17

2029 Words
Hatinya terbagi. Kau dan Sara. Apa kau tahu bagaimana perjuangan Sara terhadap Gildan hingga dia menemukan kematiannya sendiri? Dia bahkan tidur dengan Sang Jenderal. Suamimu. Dia berkorban banyak untuk Organisasi Partai Merah di saat kau sendiri malah berbaring bersama Jenderal di ranjangnya. Pengorbanan Sara tidak berarti apa-apa mengingat besarnya cinta Immanuel Gildan padamu. Dengan penampilan sederhana ini membuat Immanuel Gildan dan Jenderal Dalla tergila-gila? Athena tersentak pada dinginnya malam. Entah, ini pukul berapa yang jelas matahari belum menampakkan diri ke atas peraduan. Bulan masih bersinar walau samar dan gelapnya kamar masih terlihat pekat. "Immanuel Gildan, lagi?" Manik Athena membelalak mendengar suara serak di atas kepalanya. Dia mendongak, menemukan sepasang mata kelam yang menunduk menatapnya. Di tengah gelapnya kamar, lampu taman yang bersinar masih samar-samar membantu penglihatannya. Athena menipiskan bibir tanpa berkata. Sang Jenderal merapatkan pelukan di tengah tubuh tanpa busana mereka dan hanya ada selimut sebagai teman. "Ini aneh karena kau biasanya meronta jika kupeluk." Sang Jenderal bicara sambil memejamkan mata. Ekspresinya tampak santai walau rahangnya mengetat menahan gelegak sesuatu dalam d**a. "Kalau kau meronta, aku akan melepasnya." Kepalanya menunduk semakin dalam. Aroma kayu citrus dan maskulin yang begitu hebat menusuk hidungnya tanpa ampun. Kepala Athena mulai berdentam memikirkan pengaruh aroma ini pada dirinya sendiri dan seberapa jauh bahaya yang ditimbulkan pada dirinya. "Apa kau tahu tentang aula Departemen Pangan yang diledakkan? Apakah ada korban?" Kelopak mata tajam itu terbuka. Sang Jenderal berbaring menyamping dengan tangan sebagai bantalan dan satu tangan lagi memeluk istrinya dengan erat. "Tidak ada korban selain korban luka. Dan ya, aku tahu." "Ini bukan rencana busukmu, kan?" Dengusan pelan itu meluncur dari bibirnya yang sedikit membuka. Sang Jenderal menunduk, memakukan tatapannya pada iris hutan yang penuh rasa ingin tahu sekaligus mata yang sanggup menantangnya. "Menurutmu?" "Jangan bercanda." "Ini ulah pemberontak Distrik Sopa. Aku tidak akan bercerita siapa pelakunya." Kening Athena berkerut dalam. "Distrik Sopa, bukankah itu permukiman yang menyukai bulan dan sering mengadakan pesta setiap bulan purnama atau ..." "Kau tahu banyak rupanya." Sang Jenderal berbisik parau di telinganya. "Setiap distrik memiliki ciri khasnya masing-masing. Kemarin orang suruhanmu datang untuk meminta padaku agar distribusi pangan ke Distrik Sopa diperbanyak juga pasokan kesehatan untuk anak-anak yang memiliki kelainan genetik pasca perang dunia kelima. Mereka masih memiliki penduduk yang baik dan mentaati peraturan di Dalla.” Athena mengatupkan bibir dan menahan rintihan pelan ketika telapak tangan kasar itu meremas pinggul bawahnya. Dia tersentak, menggeram dalam suaranya tapi tidak berbuat apa-apa. "Aku suka menyentuhmu dimana-mana. Ini membuatku puas." Athena tersenyum dingin. "Apa kau selalu berpikir kalau perempuan adalah pemuas objek seksualmu? Perempuan hanya barang yang bisa kau pakai, lalu kau buang setelah kau bosan atau dia merasa tidak berguna lagi?" Alis Sang Jenderal terangkat tinggi. Dia mencari-cari ke dalam mata itu dan tanpa sadar sudut bibirnya tertarik dingin. "Apa kau menganggapnya demikian?" Jelas, istrinya tahu tentang dirinya yang pernah menjadikan Sara sebagai barang untuk hasrat seksualnya. Dan Sara tidak akan seceroboh itu untuk bicara seluruhnya pada Athena, musuhnya sendiri. Yang paling penting, Green Ariana berani menemui istrinya di saat dia lengah. "Tentu. Kita tidak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang." Helaan napas Sang Jenderal mengembus berat. "Sebelum perang dunia terjadi, mungkin sebagian manusia memiliki sifat seperti yang kau katakan. Barang bekas. Mereka akan dibuang setelah selesai. Tapi, era Dalla berbeda." "Apa yang berbeda kalau kau juga lakukan hal yang sama pada Sara?" Bibir Sang Jenderal mengetat tipis. Dia menekuk tajam alisnya seraya terkekeh serak. "Sara adalah barang. Dan kau benar, sifat bosan itu masih bersarang dalam diriku." "Lantas, apa kau akan melakukan hal yang sama padaku?" "Kau takut?" Jenderal mengernyit padanya. Kepala Athena menggeleng singkat. "Mungkin, aku akan menantikannya. Saat-saat aku bebas dari cengkramanmu." Dia mengangkat bahu dengan santai, mengabaikan dengusan dingin Sang Jenderal di samping tubuhnya. Sang Jenderal mendekatkan wajahnya. Membuat mata mereka saling beradu pandang satu sama lain. "Aku rasa kau tidak lupa dengan kesepakatan kita sebelumnya?" Athena kini membisu. "Kau milikku. Kau tidak akan pergi kemana pun tanpa izinku. Kau harus mengikat kesetiaanmu padaku. Selamanya." Athena menghela napas berat. "Bagaimana denganmu?" Alis Sang Jenderal terangkat. "Itu berlaku juga padaku. Kau bukan barang. Aku menikahimu, dan semua orang di dalam Benteng Dallas tahu siapa dirimu. Kau bukan Sara yang sewaktu-waktu bisa lenyap kapan pun. Prioritas militer hitam padamu sama besarnya seperti padaku." Sudut bibir Athena melengkung ke bawah. "Aku tidak tahu haruskah aku tersanjung atau menertawaimu sekarang." "Kau tidak perlu merasa tersanjung dengan apa pun yang kukatakan." Sang Jenderal memutar tubuhnya dan merangkak ke atas tubuh istrinya di dalam selimut mereka. "Karena apa pun yang kukatakan, benar adanya tanpa kebohongan." Jemari kurus itu menyusuri bekas luka yang terlihat samar sekarang. Athena memiringkan kepala, tersenyum tipis. "Sebelum kau pergi, aku akan mengobatinya." "Kenapa harus?" Mata Athena merambat naik, memakukan tatapan mereka berdua. "Setiap luka yang ditorehkan, memiliki caranya sendiri untuk sembuh. Jika kau membiarkan bekas ini cukup lama, kau akan tertekan setiap memandangi dirimu sendiri di depan cermin. Aku akan mengobatinya walau kau bersikeras menolaknya." "Kekeraskepalaanmu terkadang membuatku harus berpikir keras bagaimana cara melunakkannya." Sang Jenderal menunduk parau, menyentuh daun telinganya dan kedua tangannya merayap turun, menyentuh titik-titik yang dilarang Athena disentuh siapa pun selain suaminya. Bahkan Immanuel Gildan, dia tidak pernah menyentuh lebih selain mencium pipi dan bibir. "Matahari belum terbit. Apa yang akan kaulakukan sekarang? Kembali tidur atau bermain?" *** Athena mengangkat alis menemukan pegawai Departemen Kesehatan tampak sibuk dan kembali larut dalam pekerjaan mereka tanpa memikirkan apa yang terjadi semalam cukup membahayakan diri mereka sendiri. Dan sedikit mengejutkannya bahwa mereka kembali bekerja dan baik-baik saja sedikit membuat Athena memuji kagum. "Salam, Nona Athena." Salah satu pemimpin ruangan menyapa Athena dengan senyum hangat. Athena mengangguk, memberikan senyum ramah. "Suatu kehormatan istri Jenderal kami berkunjung." Kepala merah mudanya menggeleng pelan. "Aku ingin memantau hasil laboratorium. Aku mendengar laporan kalau beberapa sampel dicuri oleh pemberontak dan mereka ingin mengembangkan kekuatan itu lebih besar. Bagaimana fokus kalian sekarang?" "Kami sibuk merancang penawar sekarang," gadis itu—Ami—membawa Athena untuk berkeliling ke dalam ruangan yang dipenuhi ratusan tabung dan alat canggih yang bergerak otomatis sesuai keinginan manusianya. "Jenderal memberi mandat untuk menciptakan ramuan baru sebagai senjata ampuh untuk mereka yang menentang Dalla. Kami membuat tim untuk menciptakan racun dan penawar." Athena terdiam sesaat. Matanya menelusuri cairan berwarna hijau muda itu dengan sorot bingung. "Bagaimana dengan percobaannya?" Ami memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit merosot dari tempatnya. "Pihak kami selalu mengetes hasil temuan kami pada hewan-hewan kecil, belum berskala besar. Terkadang, pada manusia yang memberontak atau tawanan di penjara bawah tanah." Alis Athena menekuk. "Jika kalian gagal?" "Kami tidak akan memaksakan diri untuk terus mencoba hanya karena satu sampel menunjukkan kami gagal. Jenderal melarang kami melakukannya lebih dari satu kali. Jika temuan kami belum sempurna, kami akan kembali memperbaikinya hingga semua sempurna." Athena menganggukan kepala. Dia memeluk laporan itu dadanya dengan senyum hangat. "Apa kau ingin mencoba sampel baru dari hasil temuan laboratorium hari ini?" Ami terdiam sejenak. Dia mengamati ekspresi hangat dari istri Sang Jenderal, kemudian kepalanya mengangguk. "Ya." "Kalau begitu, aku akan pergi untuk melihat temuan baru kalian." Ami menarik sudut bibirnya. "Ini suatu kehormatan karena—" "Bukan masalah. Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Athena menganggukan kepala dan Ami tersenyum kikuk mendapati keramahan itu dari perempuan nomor satu di Dalla. Ami menolehkan kepala pada pintu masuk ruangannya yang kembali terbuka. Sang Jenderal datang bersama Letnan Edsel lengkap dengan seragam militer hitamnya. Berbeda dengan lambang dan pangkat yang tersemat di dadanya, Ami menundukkan kepala menyapa Sang Jenderal bersama Letnan Edsel dengan membungkukkan sedikit tubuhnya. Mata tajam Sang Jenderal menangkap istrinya tengah menunduk menatap sesuatu di dalam tabung. Dia tampak larut dalam dunianya sendiri dan tidak tahu kalau dirinya datang. Atau dia tahu dan dia mengabaikannya? Letnan Edsel berdeham agak keras. Ami terlonjak dan dia menatap takut-takut pada Athena yang menolehkan kepala, mengangkat alis menatap kedatangan mereka dengan datar. Dia berjalan, bersikap acuh dengan kembali menatap puluhan tabung berisi cairan aneh yang tergantung. "Semua sudah siap, Jenderal. Hanya menunggu untuk percobaan selanjutnya setelah seratus persen sempurna." Ami menjawab tanpa ragu dan Athena dalam hati memuji keberanian gadis itu menghadapi iblis bertangan dingin seperti Jenderal Dalla. Fokus Sang Jenderal memindai seluruh ruangan. Letnan Edsel melempar tatapannya pada Ami yang menegakkan kepala karena seratus persen gadis itu bersih dari pengaruh Sara, sang pemberontak kelas tengah. "Laporkan hasilnya secepatnya." Ami mengangguk patuh. "Akan kulaksanakan." Sebelum dia benar-benar pergi, dia melempar lirikannya pada sang istri yang kini menatapnya datar. Seolah menunggu kapan dirinya segera pergi dari ruangan ini dan biarkan dia seorang diri. Sang Jenderal menilai penampilan rapuhnya dalam sorot tajam kemudian berbalik pergi tanpa mengucap sepatah kata pun padanya. Letnan Edsel menatap Ami, memberi anggukan pada gadis itu dan ikut berlalu pergi meninggalkan keduanya di dalam ruangan. "Bisa kita pergi sekarang?" Ami menoleh pada Athena dan dia mengangguk pelan. Dalam hati bertanya-tanya apa gerangan masalah antara istri Jenderal dengan Jenderal itu sendiri? Suasana yang tercipta di antara mereka begitu dingin. Seakan mereka memiliki masalah dan kehidupan rumah tangganya tidak berjalan baik. "Ami?" Athena menegur dengan senyum dingin. "Kau melamun. Ada yang ingin kau tanyakan padaku?" Ami tertegun. Dia tergagap menjawab ucapan Athena. "Tidak ada, Nona Athena. Aku hanya—" "Berpikir tentang hubungan kami?" Athena mengernyit. "Benar?" Ami menunduk, merutuki dalam hati dan dia menghela napas panjang. "Maafkan aku karena lancang." "Kami baik-baik saja." Hanya itu yang bisa Athena lontarkan untuk meredam seluruh spekulasi tentang dirinya dan Sang Jenderal yang tidak baik-baik saja. "Jenderal tidak pernah terlibat dengan perempuan mana pun selama masa pemerintahannya. Kami sebagai pegawai rendahan, bertanya-tanya kapan kami memiliki sosok ibu Dalla yang bertanggung jawab." Athena tersenyum masam. Meski begitu, dia tetap bungkam terhadap ucapan Ami. "Bukankah Jenderal kalian hebat? Dia pintar menyembunyikan segalanya dengan baik dan terencana." Ami menatap sinar di mata Athena yang menyala-nyala misterius. Istri Jenderal itu tersenyum manis ketika mereka sampai di depan pintu ruang percobaan dan Ami menelan ludahnya dengan gugup. Ami masuk ke dalam diikuti dua anak buahnya yang lain dimana masing-masing dari mereka membawakan racun dan penawarnya. Athena mengamati dalam diam, bersedekap di depan d**a ketika dia menatap salah satu anggota militer Dallas yang terbaring tak berdaya dan tak sadarkan diri. Ami menyuntik racun ke dalam tangannya melalui pembuluh darah merah. Dan seketika luka yang menganga itu tampak mengerikan dan basah. Bau basuk mulai tercium. Athena menutup hidungnya dengan tangan. Dan dia tidak memakai masker seperti yang dilakukan Ami dan dua anak buahnya. Luka sayatan itu mengeluarkan air berwarna hitam kental dan semakin lebar, menggerogotinya secara cepat dan tidak terkontrol. Ami segera menyuntikkan cairan lain sebagai penawar pada luka itu. Dan tidak membutuhkan waktu lama sampai luka itu menutup sempurna dan mengusap bekasnya dengan kapas bersih hingga kembali seperti semula. "Penawar kami berhasil. Ini yang Dokter Sara ciptakan selama lima tahun lebih untuk pemberontak Partai Merah sebagai senjata melawan militer kami." Athena menahan napas. Menurunkan tangannya dan menatap nanar pada luka yang kini sembuh sempurna di tangan anggota militer Dallas. Ami mengangguk, menyuruh kedua anak buahnya untuk berlalu pergi. "Jenderal memerintahkan kami untuk menciptakan massal cairan yang lebih mematikan dari penemuan Sara bersama penawarnya. Karena tidak ada yang bisa kami lakukan tanpa penawar. Penawar untuk Sara sudah sempurna, kami akan memproduksinya secara besar-besaran sebagai penyokong kesehatan anggota militer hitam Dallas." Athena menghela napas panjang dalam diam. Dia dan Ami memutuskan untuk keluar ruangan dan menemukan dua anak buah Ami tergeletak di atas lantai begitu saja tentunya mengejutkan mereka. "Astaga." Ami beranjak mendekat. Menggoncang tubuh keduanya ketika dia memeriksa nadi keduanya dan keduanya telah tiada. Athena menekan alarm darurat di sisi pintu kamar anggota militer Dallas yang baru saja mereka kunjungi dan serentak militer Dallas berlalu-lalang menuju tempat mereka. Menatap datar pada dua mayat yang tergeletak pucat dan segera membantunya untuk membawa keduanya pergi. "Bawa dia ke ruang otopsi," perintah Athena dan mereka menurutinya. Membawa mayat itu hati-hati ke dalam ruang otopsi bersama Ami yang berlari di belakangnya. "Nona Athena, pergilah. Aku akan menangani ini sendiri." Athena mengangguk pelan. Dia memegang tangan Ami dalam remasan lembut. "Aku akan menjamin keselamatanmu. Jangan khawatir." Ami berkaca-kaca menatap mata teduh Athena. "Terima kasih banyak, Nona Athena." Militer yang berjaga di sekitar Athena segera merapatkan barisan. Dia menatap sosok Ami yang pergi menjauh dan menghela napas. "Jaga ilmuwan muda itu. Nyawanya menjadi prioritas utama kalian di sini, maupun di Departemen Kesehatan. Kalian mengerti?" "Baik!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD