18

1932 Words
Athena menatap Maru yang kesulitan mengangkat kardus ringan di atas rak. Anak laki-laki itu merintih menahan sakit dan Athena menghampirinya. Menahan pundaknya dengan remasan lembut. "Kau baik-baik saja?" Maru hanya mengangguk lemah. Dia sebisa mungkin menyembunyikan sesuatu di balik lengan kirinya dan Athena dalam diam melirik bekas cakaran yang cukup dalam menggores lengannya. Tetapi, Athena mengunci rapat mulutnya. "Kau ingin aku memeriksakan kondisimu?" Maru menggeleng. "Aku tidak apa, Nona Athena. Jangan cemas." "Kau pucat," mata Athena menilai anak laki-laki itu dan dia tampak kepayahan juga pucat. Maru menggeleng sekali lagi. Athena memaksanya untuk melempar kardus itu dan mendudukkannya di atas kursi kayu. "Mari, jangan membantahku. Aku mencemaskanmu." Athena memasang wajah prihatin. Maru menghela napas berat menatap matanya. "Kembalilah ke Gildan. Bilang padanya kalau kau kurang baik. Dia akan mengerti." "Nona Athena." Maru menggenggam tangan Athena dengan gemetar. "Maukah kau ikut bersamaku? Kapten Gildan sangat merindukanmu. Dia selalu melantur menyebut namamu ketika tidur." "Kami, anggota Partai Merah begitu mencemaskannya. Dia tetap memimpin seperti biasa. Melancarkan strategi untuk menyerang waktu lengah Sang Jenderal. Hanya saja, adakalanya dia benar-benar hancur dan terpuruk karena begitu memikirkanmu." Athena termenung cukup lama. Dia menatap Maru yang memasang wajah memohon penuh padanya. Athena meremas mantelnya sendiri dan mengangguk pelan. Memberi persetujuan. "Aku akan kembali sebelum matahari terbenam." Maru mengangguk dengan senyum lebar. Dia merogoh saku jaketnya dan lagi-lagi senyumnya melebar. Saat Athena memapahnya hati-hati keluar ruangan, Maru mencoba berpura-pura menahan sakitnya dan kembali menjadi sosok yang lemah. Alis Panglima Sai terangkat tinggi ketika dia melihat Athena berjalan bersama Maru melewati pintu samping Departemen Pangan melalui teropong pelacaknya. Senyum dinginnya terbit laksana mentari pagi. Alat di telinganya bergetar kecil dan Panglima Sai menyeringai. "Target ditemukan. Kita hanya perlu menunggu." Panglima Sai terus mengikuti kemana pun mereka pergi sampai sosoknya tertelan lebatnya hutan pohon pinus dan semak belukar yang berduri. Teropong itu terlempar melewati bahunya dan mendarat sempurna di belakang mobil jeep miliknya. Panglima Sai memutar kemudi menyusul mereka dengan jeep yang dia kendarai. Maru berlari bersama Athena yang kewalahan mengejarnya sampai dirinya terjatuh karena kelelahan. Menarik napas dari udara di sekitarnya guna mengisi paru-parunya yang tercekik. Maru mendekati Athena, mencoba memapah gadis itu dan Athena menolak dengan halus. "Aku akan mencobanya sendiri." Athena merintih, memegang perutnya yang terasa nyeri karena terlalu lama berlari. Sudah berapa lama dia tidak berlari sejauh ini? Maru menatap Athena cemas. Saat istri dari Jenderal Dalla itu mencoba bangun, yang keluar adalah rintihan pelan dan ringisan pada bagian perutnya. Maru mendekati, memegang tangan Athena ketika dia merasakan seseorang menendang bagian punggungnya hingga dia terpental cukup jauh. Athena menutup mulutnya tak percaya dan dia mencoba bangun, menghentikan gadis bermata perak yang tiada ampun melancarkan serangannya pada Maru yang sudah lemah tak berdaya. "Kau mencuri penawar dari Sara untuk Immanuel Gildan?" Green Ariana meludah di samping Maru hingga anak laki-laki itu mendengus jijik tak tertahankan padanya. Athena tak lagi terkejut dengan dua buah suntikan yang disembunyikan Maru di dalam saku jaketnya. Pastilah penyerangan yang dilakukan dua anak buah Ami berasal dari dirinya. Hanya saja, dia tetap bungkam. "Green Ariana," panggil Maru lirih. "Jangan sentuh dia." Green Ariana mendesis licik. Dia menjambak rambut Maru dengan kasar dan menendang pipi anak laki-laki itu hingga berdarah. "Diam kau." Dan mendorongnya sekali lagi dengan keras. Membuat Maru semakin tidak berdaya. Athena mendorong Ariana agak keras dan Ariana berganti membalas jambakan pada rambutnya, membuat Athena mendesis menahan sakit akibat jambakan keras itu. "Kau harus tahu rasanya penderitaan dan rasa sakit karena cinta, istri Jenderal." Ariana menghajar Maru sekali lagi hingga anak itu tidak sadarkan diri dan membawa Athena lari sembari menyeretnya kasar, melawan arah dimana seharusnya dia pergi ke markas persembunyian Immanuel Gildan dan Ariana membawanya lari ke tempat lain. Panglima Sai berdecak dingin mendapati Green Ariana lebih cepat darinya. Dia sudah memperkirakan ini dan ternyata strategi yang Jenderal berikan berhasil memancing Green Ariana keluar dari sarangnya. Dulu maupun sekarang, Green Ariana terlampau kuat untuk melakukan semuanya sendirian. Panglima Sai menekan alat di samping telinganya guna menghubungi seseorang yang tengah menunggu laporannya dengan penuh antisipasi. "Nyawa Nona Athena terancam sekarang." Green Ariana menarik Athena melewati penduduk yang menatapnya ngeri ketika dengan tak berperikemanusiannya, dia menyeret tubuh lemah Athena ke atas tanah dan menarik rambutnya sampai ke depan rumah yang dimana penghuninya segera berlalu keluar saat Ariana datang dan meminta mereka mengosongkan rumah secepatnya. "Cepat sebelum militer Dallas datang dan aku tidak punya waktu." Athena meronta hebat. Dia mencakar kaki gadis itu dan Ariana terdiam menahan rasa sakitnya sendiri. Saat dia berhasil menyeret Athena masuk ke dalam rumah, gadis itu membenturkan kepala Athena pada tepi meja. Athena merintih pelan, menahan sakit di kepalanya yang mulai terasa. Dia tidak perlu terlalu lama meratapi rasa sakitnya ketika Athena melompat menghindari serangan Ariana secara membabi-buta. Dia tidak tahu siapa gadis ini dan apa hubungannya dengan Sang Jenderal sebelumnya hingga dia seperti kerasukan ingin membunuh Athena secara sadis tanpa dia tahu dimana letak kesalahannya. "Aku akan membuatmu membayar semua rasa sakit Sara." Mata Athena melebar ketika dia menatap moncong pistol itu dan segera menunduk ketika Green Ariana menarik pelatuk dan dinding itu menghasilkan lubang dimana peluru menancap di dalamnya. Tubuh Athena bergetar hebat. Green Ariana mendesis dingin, menatap sosok rapuh itu dengan tamparan keras di pipinya. "Kau harus mati." "Kenapa aku harus mati kalau Sara atau siapapun dia untukmu lebih pantas mendapatkannya dibanding aku?" Seharusnya, Athena diam saja. Atau dia berpura-pura kalah dan menyerah agar Hyugga Ariana tidak lagi menyerangnya secara membabi-buta. Nyatanya, dia ingin menentang. Ingin berteriak atas ketidakadilan yang juga menimpa dirinya. "Persetan denganmu!" Green Ariana semakin kalap dan Athena mendobrak pintu utama. Dan akhirnya dia terguling di atas tanah. Mengorbankan punggungnya yang nyeri asalkan dia bisa selamat dan melarikan diri dari serangan mengerikan Ariana yang kalap. Para penduduk ingin menolongnya tetapi Ariana memegang senjata yang siap meledakkan kepala Athena sekarang juga. Mereka tidak tahu siapa yang menjadi incaran Green Ariana karena sebelumnya, pemimpin pemberontakan Distrik Sopa itu tidak pernah memukul sesamanya. "Sebelum militer Dallas bisa menemukanmu, aku akan lebih dulu menghabisimu." Iris hutan itu membelalak ketika Green Ariana memegang sebuah alat dimana sudah terpasang peledak yang bisa membunuh mereka berdua. Dia menoleh, menemukan anak-anak yang menatapnya polos dan takut secara bersamaan. "Pergi dari sini. Cepat! Jangan pedulikan aku." Green Ariana mendesis dingin. Dia siap menekan sumbu peledak itu ketika Athena melompat bangun dan mendorong anak-anak di sekitarnya untuk menyelamatkan diri agar tidak terluka. Kepala Ariana menoleh ke belakang ketika Panglima Sai menabrak bagian belakang rumah dengan jeep miliknya dan melompat ke atas tanah, menodong pistolnya pada gadis itu untuk berhenti. "Turunkan senjatamu." Anak-anak mulai ketakutan saat mereka mendengar mobil militer lainnya mulai berdatangan dan Green Ariana kini terpojok. Dia melempar pistolnya dan menangkapnya, memberikan satu tembakan ke arah Athena yang dengan sigap menunduk, berhasil lolos dari kejaran peluru itu. "Pergilah. Jangan khawatir. Jenderal akan datang menyelamatkan penduduk di sini." Athena mengusap rambut ketiga anak itu dan menyuruh mereka berlari membawa mainan kayu mereka menjauh dari lokasi. Dia meringis, merasakan sakit di perutnya sekali lagi dan jatuh tak berdaya di atas tanah dengan keras. Green Ariana menoleh mendengar Athena yang terjatuh. Mendapatkan ini adalah kesempatannya saat dia berlari dan Panglima Sai melompat ke arahnya, menarik bahu gadis itu untuk berguling bersama dan menghajarnya. "Aku tidak main-main walau kau wanita sekali pun." Memukul pipi Green Ariana dengan tinjunya. Ariana terbatuk darah. Athena kembali bangun dan dia hampir diselamatkan penduduk lainnya yang iba padanya. Tetapi mereka menahan diri dengan takut-takut saat mobil militer datang bersama tiga jeep lain yang berhenti, dan seragam militer hitam membuat anak-anak ketakutan ketika turun dari mobil mereka. Letnan Edsel turun dari jeep yang dia kendarai dan menatap Athena yang berlutut dengan penuh luka. Green Ariana, apa yang kaulakukan? Letnan Edsel membatin miris dan dia melangkah saat Green Ariana melayangkan serangan balasan untuk Panglima Sai yang jauh lebih unggul darinya. Jelas, pertarungan ini akan dimenangkan Panglima Sai. Sang Jenderal turun dari mobil jeep miliknya dan semua pasang mata menatapnya ketakutan. Dia menghampiri Athena yang menarik napas dalam-dalam, kemudian membawanya ke dalam gendongan. Athena tidak lagi menolak ketika dia berada di tangan yang tepat. "Dia terluka cukup banyak, Jenderal." Sang Jenderal menghentikan langkahnya. Melirik dari sudut mata tajamnya siapa yang berani bicara dengan suara bergetar di belakangnya. Kemudian, kepala yang tertutupi topi militer itu mengangguk pelan dan kembali berjalan masuk ke dalam mobil lain untuk menaruh Athena di dalam. "Segera bawa dia ke rumah sakit. Lindungi nyawanya dengan nyawa kalian." Dua anggota militer hitam itu mengangguk patuh dan segera mereka melompat masuk ke dalam mobil dan memutar baliknya menuju rumah sakit secepatnya. Sang Jenderal berlalu kembali ke depan dimana Green Ariana berlutut paksa di hadapan Letnan Edsel yang berjongkok di depannya, mencengkram ketat dagunya. "Anak-anak dilarang melihat adegan kekerasan ini. Kalian seharusnya paham, bukan?" Mereka semua menatap Sang Jenderal takut-takut dan mengangguk cepat. Menarik semua anak-anak yang masih ada di luar rumah sesaat setelah Jenderal mengucapkan peringatan pada mereka yang menonton kejadian tanpa memedulikan mental anak-anak mereka sendiri demi masa depan. Semua pintu terkunci rapat dari dalam. Sang Jenderal mendekat ke arah dua tangan kanan terbaiknya bersama Green Ariana yang terluka berat. Pandangan meremehkan itu terang-terangan Sang Jenderal lontarkan baginya. "Kau seharusnya tahu sampai mana kemampuanmu." Letnan Edsel mundur dan berdiri. Menatap Ariana dalam pandangan kosong. "Bawa dia ke penjara bawah tanah. Aku akan memikirkan hukuman yang pantas untuk otak pemberontak seperti Green Ariana yang seharusnya mati lima tahun lalu," mata Sang Jenderal melirik Letnan Edsel yang memasang ekspresi datar dan dingin. Seolah Sang Letnan tidak mendengar ancaman dari Jenderal baru saja. Panglima Sai menyeret paksa gadis itu masuk ke dalam tank militer mereka. Mulai sekarang, Green Ariana akan ada di bawah pengawasannya dan bukan lagi menjadi urusan Letnan Edsel. "Katakan kalau kau keberatan, Letnan." Kepala Letnan Edsel menggeleng pelan. "Tidak, Jenderal. Pemberontak bernama Green Ariana itu terlewat batas karena menyentuh batasanmu." "Bagus." Sang Jenderal memerintahkan pasukannya untuk mundur dan menarik semua yang tersisa untuk ikut kembali ke benteng. "Bakar rumah ini. Kita tidak boleh meninggalkan apa pun yang tersisa dari pemberontak." Letnan Edsel mengangguk pelan. Sang Jenderal kembali berjalan menuju mobilnya dan terdiam sesaat setelah dia melirik dari sudut matanya, menemukan Maru tengah mengintip dari balik pohon pinus dan anak laki-laki itu segera menunduk, menyembunyikan diri dari lirikan tajam Sang Jenderal. Sang Jenderal kemudian berlalu pergi ketika dia mendengar bunyi retakan hebat dan asap yang menusuk hidungnya secara sembarangan. Di rumah sakit dimana Athena terbaring, Ami menatap cemas pintu kamar yang tertutup itu dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan istri pemimpin mereka setelah sebelumnya dia baik-baik saja. Dan malah kembali dengan luka-luka berat. Dalam hati dia merasa teriris karena istri Jenderal Dalla begitu baik mau membelanya dan melindunginya dari ancaman pemberontak yang sewaktu-waktu dapat membunuhnya. Yang malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri pada pemberontak tersebut. Ami mengangguk lemah pada Sang Jenderal yang mendesak masuk ke dalam kamar. Dengan berat hati dan berharap kesembuhan Athena, dia berjalan melewati pintu itu dan kembali ke Departemen Kesehatan untuk bekerja. Dokter Kei segera membungkuk pada Sang Jenderal yang mendekati ranjang istrinya dan menatap mata yang terpejam itu dalam-dalam. Alat pernapasan menancap di kedua lubang hidungnya. Selang infus yang tertusuk dalam di pergelangan tangannya. "Athena." Jenderal berusaha menggoncangkan bahu istrinya dan dia tetap diam. "Jenderal, ada yang ingin aku sampaikan." Sang Jenderal berdiri tegak. Dia menatap tajam tanpa ampun pada dokter paruh baya itu. "Nona Athena baru saja istirahat karena kami memberikan dosis obat tidur agar lukanya cepat pulih." Sang Jenderal diam mendengarkan. "Aku tidak tahu harus mulai darimana, tapi aku ingin mengucapkan selamat padamu." Alis Sang Jenderal terangkat tinggi. Matanya memicing dingin pada dokter berumur itu yang menunduk di bawah tatapannya. Menanti kalimat sang dokter dengan sikap waspada. "Ada kehidupan lain yang tumbuh di dalam perut istrimu, Jenderal."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD