Saat itu, Immanuel Gildan masihlah kecil. Saat militer hitam Dallas di bawah kepemimpinan Jenderal Akram menyerbu massal persembunyian para pemberontak tanpa ampun dan besar-besaran. Seluruh militer dikerahkan tanpa henti, membuat Organisasi Partai Merah bersamaan Distrik Sopa lari untuk menyelamatkan diri menyebar ke seluruh penjuru distrik dari kejaran militer hitam Dallas yang membabi-buta.
Yang sayangnya, berujung kegagalan. Militer hitam Dallas adalah militer terbaik yang pernah ada. Mereka terlatih tangguh dan bukan main sebagai sosok yang kuat dan tak goyah. Organisasi Partai Merah hanya mengandalkan beberapa teknik melarikan diri seadanya.
"Gildan, setelah ini kau harus lari. Tidak peduli kemana pun, karena Jenderal Akram tidak akan memberi ampun pada kami dan keturunan kami."
Immanuel Gildan saat itu berusia sepuluh tahun. Dia menatap nanar kedua orang tuanya yang tengah bersiap dengan pakaian siap mati mereka. Dia bergetar. Tangannya menggapai lengan sang ibu dengan air mata. "Jangan tinggalkan aku, ibu."
Wanita cantik itu menggeleng pelan. Dia memeluk putra semata wayangnya dengan isakan pilu. "Ibu ingin tetap di sini. Ingin tetap bersamamu. Tapi ini pilihan. Kita hidup di dalam prinsip. Ibu yakin, Gildan akan baik-baik saja." Tangannya terjulur mengusap helaian merah sang anak. "Jadi anak yang kuat, ya? Ibu menyayangimu."
Immanuel Gildan masih begitu kecil dan rapuh ketika dia memandangi para orang tua yang terjun ke medan perang meninggalkan anak-anak mereka yang sebagian melarikan diri dan sebagian tetap bersikeras duduk menunggu orang tua mereka kembali.
Yang sayangnya, tidak akan pernah kembali.
Immanuel Gildan terus membawa kaki kecilnya masuk semakin dalam ke hutan. Dia berlari kencang, menyerbu semak-semak untuk membuat dirinya tetap aman dari buruan militer hitam Dallas yang mengejarnya karena dia melarikan diri dari tempat persembunyian yang diburu para militer.
Ledakan demi ledakan terjadi. Immanuel Gildan menutup telinganya ketika dia sampai di tengah hutan dan tersandung akar pohon hingga tubuh kecilnya terluka cukup parah. Dia terguling bebas dan kepalanya terantuk batu besar hingga berdarah.
Tubuh rapuhnya tidak lagi sanggup berdiri. Immanuel Gildan mencoba bangun dan dia tidak mampu menyeret kaki kecilnya untuk berlari karena terlalu sakit. Dia kembali terjatuh, tubuhnya terbanting di atas tanah dengan keras. Membuat luka-luka itu semakin menjadi.
Dia meraih apa pun untuk berpegangan saat dia mendengar suara derap mobil mendekatinya. Immanuel Gildan pucat bukan main. Dia memaksakan diri untuk terus berlari sampai akhirnya kembali terjatuh dan terguling di atas tanah yang keras dan kering.
Sosoknya tersembunyi di balik semak belukar saat Immanuel Gildan menggulung dirinya sendiri untuk menyamar. Sang ayah pernah memberi sedikit pengetahuan padanya untuk mampu beradaptasi dimana pun kau berada saat pihak militer Dallas menggempur mereka suatu saat nanti.
Samar-samar dia menahan napas. Tidak memedulikan lelehan darah yang keluar dari luka sobek di kulitnya. Dia menutup mata, menarik napas untuk paru-parunya yang terasa kosong karena terlalu lama berlari.
Hampir dua puluh menit berlalu, tidak ada satu pun militer yang menemuinya. Mereka tidak mungkin membabat habis hutan pohon pinus hanya untuk mencari pemberontak yang membahayakan kelestarian hutan. Jenderal Akram melarang para militer membabat habis seluruh hutan yang tumbuh di dalam Dalla. Mereka bisa menyisir pemberontak dengan alat canggih, bukan merusak kelestarian hutan yang dijaga.
Immanuel Gildan bangun dan menatap sekitar. Setelah aman, dia berlari sekali lagi untuk pergi dan mencari rumah warga terdekat yang dia singgahi sementara waktu.
Kaki kecilnya berpijak gontai saat dia sampai di sebuah distrik mungil yang tampak temaram karena tertimpa cahaya bulan. Penerangan yang seadanya namun cukup membantu Immanuel Gildan berjalan membelah distrik yang sepi dengan langkah tertatih.
"Astaga. Siapa kamu?"
Immanuel Gildan menolehkan kepala menatap salah satu wanita muda yang bergerak turun dari rumah mungilnya. Menghampirinya dengan mata membelalak. "Kenapa kau terluka?"
Immanuel Gildan selalu mengingat pesan sang ibu untuk tidak pernah memberitahu identitas siapa pun tentangnya dan tentang keluarganya pada orang lain yang bukan militer.
"Aku terluka."
Immanuel Gildan menatap mata bulat itu dengan sorot hancur. "Tolong aku." Dia berlutut, menahan sakit yang amat sakit mendera di tubuh kecilnya. Rasa sakit itu semakin tak tertahankan.
Wanita itu mengedarkan pandangannya dengan takut-takut. "Aku ingin menolongmu. Hanya saja ..." dia menahan napas cukup lama. "Baik. Aku akan menolongmu. Setelah kau pulih, kau tidak boleh tinggal di sini. Kau paham?"
Kepala mungil Immanuel Gildan mengangguk penuh. Dia tersenyum parau dan wanita itu hanya mengerjap singkat. Dia membawa Gildan masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan kecilnya.
"Ibu?"
"Sssh, Athena. Kenapa kau bangun? Ini masih tengah malam."
Kedua mata anak manis itu terpejam. Dia mengusap-usap kedua matanya dan sepasang iris hijau seluas hutan pinus itu membuka perlahan. Immanuel Gildan menatapnya dalam diam. Dengan penampilannya yang penuh luka dan berantakan, begitu berbanding terbalik dengan penampilannya yang bersih dengan piyama tidur mungilnya.
"Dia siapa?"
Tanpa ada rasa takut, anak berambut merah muda itu berjalan menghampirinya. Dengan senyum yang perlahan-lahan merekah polos. "Aku, Athena! Salam kenal."
Immanuel Gildan menengadah menemukan tatapan hangat dari wanita muda itu jatuh pada anak kecil di bawahnya. Matanya mengerjap, menemukan tatapan yang sama saat ibunya menatap mata Immanuel Gildan beberapa jam yang lalu sebelum sang ibu pergi untuk selamanya.
"Gildan ..." Immanuel Gildan mengangguk pelan dan anak perempuan itu tertawa sekali lagi. Dia memeluk kaki wanita muda yang dia panggil ibu dengan sayang.
"Aku tidak bisa tidur, ibu."
"Baik, baik, ibu akan menemanimu. Tapi pergilah ke kamarmu dulu. Ibu akan membersihkan luka anak manis ini dulu." Sang ibu membungkuk untuk mengusap kepala kecilnya dengan sayang.
Kepala merah muda sebahunya mengangguk pelan. Dia menatap Immanuel Gildan dengan tatapan polos dan kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Nah, Gildan. Namamu Gildan, kan?" Wanita muda itu membawa tubuh lemas Gildan ke atas kursi kayu. Dia membawa obat-obatan yang diberikan laboratorium Dalla dengan senyum. "Namaku, Felice Evie. Panggil aku Evie saja cukup. Dan anak manis yang kau lihat tadi, dia putriku."
"Berapa usianya?"
Felice Evie mengintip ekspresi kaku Immanuel Gildan dengan senyum tipis. "Lima tahun. Dan dia baru saja berulang tahun."
Immanuel Gildan meringis saat kapas-kapas bersih itu menekan lukanya cukup dalam. Rasa dingin dari cairan penyembuh itu perlahan-lahan menjalar membuat perasaannya lebih baik.
Seketika rasa rindunya pada sang ibu menyeruak ke dalam dadanya dengan hantaman rasa sakit. Dia tahu, sangat tahu bahwa sang ibu tidak lagi ada di dunia ini.
Bahkan mungkin bersama ayahnya.
Mata Immanuel Gildan terpejam erat. Dia harus kuat. Tekad yang diturunkan dari kedua orang tuanya haruslah hidup di dalam dirinya. Immanuel Gildan akan menempuh jalan lain untuk menebus segalanya demi masa depan anggota Partai Merah yang kini entah tersembunyi di mana. Ketika keadaannya membaik, Gildan harus mencari mereka dan mengumpulkannya menjadi satu kesatuan kembali.
"Sudah selesai."
Felice Evie tersenyum samar menatap luka-luka yang telah dia tutupi dengan kapas dan plester. Dia menunduk, menatap ekspresi datar Immanuel Gildan dengan alis mengernyit. "Tidurlah. Kau pasti lelah."
Immanuel Gildan mengangguk pelan. Dia mengikuti langkah lirih Evie di sepanjang lorong sampai Evie menggelar kasur kecil dengan selimut untuk Immanuel Gildan beristirahat. "Hanya ini yang aku punya."
Kepala Immanuel Gildan menggeleng kecil. "Tidak apa."
Evie tersenyum pahit. "Distrik Nine, sesuai namanya hanya tinggal sembilan kepala keluarga yang menempati distrik ini. Kami semua adalah pengrajin bulu domba. Aku dan putriku hidup dari uang hasil kerja kerasku. Sejak kecil, aku ditinggal pergi suamiku karena sakit keras. Aku harus bekerja ekstra demi Athena.”
"Darimana asalmu?" Evie membalut luka itu dengan senyum hangat. Dia membalur salep ke luka-luka Gildan yang mongering dengan hati-hati.
Immanuel Gildan menunduk, menipiskan bibir tanpa menjawab. Seketika juga Evie merasa bersalah. Dia menghela napas, mengusap bahu tegang Gildan dengan anggukan pelan. "Maaf. Kalau begitu, aku akan pergi ke kamar. Jangan sungkan untuk membangunkanku saat kau butuh sesuatu."