19

1772 Words
Hamil? Manik Sang Jenderal menajam sempurna. Dan dokter paruh baya itu sekali lagi hanya mampu menundukkan kepala, menyembunyikan ketakutannya di bawah tatapan tajam Sang Jenderal. Alisnya menekuk tajam ketika dia menatap perut rata istrinya. Bertanya berapa usia kandungan istrinya dan sang dokter membalas dalam gumaman lirih, " ... empat minggu." Sang Jenderal menipiskan bibir. Usia pernikahannya sudah menginjak lebih dari yang dia kira. Ternyata sudah sejauh ini dia bertahan. "Kau boleh pergi." "Terima kasih, Jenderal." Dokter itu membungkuk sopan dan berangsur pergi meninggalkan Sang Jenderal di dalam dinginnya kamar dan menemani napas sang istri yang terlelap tanpa beban. Jemari kokohnya bergerak hendak mengusap pipi pucat itu dan dia menghentikannya sebelum bertindak lebih jauh lagi. Tidak. Logikanya menahannya untuk tidak berbuat lebih. Tangan itu melayang di udara, dan bergerak turun guna meremas tepi ranjang cukup erat. Dia akan mendapat keturunan dan semuanya selesai. Sang Jenderal mendelik pada sesuatu yang mencurigakan terletak di atas sudut kamar dimana Athena dirawat. Tubuhnya kembali menegap, dia berjalan santai membelah kamar yang dingin dan mendekat pada kamera kecil yang digunakan seseorang sebagai pengintai. Sudut bibir Sang Jenderal tertarik. Di saat seperti ini, pemberontak masih sempat untuk mengawasi pergerakan mereka. Apa yang mereka incar? Tatapan mata Sang Jenderal turun dan kembali pada sang istri yang masih pulas. Rahangnya mengetat keras. Sang Jenderal meraih pistol dan memasang peredam suara pada moncongnya, melemparkan satu tembakan untuk membuat kamera pengintai itu hancur berkeping-keping tak lagi bersisa. Serpihan hitam itu terbang bebas dan melayang-layang sebelum mendarat di atas lantai dan sepatu boot-nya. Sang Jenderal mendesis dingin, berjalan ke luar ruangan dan menemukan Letnan Edsel berdiri bersandar menunggunya dalam diam. "Jenderal." Sang Jenderal memiringkan kepala dengan alis terangkat. Walau begitu, dia tetap diam. Menunggu Sang Letnan untuk bicara. "Panglima Sai sudah membawa Green Ariana ke dalam penjara bawah tanah. Kami menunggu hukuman darimu." Kepala Sang Jenderal terangguk. Dia mengusap tengkuknya yang terasa lelah. "Apa kau datang untuk meminta penangguhan hukuman bagi Green Ariana?" Jenderal bertanya, tepat menusuk ke dalam hati Sang Letnan yang membeku. Letnan Edsel menggeleng samar. "Atau keringanan hukuman?" Tangan Letnan Edsel bergetar hebat. "Kau biasanya sulit terbaca, Edsel." Jenderal tidak memanggilnya dengan pangkat. "Kali ini matamu menjelaskan semuanya dan ini lebih mudah dibanding aku menebak-nebak isi kepala Panglima Sai." Jenderal meneliti ekspresi Letnan Edsel yang tidak biasa. Dan semua pertanyaannya terjawab. Karena Green Ariana. Letnan Edsel mendesis samar. Dia memalingkan muka seraya berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai. "Maafkan aku, Jenderal. Aku tidak bermaksud menentang perintah dan kekuasaanmu hanya untuk seorang gadis biasa." Sang Jenderal berdecak halus. "Gadis biasa?" Letnan Edsel memejamkan mata menahan debaran nyeri yang menyebar di dalam dadanya secara sembarangan. "Jenderal." "Kita semua tahu betapa luar biasanya seorang Green Ariana. Letnan Edsel, kau menutupi hati dan logikamu hanya karena hubungan di masa lalu kalian?" Sang Jenderal menekankan kata luar biasa dengan tekanan dalam dan penuh ancaman, membuat Letnan Edsel tak berdaya di bawah kakinya hanya bisa memejamkan mata kalut. "Aku bahkan tidak berpikir dia kembali berbuat sejauh ini hanya untuk ambisi mustahilnya. Hanya untuk misi bunuh dirinya yang tidak akan pernah terwujud.” Letnan Edsel menunduk, menahan getaran getir di dalam suaranya dan itu semua percuma karena Sang Jenderal menangkap kegelisahan itu dalam suaranya. "Bangun. Aku tidak akan menerima penghormatanmu." Letnan Edsel bangkit dengan pandangan kosong. "Aku akan memikirkan hukuman apa yang pantas untuknya. Dan saat eksekusi itu dilaksanakan, kau akan melihatnya. Kau akan menjadi saksi atas kekuasaanku dalam menegakkan keadilan." Sang Jenderal berlalu pergi meninggalkan Letnan Edsel yang membisu, menunduk dalam penuh sesak di dalam kepalanya. *** "Apakah dunia sedang bercanda sekarang?" Panglima Sai mengintip dari topinya yang sedikit miring ke kiri pada sosok Green Ariana yang memegang pintu besi penjara dengan erat. Bibirnya menipis menahan marah. Kedua matanya menajam memandang jijik pada Sang Panglima yang balas menatapnya sinis. "Felice Athena juga pemberontak! Dan apa? Dia dinikahi Jenderal Dalla? Kalian pasti bercanda. Apakah dunia sedang menertawakan kebodohan Jenderal Dalla?” Panglima Sai menghela napas berat. Dia memundurkan langkah guna memindai penampilan lusuh dan luka yang mengering akibat pukulannya pada wajah pucat gadis itu. "Tidak ada yang bercanda dan semua sudah terjadi. Dia bukan pemberontak sepertimu. Jenderal melakukannya dengan pertimbangan yang berat.” "Kau yakin? Dia kekasih Immanuel Gildan! Jelas dia membantu apa pun yang Gildan lakukan!" Panglima Sai berdecak menahan jengkel. Dia memejamkan mata kesal, menatap Green Ariana kemudian dengan pandangan dingin. "Pelankan suaramu. Kau tidak seharusnya berteriak sekarang. Simpan suaramu untuk sakit yang tak tertahankan nanti," bisik Panglima Sai dengan seringai dingin dan Green Ariana mendesis menahan marah. Jika dia bisa, dia akan mencakar wajah dingin itu dengan kuku-kukunya. "Aku tidak akan mati di sini." "Seberapa yakin dirimu?" Green Ariana lagi-lagi mendesis. Kepala Panglima Sai menoleh. Dia menemukan Letnan Edsel berjalan di tengah dan mendekati mereka bersama dua militer hitam Dallas yang menemaninya. Panglima Sai memberi anggukan kepala singkat dan Letnan Edsel segera berpaling, menatap Green Ariana datar. Sedangkan gadis yang ditatap hanya mengangkat alis, memberikan tatapan mencemooh luar biasa bagi Letnan Edsel. "Selamat sore menjelang malam, Letnan," sapanya dingin. Panglima Sai memutar mata. Dia seharusnya pergi dan tidak terlibat apa pun sebagai penonton drama di sini. Tapi, Jenderal memerintahkannya untuk mengawasi Green Ariana terlepas dia tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut mengawasi Letnan Edsel. Karena posisi Letnan Edsel amat krusial di sini. Apa pun yang berkaitan dengan Green Ariana. "Ini sudah malam dan kau hanya perlu menunggu waktu hingga Jenderal memberikan perintahnya untuk menghukummu." Green Ariana menarik sudut bibirnya dingin. "Aku lebih senang jika dia yang membunuhku langsung dibanding aku harus mati di tangan dua anggota militer terbaik seperti kalian." " ... itu jauh lebih terhormat." "Benar-benar sinting." Panglima Sai mendesis dan Green Ariana tertawa lepas. Suara tawanya menggema hingga ke seluruh penjuru lorong penjara yang pengap dan sepi. Letnan Edsel tidak berekspresi apa pun selain datar. Matanya mengamati bagaimana tubuh kurus Green Ariana dan bagaimana gadis itu bisa bertahan selama lima tahun hidup ini di bawah bayang-bayang kematiannya sendiri. Panglima Sai mendesah panjang. Dia punya tugas lain dimana dia harus mengawasi anak panti bersama gadis berambut pirang yang harus menjadi prioritasnya selama bertugas karena Jenderal menginginkan mereka tetap hidup sebagai jaminan atas diri Athena. Letnan Edsel menyadari sedikit kegelisahan di mata pekat Panglima Sai. Dia menatap Ariana sekali lagi dan berlalu pergi. Disusul langkah Panglima Sai yang memerintahkan militer untuk berjaga di sekitar penjara—atau layak disebut sebagai goa bawah tanah—dibanding penjara. *** Immanuel Gildan menengadah, menatap sosok Maru yang datang dengan terseok-seok dan wajah penuh luka. Dia menaruh senjatanya dan meminta anggota lain untuk memapah Maru secepatnya ke atas ranjang kayu dan diobati. "Apa yang terjadi?" Immanuel Gildan menekan pipi Maru yang lebam dan tergores cukup dalam. Lalu, kepalanya menoleh ke belakang dan instingnya mengatakan bahwa Maru aman tanpa diikuti militer Dallas. "Kau terluka karena para militer?" Maru menggeleng samar. Dia merintih menahan sakit ketika anggota yang cekatan segera memberikan pertolongan pertama pada lukanya. "Ini karena ulah Green Ariana." Mata bulat Immanuel Gildan melebar panik. "Kenapa dia melakukannya? Apa yang dia incar?" "Aku mencuri penawar yang Dalla kembangkan untuk melawan racun milik Sara yang sedang kita perbaharui massal. Green Ariana merampasnya dariku dan ... dia melukai Athena." Immanuel Gildan tidak bisa lebih terkejut lagi. "Dia melakukannya? Athena?” Maru mendesis menahan perih ketika cairan berwarna cokelat itu menjalar di sepanjang lukanya. Rasanya seperti ditusuk-tusuk ratusan jarum yang dalam. "Athena lari bersamaku untuk menemuimu." Immanuel Gildan termenung. Matanya awas menatap Maru yang tengah memejamkan mata menahan sakit yang amat sangat pada tubuhnya. "Apakah kau yang memaksanya?" Maru hanya meringis sebagai balasan. "Maru, apa kau memaksanya?" Immanuel Gildan mendesak Maru yang bungkam. Suara jeritan tertahan keluar sebagai pemenang. Maru tidak mengatakan apa pun dan itu membuat Immanuel Gildan mati rasa. Maru tidak perlu lakukan ini untuk membawa Athena padanya dan berakhir mengenaskan hanya karena anak itu peduli. Athena akan menjadi urusannya, dia tidak akan mengorbankan anak buahnya untuk mengambil Athena dari Jenderal ke pelukannya. "Dia kesulitan berlari. Dan dia terjatuh. Lalu, Green Ariana menyeretnya kasar sampai ke Distrik Sopa. Aku datang untuk menyelamatkannya sebisaku, namun militer hitam jauh lebih cepat dibanding aku." Immanuel Gildan menghela napas panjang. "Jenderal menyelamatkannya?" Kepala Maru mengangguk samar. "Jenderal datang bersama Letnan Edsel. Panglima Sai sudah mengawasi Green Ariana dan itu memudahkannya untuk menangkap dirinya secepatnya." Maru membuka sebelah mata. Sorot matanya sayu memandang guratan sedih yang tergambar di wajah pemimpin mereka. Tangannya terjulur, meremas lengan Gildan yang terbalut pakaian hangat. "Kapten, jangan khawatir. Athena masih merindukanmu. Dia terlalu sering bertanya tentangmu sampai aku bingung harus menjawab darimana tentangmu." Sudut bibir Immanuel Gildan tertarik hangat. "Aku menduganya. Terima kasih, Maru. Kau boleh istirahat. Untuk besok, jangan pergi bekerja dulu di Departemen Pangan. Aku takut seseorang mencurigaimu karena mencuri penawar itu dari dalam benteng." Maru mengangguk singkat. Dia kembali memejamkan mata. Menahan gumpalan rasa sakit karena dia baru saja berbohong pada Immanuel Gildan tentang Athena. Sudah berapa lama Athena tidak bertanya tentang Gildan? Pembicaraan tentang Immanuel Gildan selalu menjadi pancingan Maru, dan Athena baru menanggapinya. Benarkah perasaan manusia secepat itu berubah? Benarkah perasaan Athena yang begitu dicintai Sang Kapten tidak lagi berlabuh untuknya? Apakah Jenderal dengan ketajaman hati dan tangannya mampu membolak-balik perasaan manusia tawanannya? "Kapten." Immanuel Gildan mendongak dari senjata mematikannya dan mengangguk pelan pada anak buahnya yang baru saja mendapat laporan dari dalam Benteng Dallas bahwa Wise Cassandra bersama anak panti dikurung di dalam suatu tempat agak jauh dari benteng. "Siapa yang mengawasi mereka?" "Panglima Sai." Bibir Immanuel Gildan mengetat sempurna. "Itu bagus. Aku berpikir Letnan Edsel akan turun tangan mengawasi umpan sebesar itu." Seringainya timbul. "Kita akan mulai mengambilnya?" Immanuel Gildan termenung diam. Dia mengernyit, tampak berpikir keras. "Kita harus punya strategi untuk mengalihkan perhatian Panglima Sai dari mereka. Kalau perlu, kita bisa mengalihkan Letnan Edsel agar lengah. Panglima Sai dan Letnan Edsel sering bersama.” "Itu terlalu sulit." Immanuel Gildan mengangguk pelan. "Memang. Kita tidak mungkin membebaskan Ariana sebagai umpan. Gadis itu bisa jauh lebih gila lagi jika dia bebas dan berkeliaran. Kau lihat apa yang dia lakukan seorang diri? Dia bahkan berani meledakkan aula dan menyebabkan banyak orang terluka." "Dia membawa namamu sebagai umpan untuk Nona Athena." Tangan Immanuel Gildan terkepal tak nyaman. Keselamatan Athena akan selalu menjadi prioritasnya bagaimana pun posisinya saat ini yang melebihi dirinya. Sebagai istri dari Jenderal Dalla, tentu barisan militer hitam Dallas akan melindunginya dengan nyawa mereka. Tapi bagaimana dengan Sang Jenderal? Immanuel Gildan tidak mau membayangkan penyiksaan demi penyiksaan yang Jenderal lakukan hanya untuk menekan Athena agar mau tunduk di bawah kuasanya. Ini yang membuat Gildan muak. Membuat Organisasi Partai Merah kembali hidup karena Jenderal terlalu memaksakan kehendaknya dan melarang mereka menghirup kebebasan yang diimpikan. "Siapkan anggota yang terbaik menurutmu. Kita akan membawa Cassandra dan anak-anak selamat dari cengkraman Sang Jenderal sebelum matahari terbit." "Siap, Kapten."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD