pada diri mu sendiri, Nona". Decis Rio lalu meninggalkan Rena sendirian.
Rena yang tak Terima ditinggal begitu lantas mengikuti Rio.
"Ah! Anjing gak dikasih makan gini nih". Rio tetaplah Rio dengan segala kalimat b***t yang keluar dari mulut seksinya.
"Pak Rio tunggu!". Banyak pasang mata yang menatap minat terhadap mereka. Hal itu membuat Rio murka kepada Rena. Reputasi nya bisa buruk setelah ini.
"Apa mau kamu Rena?".
"Ikut makan bersama pak Rio". Jawabnya dengan senyuman manis. Tapi tak membuat Rio terpikat.
"Cari saja laki-laki lain. Jangan aku--". Tapi Rena menahan lengan Rio. Wanita itu gugup sebenarnya, tapi demi bisa mendapatkan Rio. Ia harus tahan dengan sikap dingin pemuda itu.
"Kalau saya tetap mau dengan Pak Rio gimana?". Rio mendengus. Ia masih berusaha sopan tapi kali ini seperti nya tidak lagi.
Rio melepas paksa jemari lentik itu dan mendorong nya sekali lagi, tapi untung Rena tidak jatuh.
"Dan kamu akan menyesal, Rena!". Bisik Rio tepat di telinga nya.
***
Meninggal kan mood buruk saat keluar dari kantor, Rio sudah menunggu Alyssa di kampus nya. Ia mendapatkan pesan kalau wanita itu sedang berjalan dari kantor jurusan.
Tak berapa lama, sosok itu muncul dengan wajah lelahnya. Rio dengan sigap keluar dari mobil dan membuka kan pintu untuk istrinya.
"Capek ya?". Alyssa mengangguk lesu. Sebelum memasuki mobil, Alyssa berpamitan dengan kedua sahabat nya setelah sebelumnya Rio juga mengajak mereka, tapi di tolak dengan halus oleh Asha dan Agni.
"Mau makan dimana?". Tanya Rio. Alyssa tampak sangat lelah, membuat Rio menjadi tak tega.
"Di restoran dekat kantor kamu aja. Biar nanti pulang nya gak terlalu jauh". Usul nya. Rio mengangguk patuh dan mulai melaju kan mobilnya.
"Sudah dapat jadwal seminar?".
"Sudah, minggu depan di hari yang sama dengan sekarang".
"Perlu bantuan?". Alyssa ragu dengan tawaran tersebut. Ia tau kalau ketiga sahabat nya pasti akan membantu, tapi apakah ia boleh menerima tawaran Rio tersebut?
"Sayang--". Alyssa menoleh dan tersenyum seraya menggeleng pelan.
"Gak usah, Rio! Ketiga sahabat ku akan membantu. Kamu tenang saja".
"Yakin?". Alyssa mengangguk pasti, meski sedikit tidak rela.
Munafik lo
Rio pun mengalah dan memberi kebebasan pada istrinya itu.
***
Sesampainya di restoran, mereka duduk di tempat yang sudah disediakan. Rio memesan makanan yang Alyssa inginkan. Seperti wanita itu benar-benar kelelahan.
"Habis ini pulang ya!".
"Gak mau, aku ke kantor kamu ya!". Pinta Alyssa.
"Mau ngapain? Nanti kamu bosan, Lyssa---".
Air muka nya berubah keruh, sebuah penolakan yang membuat dirinya sedih.
Rio langsung mengerti apa yang wanita itu inginkan. Ia sudah hapal petuah dari Jiani soal ibu hamil.
"Yakin gak akan bosan? Aku pulang lama loh". Kata Rio.
"Kamu punya perpustakaan di ruangan mu, aku mau baca buku di sana. Dan aku juga mau tidur kalau aku lelah seperti sekarang ini--".
"Tidur dirumah saja--".
"Tapi aku bakalan sendiri, Rio".
"Kamu gak mau sendiri?". Alyssa menggeleng cepat, membuat Rio terbahak
"Apa anak kita merindukan papa nya?". Alyssa menahan senyum nya dan merasakan wajahnya sedikit memanas.
"Atau justru mama nya yang merindukan papa nya?". Wajah Alyssa semakin memanas di goda seperti itu oleh Rio. Mau tak mau Rio tersenyum lebar melihat tingkahnya.
"Jadi yang mana? Ayo jawab!". Kata Rio. Alyssa mencibir tak guna lalu memakan hidangan yang sudah diletakkan.
"Kamu tau apa Jawaban, Rio". Sahut Alyssa tenang. Tapi Rio malah pura-pura tak mengerti maksdnya.
"Apa? Jujur saja, Lyssa. Kenapa kamu malu begitu?". Tatapan mendelik ia layangkan untuk suami nya itu. Rio semakin terbahak.
"Oke-oke, aku tau. Kamu merindukan suami ini kan?". Alyssa mengangguk malu-malu dan Rio tak tahan untuk menghujani nya dengan ciuman di bibir. Alyssa hanya bisa pasrah tapi ia cukup senang. Ia merindukan Rio, sangat. Karena lelaki nya itu sibuk bekerja demi mereka.
"Hai Pak Rio! Kita bertemu lagi!".
****
#SalamAnakRantau