Kabar tentang Athena yang tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari dalam tubuhnya membuat Sang Jenderal tidak tenang. Dia menghempaskan bokongnya pada kursi tunggu yang dingin bersama dua tangan kanan terbaiknya yang berdiri, menunggu dalam diam dengan ekspresi kaku.
Wajah Sang Jenderal menyiratkan kebingungan yang luar biasa. Ekspresinya tampak muram. Bibirnya berkerut tipis dan sorot matanya begitu dingin seolah siap membantai siapa saja orang yang ada di dekatnya. Tangan Sang Jenderal terkepal erat. Terlihat sekali dia sedang berusaha mengendalikan diri agar tidak melampiaskan amarahnya pada orang sekitar.
Letnan Edsel tidak tahu harus menempatkan diri dimana. Haruskah dia senang atau dia merasa prihatin karena kelakuan Sang Jenderal saat ini kembali mengulang masa lalu yang tidak menyenangkan bersama Karenina. Kali ini, berbeda.
Panglima Sai menangkap ekspresi kalut di pancaran mata biru laut milik Letnan Edsel yang terbiasa dingin dan kaku. Berbeda dengan dirinya yang biasa melempar pandangan angkuh dan meremehkan, kali ini dia membaca jelas kebingungan yang menyala-nyala di mata Sang Letnan.
Begitu pula dengan Sang Jenderal yang sejak tadi hanya duduk diam tanpa bicara satu kata pun. Panglima Sai tidak keberatan ada di atmosfir seperti ini. Hanya saja ... ini sedikit menakutkan mengingat ada calon bayi yang seharusnya lahir harus sekarang ada di tepi pintu kematiannya sendiri. Dan calon bayi itu adalah keturunan Dalla, yang akan mewarisi Dalla di masa depan. Jika bayi itu terluka bahkan ketika tubuhnya belum terbentuk sempurna, Panglima Sai tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya.
Pintu kamar terbuka dan Panglima Sai tidak pernah selega ini dalam hidupnya. Dia mundur untuk memberi jarak ketika dokter paruh baya itu menghampiri Sang Jenderal yang duduk diam menatapnya tajam.
"Maafkan aku."
Letnan Edsel tidak perlu memutar otaknya terlalu jauh untuk tahu apa yang akan keluar sebagai kalimat lanjutan.
"—bayi di dalam kandungannya tidak selamat."
Panglima Sai menipiskan bibir. Dia sudah menugaskan anak buahnya untuk menyisir seluruh dapur di kediaman Sang Jenderal dan Departemen Pangan. Meskipun ini hanya berupa dugaan, tetapi Panglima Sai sudah menduga siapa dalang yang bertanggung jawab seratus persen atas kesengajaan ini.
"Bagaimana dengan Athena?"
Dokter itu memberikan senyum separuh.
"Nona Athena baik. Dia jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan. Racun itu pada dasarnya hanya membunuh bayi di dalam kandungan, bukan bermaksud membunuh sang ibu. Kondisinya memang sedikit lemah. Tapi, dia akan baik-baik saja setelah beristirahat yang cukup.”
Sudut bibir Sang Jenderal tertarik sinis. Wajahnya membias dingin. "Kau boleh pergi."
Dokter itu membungkuk dan Sang Jenderal menunduk menatap lantai. Dengusan halus meluncur dari napas beratnya. "Immanuel Gildan."
Letnan Edsel mengangkat alis sebagai reaksi. "Jenderal, itu hanya dugaan sementara. Kita tidak bisa—" Letnan Edsel menutup rapat bibirnya saat Panglima Sai sedikit menekan telapak tangannya di d**a Sang Letnan sebagai isyarat untuk diam. "—aku akan melakukan penyisiran besar-besaran setelah ini." Letnan Edsel membungkuk memberi salam dan Panglima Sai mengikuti langkahnya beberapa detik kemudian.
Sang Jenderal membuka pintu dan menemukan lagi-lagi gadis malang itu terbaring di atas ranjang sakit. Sudah berapa kali dia terbaring karena bersamanya? Tidak terhitung.
Jenderal menutup pintu dalam gerakan pelan. Mendengar bagaimana detak jantung konstan yang berbunyi dari alat canggih yang bekerja sebagai monitor jantung dan selang pernapasan yang menancap di kedua lubang hidungnya karena Athena sempat mengalami sesak napas saat dia dibawa ke rumah sakit.
Tatapan pekat Sang Jenderal turun ke perut ratanya. Kali ini perut itu benar-benar rata dan hanya menyisakan kekosongan di dalam rahimnya. Perut calon ibu tidak lagi terisi janin yang seharusnya bertumbuh di sana dan bersiap untuk lahir. Semuanya lenyap.
Manik kelam itu bergulir ke wajah pulas yang tertidur dalam damai. Sang Jenderal menghela napas panjang. Tangannya terangkat hendak mengusap julur rambut merah muda indahnya yang menempel di pipi, dan dia mengurungkannya. Sebelum tekadnya benar-benar besar, dia hanya terpaku dalam diam.
Perasaannya mulai tak nyaman. Sama sekali tidak. Athena membuatnya sakit dimana-mana yang pernah Jenderal rasakan dulu. Dulu sekali saat Karenina masih hidup. Dan dia kembali merasakan hantaman rasa asing, yang jauh lebih dulu dia kenal. Namun, kali ini lebih kuat dan pekat. Jauh lebih bercokol dalam ke relung hatinya tanpa ampun. Mengambil seluruh atensi di dalam otaknya untuk terus bergerak melindunginya dari apa pun secara refleks dan hanya bergantung pada tindakan atas logikanya.
Bukankah logika dan hati biasanya berbanding terbalik? Tetapi mengapa keduanya menyuruh Sang Jenderal untuk lakukan hal yang sama terus-menerus? Melindungi Athena dari bahaya apa pun tanpa terkecuali.
Sang Jenderal belum mau bertekuk lutut pada siapa pun, termasuk pada wanita. Dan ini istrinya. Yang dia hadapi adalah istrinya sendiri. Dimana setelah dia mencari tahu apakah Athena pantas menjadi obatnya, dia akan memikirkan tindakan selanjutnya. Dan semua berantakan. Terbang seperti hembusan debu yang tertiup angin.
Sebagai pengalihan perasaan gamangnya, Jenderal memilih meremas tepi ranjang kuat-kuat dengan kedua tangannya. Memejamkan mata mencoba menahan rasa di dalam dadanya dengan tarikan napas panjang. Kemudian, dia kembali membuka mata dan menemukan sosok yang tadi terbaring pulas itu kini terbangun. Kedua matanya menatap sayu ke arah dirinya. Dia tampak sangat lemah.
"Kau di sini?"
Jenderal hanya diam saat bisikan lemah itu mengalun parau.
"Kau di sini?"
Sang Jenderal menipiskan bibir mendengar suara itu tercekat dan kini berubah isakan.
"Aku di sini."
Jenderal berbisik dalam hatinya tanpa dia ucapkan. Tangannya terulur untuk menyentuh telapak tangan kecil istrinya yang bergetar. Bermaksud menenangkannya.
"Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Jadi, aku tidak akan bertanya." Sang Jenderal menghela napas gusar. Di dalam kepalanya sedang berputar adegan demi adegan untuk memberi pelajaran bagi Immanuel Gildan nanti. "Bagaimana perasaanmu? Tidurmu lebih baik?"
Kepala merah muda itu merosot dari bantal. Athena berpegangan pada tangan besar itu, mencari penopang untuk kekacauan hatinya. Dia kehilangan bayinya. Itu sudah pasti dan dia tidak tahu harus menyalahkan siapa selain dirinya sendiri karena begitu ceroboh dan tak tahu aturan.
"Ini salahku."
Sang Jenderal terpaku diam.
"Ini salahku."
Tidak. Ini salah Immanuel Gildan. Sang Jenderal menggeleng samar untuk meredakan kalut yang berkembang besar di dalam benak Athena. Dia menunduk, mencoba membawa tubuh itu kembali ke posisi yang nyaman dan bukan meringkuk seperti bayi.
"Ini bukan salahmu. Kau diracun, kau ditargetkan untuk mati." Sang Jenderal berbisik dingin dan Athena membeku. Pegangannya mengendur. Bola matanya mengerjap panik.
"Aku?"
Kepala Sang Jenderal mengangguk pelan. "Mulai sekarang, kau tidak akan pergi sendiri tanpa pengawasan militer, Athena. Aku tahu kau bertindak sendiri hanya untuk menuntaskan rasa ingin tahu yang besar di dalam kepala mungilmu ini. Tapi kau lihat? Bahaya di luar sana jauh lebih mengerikan. Mereka akan mengincarmu setiap detiknya tanpa terkecuali."
Athena mendesis pelan dan Sang Jenderal menurunkan intonasi suaranya lebih lembut. "Sama sepertiku, kau juga penting bagi Dalla. Jika mereka tidak mampu melukaiku, mereka akan melukaimu. Itu bukan hal yang mengejutkan sebenarnya."
"Dan keberadaanku adalah beban, begitu?"
Alis Sang Jenderal menekuk tajam. "Aku tidak pernah bilang kau adalah beban."
"Kau benar. Karena kau yang memaksa untuk menikahiku, aku rasa keberadaanku pastilah sudah menjadi resiko. Atau kau sengaja menjadikanku sebagai pengalihan agar mereka—para pengkhianat itu mengincarku?"
"Pengkhianat mana yang kau maksud?" Jenderal menarik sudut bibirnya, mulai tertarik. Dia memakukan tatapan mereka berdua dengan senyum dingin. "Aku butuh yang lebih jelas dari gambaran seorang pengkhianat."
Athena mendesis pelan dalam suaranya. Dia menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya saat dia mendorong d**a Sang Jenderal agar segera menjauh darinya. Dia sedang tidak dalam suasana baik untuk berdebat dengan sang suami. "Tidak. Berhentilah menggangguku."
"Aku tidak mengganggumu. Aku hanya melihat keadaanmu." Tatapan Sang Jenderal turun ke perutnya yang berlapis pakaian khas rumah sakit. "Kita berdua sama-sama tahu, yang kau butuhkan adalah istirahat dan tidur yang cukup."
Athena merapatkan selimutnya tanpa perlu repot-repot Sang Jenderal membantunya. Dia memejamkan mata. Merasakan perasaan sakit yang amat sangat menghantamnya tanpa ampun. Dia kehilangan bayinya, dan seolah dia kehilangan separuh jiwanya walau dia belum merasakan benar bagaimana menjadi calon ibu dan ketika anak di dalam perutnya berkembang semakin besar.
Memikirkannya membuat Athena semakin lelah dan lelah. Dia kembali memeluk dirinya sendiri dan tanpa sadar sudah terlelap pulas.