35

1906 Words
Panglima Sai menyerahkan gelas s**u yang kosong pada Letnan Edsel di sampingnya. Ujung hidung lancip Sang Letnan mengendus tepi gelas dan kemudian memicing tajam mengamati isi dalam gelas yang bersih. Hanya menyisakan beberapa bekas noda s**u yang menetap pada dinding gelas. "Militer menduga kalau Nona Athena diracun karena dia memakan buah apel dari Departemen Pangan. Nyatanya, dia diracun di dalam minumannya sendiri. Pada s**u ini." Letnan Edsel mengangkat alis. Dia menggenggam gelas itu dengan raut datar. "Kau benar. Siapa yang membuat s**u ini?" "Jenderal," sahut salah satu militer hitam dan kepala Letnan Edsel bersamaan dengan Panglima Sai menoleh. "Jenderal?" "Sekitar sepuluh menit Jenderal pergi, Nona Athena meminum s**u itu setelah terbangun dari tidur siang.” "Hanya berjarak sepuluh menit dan penyusup bisa semudah ini masuk?" Panglima Sai berdecak dingin. Terkejut dengan kehebatan si penyusup yang sudah sangat ahli mengenal seluk beluk Benteng Dallas. "Sudah kuduga dia berpengalaman." "Cinta memang membutakan segalanya." Panglima Sai berbalik setelah bersikap acuh dengan tidak memedulikan reaksi samar yang ditimbulkan Letnan Edsel di sampingnya. Sang Panglima memberikan perintah untuk mengganti pasokan makanan yang baru di laci penyimpanan Sang Jenderal dengan sortiran yang lebih teliti lagi agar kejadian serupa tidak terulang. Letnan Edsel membawa gelas itu ke Departemen Kesehatan untuk tahu racun apa yang digunakan guna mencelakakan bayi di dalam kandungannya dalam sekejap mata. Athena hanya merasakan efek yang menyakitkan saat sang janin dibunuh paksa, setelah itu dia akan lebih baik. Sang Jenderal masuk ke dalam ruangan laboratorium dengan wajah muram. Dia mengintip Letnan Edsel yang tampak serius dengan pakaian lengkap seragam militernya tengah mengamati sesuatu yang bergerak-gerak di tangan mesin. "Apa pun itu, aku mencemaskan bagaimana kelanjutan dari rahim Athena itu sendiri." Letnan Edsel melirik kaku pada Sang Jenderal yang berdiri di sampingnya. "Kita tidak akan tahu, apakah dia mampu punya anak lagi atau tidak. Belum terpecahkan," bisik Sang Jenderal saat dia menatap Ami yang serius menggeluti pekerjaan barunya meneliti racun yang tertinggal di dalam gelas. Letnan Edsel menghela napas. Dia memperbaiki letak topi militernya yang sedikit miring ke kanan. "Aku harap bukan sesuatu yang buruk. Orang secerdas Immanuel Gildan tidak mungkin sanggup merusak masa depan Athena." "Kita tidak tahu." Letnan Edsel membisu. Jenderal mengangkat alis saat Ami menuliskan beberapa kesimpulan di dalam catatannya. Hanya menunggu sebentar lagi, semua akan terpecahkan. "Yang kutahu, Immanuel Gildan benar-benar tulus saat dia mencintai. Jika dengan ini dia bisa memisahkan kekasihnya dengan dirimu, dia akan melakukannya. Meskipun dengan taruhan yang menyakitkan. Semisal, jika Athena tidak mampu mengandung lagi, dia akan menjadi Immanuel Gildan terakhir yang hidup menjadi pemberontak tanpa keturunan. Cinta bisa membutakan siapa saja. Termasuk Immanuel Gildan sendiri.” Sang Jenderal mendengus tajam. "Dia tidak akan semudah itu mendapatkan apa yang dia mau." Ami menatap Sang Jenderal takut-takut. Gadis itu mengangguk pelan dan Sang Jenderal menerima hasil laporannya dalam diam. Matanya meneliti halus satu demi satu tulisan itu dengan cermat. "Aku mengerti." Jenderal berbalik pergi bersamaan dengan Letnan Edsel yang menghela napas panjang. Letnan Edsel mengangkat alis. Memandangi Ami yang tampak gelisah bergerak di bawah tatapan Sang Letnan. Letnan satu ini terkenal bengis, tidak kalah mengerikan dengan Jenderal mereka. Dia juga termasuk salah satu petinggi yang ditakuti selain Jenderal bersama Panglima Sai. Kedua pemimpin yang memiliki kemampuan luar biasa tak kalah mengerikan. Sesaat setelah menit-menit mendebarkan itu berlalu, Ami menghela napas panjang. Dia mengusap keringat dingin yang menetes dari pelipisnya seraya bergumam penuh kelegaan. Tidak pernah di dalam hidupnya dia merasa secanggung ini berada di ruangan yang sama dengan petinggi militer hitam Dallas. Panglima Sai berpikir Letnan Edsel berkunjung ke ruangan pribadi Sang Jenderal guna membahas tentang serangan mendadak pada markas persembunyian Immanuel Gildan di hutan pohon pinus. Dan dia salah. Letnan Edsel berbelok ke arah panti. Dimana Wise Cassandra bersama anak-anak tinggal. Kernyitan di dahi Panglima Sai tertinggal. Napasnya tertahan tatkala melihat Letnan Edsel berbaik hati membantu salah satu anak sedang sibuk menarik benang layang-layangnya yang tersangkut di dahan pohon pinus dengan sedikit tarikan panjang. Sungguh, pemandangan tak terduga. Panglima Sai terus mengawasi dalam diam. Sorot matanya menajam saat dia melihat Wise Cassandra datang dengan keranjang penuh berisi buah. Ini adalah pangan bulanan dimana setiap rakyat di Dalla mendapatkan jatah satu keranjang penuh buah-buahan segar dari Departemen Pangan. Senyum Cassandra lekas timbul saat Letnan Edsel menatapnya dalam diam. Panglima Sai tidak bisa menebak ekspresi apa yang membingkai wajah Sang Letnan karena sosok itu tengah memunggunginya sekarang. "Kau mau mampir?" Panglima Sai tanpa sadar mendengus tajam. Dia mengangkat alis menatap sikap hangat terang-terangan yang Wise Cassandra tunjukkan pada Letnan Edsel. Secara gamblang, gadis itu menunjukkan sikap pasif dan menghindar darinya tanpa ragu. Sangat berbeda. Panglima Sai tidak terkejut. Anak-anak tampak riang berlari kesana-kemari menikmati udara sejuk di siang hari. Udara sangat bagus untuk bersantai sejenak. Tapi di dalam kamus militer hitam Dallas, waktu bersantai bukanlah di saat yang krusial seperti ini. Dimana musuh bisa sewaktu-waktu menyerang dan menciptakan kekalahan telak karena mereka terlalu lengah. Bola berwarna kuning itu menggelinding ke arahnya. Panglima Sai mencebik singkat. Menunduk menatap bola yang berputar singkat di sekitarnya dan berhenti saat membentur sepatu boot hitam miliknya. Anak-anak itu menahan napas saat tahu siapa yang bersembunyi di balik pohon pinus besar itu. Mereka mengerjap, tertegun, dan balik saling berpandangan ngeri karena melihat anggota militer hitam Dallas di sekitar mereka. Kali ini jauh lebih mengerikan dan auranya benar-benar berbeda dari militer yang lain. Panglima Sai mendesis menahan tawa sinis. Saat anak-anak bergerak mundur, kakinya yang kokoh menyiapkan serangan untuk balas menendang bola itu agar segera menjauh dari hadapannya. Entah, karena dia menendang terlalu kuat atau suasana hatinya yang tiba-tiba kacau tanpa sebab, bola itu terbang dan melayang bebas menghantam jendela bagian depan rumah mungil itu. Membuat Wise Cassandra yang duduk santai terkejut bukan main. Mendapati jendela rumahnya hancur berantakan dan tidak lagi tersisa. Letnan Edsel menghela napas pendek. Dia merapikan celana hitam militernya dan berdiri. Mengikuti langkah Wise Cassandra yang terburu-buru melemparkan tatapan memperingati pada anak-anak yang menunduk ketakutan. "Bukan salah mereka." Mata biru laut itu mengerjap bingung. "Maaf? Mereka bermain bola saat aku datang. Itu jelas datang dari mereka." Wise Cassandra berkacak pinggang dan anak-anak itu tidak membalas tatapan jengkel dari kakak tertua mereka. Hanya menunduk dalam dan saling meremas tangan satu sama lain. Letnan Edsel hanya diam. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menemukan sosok Panglima Sai tengah duduk di atas pohon pinus, berpangku dagu menatap mereka dari atas pohon yang tinggi dengan ekspresi muram. Sudut bibir Sang Letnan tertarik. Dia menepuk bahu Wise Cassandra, menyebabkan kontak fisik yang tanpa sadar membuat Wise Cassandra berjengit kaget. Dia menatap Sang Letnan dengan tatapan bingung kemudian mundur. "Aku harus pergi.” Sang Letnan bicara tanpa intonasi yang berbeda. Tetap datar dan dingin. Ekspresinya kembali kaku dan dia berbelok pergi meninggalkan perasaan yang mengganjal di batin Cassandra. Semoga Athena tidak apa. *** Athena mengembuskan napas panjang saat dia menatap tak berselera pada bubur buatan rumah sakit dengan segelas teh hangat yang sudah mendingin. Dia mendorong nampan cokelat tua itu, memejamkan mata dengan tarikan napas kasar. Mata Athena kembali membuka saat dia terperangah menemukan Maru masuk ke dalam ruangan dengan langkah mengendap-endap dan mulut yang ditutupi masker. Dia berpakaian seperti dokter muda yang menyamar. "Maru?" Athena menatap tak percaya. "Bagaimana bisa kau masuk?" Maru menurunkan maskernya. Menatap Athena gamang. "Kapten ada di sini. Dia yang mengawasi kami dari dekat. Aku datang untuk membawamu pergi dari sini.” "Membawaku?" Maru berdecak halus. Dia menatap Athena yang tampak lemah namun sekarang lebih baik. Obat-obatan yang diracik langsung dari laboratorium Dalla memang tidak main-main. "Jenderal akan membuangmu. Karena apa? Karena kau tidak lagi bisa mengandung. Kau tidak akan bisa punya anak lagi. Tidak ada penerus Dalla yang bisa lahir dari rahimmu," jelas Maru pada Athena yang membisu dan pucat. Apakah yang dikatakan Maru benar? Maru melepas semua alat-alat yang menempeli d**a dan tangan Athena dengan sedikit kasar. Athena merintih pelan, namun tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang menyengat di dalam hatinya. Dia dimanfaatkan? Athena memejamkan mata menahan perasaan sesak yang menggumpal tak nyaman. Jadi benar. Kesamaannya dengan Karenina inilah yang memicu Jenderal menikahinya. Atau mungkin Karenina dibunuh oleh Jenderal Akram karena dia hamil dan itu bersama Jenderal Levant? Athena memegang kepalanya yang pening. Maru menatapnya cemas saat dia mendekati Athena, menyentuh bahunya. "Kau tidak apa?" "Tidak." Athena melompat turun dan Maru memegang tangannya untuk menopang tubuh lemas Athena. "Aku akan pergi." Athena memberikan Maru senyum pasrah dan Maru menganggukkan kepala. Membawa Athena pergi dengan gerakan cepat sesuai strategi mereka sebelumnya. Athena menunduk, menatap setidaknya ada lima anggota militer hitam Dallas yang berhasil dilumpuhkan para anggota Partai Merah. Mereka tidak membunuhnya, hanya membuatnya tidak sadarkan diri sebentar. Athena meringis pelan. Saat Maru menariknya semakin dalam melewati gorong-gorong pembuangan air di bawah rumah sakit dan Immanuel Gildan menatapnya dari kejauhan dengan sorot rindu yang amat sangat. Athena ingin menangis sekarang. Dia terjatuh dan Maru mencoba membawanya bangun. Tetapi langkah kaki Immanuel Gildan lebih cepat sampai. Dia berlutut. Membiarkan celana dan pakaiannya basah saat dia membawa Athena ke dalam dekapan rindunya dan berlari untuk menghindari serangan militer hitam Dallas sebentar lagi. "Ke tempat persembunyian yang baru. Jenderal akan memburu kita setelah ini," bisik Immanuel Gildan pada anggotanya melalui alat kecil di telinganya. Dia menunduk, mengamati wajah Athena yang mencoba membuka mata dan dia tidak sanggup. "Aku akan membawamu pergi. Sejauh mungkin yang kubisa. Aku bahkan bertaruh kalau Jenderal—" suara Immanuel Gildan tercekat ketika Athena sepenuhnya memejamkan mata. "—tidak akan mencarimu." Panglima Sai menoleh cepat saat dia melihat militer hitam berlari ke arahnya dengan kepala tertunduk. Alisnya terangkat saat militer itu dengan jelas mengucapkan sesuatu yang membuatnya terkejut luar biasa. "Aku tidak menyangka dia akan berbuat sejauh ini bahkan sebelum kematian datang menjemputnya." Panglima Sai menggeleng miris ketika dia menyuruh militer itu pergi dan mempersiapkan tank tempur mereka. Panglima Sai membuka pintu dan menemukan Sang Jenderal berdiri memunggunginya, menghadap jendela besar dimana pemandangan hutan pohon pinus yang lebat menjadi objek terbaik yang mampu dilihat dari dalam ruangan. "Jenderal." Panglima Sai menatap Sang Jenderal yang berbalik, memasang topi militernya ketika Jenderal berjalan menuju mejanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci, suara Panglima Sai menahannya. "Mereka membawa Nona Athena pergi." Pintu menjeblak terbuka dan Letnan Edsel datang dengan ekspresi marah luar biasa. "Mereka merampok distribusi pangan kita dan obat-obatan dalam jumlah cukup banyak." Sang Jenderal terdiam. Tangannya yang kokoh tampak kaku ketika genggamannya mengencang pada cokelat karamel batangan dan potongan gula-gula di dalam toples merah mungil. Dia mendesah panjang. Membanting cokelat malang itu kembali ke laci dan mendorongnya keras. "Siapkan tank dan seluruh senjata yang sekiranya mampu membuat Organisasi Partai Merah bertekuk lutut." Letnan dan Panglima mengangguk pelan. Sang Jenderal mendesak pergi lebih dulu dan meninggalkan keduanya di dalam ruangan pribadinya. Letnan Edsel mengamati ekspresi muram di wajah Sang Panglima. Alisnya terangkat jenaka. "Hari yang buruk?" Panglima Sai melirik dingin padanya. "Aku menikmati hari dimana aku bisa membunuh lawanku dan bermandikan darah yang menjadi kesenanganku," sudut bibir Sang Panglima tertarik ngeri. "Bagaimana denganmu, Letnan? Kau terlihat lebih baik dari sebelumnya." Letnan Edsel memasang raut serius. "Kau benar. Aku juga merasa demikian." Dia menghela napas panjang. "Aku selalu berhati-hati dengan banyak wanita. Seperti yang kau bilang kemarin, bahwa aku bisa datang ke wanita mana pun yang kumau tanpa perlu memikirkan perasaanku yang terkurung karena Green Ariana." Panglima Sai menoleh. Menatapnya datar tapi penuh antisipasi. "Kau tahu, Panglima Sai yang disegani militer hitam Dallas. Aku tertarik pada gadis manis bernama Wise Cassandra." Setelah mengucapkan kalimat penutup yang mengejutkan Panglima Sai, Letnan Edsel bergegas pergi setelah memakai topi militernya. Meninggalkan Sang Panglima dalam kebisuan hingga waktu menamparnya dan dia harus segera pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD