39

1761 Words
Lima tahun kemudian. Immanuel Gildan mengerjap samar ketika mendengar lamat-lamat tentang kebakaran hebat yang melanda Distrik Nine dan membuat semuanya hangus tak bersisa. Keningnya mengernyit, dia melompat gusar dari kursi kayunya dan tak lagi memperdulikan makan siangnya. Sai yang baru saja datang dari gudang menahan langkahnya. Sai—anak laki-laki yang dibawa ke dalam Benteng Dallas saat usianya sepuluh tahun, sama seperti dirinya lolos dalam seleksi Jenderal Akram dan mereka tinggal di asrama selama lima tahun. Saat akhir bulan, mereka diperbolehkan kembali. Hanya dalam waktu satu minggu. Dan Sai termasuk yang menetap di asrama bersamanya karena tidak memiliki keluarga yang hidup. "Kau kenapa?" Sai meneliti ekspresi muram Gildan dan turun ke dadanya yang naik turun. "Sesuatu terjadi dengan kekasihmu?" "Diam." Sai terkekeh dingin. "Kau ingat? Setelah ini kau punya tugas bersamaku." "Diam." Alis Sai terangkat tinggi. Dia mundur dan bersedekap. "Kau mudah terbaca, Gildan. Lemah sekali bahwa kau takluk dengan wanita." "Dia bukan gadis sembarangan. Jaga bicaramu." Immanuel Gildan menghela napas. Dia menatap tajam Sai yang memang tidak ada gunanya. Karena hati pria itu telah mati. Sai hanya memiringkan kepala, memberikan senyum dingin yang dia bisa dan berjalan santai ke meja makan, menyantap makan siangnya dengan tenang. Gildan benar, dia memang tidak memiliki keluarga karena kesemuanya mati di tangan sang ayah yang begitu kejam dan bertangan dingin. Hingga Sai kecil yang ketakutan terus menjadi bahan siksaan bagi sang ayah yang haus darah. Membuat Sai, di usianya yang masih sangat muda harus membunuh ayah kandungnya sendiri saat dia tertidur pulas. Immanuel Gildan bergegas lari keluar dari asrama saat dia menembus hutan pohon pinus diam-diam dan menemukan seluruh rumah yang berjumlah sembilan benar-benar rata dengan tanah. Immanuel Gildan menahan napas. Matanya berpendar mencari sisa-sisa kebakaran yang masih ada. Dia berlutut, menatap nanar pada rumah yang telah rata dengan tanah dimana menjadi tempat Athena berteduh selama ini. Kematian Felice Evie lima tahun lalu. Tepat satu bulan setelah Immanuel Gildan masuk militer karena sakit parah yang dia derita sejak kecil membuat Athena harus hidup sendiri. Dia ditaruh ke panti milik Bibi Fumi. Walaupun Athena terkadang pergi ke rumah lamanya untuk sekadar melepas rindu atau tidur di sana untuk mengisi kekosongan yang menyakitkan semenjak kematian ibunya. Usianya masih sepuluh tahun, dan Immanuel Gildan tidak pernah membayangkan bagaimana kehidupan Athena di masa depan jika tidak ada satu pun yang mampu melindunginya dari dunia luar. Tangan Gildan tanpa sadar terkepal. Dia menghela napas panjang. Mengerti bagaimana Athena yang tertahan di dalam pondok panti, meninggalkan sebersit perasaan lega yang kemudian berkembang penuh tanpa dia tahan. Dia benar-benar senang karena Athena baik-baik saja dan dia berjanji akan menemuinya setelah ini. Immanuel Gildan kembali ke asrama dan menemukan Sai bersedekap di depan pintu kamar. Menatapnya tajam. "Ayo, pergi ke lapangan. Ada pertandingan menarik." "Siapa?" "Calon Jenderal di masa depan dengan salah satu anggota militer Dallas kelas tinggi." Immanuel Gildan menghela napas jengah. "Siapa lagi yang coba dia tantang?" "Panglima Aiden." Immanuel Gildan mengangkat alis. Sai menepuk bahunya dan bergegas lari menuju lapangan terdekat ketika hari ini Jenderal Akram akan melakukan duel kembali pada anak-anak baru yang masuk gemblengan militer hitam Dallas. Mata pekat Sai bergulir memandang wanita usia sekitar lima belas tahun lebih tua dari mereka berdiri angkuh, di seberang lapangan dengan jemari lentiknya memegang bosan ke pelipis. Rahang Sai mengetat tiba-tiba. "Kau lihat, Karenina ada di sana." Mata teduh Immanuel Gildan berputar memandangi sosok nyentrik yang berdiri dengan tatapan lurus menyapu sosok Amante Levant yang bertarung keras melawan salah satu Panglima terbaik di Dalla. "Berkat kau dan aku, kita berdua tahu bagaimana kelakuan buruk wanita iblis itu." Sai menggelengkan kepalanya jijik. “Aku heran. Bagaimana bisa gadis seperti itu menduduki posisi penting di Dalla? Dia terlihat sama sekali tidak menarik.” "Levant mencintainya." "Dia bodoh." Sai mendesis dingin. Matanya nyalang menatap Karenina penuh kebencian. "Dia gila? Mencintai Karenina, istri Jenderal Akram selama bertahun-tahun." Alis Immanuel Gildan terangkat tinggi. "Usianya tiga puluh tahun hari ini. Dan hari ini adalah tepat dimana tiga tahun kematian Amante Eleanor." Tidak ada yang spesifik dari penampilan super mewah Karenina, gadis asing yang lahir di Distrik Sopa. Awalnya, Immanuel Gildan pernah bertemu saat dia berkeliling asrama. Dan gadis asing itu penuh kuasa. Seolah semua militer tunduk padanya. Dia berpikir kalau dia adalah putri Jenderal Akram karena wajah mudanya, dan dugaannya salah. Rambutnya berwarna merah, sedikit lebih gelap. Sepasang mata tajam berbentuk kucing itu berwarna senada dengan hutan pohon pinus, serupa dengan warna mata Athena. Tatapan itu tidak pernah lembut dan penuh kasih, selalu penuh kebencian dan kepura-puraan. Yang membuat Immanuel Gildan dan Sai muak. Karena dia memperlakukan para militer muda dengan sesuka hati. Seolah Jenderal Akram memberikan kewenangan penuh padanya untuk mengacaukan pemerintahan Dalla dengan tangan terbuka. Karenina sering berbuat seenaknya hanya karena keinginannya tidak terpenuhi. Dia memakai kekuasaannya dengan tidak bertanggung jawab. Amante Levant terkapar di bawah kaki Panglima Aiden. Napasnya tersengal berat, dia menatap jauh ke langit cerah di atas kepalanya. Kedua matanya mulai berkunang-kunang dan napasnya sesak. Jenderal Akram berdiri, mencoba menatap sang putra dalam diam ketika Karenina mendesis dingin, mengumpat pelan pada Levant yang lemah. Sai dan Immanuel Gildan terdiam. Mereka melirik satu sama lain dan menghela napas. Sai bersandar pada tembok, memejamkan mata. "Aku tidak akan pernah yakin kalau Amante Levant akan hidup bebas selama Karenina hidup." "Karenina tidak seharusnya ada di sini." Mata Sai semakin terpejam erat. "Karena keberadaannya, putra sulung Jenderal Akram tewas. Kau tahu, mereka semua berbohong tentang Amante Sebastian yang tewas karena wabah malaria. Mereka takut kalau Jenderal Akram menghukum pancung mereka yang mengatakan sebenarnya tentang kematian putra pertamanya.” Sudut bibir Immanuel tertarik. "Aku tahu itu." Napas Panglima Sai berangsur memberat. Dia menatap bagaimana Amante Levant berusaha bangkit, tapi tidak ada satu pun yang membantunya untuk bangun. Sampai ada pria berambut kuning nyentrik mendekat, mengulurkan tangan dengan ekspresi kaku ke arah Amante Levant. Ada jeda cukup lama terjalin di antara suasana canggung mereka. Tetapi, Amante Levant menerima uluran tangan itu dan mencoba bangun saat pria yang memiliki nyali besar itu memapahnya pergi menjauh dari lapangan. "Wah, aku terkejut." Sai menatap kepergian keduanya dengan mata menyipit dingin. "Ikuti mereka." Dia menepuk bahu Immanuel Gildan dan mereka mengikuti Levant dalam diam. *** Kamaliel Edsel. Itu nama yang mereka tangkap saat Sai memberondongnya dengan pertanyaan senonoh yang mengisyaratkan bahwa Kamaliel Edsel bukan orang yang tepat untuk tinggal di dalam militer hitam Dallas. Tubuhnya terlalu kurus untuk ukuran anak berusia lima belas. Kemampuannya juga belum terlihat tangguh. Tetapi, kedua mata birunya yang tajam seakan menyimpan hasrat besar untuk menjadi sosok yang hebat dan kuat. Immanuel Gildan awalnya mengiyakan. Sampai pada titik di mana Kamaliel Edsel berlatih hingga enam bulan berturut-turut tanpa henti, Immanuel Gildan menarik semua kata-katanya demi pria yang memiliki kepribadian sedikit hangat namun dingin ini. Terlebih saat Edsel mampu membungkam mulut sinis Sai dan mengajaknya berduel untuk membuktikan sejauh mana kemampuan Sai yang terkenal sebagai psikopat berdarah dingin di kalangan militer angkatan mereka secara terang-terangan. Dan Sai kalah. Ini mengejutkan. Terlebih pria itu sendiri. Kemampuan Edsel jauh-jauh lebih mengesankan. Teruntuk calon Jenderal di masa depan, Edsel bisa menjadi salah satu tangan kanan terbaik. Saat ini, Immanuel Gildan, Sai bersama Kamaliel Edsel bergeming di tengah lapang yang gelap dan pekat. Lampu-lampu hanya menyala dalam mode redup. Remang-remang. Bermandikan cahaya bulan yang terang, di sinilah awal dimana semua sifat Karenina yang mereka duga benar-benar terlihat. Pertemanan yang terjalin di antara keempatnya terlalu baik. Immanuel Gildan terkadang merasa bersalah pada mereka bertiga karena dia datang ke militer hitam Dallas bukan untuk mengabdi, melainkan menjadi kuat dan mengamati diam-diam bagaimana kelemahan Benteng Dallas dan cara menyusup ke dalam. Serta gudang persenjataan dan segala macamnya agar Organisasi Partai Merah bisa leluasa menduduki benteng sebagai kemenangan mutlak mereka nanti. Nanti. Tetapi, Immanuel Gildan tahu bahwa dengan menggulingkan kekuasaan Sang Jenderal tidak serta merta membuat keadaan membaik. Karena bagaimana pun, militer hitam Dallas dijadikan prajurit tangguh dibawah kepemimpinan gen unggul layaknya Jenderal Akram dan Amante Levant. Immanuel Gildan hanya ingin merdeka. Ya. Dia menemui tekadnya sendiri. Dan dia akan bicara pada anggota lain tentang ini. "Bedebah." Sai berlari menembus luasnya lapangan ketika melihat tubuh Amante Levant yang berlumuran darah diseret paksa oleh beberapa militer kuat masuk lebih dalam ke arah gudang kosong yang terkenal sebagai tempat eksekusi bagi pemberontak yang tertangkap di bawah perintah Jenderal Akram. Immanuel Gildan berlari dan mereka diam-diam mengendap-endap masuk. Melihat bagaimana Karenina menghajar Levant dengan mencambuknya, kemudian wanita itu menyerang Levant membabi-buta. Apa yang dilakukan Karenina selanjutnya sungguh, membuat ketiganya muak. Edsel mendesis dingin. Dia mendobrak pintu dengan keras dan menghantam militer yang ada di depannya dengan tangan kosong. Sai ikut merangsek maju dan Gildan mendorong Karenina dari atas tubuh Levant hingga wanita itu terjerembap jatuh ke atas lantai. "Dasar jalang." Edsel berucap sinis pada Karenina yang berdiri dengan senyum. Kontras dengan apa yang dia kenakan malam ini. Mata Edsel memicing tajam ketika dia mendengar derap langkah militer hitam Dallas mengepung mereka di dalam kamar. Dan Karenina menekan pistol ke dadanya dengan senyum angkuh. "Edsel, tidak seharusnya kau banyak ikut campur." Satu tembakan meletus dan mata Sai membelalak terkejut. Dia berteriak dan Levant hanya menatapnya dalam kemelut yang luar biasa. Edsel terkapar di atas lantai tak berdaya. Karenina dengan beringas menginjak perutnya dan Edsel terbatuk mengeluarkan darah kental dari dalam mulutnya. Immanuel Gildan mengangguk pelan dan dia menyerang militer hitam Dallas sesuai gerakan logikanya. Levant berusaha membawa tubuh Edsel yang terluka dan kesulitan bernapas dengan hati-hati. Tetapi, Karenina mendorongnya dan Levant mendesis dingin, merasakan dirinya yang benar-benar lemah karena cairan milik Dokter Lim yang disuntikkan padanya membuatnya tak berdaya. Levant menoleh. Mendapati Sai yang terpojok dan pria itu diseret paksa ke belakang hutan pohon pinus yang agak jauh di belakangnya. Dan Gildan dibawa ke tempat lain yang Levant tahu sebagai ruang tahanan. Sai menatap datar pada kobaran api yang membesar di depan matanya. Terlebih saat Karenina melempar bensin ke dalam api itu, kobarannya membesar dan terpantul ke dalam sepasang mata gelap Sai yang pekat. Karenina membawa kayu yang terbakar. Mendekatkannya pada Sai yang berlutut kaku. Pria itu memejamkan mata ketika Karenina menempelkan bara api yang panas ke bagian dadanya dan turun hingga melingkar ke pinggangnya. Sai merintih, merasakan sakit saat dia berteriak dan yang dia dapatkan justru pukulan serta tendangan agar dia sebisa mungkin tidak meringis sakit. Immanuel Gildan berhasil kabur. Karena memang kemampuannya yang jauh lebih baik dari militer pun, harus terengah-engah menemukan Sai yang berteriak kesakitan dan Levant yang dipenjara tanpa mampu membawa Edsel pergi untuk diobati. Gildan merasakan seseorang memukul kepalanya dengan keras, membuatnya limbung dan tidak siap ketika dia dibanting ke atas tanah dan mendapatkan serangan lagi dan lagi hingga setelah Immanuel Gildan sekarat, tubuhnya berlumuran darah dengan Karenina, pelaku yang menyayat dadanya dengan senyum keji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD