Yang pertama, karena Karenina.
Sai menengadah menatap langit yang menyapu gelap. Rintik-rintik hujan mulai turun, membasahi tanah kering secara perlahan namun pasti. Mata pekatnya terpejam sejenak, menunggu debaran dadanya yang gelisah segera padam.
Bibirnya bergetar menahan diri saat mendengar bentakan bernada ancaman dari balik lantai dua di atas lapangan yang sepi. Jenderal Akram ada di sana, menatap tajam pada dua sosok yang saling beradu napas untuk membuktikan diri siapa yang lebih hebat diantara keduanya.
"Berhenti, Levant!"
Perintah itu tidak digubris sang anak. Sai menoleh, menatap pada sosok di seberang gedung lain dengan sorot mata bangga dan angkuh bersamaan. Napasnya memburu hebat tatkala seperti menemukan mangsa buruan.
"b*****h kau, Karenina."
Bibir terpoles lipstick merah menyala dan riasan yang menampilkan bagaimana wanita itu duduk di kelas tinggi, Sai mendesis dalam pita suaranya. Menemukan sorak dari bibirnya dengan tepuk tangan riuh saat Levant berhasil membuat tubuh Edsel terpelanting ke atas tanah.
"Levant!"
Jenderal Akram mengeluarkan peringatan sekali lagi dan menembakkan peluru petir ke atas langit yang kelabu. Sai membelalak, dia bersiap diri untuk berlari menghentikan mereka berdua ketika lehernya ditarik oleh seutas tambang dan napasnya tercekat serasa dicekik hebat.
"Diam kau, bodoh."
Sai menggeram tak tahan. Dia diperlakukan seperti binatang. Kekerasan yang terjadi di dalam militer Dalla memang bukan isapan jempol belaka. Mereka membuat diri lain di dalam diri para militer agar menjadi manusia tanpa hati.
Levant menyipit, menekan tombak itu ke d**a Edsel yang terbanting. Saat gemuruh petir menyambar dan aliran listrik itu melepas ke tanah, Sai tahu mereka sudah berakhir.
"Ini semua ... karena Karenina. Jalang itu."
Levant mendesis sekali lagi. Menekan ujung tombak tepat di atas d**a Edsel yang terkapar tak berdaya. Dia bertelanjang d**a, sama seperti Levant yang penuh pelur dan lebam.
"Aku memang tidak bisa melawanmu, Levant. Tapi untuk urusan ini, aku akan bertindak sebagai kawanmu."
"Diam."
Edsel bangkit dari tanah. Menendang d**a Levant hingga pria itu menggeram dan limbung. Tombak terjatuh di atas tanah dan Edsel lekas menendang jauh tombak itu hingga tidak mampu digapai Levant.
"Berhenti." Sai berteriak parau dan hantaman rasa sakit yang tertahan di tenggorokannya lagi-lagi tidak tertahankan. Telapak tangannya telah memerah sempurna.
Edsel memberikan serangan tiada ampun pada Levant dan pria itu terjatuh di atas tanah tanpa perlawanan sedikit pun. Edsel mendecih, membuang ludah sembarangan dan mendengar kilat sekali lagi menyambar di dekat mereka sebagai tanda peringatan dari Jenderal Akram.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu mati. Calon Jenderal di masa depan haruslah hidup."
Levant tertawa pelan. Dia bangun, mengusap pipinya yang terluka dan sakit akibat robek bibir mulai membuatnya tak nyaman.
Mata pekat Levant naik ke atas. Menemukan Karenina berdiri di atas dengan senyum lebar yang menakutkan. Kedua matanya memicing tajam, mendapati wanita itu tengah bertepuk tangan dan meniupkan kecupan jauh untuknya.
Edsel menatap pemandangan menjijikan itu dengan geraman tajam. Dia menyerbu Levant sekali lagi, hendak membanting Levant ke atas tanah dan Levant berhasil menahan tangannya, melepas tangan itu dan memutarnya, membanting tubuh Edsel ke atas tanah dengan keras saat dia tertatih-tatih mengambil pistol milik anggota militer Dallas yang berjaga di sekitar pertarungan mereka dan mengarahkannya pada Edsel.
"Sekali lagi kau bergerak, kau mati di sini."
Panglima Sai menoleh saat menatap pintu ruangan Sang Jenderal terbuka sempurna. Salah satu militer hitam datang untuk menghadap dan pistol yang terangkat untuk Letnan Edsel perlahan turun ketika mendengar laporan dari pihak militer itu datang.
"Nona Athena ada di kamarnya. Dia aman dan ada di rumah sekarang."
Panglima Sai mengangkat alis tak percaya. Dia mengamati ekspresi datar salah satu militer itu dan dia segera berlalu saat Sang Jenderal merangsek maju dan keluar ruangan tanpa bicara satu kata pun pada dua tangan kanannya yang tercenung diam.
Letnan Edsel mendecih samar. Dia memperbaiki seragam militernya dan melirik Panglima Sai tajam. "Asas tak bersalah. Bagaimana bisa dia sebodoh itu menuduhku?"
Panglima Sai mendengus tajam. Menemukan Letnan Edsel terkekeh pahit meledek ke arahnya. "Nyatanya, kau pun tidak bisa menghilangkan kecurigaanmu itu padaku."
"Kau paling tahu apa yang terjadi, Letnan."
"Aku tidak akan berkhianat kalau kau ingin tahu. Hidupku untuk Dalla dan rakyat Dalla. Bukan sesuatu yang kuinginkan selain mengabdi pada Dalla dengan nyawaku sendiri.
Panglima Sai menghela napas panjang. Dia memejamkan mata sembari menyandarkan kepala. "Apa yang ingin kau buktikan pada Jenderal?"
Letnan Edsel membisu agak lama. Ada jeda yang cukup panjang di antara mereka. Panglima Sai membuka sebelah mata, menemukan ekspresi muram Sang Letnan yang kentara.
"Kepeduliannya. Memastikan bagaimana dia benar-benar melupakan Karenina dalam hidupnya."
"Si jalang itu," Panglima Sai mendesis dingin. Tangannya bersidekap di depan d**a. "Mengapa dia membuatku muak padahal sosoknya tidak lagi ada di dunia ini?"
Letnan Edsel menatap dingin pada Panglima Sai. "Apa kau mau bertaruh?"
"Tentang perasaan Jenderal?"
Letnan Edsel hanya mengangkat alis. Dia mendekati Panglima Sai dan mengulurkan tangan. Tersenyum tipis. "Jika benar gadis ini obatnya, yang kita berdua perlu lakukan adalah melindunginya."
Panglima Sai menerima uluran tangan itu dan memukul d**a Sang Letnan dengan tawa tipis. "Bukan pekerjaan sulit."
Panglima Sai berjalan pergi bersama Letnan Edsel untuk keluar ruangan Sang Jenderal yang otomatis gelap gulita ketika mereka meninggalkan tempat. Saat Panglima Sai berbelok melawan arah, Letnan Edsel menatap salah satu militer yang mengangguk padanya dengan kaku dan Letnan ikut mengangguk sebagai reaksi.
Dia berhasil membawa Athena kembali ke kamarnya dengan selamat.
Athena meluruskan kakinya. Menatap luka di kakinya dan mendesis pelan karena rasa sakit itu ternyata lebih pedih dibanding sebelumnya. Lukanya sudah mengering, tapi goresan yang cukup dalam membuatnya merasakan sedikit nyeri.
Pintu menjeblak terbuka dan Athena terburu-buru menarik selimut sampai menutupi perutnya. Dia menatap kosong ke arah pintu, dan Sang Jenderal yang berlari dengan napas memburu muncul di hadapannya.
“Jenderal."
Jenderal mendekat maju ke depan. Menatap Athena dari atas dan ke bawah dimana separuh tubuhnya tertutupi selimut hangat. Matanya kembali merambat naik, memaku tatapan polos itu dengan mata tajamnya. "Darimana kau?"
"Seharusnya bukan itu yang kau tanyakan padaku."
Sang Jenderal mengetatkan rahang. Dia mengulurkan salah satu tangannya, mencengkram dagu mungil itu. "Aku bertanya. Kau darimana? Menikmati perjalananmu untuk menghirup udara bebas?"
Athena menelengkan kepala. Menepis halus tangan Sang Jenderal dari dagunya. "Terima kasih pada Letnan Edsel karena dia berbaik hati mengantarku pulang."
"Aku bisa membawamu pulang! Kenapa kau harus pergi bersamanya?"
Iris hutan itu melebar kaget. "Kenapa kau marah? Dia tidak melukaiku, dia melindungiku dan aku selamat sampai di rumah."
Sang Jenderal berdecak marah. Dia menarik selimut itu dengan satu tangan dan menemukan luka di kaki kanan istrinya. Athena meringis, meremang di bawah tatapan tajamnya.
Sorot mata Sang Jenderal menggelap sempurna menemukan luka yang pekat terlihat mencolok di atas kulit putih sang istri.
"Kau mau menjelaskan kenapa kau terluka?"
Athena menghela napas. "Saat Letnan Edsel membawaku dengan kursi roda keluar dari kamar, dia merasa jika aku terlalu lama di sana, aku tidak akan aman. Dan kupikir kau memberikan mandat padanya untuk membawaku pergi."
Alis Sang Jenderal menekuk tajam mendengar penjelasan Athena yang sedikit berbelit.
Athena kembali melanjutkan. "Ada salah satu pasien kejiwaan yang memberontak setelah laboratorium kalian mencoba sampel percobaan baru. Dan dia mengamuk. Militer belum sempat menanganinya, dia berlari ke arahku, membuatku terjatuh dan untungnya aku tak apa dari kursi rodaku. Ini bekas lukanya."
"Letnan Edsel menolongku. Dia menghajar pasien itu hingga babak belur." Athena menilai ekspresi kaku Sang Jenderal. "Kalau kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada mereka yang ada di rumah sakit."
Sang Jenderal menghela napas panjang. Dia menunduk, duduk di tepi ranjang dengan mata yang terus mengamati luka itu dalam diam.
"Ambilkan aku salep di dalam laci itu."
Alis Sang Jenderal terangkat naik. Athena kembali bersuara parau. "Aku malas untuk turun dari ranjang."
Tanpa banyak bicara, Sang Jenderal berjalan guna mengambil salep penutup luka di dalam laci dan membawakannya untuk Athena yang tengah mengulum senyum padanya.
"Pintar. Kau memang anak baik."
Sang Jenderal mengernyit mendengar pujian itu untuknya. Athena membuka tutup salep, mengoleskan cairan padat ke atas lukanya dengan hati-hati dan rasa dingin itu menjalar masuk ke dalam lukanya, membuatnya merasa nyaman.
"Sudah lebih baik?"
Athena tersenyum ke arahnya. "Sudah."
Sang Jenderal mengangguk tipis. Dia bergerak membuka seragam militernya dan Athena membelalak terkejut. Memundurkan tubuh tanpa sadar saat Sang Jenderal terus melanjutkan kegiatannya melepas pakaian atasnya, hingga dia bertelanjang d**a. Seakan menutup mata dari rasa bingung bercampur malu dari sang istri yang masih menatapnya tak percaya.
"Kau mau apa?"
Sang Jenderal meliriknya datar. "Kenapa?"
"Aku hanya bertanya. Kenapa kau buka baju di sini?" Suaranya berubah panik. Sang Jenderal menolehkan kepala, melempar seragamnya ke depan pintu kamar mandi dengan santai.
Dia bergerak merangkak ke atas tubuh istrinya dan Athena melindungi diri dengan menyilangkan tangan di depan d**a. Menatap tajam Sang Jenderal. "Jangan macam-macam."
Bibir Sang Jenderal tersenyum tipis. Dia menunduk, menatap pakaian tidur istrinya dan kembali ke matanya. "Apa yang kau cemaskan?"
Kedua mata Athena menyipit tajam. Dia mendorong d**a itu dan tidak berimbas apa-apa karena tubuh Sang Jenderal sangat kokoh.
Sang Jenderal menarik dagu sang istri untuk mendekat, memberikan ciuman paksa di bibirnya. Melumatnya lembut dan berubah tergesa-gesa saat Athena membalas lumatannya perlahan namun pasti.
Athena menekan kedua telapak tangannya di pipi sang suami. Menjauhkan wajah dengan napas yang saling beradu satu sama lain dan terengah-engah tak beraturan. Dia tersenyum, memiringkan kepala menatap mata pekat Sang Jenderal yang mulai berhasrat. "Mandi."
Alis Sang Jenderal terangkat salah satunya. "Mandi?"
"Aku belum mandi." Athena tertawa pelan. "Aku ingin mandi air hangat. Kalau kau tidak keberatan?" Nada suaranya menggoda batin Sang Jenderal yang sekuat tenaga untuk tidak menikmati tubuh sang istri di saat kandungannya masih terlalu muda dan rentan. Tapi sepertinya, semua baik-baik saja karena Athena lebih sehat sekarang.
Sang Jenderal mendengus pelan. Memberikan kecupan ringan sekali lagi di bibir manis sang istri dan membawa tubuh mungil itu ke dalam gendongannya, beranjak pergi menuju kamar mandi setelah menutup pintunya.