Letnan Edsel menatap datar pada Jenderal yang duduk sembari menegak anggur dalam botolnya. Dia menunggu dengan sabar dan tak lama, sosok Panglima Sai muncul ke dalam ruangan dengan rambut berantakan dan tampak kacau.
"Aku bertaruh kalau kau baru saja membunuh dan bukan habis bersenang-senang?"
Panglima Sai terkekeh serak pada Letnan Edsel yang memandangnya dingin. "Apalagi yang bisa kulakukan? Sebagai eksekutor Jenderal jika dia tidak ingin melakukannya, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."
Letnan Edsel menipiskan bibir agar Panglima Sai berhenti bicara. Mata mereka sepenuhnya fokus pada Sang Jenderal yang memangku tangan di atas meja. "Pemberontak Distrik Sopa yang dipimpin Green Ariana, kita sudah membunuhnya hingga ke akar. Bahkan keturunan mereka sudah kalian bakar. Hanya saja, bagaimana dengan Organisasi Partai Merah?"
Letnan Edsel terdiam dan Panglima Sai membuka suara. "Kini saatnya kita menggunakan Maru sebagai umpan mereka."
"Seberapa besar pengaruh Maru bagi mereka?"
Letnan Edsel mengerutkan kening. "Hampir delapan puluh persen. Maru pintar mengendap-endap dan berkamuflase menjadi banyak hal. Dia ahli strategi walaupun dalam teknik menyerang, dia sedikit lemah."
Panglima Sai menatap Letnan Edsel. "Apa dia belajar dari Immanuel Gildan?"
"Ya. Informasi yang kudapat, Maru begitu mengagumi Immanuel Gildan dan rela mati untuknya. Sebagai anak buah, tentu dia akan melakukannya untuk Immanuel Gildan. Itu hal yang wajar sebagai pengikut setia.”
Sang Jenderal mengangguk samar. "Itu artinya, dia mencoba mendekati Athena hanya agar dia jatuh kembali ke dalam pelukan Immanuel Gildan?"
Kepala Letnan Edsel mengangguk.
"Kita lihat sejauh mana mereka berhasil."
Panglima Sai mengangkat alis bingung. "Jenderal?"
"Aku dan istriku membuat kesepakatan. Sedikit kompromi tidak akan membunuhku dan ini jauh lebih menguntungkan, terutama bagiku."
Letnan Edsel menatapnya datar dan Sang Jenderal tersenyum dingin. "Jika kau ingin tahu kelemahan musuhmu, kau harus memberi mereka sedikit kelonggaran untuk bernapas. Dan setelah tahu titik lemahnya, kau bisa menyerangnya hingga tak ada sisa."
Panglima Sai menyeringai lebar di hadapan Sang Jenderal. "Aku berpikir kalau kau benar-benar jatuh ke dalam pesonanya."
Sang Jenderal mendengus pelan sebagai respon.
Letnan Edsel bergeming. Tapi tidak dengan otaknya yang berputar keras mencari celah dalam mata Sang Jenderal yang menyala-nyala di dalam ruangan. Sang Jenderal mungkin bisa menipu seluruh dunia tentang siapa dirinya dan bagaimana dia terbentuk menjadi tak punya hati dan bertangan dingin, tetapi Letnan Edsel tahu semua sisi tergelap Sang Jenderal sekali pun tanpa terlewat.
Panglima Sai undur diri setelah membungkuk. Dia melempar kerlingan tajam bagi Letnan Edsel dan berlalu pergi.
Setelah pintu tertutup, terdengar helaan napas berat dari Sang Jenderal mengalun parau melalui bibirnya yang terbuka sedikit. Dan tegakan terakhir anggur menjadi penutup pertemuan mereka.
"Apa kau benar-benar akan melakukannya? Bersumpah untuk menyingkirkan Felice Athena setelah dia memberikanmu keturunan?"
Mata Sang Jenderal terpejam.
"Jangan lakukan ini."
"Kau lemah karena cinta. Berhenti bersikap seolah kau guru terbaik untukku," bisik Sang Jenderal dingin dan Letnan Edsel mendesis tajam sebagai bentuk pembelaan diri. "Tahan bicaramu, Jenderal."
"Letnan, kau tidak seharusnya—"
"Aku bicara bukan sebagai tangan kanan maupun bawahanmu. Aku bicara sebagai temanmu, Levant."
Alis Sang Jenderal terangkat tinggi. Dia terdiam sejenak, memberikan jeda waktu bagi mereka untuk mengatur napas. "Baik. Akan kudengarkan."
"Ini semua karena Karenina."
Rahang Sang Jenderal bergetar dan Letnan Edsel tahu dia bicara kebenaran. "Karenina. Dia adalah kesalahan yang pernah hadir di hidupmu."
Letnan Edsel menarik napas untuk melanjutkan. "Sekuat apa pun kau berteriak dia bukan kesalahan. Waktu akan berlalu dan kau akan menyadarinya dimana posisimu dan posisinya yang berbeda."
Sang Jenderal meremas gelasnya dan sedikit lagi dia mampu meremukkannya hingga berkeping-keping.
"Sebesar apa pun rakyat Dalla menghormatimu layaknya menghormati pemimpin mereka sebelumnya, Jenderal Akram, sedalam itu pula kau memiliki masa lalu yang mengerikan dimana Jenderal Akram juga melakukannya."
"Kau—"
"Aku belum selesai, Jenderal," Letnan Edsel menatapnya tajam tak gentar. "Yang orang katakan tentang militer hitam Dallas tidak memiliki hati benar adanya. Kau bisa melihatnya dariku, dari Sai dan dirimu sendiri. Tapi pada dasarnya, manusia diciptakan untuk merasa."
"—jangan pernah menyebut nama Karenina lagi di hadapanku."
Sang Letnan mendengus menahan tawa. "Kenapa? Kau masih belum menerima bahwa Jenderal Akram membunuhnya di depan matamu sendiri?"
Pecahan gelas itu membuat bising suasana yang tercipta. Suasana panas itu kembali memanas kala Sang Jenderal mendesis, menyatakan kemarahannya terang-terangan pada Sang Letnan yang berwajah kaku.
"Yang Jenderal Akram lakukan benar adanya. Memberikanmu hukuman tiada henti. Membuatmu sekarat, lalu menyembuhkanmu dan kembali membuatmu sekarat sampai kau tumbuh tanpa belas kasihan dan berjiwa beku. Semua yang dia lakukan benar."
Sang Jenderal menunduk, menahan senyum kosongnya. "Kau katakan ini hanya untuk menarik perhatianku agar tidak memberikan hukuman mati pada gadis yang mengisi penuh relung hatimu. Begitukah, Letnan?"
Letnan Edsel hanya mengangkat alis. Sekadar memberikan reaksi sederhana tetapi berhasil memancing amarah tak terbendung Sang Jenderal. "Lakukan apa pun yang kau mau, Jenderal. Karena seperti yang kubilang, manusia dilahirkan dengan hati untuk merasa. Dan aku dibesarkan untuk membunuh hatiku sendiri. Aku baik-baik saja jika aku kehilangan siapa pun di dunia ini. Terlebih kehilangan cintaku sendiri."
Sang Letnan membungkuk. Memberi salam sebelum dia pergi dan melangkah menuju pintu. Menutupnya hati-hati dan menemukan Panglima Sai berdiri bersandar pada tembok koridor yang dingin. Tersenyum sinis. "Karenina lagi."
"Kau lebih baik diam."
"Kenapa masalah laki-laki hanya ada pada wanita di saat kalian bisa melakukan hal yang lebih daripada bersikap lemah hanya karena wanita?" Panglima Sai mengamati ekspresi lelah Letnan Edsel dan dia terdiam.
"Apa Jenderal Akram membakar jasad Karenina?"
Letnan Edsel mengangguk. "Ya. Dan abunya dilempar di luar Benteng Dallas. Dia benar-benar pergi dengan cara tidak terhormat."
Panglima Sai tersenyum dingin. "Kita berdua tahu bagaimana Karenina layak disebut sampah dan jauh lebih rendah daripada binatang sekalipun."
Letnan Edsel hanya menunduk, mengusap wajahnya yang lelah dan terdiam. Panglima Sai kembali memalingkan wajah, bersiul sebentar kemudian berlalu pergi meninggalkan Sang Letnan seorang diri.
***
Wise Cassandra bergerak gelisah di tempatnya saat ini. Setelah memastikan semua anak-anak tertidur pulas di ranjang mereka, dia bergegas turun untuk membuat s**u hangat dan itu tidak berimbas apa pun pada hatinya yang gelisah.
Berulang kali dia mengintip jauh ke luar jendela dan menemukan seragam militer hitam Dallas yang berjaga di sekitar mereka dengan senapan menakutkan. Cassandra menjauhkan wajah, menghela napas seraya berdoa di dalam hati untuk keselamatan dan kesehatan bagi Athena yang tertawan di dalam Benteng Dallas.
Dadanya bergemuruh hebat kala dia mendengar suara roda ban dari minibus yang sama ketika membawa dirinya pergi dari yayasan waktu lalu. Wise Cassandra mengintip sekali lagi dan dia berlari ke dalam untuk melindungi anak-anak setelah mendengar serentetan letusan pistol menggema nyaring.
Anak-anak ketakutan. Mereka melompat dari ranjang mereka dan berlari memeluk Cassandra sembari menahan tangis. Cassandra memeluk mereka, mencoba menenangkan saat dia mendengar pintu digedor cukup keras dan dia harus turun untuk melihat siapa yang datang.
"Kami dari Organisasi Partai Merah dibawah komando Kapten Immanuel Gildan."
Mata Cassandra sontak melebar. Dia mengangguk patuh dan membawa anak-anak segera keluar sesuai instruksi dua pria itu. Kaki-kaki kecil mereka berjalan menyusuri tanah yang kering bersama Cassandra di depan sebagai pelindung.
Ada minibus yang menunggu. Cassandra membelalakkan mata terkejut dan pria itu mendesis sebagai respon. "Kami berhasil merampas mobil itu dari para militer. Jangan khawatir. Semua aman.”
Raut kelegaan itu lepas dari wajah Cassandra yang pucat. Dia tersenyum pada anak-anak. Memberikan mereka ketenangan karena semua akan baik-baik saja.
Mata Cassandra menatap ngeri pada anggota militer Dallas yang terkena peluru tembakan di d**a dan dahi mereka. Dia menatap anak-anak dan memalingkan wajah mereka satu-persatu dengan lembut agar tidak menatap mayat anggota militer hitam Dallas yang berceceran di atas tanah.
Panglima Sai mengamati dalam diam dari balik atas pohon pinus ketika dia menangkap ada dua minibus yang menunggu di hadapan rumah mungil sebagai rumah sementara untuk anak-anak panti bersama kakak tertua mereka. Panglima Sai mendesis dingin. Rumah yang sebenarnya mereka tinggali hanya sedikit lagi dan semua selesai. Sayangnya, Organisasi Partai Merah lebih dulu mengambil mereka darinya dengan cara halus.
Panglima Sai memberi komando bagi bawahannya untuk turun tangan dan menghadang mobil itu dengan mobil militer mereka. Dia melompat turun dari atas pohon, menjejakkan sepatu boot-nya di atas tanah dan menatap tajam ke setidaknya ada sepuluh orang anggota Partai Merah yang mengendap-endap.
Dengan seragam militer hitam yang dia kenakan sebagai lambang identitasnya, Panglima Sai memberi satu pemicu ledakan guna menghentikan langkah mereka lebih jauh lagi. Wise Cassandra menunduk, melindungi anak-anak dari ledakan yang meledakkan rumah kecil mereka sebagai singgahan sementara dengan tangan bergetar.
Mata biru laut Cassandra melebar kala dia menatap Panglima Sai berjalan mendekati mereka dengan senyum miring.
"Senang melihatmu lagi ..." tatapan matanya menilai penampilan sederhana Wise Cassandra dengan tatapan mencela sinis. " ... manis."
Sebelum Cassandra sempat bersuara, dia mendengar berondongan tembakan berasal dari dalam hutan pinus. Adu tembak itu terjadi dan salah satu anggota Organisasi Partai Merah membawa masuk semuanya ke dalam minibus mereka. Panglima Sai berlari, menahan minibus itu dan terjadi perkelahian sengit di antara mereka.
Immanuel Gildan mendecih pelan. Dia perlahan beranjak turun dari persembunyiannya dan melarikan diri, menarik pasukannya untuk mundur saat Panglima Sai semakin beringas mengejar mereka bersama bawahan militer hitam Dallas dengan seragam mengerikan mereka.
Tembakan balasan terjadi, dan kali ini anggota militer Dallas menjadi korban. Cassandra berteriak, mencoba menahan rasa takutnya sendiri di bawah peluru yang melayang di sekitar mereka. Beberapa anggota Partai Merah terkapar tak bernyawa dan dia segera melompat naik ke dalam minibus untuk pergi.
Panglima Sai mendecih menatap minibus itu. Kemudian tertawa pelan saat dia mengangkat tangannya, menyuruh salah satu militer yang membawa tembakan peledak jarak jauh untuk bersiap.
"Tembak!"
Peluru berukuran tas ransel itu melesat jauh dan mengarah pada minibus yang berjalan. Panglima Sai melebarkan seringainya menemukan minibus itu langsung meledak dan hancur berkeping-keping tanpa tersisa. Meninggalkan beberapa bara api yang masih menyala samar di atas tanah.
Wise Cassandra menahan napasnya mendengar tembakan keras dan mobil yang membawa mereka melaju keras menembus jalan bebatuan. Membuat kepala anak-anak yang duduk harus terantuk berulang kali dan mereka meringis menahan sakit.
Wise Cassandra mencoba membuka mata dari rasa takutnya sendiri. Dia menatap kepulan asap yang menghilang seiring minibus itu lenyap dari pandangannya. Dia menggigit bibir menahan rasa takutnya saat kepalanya menoleh, melebar sempurna menemukan Letnan Edsel duduk di pinggir pintu yang tertutup lengkap dengan seragam militernya.
"Kami akan memindahkanmu ke rumah yang semestinya. Kau akan aman. Panglima Sai mungkin semakin beringas setelah ini karena aku berhasil menggagalkan rencananya menghabisi kalian."
Wise Cassandra memucat sempurna. "Siapa yang membunuh anggota Partai Merah?"
"Siapa lagi kalau bukan militer hitam Dallas dibawah komando Panglima Sai?" Letnan Edsel menatap Cassandra dingin. "Aku tidak akan bicara bagaimana aku menyelamatkan kalian dari Panglima Sai dan anggota Partai Merah pantas mati karena mencoba membawa kalian lari.”
Wise Cassandra menundukkan kepalanya. Letnan Edsel menatap anak-anak yang memandanginya dengan sinar polos dan kemudian minibus itu berhenti. Letnan Edsel melompat turun. Dia menepuk jendela bagian depan dan berbicara pada si pengemudi.
"Bawa mereka ke tempat aman yang kutunjukkan. Setelah semua selesai, aku akan menyuruhmu untuk keluar. Kalian di bawah perlindunganku."
Pria itu mengangguk. Wise Cassandra tidak tahu apakah si pengemudi juga sama memakai seragam militer Dallas atau dia berasal dari rakyat biasa?
***
Athena membuka mata menatap siapa yang masuk ke dalam ruangannya sepagi ini dan menemukan kalau Sang Jenderal yang menjadi pengunjung pertama sebelum dokter itu sendiri.
"Kau terlihat tidak suka kalau aku datang."
Sang Jenderal menilai penampilan sederhana istrinya dan tersenyum samar. Menangkap perut ratanya yang tertutup pakaian rumah sakit. Athena mengangkat tangan, menutupi perutnya dengan gerakan seolah melindungi.
"Kau sudah tahu?"
Kepalanya mengangguk pelan.
"Bagus," ada helaan napas panjang saat Sang Jenderal menundukkan kepala dan menghirup aroma bunga dari rambut istrinya. "Aku akan membawamu pulang hari ini."
"Hari ini?"
"Ya. Kau tidak akan aman jika terus berada di sini. Dirumah, kau akan menjadi prioritas dan aku akan meningkatkan keamanan untukmu." Sang Jenderal memiringkan kepala, menunggu reaksi istrinya dan Athena tidak membalas apa-apa selain helaan napas berat.
"Siapa gadis itu?"
Alis Sang Jenderal terangkat. Tangannya yang meremas tepi ranjang ikut mengerat. "Apa?"
"Siapa gadis yang memberontak itu?"
"Dia pemberontak kelas atas dari Distrik Sopa. Dan ya, dia perempuan. Seumuran denganku. Dia begitu licik dan kemampuannya mungkin mengejutkanmu," balas Sang Jenderal.
Athena menundukkan kepala. Menghela napas panjang. Tangannya yang pucat bergerak untuk menarik selimut yang merosot sampai sebatas perutnya. "Aku akan pulang setelah dokter memberikan izin."
Sang Jenderal tampak tak suka dengan kalimat istrinya. Dia menekuk tajam alisnya, menundukkan kepala guna memakukan pandangan mereka berdua. Satu tajam, dan satu lagi tampak lemah.
"Aku akan membiarkanmu istirahat. Tetapi tidak lama."
Bibir Athena membuka sedikit. Ingin membantah, dan dia sedang malas untuk meladeni siapa pun selain keinginan besarnya hanya untuk tidur. Dia butuh tidur yang banyak agar rasa lelah dan nyeri yang menghinggap berkurang. Walau tubuhnya membaik, rasa kantuk yang besar menyerangnya tanpa ampun.
Dan dia kalah. Kepalanya hanya terangguk pelan. Kembali berbaring di atas ranjang dengan memperbaiki letak bantalnya, Athena memejamkan mata.
Bibir Sang Jenderal menipis mengamati wajah yang tampak damai itu lekat-lekat. Matanya yang tajam memindai seluruhnya seperti mesin pemindai dan tidak melewati satu pun untuk diam-diam memuji bagaimana sempurnanya istrinya saat ini walau dia sedang terbaring lemah tak berdaya.
"Tidurlah."
Athena membuka sedikit matanya dan lantas mengangguk. Menemukan aroma citrus yang membuat kepalanya berdentam tercium ketika wajah Sang Jenderal mendekat ke wajahnya, memberikan kecupan ringan di sepanjang sudut bibirnya dan berlabuh pada bibirnya untuk melumatnya pelan, menikmati setiap sesapan bibirnya dalam diam.
Yang mengejutkan Jenderal ialah bibir manis itu merekah sempurna. Sang Jenderal tanpa permisi menelusupkan lidahnya masuk dan tangan mungil sang istri balas menyusup masuk ke sela-sela rambut legamnya, menariknya lembut.
Napas Athena terengah-engah dan dia kesulitan menggapai oksigen untuk paru-parunya. Bibir basah Sang Jenderal perlahan naik, bergerak ringan menyapu pipi dan dagunya sampai dengan berat hati, dia mengangkat wajahnya dan menatap datar wajah sang istri yang kembali terpejam lelah.
Pintu kamar terbuka dan salah satu perawat yang ditugaskan Sang Jenderal membawa kursi roda perlahan masuk ke dalam dengan barang bawaannya. Sang Jenderal menggeleng pelan, dan perawat itu mengerti dengan isyarat yang diberikan. Dia segera mundur, menarik kembali kursi rodanya dan menutup pintu kamar.
Tak lama setelah perawat itu berlalu, dokter yang menangani Athena masuk ke dalam ruangan. Sang Jenderal memberi ruang untuknya memeriksa dan menunggunya dalam sorot mata tajam.
"Aku akan membawanya pulang sore ini."
Dokter itu mengangguk pelan. "Baik. Aku akan menyiapkan vitamin dan memberinya beberapa obat sebelum pulang."
Sang Jenderal menganggukkan kepala dan dia bergerak pergi meninggalkan Athena seorang diri di kamar. Menemukan Letnan Edsel menunggu di depan pintu kamar inap, menundukkan kepala.
"Jenderal." Letnan Edsel menyapa dan Sang Jenderal hanya mengangguk pelan.
"Green Ariana sudah dipindahkan ke ruang eksekusi. Kami menunggumu."
Kepala Sang Jenderal lagi-lagi hanya mengangguk. Tatapan matanya tak lepas dari raut datar Sang Letnan dan menilai seragam militernya kemudian menghela napas panjang. "Aku akan pergi menemui tetua sebelum menemui Green Ariana. Kau boleh pergi sekarang."
Letnan Edsel menganggukan kepala. Dia menunduk sekali lagi saat Sang Jenderal melawan arah untuk meninggalkan ruangan dengan seragam militernya berjalan menjauhinya. Letnan Edsel menipiskan bibir, batinnya berkecamuk dan dia harus tetap pada pendiriannya sendiri saat ini. Dia harus berpegangan pada logika dan akal sehatnya. Bukan hati yang terus memberontak.
Dia mendorong pintu kamar Athena dan menemukan gadis itu terbaring lemah di atas ranjang. Sebenarnya, apa sakit yang diderita Athena hingga dia terlihat kepayahan?
Dokter tidak mengatakan apa-apa padanya dan hanya sanggup mengatakan kalau dia terluka dalam akibat benturan bertubi-tubi. Jelas, Green Ariana akan bertanggung jawab untuk masalah ini.
Letnan Edsel terus mengamatinya dalam diam. Tanpa mengeluarkan suara apa pun sampai Athena terbangun karena haus, dan Letnan Edsel membantunya tanpa bersuara.
"Mau apa kau di sini?" Athena terkejut bukan main. Dia melindungi dirinya sendiri sebagai bentuk spontanitas dan Sang Letnan hanya menatapnya datar.
"Bertemu denganmu."
"Ada perlu apa?" Athena tidak bisa menyembunyikan nada tak bersahabatnya pada Sang Letnan yang berdiri kaku di sisi ranjang rumah sakit.
"Apa kau merindukan anak-anak di panti dan sahabatmu?"
"Cassandra?" Athena menutup mulutnya tak percaya. Dia ternganga hebat. "Bagaimana dirinya? Bagaimana keadaan anak-anak panti?"
Letnan Edsel tidak menjawab satu pertanyaan pun dan memilih untuk bungkam.
"Letnan?"
"Aku bisa membawamu kalau kau ingin melihat mereka secara langsung."
Mata Athena kali ini melebar sempurna. "Benarkah? Kau tidak berbohong?"
Kepala Sang Letnan menggeleng.
Athena kemudian tersadar. Dia memundurkan kepalanya dengan ekspresi kecewa. "Bagaimana dengan Jenderal? Aku yakin dia tidak akan membiarkanku begitu saja."
"Dia tidak tahu."
Alis Athena menekuk tajam. "Maaf? Aku pikir aku salah dengar."
Letnan Edsel menarik napas kasar. "Aku lakukan ini bukan semata-mata untukmu."
Athena membeku. Dia melirik Sang Letnan dengan tatapan terperangah tak percaya. Dia yakin, kedua telinganya masih berfungsi dengan baik dan tidak mengalami gangguan apa pun akibat kejadian yang menimpanya.
Letnan Edsel tidak perlu berlama-lama di sini. Mata birunya berpendar menatapi seluruh sudut ruangan dan aman. Jenderal tidak memasukkan CCTV hanya untuk mengawasi istrinya di dalam.
"Terima kasih."
Letnan Edsel mengembuskan napas panjang dan dia berjalan pergi tanpa perlu bersusah payah menoleh dan melihat bagaimana wajah berbinar dan terharu dari istri Sang Jenderal.
***
Pintu itu tertutup dan sosok Panglima Sai keluar dari dalam. Wajahnya mengetat sempurna dan jelas dia sedang menahan diri untuk tidak menghabisi korbannya hari ini.
"Menahan diri, Panglima?"
Mata pekat itu mengerling tajam padanya dan kemudian mendengus. "Aku kehilangan tawananku."
"Siapa?" Letnan Edsel mulai tertarik. "Ah, anak-anak panti itu bersama gadis pirang yang bernama Wise Cassandra? Kalau aku tidak lupa dengan nama tak pentingnya." Letnan Edsel mengangkat bahu tampak tak peduli.
Panglima Sai mendengus tajam. Dia menyandarkan kepalanya pada tembok lorong yang dingin. Lampu tampak temaram dan samar-samar menyinari wajah mereka yang kaku. "Apakah Jenderal tahu?"
Letnan Edsel menggeleng kecil. "Ini hanya sampai padaku. Aku belum melaporkannya."
Panglima Sai menghela napas berat. "Tahan laporan itu sampai aku menemukan mereka secepatnya. Aku harus pergi."
Letnan Edsel mengangguk pelan dan melirik sosok Panglima Sai yang kembali memakai topi militernya dan merapikan lengan seragam militernya untuk segera pergi. Sebelum dia menyentuh gagang pintu yang dingin, Letnan Edsel terdiam sejenak untuk mengambil napas panjang.
Letnan Edsel berjalan masuk dengan santai. Tanpa perlu merubah ekspresi wajahnya yang kaku dan dingin. Dia menutup pintu dalam gerakan pelan dan mengembuskan napas kasar ketika sepasang mata perak itu menghunjam tajam ke arahnya. "Selamat pagi, Letnan."
Letnan Edsel bergeming. Dia menarik kursi untuk duduk di hadapannya. Green Ariana menarik sudut bibirnya dingin. Dia sama sekali tidak terperdaya dengan sosok Kamaliel Edsel, Sang Letnan terbaik yang berubah pesat menjadi sosok lain selama kepergiannya ke militer hitam.
"Aku tidak terkejut bagaimana kau bertahan hidup selama ini. Kau selalu ... mengejutkan."
Green Ariana terkekeh pelan. "Aku menyukai bagaimana tatapanmu saat kau menyanjungku dengan sopan," bisiknya serak. Letnan Edsel masih memasang wajah datarnya. Tidak terpengaruh dengan ucapan Ariana di hadapannya.
"Terus terang saja, Letnan. Aku tidak suka berbasa-basi. Yang jelas, bagaimana hukumanku? Akankah perjuanganku berakhir sampai di sini atau—" Green Ariana menendang kaki meja dengan kuat. "—kau punya cara lain untuk kembali membebaskanku. Seperti lima tahun lalu, misalnya.”
Letnan Edsel masih memasang wajah statisnya. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Green Ariana yang mulai menggeram menahan gelegak amarah. "Letnan."
"Jangan bercanda. Kesempatanmu hanya satu kali. Kenapa aku tidak terkejut kalau kau melewatkannya?"
"Sampai aku mati, aku akan tetap pada ambisiku."
Letnan Edsel mengangkat alis. Dia memiringkan kepala guna menilai ekspresi Green Ariana yang terlewat dingin. "Begitu pula diriku. Rasa cintaku pada Dalla jauh lebih besar dari apa pun. Kau tahu konsekuensi sebagai pemberontak di sini."
Green Ariana tertawa remeh. Dia mengusap helaian rambut panjangnya dengan tangan yang terborgol. "Katakan saja aku tidak tahu. Lalu, bagaimana denganmu?"
Alis Letnan Edsel naik satu.
"Kau bisa melakukan kudeta besar-besaran untuk menggulingkan kekuasaan Amante di dalam Dalla. Kau bukan pria bodoh, kau paham jelas tentang ini. Dan aku rasa kau juga tahu kelemahan dari Jenderal Dalla itu sendiri lebih baik dari siapa pun di dunia ini."
Letnan Edsel mendesis dingin. "Jaga bicaramu."
Green Ariana tersenyum dingin. "Aku bisa bicara apa pun sebelum Jenderal bertangan dingin mengambil pita suaraku dan merampas tubuh serta jiwaku sebagai hukuman atas tindakanku."
Letnan Edsel terdiam cukup lama.
"Andai saja kau sepakat denganku, Letnan. Kau akan duduk di posisi Jenderal dan aku akan menemanimu sampai akhir hayatku nanti.”
Mata biru laut itu bergulir menatap Green Ariana yang menunduk.
"Bukan Felice Athena yang duduk sebagai ibu Dalla. Tapi aku, Green Ariana."
Letnan Edsel mengangkat alis. Menanggapi kalimat Green Ariana dengan dengusan tajam. Dia berdiri, bersedekap di depan d**a dengan memiringkan kepala, menilai ekspresi Ariana dalam diam. "Aku terkejut kau berani bicara sejauh ini setelah kau membuangku, Ariana."
Bibir Green Ariana bergetar menahan marah. Dia mendelik tajam pada Letnan Edsel yang menundukkan sedikit kepala, tersenyum dingin padanya.
"Kau tidak lupa dengan sumpahmu sendiri untuk membunuhku dengan tanganmu. Sejauh ini, kau gagal."
"Aku tidak akan gagal!"
"Bermimpilah selagi kau bisa," ujar Sang Letnan tajam. "Aku akan bertindak sebagai penonton setiamu."
Green Ariana mendesis dingin. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menahan diri karena kedua tangannya terborgol erat dan salah satu kakinya terikat pada kaki kursi. Panglima Sai benar-benar membuatnya muak.
"Jangan berdusta, Letnan. Kau paling payah dalam soal menyembunyikan perasaanmu sendiri."
Letnan Edsel menunduk menahan tawa pahitnya. "Sejauh mana kau mengenalku?"
"Tanpa batas."
Alis Sang Letnan terangkat.
"Kau bisa membunuh Jenderal Dalla—"
"Aku tidak bisa."
"—kau pasti bisa."
Letnan Edsel mendesis. Dia menggebrak meja tak sabar dan Green Ariana melebarkan matanya. Terlonjak penuh antisipasi. Terkejut dengan reaksi spontan Letnan Edsel yang terbiasa mengendalikan diri dengan baik.
"Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi sekarang, Ariana. Letnan yang tak memiliki hati atau Jenderal bertangan dingin yang diam-diam kau takuti."
Tidak lama setelah Letnan Edsel mengucapkan kalimat pahit itu, pintu terbuka sempurna. Sang Jenderal masuk dengan topi militernya dan melirik tajam pada Letnan Edsel yang bersandar pada tembok sembari bersedekap di depan d**a, memejamkan mata dan menarik napas.
Panglima Sai masuk setelah memberi instruksi pada petugas laboratorium untuk masuk dan mempersiapkan cairan temuan mereka yang dahsyat bagi para pemberontak.
Letnan Edsel membuka mata. Menemukan Sang Jenderal tengah duduk kaku di atas kursi kayu yang rentan, menyilangkan kaki dan terdiam menatap Green Ariana yang berulang kali menarik napas panjang.
Panglima Sai menutup pintu ruangan rapat-rapat. Disaksikan tiga anggota militer terkuat di Dalla, Green Ariana siap menjemput kematiannya sendiri kali ini.
Perawat itu tanpa ragu menunjukkan sebuah cairan berwarna merah muda di dalam tabung, menggoyangkannya perlahan dan sedikit mencampurkan cairan hitam kental, hingga warnanya berubah pekat.
Perawat itu membenarkan letak maskernya. Melirik Sang Jenderal guna meminta izin, dan kepala Sang Jenderal terangguk pelan untuk memberi izin.
Letnan Edsel melirik dari sudut matanya. Dia menatap Green Ariana yang terkulai lemas dan kepalanya tertunduk ketika cairan itu disuntikkan ke dalam aliran darahnya melalui pergelangan tangannya.
Panglima Sai mengetat kaku. Ekspresinya memburam dingin dan dia sama sekali tidak berpaling ketika tubuh Green Ariana bergetar hebat, benar-benar hebat dan mengeluarkan keringat dingin yang terlalu banyak.
"Kau boleh pergi."
Perawat itu mengangguk pada ketiganya dan segera melarikan diri dari sana. Berada di ruangan yang sama dengan Sang Jenderal dan dua tangan kanan terbaiknya ternyata semengerikan ini.
Alis Sang Jenderal terangkat mengamati perubahan fisik pada diri Green Ariana. Saat-saat gadis itu berteriak kesakitan. Ketika bibirnya mulai pucat, kemudian pecah. Dan ketika noda keriput mulai menjalari bagian bawah matanya dan meluas sampai ke pipi.
Letnan Edsel mendesis dalam diam. Menatap bagaimana penampilan Green Ariana yang terlihat tiga puluh tahun jauh lebih tua dan tatapan mata itu berubah kosong total. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam jiwanya yang mati.
Sang Jenderal menghela napas tajam. "Green Ariana bisa dinyatakan mati, bisa dinyatakan dia masih hidup. Dia masih bernapas, tapi aku mengikat jiwanya."
Panglima Sai memiringkan kepala, mendekati Green Ariana dengan salah satu tangannya menepuk pipi gadis itu, dan Green Ariana menjerit ketakutan. Sangat ketakutan.
"Dia akan terus seperti ini sampai akhir hayatnya."
Sang Jenderal lantas berdiri dari kursinya dan Panglima Sai melempar seringai dinginnya pada Letnan Edsel yang terdiam. "Bukankah ini hukuman terbaik?"
Letnan Edsel membuang wajahnya. Dia berjalan pergi keluar ruangan dalam diam dan Sang Jenderal menoleh pada Panglima Sai. "Buang dia ke penjara bawah tanah. Pastikan kau yang mengawasinya langsung dari Letnan Edsel."
Panglima Sai mengangguk pelan. "Baik, Jenderal."
***
Athena terbangun saat Letnan Edsel masuk ke dalam kamarnya. Dia terkejut menemukan pakaian lengan panjang berwarna hitam pekat milik Sang Letnan dan tak lupa seutas tali hitam di tangannya. Membuat Athena kebingungan mengapa Letnan Edsel datang dengan membawa peralatan aneh?
Letnan Edsel tidak memakai seragam militernya.
Athena hendak membuka mulut tetapi Letnan Edsel membekap mulutnya. Dengan cepat, dia menutup kedua mata Athena dan mengikatnya agak kencang.
"Letnan, apa yang kaulakukan?"
"Aku akan membawamu ke tempat anak-anak."
Letnan Edsel membawa tubuh rapuh itu ke dalam gendongannya dan melesat pergi meninggalkan kamar saat dia melenggang melewati batas-batas militer Dallas dimana penjagaan untuk istri Jenderal diperketat dan dia dengan mudah melewatinya.
Letnan Edsel menurunkannya di pinggir hutan pohon pinus yang gelap. Athena mencoba melepas tali yang menutupi kedua matanya, tetapi tertahan oleh tangan Sang Letnan.
"Kita belum selesai."
Athena menahan bibirnya agar tidak bicara dan dia terus melangkah hingga langkahnya tertatih-tatih memasuki hutan yang penuh duri dan ranting tajam.
Athena mencoba menahan rintihan kecil ketika kakinya terkena goresan ranting yang kering. Letnan Edsel menunduk, menemukan luka bekas goresan itu sedikit melebar dan berdarah. Dia berdecak halus, kembali membawa Athena untuk berjalan menembus gelapnya hutan dengan penerangan yang sedikit dari lentera yang dia bawa.
Sang Jenderal membuka pintu kamar istrinya dan menemukan kamar itu kosong. Dia merangsek maju, mencari kemana Athena bersembunyi dan dia tidak menemukan apa pun.
Panglima Sai bergegas masuk ketika alarm darurat dinyalakan. Jenderal keluar kamar dengan ekspresi marah yang siap meledak. "Di mana Letnan Edsel?" Jenderal melemparkan pertanyaan mendesak tanpa basa-basi.
Panglima Sai terdiam sejenak. Dia mengangguk pada Sang Jenderal kemudian pamit untuk mengejar Letnan Edsel sebelum bergerak lebih jauh lagi. Jenderal Dalla menggeram, menggertakkan gigi menahan marah yang luar biasa.
"Sisir sepanjang hutan pohon pinus! Cepat!"
Athena meraba-raba sekitarnya dengan pencahayaan minim dan hanya bermodalkan cahaya bulan yang sama sekali tidak mampu membantunya berjalan jauh.
"Kenapa gelap sekali." Athena meringis dalam hati dan tidak menemukan siapa pun di sekitarnya. Bahkan Letnan Edsel meninggalkannya begitu saja setelah dia melepas tali yang menutupi kedua matanya. Dan Athena tidak bisa mengejar langkahnya yang terlalu gesit dan terlatih untuk melarikan diri secara cepat.
Langkahnya diam. Dia mencoba menunduk agar tidak terlihat oleh dua orang pria bersenjata yang berkeliling di sekitarnya dengan bisik-bisik pelan saling melempar tawa. Dia mengintip dari semak-semak dan menemukan api unggun cukup besar menyala ada di tengah-tengah mereka.
Matanya melebar ketika dia berdiri dan berusaha menarik pipinya dengan kencang agar dia sadar kalau dia sedang tidak bermimpi sekarang.
"Gildan."
Immanuel Gildan tengah melamun sembari membakar ikan di atas api unggun. Anggotanya yang lain sedang minum dan bercanda antar satu sama lain. Seakan Immanuel Gildan larut dengan dunia semunya sendiri.
Mulut Athena terbuka dan tanpa sadar langkahnya perlahan mulai mendekat. Ingin sekali berteriak kalau dia tak sedang bermimpi bertemu Immanuel Gildan dalam keadaan baik-baik saja.
"Gil—"
Tubuhnya terhempas dan Athena merasa ada seseorang yang menahannya untuk tetap diam. Dia mencoba meronta sekuat tenaga, tetapi kedua tangan kokohnya berhasil menghalau gerakannya dan pada akhirnya Athena melemah dan perlahan tidak sadarkan diri.
Di tempat lain, Sang Jenderal merangsek maju mendobrak ruangannya sendiri ketika Panglima Sai melaporkan bahwa Letnan Edsel sedang menunggunya di dalam ruangan.
Amarah Sang Jenderal menggelegak naik ke atas permukaan. Dia mengamati penampilan Letnan Edsel dari atas sampai bawah. Sang Letnan berpakaian lengkap dengan seragam militer hitam tanpa topi. Tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan apa pun yang menjadi dugaan besar Jenderal.
"Salam, Jenderal."
Letnan Edsel melirik tajam pada Panglima Sai yang ikut masuk. Mendengus dingin padanya. "Aku mendengar kalau alarm darurat dinyalakan dan aku bergegas datang untuk mengecek hal apa yang terjadi."
"Jangan bercanda, Edsel."
Alis Letnan Edsel terangkat. "Aku sedang serius saat ini." Ekspresinya datar.
"Kau darimana?"
Letnan Edsel menoleh pada Panglima Sai. "Mengecek pembangunan panti bagi anak-anak yang menjadi tawanan Jenderal."
Panglima Sai mendesis dingin menatap Letnan Edsel yang tampak santai. Sama sekali tidak gentar dengan tatapannya. Sial, jadi Letnan Edsel yang membawa Wise Cassandra dan anak-anak lari dari tangannya?
Sang Jenderal maju dua langkah, memberi pukulan pada wajah Letnan Edsel dengan kepalan tangannya. "Sebelum aku membunuhmu, katakan apa maumu?"
Letnan Edsel mengusap sudut bibirnya dan dia tersenyum dingin. Tangannya mengusap bekas darah itu ke seragam militer hitamnya. "Tidak ada."
"Katakan kemana kau membawa Athena pergi?"
Letnan Edsel mengernyit dalam. "Aku tidak membawa istrimu pergi. Jenderal, tuduhanmu itu tidak beralaskan."
"Diam, Letnan!”
Letnan Edsel memejamkan mata mendengar bentakan keras dari Sang Jenderal yang bersiap meledakkan kepalanya dengan pistol di tangan. "Waktumu hanya sepuluh detik, Letnan."
Sang Letnan maju perlahan sembari membuka mata. Alas sepatu boot miliknya terdengar parau di dalam ruangan yang dipenuhi napas beradu satu sama lain.
"Kali ini kau menodongkan pistol padaku untuk siapa?"
Panglima Sai melirik keduanya dengan tatapan dingin dan kening mengernyit dalam.
"Karenina—"
"—Ariana—"
"—atau Athena?"