38

1089 Words
Immanuel Gildan memejamkan mata ketika dia membidik burung kecil yang bertengger di dahan dalam diam. Setelah mengenai target, dia membidiknya dengan katapel kecil dan berhasil, burung itu terkena batunya dan terbang bebas untuk melarikan diri. "Jangan sakiti burung itu." Immanuel Gildan menoleh dan menemukan Athena berlari mengejarnya dengan tatapan marah yang polos. "Kenapa kau jahat sekali pada makhluk hidup? Mereka tidak berlaku buruk padamu. Jangan terlalu jahat pada makhluk lain.” "Aku hanya—" Immanuel Gildan mengatupkan bibir. Menatap Athena dengan gaun polosnya berdiri di depan matanya. Karena tubuhnya yang jauh lebih kecil, gadis itu cemberut padanya dengan menggemaskan. "—iseng." "Iseng?" Alisnya terangkat naik. "Jangan sakiti mereka. Bermain saja dengan anak lain." Setelahnya, Athena masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Immanuel Gildan yang termenung. Dia menatap kepergiannya dalam diam. Gadis kecil itu bahkan membanting pintu di belakang rumahnya dengan keras karena dia jengkel pada Gildan. Immanuel Gildan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan memang pada dasarnya dia bukan tipe yang mudah bergaul, dan ini sulit untuknya hidup di lingkungan yang baru. Apalagi bermain dengan anak-anak lain? Evie berlari menghampirinya dengan wajah cemas saat dia menepuk bahu Gildan, menatap lukanya dengan tatapan panik. "Ada militer hitam Dallas yang datang." "Militer hitam?" Immanuel Gildan melempar katapel miliknya dan berlari masuk ke dalam rumah. Dia mengintip dari jendela depan dan menemukan rombongan militer hitam Dallas berjalan bersama tank militer mereka. "Apa yang terjadi?" Immanuel Gildan menggeleng parau. Dia merasa sesak karena perburuan Sang Jenderal belum berhenti sampai di sini. Sumpahnya untuk menghabiskan seluruh keturunan pemberontak memang benar adanya. Gildan bahkan belum ada dua puluh empat jam bersembunyi dari kejaran mereka. Tamatlah riwayatnya. Pintu kayu itu diketuk. Evie tersentak saat dia membuka pintu dengan hati-hati dan sepatu boot militer hitam mendesak maju, masuk ke dalam rumah dengan pandangan memindai. Athena menaruh mainan kayunya dan bergetar menatap anggota militer hitam yang berpakaian lengkap ada di dalam rumahnya. Dia bersembunyi di bawah meja dan militer yang menangkap gerakan pelannya hanya mengangkat alis. Bukan, bukan gadis kecil itu yang mereka cari. "Kami mencari anak laki-laki terlatih untuk menjadi pasukan militer hitam Dallas di masa depan." Evie menekuk alisnya tajam. "Aku tidak—" "Aku bersedia." Kedua kepala militer itu menoleh. Dia mengamati penampilan lusuh Immanuel Gildan dan tanpa sadar mata mereka menggelap menemukan banyak luka di tubuh dan wajahnya. "Kenapa kau terluka?" Evie berlari di hadapannya dengan gelengan kepala. "Dia bekerja setelah menyelesaikan sekolahnya. Saat senja dia terjatuh dan terhempas ke jurang. Aku baru saja menemukannya pagi tadi. Maafkan aku. Lukanya belum mengering seutuhnya.” Militer hitam itu hanya mengangkat alis. Mereka berpandangan sebentar kemudian menarik tangan kecil Gildan dengan kasar. "Baik. Kami akan membawamu." "Jangan ..." "Di dalam militer, dia akan dilatih keras untuk melindungi Dalla. Ini juga berguna bagi dia mempertahankan diri dari siksaan luar. Jangan mencemaskan putramu." Immanuel Gildan menoleh pada Evie yang mengerjap cemas dan dia melirik Athena yang masih berjongkok di bawah meja dengan tatapan takut. Dia menghela napas. Mengangguk pelan ketika pihak militer membawanya masuk ke dalam minibus milik militer Dallas. Saat Immanuel Gildan didorong ke tengah lapang. Dia bertemu ratusan anak seumurannya tengah berkumpul dan menunduk takut. Hanya satu anak yang berani menegakkan kepala, menatap jauh ke tepi lapangan dimana dia mengagumi bagaimana kuatnya militer hitam dibalik seragam pekat mereka. Saat sosok itu meliriknya tajam, Immanuel Gildan hanya mengangkat alis. Dia sama sekali tidak mengenal siapa pun anak-anak di sini. Walau mereka ada di umur yang sama, semua wajah mereka sangat asing. Jenderal Akram menaiki mimbar dengan wajah datar. Dia menatap satu-persatu calon masa depan Dalla dengan kepala terangguk yakin. Generasi penerus para militer ada di tangan anak-anak muda ini. Jenderal Akram semakin yakin dengan masa depan Dalla yang bersinar di tangan mereka. Sudut bibirnya tertarik kala dia menemukan sosok yang sama sekali tidak asing dengannya berdiri di barisan terdepan. Dengan wajah dan lengan penuh luka, anak itu tampak bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. "Dari dua ratus anak. Hanya akan ada lima puluh yang terseleksi masuk ke dalam militer hitam di masa depan. Jika kalian gagal, kalian bisa mencobanya di tahun berikutnya. Begitulah calon pelindung Dalla. Mereka harus memiliki hati yang teguh dan kuat." Immanuel Gildan mendengarkan secara seksama. Ketika mereka satu demi satu diberikan perintah untuk duel, Gildan tahu, dia harus bertahan dari segala serangan untuk tetap hidup. Jenderal Akram berdiri kaku layaknya patung. Tangannya tersembunyi di balik punggung kokohnya. Seragam militer yang menjadi kebangaan begitu pekat terlihat. Menyilaukan kedua mata Gildan yang hampa. Dia teringat kedua orang tuanya. Keluarga yang dekat dengannya selama bertahun-tahun hidup di dalam pelarian. Dia menunduk, meremas tangannya dengan pejaman mata erat. Tiga puluh menit berlalu. Saat gelapnya awan beramai-ramai menggulung langit biru di atasnya, Immanuel Gildan tahu inilah saatnya. Dia melawan anak yang dia taksir mungkin lebih tua darinya beberapa bulan. Tetapi fisik anak itu terlihat kuat dan kokoh, tidak sepertinya yang lemah dan mudah patah. Immanuel Gildan menarik napas. Saat rintik-rintik hujan mulai turun membasahi lapangan, Gildan tahu kesempatan untuk belajar ilmu bela diri hanya ada di sini. Anak itu berteriak keras. Menggempur Gildan tanpa henti. Immanuel Gildan tidak punya pegangan lain selain bertahan dan melindungi diri. Sampai dia melihat anak berkulit pucat dan bermata pekat mendengus dingin padanya dengan tatapan meremehkan. "Hanya segitu kemampuannya?" Immanuel Gildan bangkit. Dia mengembuskan napas panjang saat tangannya terayun, memukul belakang kepala anak itu dengan keras dan dia tersentak, mendapat serangan balasan pada perut dan kakinya. Tubuh kurusnya terbanting dan Immanuel Gildan tidak akan menyerah sampai sini. Dia bergerak bangun, menghindar dengan gesit serangan demi serangan yang dilancarkan sampai sang lawan lelah dan dia membalas serangan tak kalah kuatnya. Membabi buta. Terakhir, dia melayangkan pukulannya ke arah hidung lawannya. Membuatnya terhuyung mundur dan Immanuel Gildan berlari, melayangkan tendangannya ke belakang kepala lawannya dan dia seketika tidak sadarkan diri. Immanuel Gildan terengah-engah. Tubuhnya basah kuyup karena hujan. Begitu pula dengan ratusan anak yang sama basahnya dengan dirinya. Jenderal Akram menatap dalam diam. Anak pemberontak dari keluarga Immanuel ternyata punya bibit unggul yang bisa dia arahkan untuk kepentingan Dalla di masa depan. Dia akan jadi anggota militer hitam terkuat dan Jenderal Akram berpikir untuk mencuci otaknya agar dia tidak lagi terikat dengan Organisasi Partai Merah. Kepala Immanuel Gildan menoleh. Dia memandang sayu pada sosok kecil berwajah dingin. Berdiri kaku di belakang Sang Jenderal yang gagah dan berwibawa. Seolah mata pekatnya memancarkan rasa takut dan bingung yang amat sangat. Sesaat dia bertanya dalam hati, siapakah anak kecil rapuh itu? Tetapi, kemudian rasa ingin tahunya terjawab tatkala para militer berkeliling di sekitarnya bermaksud untuk berjaga. Napas Immanuel Gildan melepas gusar. Dia putra Jenderal Akram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD