13 : Lintah Busuk

1297 Words
Rio mendengus tak suka akan kehadiran Rena yang tiba-tiba dihadapan mereka. Apalagi Ify sempat terkejut. Gadis cantik itu melayangkan tatapannya kepada Alyssa "Bapak dengan siapa?". "Sok posesif banget Lo". Bisik Alyssa dalam hati. "Untuk apa kamu harus tau?". Balas Rio tak sungkan. Rena malah terkekeh manis, lalu ia duduk di sebelah Rio tanpa permisi. "Kamu bisa cari tempat duduk lain, kenapa harus disini?". Tanya Rio tak suka. Tapi Rena tetaplah Rena dengan segala muka tembok nya "Saya ingin bersama pak Rio, boleh kan pak?". "Tidak!". "Kita pergi saja, Lyssa!". Tanpa menunggu jawaban Alyssa, Rio membawa wanita itu pergi. Rena menatap tajam kepergian mereka. Ia harus mendapatkan Rio apapun caranya. Dan siapa juga wanita yang bersama nya itu? Jelas dirinya lebih cantik dibanding manusia yang bersanding dengan Rio tadi. Pikirnya. "Siapapun elo, lo gak akan bisa dapetin Pak Rio! Karena dia cuma buat gue". Katanya pasti. *** Alyssa hanya diam menuruti kemana langkah Rio membawa nya. Alyssa tau, jelas suaminya itu sedang emosi sejak menjemput nya tadi. Jangan kira ia tak tau, ia sangat tau. "Kita makan disini gapapa?". Tanya Rio ketika mereka sampai di tempat pedagang kaki lima. Alyssa mengangguk saja, ia juga tak keberatan. Toh, dulu sebelum menikah ia suka makan ditempat seperti ini. "Kamu gak tanya yang tadi itu siapa?". Pancing Rio. Alyssa menghela nafas panjang, ia ingin. Tapi ia yakin Rio pasti akan menjelaskan, karena dalam hidupnya kepercayaan seseorang lebih penting dalam sebuah hubungan. "Kamu mau menjelaskan?". Rio mengangguk santai. Pesanan mereka datang dan Rio dengan lahap memakannya. Padahal ia punya kafe, tapi ia belum pernah mengajak Alyssa ke kafe miliknya. "Dia sekretaris relasi bisnis ku di kantor. Namanya Rena. Dan ya, selebihnya kamu bisa tau dia seperti apa". Jelas Rio. "Kayak nya dia suka dan terobsesi sama kamu". Alyssa wanita dewasa dan mungkin Rena itu juga sepantaran dengan dirinya, wajar kalau Alyssa sedikit tau. "Itu urusan dia, Lyssa. Aku gak peduli!". Bantah Rio tak suka. Alyssa malah berdecak "Ya kalau dia ngotot mau sama kamu dan rebut kamu gimana? Aku jadi janda gitu?". Rio terbahak mendengar nada jutek itu, lalu ia mengelus punggung tangan Alyssa "i'm with you, Lyss. Sampai kapan pun, aku gak akan berpaling". Kata nya mantap. Ditatap seperti itu oleh Rio, membuat Alyssa jumpalitan tak karuan. Hatinya serasa di terbangi ribuan kupu-kupu. "Gak usah gombal deh!". Rajuknya. "Siapa yang gombal sih, ibuk? Gak ada!". Sahut Rio kalem. Alyssa mencebik kesal. Makan siang mereka di warnai canda tawa dan saling lempar hujatan untuk Rena. Apalagi Alyssa tau, ia tak ingin cemburu hanya karena lintah busuk itu terus mencari perhatian suami nya. "Jadi mau ke kantor?". Alyssa mengangguk. Ia memeriksa email nya dari dosen pembimbing terkait apa saja yang harus di persiapkan untuk minggu depan. Hah, Alyssa merasa terbantu. **** Sesampainya di kantor, banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Wajar, Alyssa tidak pernah sebelum nya datang ke kantor besar itu. Ini pertama untuknya. "Ayo, jangan takut gitu dong!". Kata Rio sembari merangkul nya erat. Alyssa sedikit risih dengan tatapan kepo dari para karyawan disana terhadap dirinya. Tentu saja mereka penasaran. Ditambah lagi perutnya yang sedikit membuncit. Seakan tau apa yang dirasakan oleh istrinya, Rio melayang kan tatapan tajam kepada mereka yang langsung di mengerti saat itu juga. Saat di lantai tertinggi gedung ini, Rio dan Alyssa berpapasan dengan Jiani yang baru saja keluar dari pantry. Ibu dua anak itu tersenyum lebar kepada mereka. "Alyssa! Apa kabar sayang? tante rindu sama kamu!". Seloroh nya. Alyssa hanya sekali bertemu dengan Jiani saat mereka menikah beberapa waktu lalu. "Puji Tuhan baik tante. Tante apa kabar? Adik kembar ku gimana dirumah?". Tanya Alyssa "Puji Tuhan sama baiknya dengan kamu, Nak! Ah iya, mumpung kamu disini, tante mau ngundang kamu untuk acara hari minggu--". "Acara apa Tante?". "Tamara dan Tiffany ulang tahun, kalau kamu dan Rio gak sibuk datang ya, Boru". Kata Jiani aksen batak nya. Alyssa mengangguk pasti karena dia juga merindukan anak kembar itu. "Pasti, Tante. Pulang gereja aku sama Rio datang ke sana". Jiani tersenyum lebar dan melepaskan mereka yang akan memasuki ruangan Rio. Rio merasa lega melihat Alyssa yang terus tersenyum dan terasa lepas seperti itu. Ia tak suka wajah cantik itu berubah mendung dan menebarkan kesedihan. Entahlah, Rio merasa sakit. "Aku tidur aja deh, ngantuk". Kata Alyssa. Rio menggeleng heran karena sikap labil ibu hamil itu. Lalu, tanpa menunggu perintah dua kali Rio menuntun Alyssa ke kamar yang ada disana. *** Agenda hari minggu sudah terlaksana, Rio dan Alyssa menepati janji mereka untuk datang ke acara ulang tahun si kembar Tamara dan Tiffany. Kini mereka sedang bersantai karena acara anak-anak sedang berlangsung. "Kak Alyssa orang Kalimantan kan, ya?". Maria, keponakan Jiani bertanya. "Iya, tinggal nya aja di Kalimantan. Tapi asli nya  bukan dari sana". Jawab Alyssa. "Lah terus darimana kak? Kalau Batak tapi marga kakak gak ada, hehehe". Cengir Maria. Alyssa terkekeh melihatnya. Iya, dia memang lahir dan besar di Kalimantan. Tapi kedua orang tua nya asli dari Sumatera Utara. Mereka hanya merantau ke Tanah Banjar itu. "Marga Kakak ada. Cuma selama ini jarang kakak publikasi". Jawab nya kalem. "Wah iya? Apa kak?". "Sama kayak kamu, Silalahi juga. Sedangkan Marga Ibu ku Nainggolan". Maria mengangguk paham. Lama di Kalimantan membuat Alyssa lebih memakai nama hanya sebatas Gemintang, tidak dengan embel-embel Silalahi. Semenjak kedua orang tua nya meninggal ketika ia masih berusia 10 tahun. Makanya ketika melihat Tamara dan Tiffany diusia sekarang, ia bersyukur kedua anak itu tidak bernasib sama dengan dirinya. "Menurut ku terlalu panjang sekali. Susah untuk orang mengingat nya". Lanjutnya seakan tau apa yang Maria ingin tanyakan. "Wah, Bang Rio gak punya ya kan Kak?". "Siapa bilang gue gak punya Marga?!". Sahut Rio dengan minuman ditangannya. Lelaki itu mendelik tak suka dengan pertanyaan Maria. Sedangkan Maria terbahak melihat ekspresi kesal Rio. "Gue punya ya! Sama kayak Alyssa, nama gue terlalu panjang banget kalau di pakein Marga". Katanya santai. Maria mencebik mendengar nada sok itu "Apa coba Marga kau, Bang?". "Panjaitan! Dah, masuk sana! Aku mau ngomong dulu sama Alyssa". Usirnya. "Yeee ini rumah ante ku! Ngapa aku pula yang kena usir?". Tapi Maria tetap beranjak dari sana. Alyssa menggelengkan kepala nya. Heran melihat tingkah mereka berdua. "Alyssa!". "Kenapa?". "Aku harus ke Batam malam ini, ada masalah di kantor cabang disana". Kata Rio lesu. Alyssa menghela nafas pendek. Lagi, ia ditinggal oleh Rio. Ia ingin protes, tapi rasanya tak berhak. "Berapa lama?". "Dua hari paling lama. Aku usahakan segera pulang". Alyssa mengangguk saja, lalu ia pun berdiri. "Loh mau kemana?". "Pulang lah! Kamu belum packing kan?". Tanya Alyssa dengan senyum lembut nya. Rio menyambut senyum itu tak kalah lembut. Mereka berpamitan dengan Jiani dan keluarga wanita itu lantaran harus pulang. *** Keesokan hari nya Alyssa ke sekolah sendirian. Awalnya sebelum berangkat tadi malam, Rio sudah menawarkan agar dirinya menginap di rumah Jiani saja, tapi ia tak ingin. Sama seperti ia ditinggal sebelum-sebelumnya, Alyssa selalu dirumah sendiri. Kalau pun ada teman, itu pun Ananta yang sesekali berkunjung sepulang wanita itu sekolah. "Eh lo!". Alyssa terkisap saat ada yang memanggilnya. Alyssa mendapati Rena yang menatapnya tajam. Ia mencoba untuk tak mengambil pusing. "Ada apa?". Rena menatap nya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. "Lo guru disini?". Alyssa mengangguk santai. "Ada perlu apa? Saya sibuk bentar lagi bel masuk". Kata Alyssa. Mereka berpapasan di dekat gerbang sekolah, entah mengapa bisa ada Rena di sekitaran sekolah. Alyssa juga tak tau. "Ck! Sombong banget sih lo!". Desis nya. Alyssa hanya diam, ia malas untuk mencari perkara apalagi ia tau kalau Rena secara terang-terangan menyukai Rio. "Eh udik! Lo ada hubungan apa sama Pak Rio? Lo simpenan nya ya? Ngaku lo!". "Iya gue simpenan nya dirumah. Puas?". Sayang, kalimat itu tak sampai ke wajah Rena. Alyssa hanya menelan kembali. "Lo diam berarti iya!". Lanjutnya. Lalu wanita hamil itu berbalik menatap malas Rena. "Hell you! Jalang kalau belum dapat kepuasan emang gitu ya! Suka nya ngegas mulu". Bisik nya tajam. Rena terdiam dan tak berkutik mendengar ucapan tersebut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD