Panglima Sai mengintip dari balik mobil militer saat dia diam-diam mengikuti kemana Letnan Edsel pergi di pagi hari dimana matahari belum sepenuhnya naik ke peraduan.
Lengkap dengan seragam militernya, Sang Letnan berjalan santai menyusuri hutan pohon pinus yang disadari Panglima Sai bahwa jalan itu dihaluskan dan diberi akses mudah bagi siapa saja yang ingin lewat. Bibirnya menipis ketat tanpa sadar. Batinnya menggeram mendapati bahwa Letnan Edsel sudah bergerak sejauh ini.
Letnan Edsel bergerak di bawah pengawasan Sang Jenderal. Itu sangat jelas. Dia berjalan mengikuti Letnan Edsel memasuki hutan dan tidak jauh, dia menemukan tenda darurat yang cukup besar milik militer hitam Dallas dan sekumpulan anak-anak yang tengah bermain di depan tenda.
Matanya sontak melebar penuh. Panglima Sai menatap anak-anak yang segera berlarian masuk saat Letnan Edsel mendekat dengan raut datar dan tatapan tak bersahabat.
Wise Cassandra keluar dari dalam tenda dengan keranjang dan mantel lusuh panjangnya. Panglima Sai sontak mengangkat alis melihat penampilan gadis itu terlalu sederhana bagi penduduk distrik yang terbiasa mendapati pakaian yang layak dan pantas dikenakan.
"Letnan."
Kepala pirangnya mengangguk ragu. Letnan Edsel hanya terdiam, menatap tenda yang mulai sepi. "Pembangunan akan selesai. Kau dan anak-anak bisa menempatinya lusa nanti. Aku datang untuk melihat situasi kalau-kalau Organisasi Partai Merah datang untuk menemui kalian."
Kedua mata biru laut Cassandra melebar. Dia menggeleng dengan raut cemas. "Tidak ada siapa pun yang datang. Kami dijaga ketat oleh militer Dallas." Tidak ada kebohongan karena dia bicara kenyataan.
Letnan Edsel menghela napas pendek. Dia berkacak pinggang menilai sekitarnya dan memiringkan kepala ketika dia menangkap sesuatu yang janggal. "Kau mau pergi?"
"Ya. Aku akan membeli beberapa kebutuhan anak-anak sendiri."
Letnan Edsel menipiskan bibir. "Jangan temui istri Jenderal di Departemen Pangan," ancamnya.
Kepala Cassandra menggeleng pelan. "Tidak. Aku akan pergi ke Distrik Jane untuk mencari kebutuhan itu sendiri."
Letnan Edsel mundur. Dan dia membiarkan Wise Cassandra untuk pergi tanpa anak-anak yang ada di bawah pengawasan militer yang ikut membangun tenda kecil di sekitar mereka untuk berjaga-jaga jika Organisasi Partai Merah kembali melancarkan serangan.
Panglima Sai menatap Letnan Edsel sebentar kemudian lekas beranjak untuk mengikuti kemana Wise Cassandra pergi mencari kebutuhan bagi anak-anak panti.
Letnan Edsel menarik sudut bibirnya, mengamati sosok sekelibatan yang sudah dia duga sebelumnya mengendap-endap dengan cepat mengikuti sosok mungil itu pergi.
"Panglima Sai, kenapa kau mudah sekali tertebak?"
Hampir tiga puluh menit berjalan tanpa lelah, Cassandra sampai tempat tujuannya. Dia tersenyum samar. Mengusap keringat di dahi dan pipinya lalu melepas mantel, melipatnya rapi dan dimasukkan ke dalam keranjang rotan dengan hati-hati agar mantelnya yang kusut tidak bertambah kusut.
Dia berjalan menyusuri Distrik Jane dan berbicara pada beberapa penduduk yang tengah menjemur hasil bumi mereka di lapangan besar dengan ramah. Beberapa dari mereka menawarkan Cassandra untuk duduk dan minum, Cassandra menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih atas perlakuan baik mereka.
Panglima Sai terus mengawasinya dan mendengus kemudian. "Kenapa dia harus berpura-pura untuk terus tersenyum? Wanita memang rumit." Panglima Sai mendesis dingin, menerka-nerka arti senyum Wise Cassandra yang tidak pernah luntur sejak tadi.
Wise Cassandra kembali berjalan. Setelah dia berhasil mendapat beberapa makanan kesukaan untuk anak-anak, dia bergegas pergi untuk melihat-lihat sebelum kembali ke tenda dan anak-anak kebingungan menunggunya karena terlalu lama.
Panglima Sai melepas topi militernya dan berjalan menyusuri langkah yang sama dengan langkah yang Wise Cassandra lewati. Pemandangan anggota militer Dallas di sini tidak asing lagi karena begitulah militer berbaur dengan rakyat Dalla agar mampu membaca dan mencegah situasi jika ada pemicu yang lebih besar.
Panglima Sai memiringkan kepala saat Cassandra mendapat tepukan ramah dari wanita paruh baya yang memberikannya kalung berbentuk anyaman cantik dan Cassandra dengan senyum lebar menerimanya.
Lagi-lagi Panglima Sai mendesah bosan. "Kenapa dia terus tersenyum?"
Setelah menerimanya, dia segera berlalu dan kembali berjalan. Tidak lupa dia memasang mantelnya agar penyamarannya tidak terlalu dikenali.
Panglima Sai menerobos kerumunan yang ramai dan tengah bersiap-siap mendistribusikan hasil ladang mereka ke Departemen Pangan. Dia melangkah lebih cepat dan menemukan Wise Cassandra terjatuh di atas tanah, dengan seorang gadis muda menabraknya.
"Maafkan aku."
Mata Panglima Sai memicing tajam saat gadis itu hendak berlari menghindari Cassandra yang mencoba menarik tangannya hingga anak itu terjatuh bersamanya.
"Apa kau mencuri?" Cassandra merapikan isi keranjangnya yang tercecer dan gadis muda itu menunduk takut. Memeluk tiga buah hasil ladang di dadanya dengan tangan bergetar.
"Hei, jawab aku. Jangan diam." Cassandra menyentuh rambut panjangnya dengan senyum hangat. Dia membawa gadis muda itu untuk duduk di kursi kosong, memberikan makanan manis untuknya dengan tatapan bersahabat.
"Maafkan aku."
Kepala pirang Cassandra menunduk. Dia mengusap bahu mungil itu dengan hati-hati. "Tidak apa. Sekarang katakan, kau darimana? Kau terlihat asing." Cassandra menatap penampilan lusuhnya. "Apa kau mau pergi bersamaku?"
Mata polosnya berbinar lembut. "Aku bisa pergi?"
Wise Cassandra mengangguk dengan senyum. "Anak-anak akan senang menerima teman baru. Ayo." Cassandra membawa tangannya bergandengan untuk keluar dari Distrik Jane dan Panglima Sai masih terpaku diam mengawasi gadis itu.
Sepanjang perjalanan, mereka tertawa bersama. Sifat hangat Cassandra menular pada gadis berpakaian lusuh itu dan wajahnya yang bersih harus ternodai karena debu dan kotoran.
"Siapa namamu?"
"Mia." Gadis manis itu tersenyum lebar.
Wise Cassandra mengangguk dengan senyum hangat. "Aku, Cassandra. Panggil aku kakak Cassandra mulai sekarang."
Gadis manis itu mengangguk pelan.
Panglima Sai terus mengawasi mereka sampai dia mengingat jelas bagaimana ciri-ciri fisik gadis itu dan melekat di dalam kepalanya. Rambut panjangnya berwarna sedikit kemerahan dan kedua matanya berwarna hitam pekat seperti kucing.
"Nah, Mia. Kita sampai di tenda."
Panglima Sai ikut menghentikan langkahnya. Dia menyadari kalau jaraknya terlalu dekat dengan kedua gadis berbeda umur itu. Kepala Cassandra menoleh, matanya membelalak terkejut menemukan Panglima Sai tengah menunduk. Menatap alas dengan pandangan memicing tajam tampak berpikir.
"Dia ... dari Dallas?"
Mia berangsur mundur ke belakang punggung Cassandra. Dia ketakutan. Gadis kecil itu tahu hukuman mengerikan bagi para pencuri di Dalla adalah hukuman pancung. Terlebih yang berdiri di hadapannya adalah seorang militer hitam dengan lambang bintang yang cukup banyak di dadanya.
"Kakak ... aku takut." Mia menarik pakaian Cassandra dan gadis pirang itu menatap Mia lembut, berusaha menenangkan. Dia berpaling, memandang tajam pada Panglima Sai yang menatap mereka datar.
"Kau menemukan anak panti baru yang harus kau asuh?" Panglima Sai berjalan mendekat dan mereka mundur dua langkah ke belakang. "Bukankah itu merepotkan? Kau sudah banyak mengasuh anak-anak yang terlantar.”
Wise Cassandra menggeleng tegas. Dia menyuruh Panglima Sai untuk mundur dan melindungi Mia di belakang punggungnya.
"Tidak, Panglima. Gadis kecil ini mencuri karena dia kelaparan."
Kepala Panglima Sai sedikit miring untuk menilai ekspresi takut gadis kecil itu. "Kau kelaparan?"
Kepala kecilnya mengangguk pelan.
Mia terus mundur sampai tanpa sadar sesuatu jatuh dari saku mantel kotornya. Dia menunduk, mengambil hiasan kalung perak yang dia simpan dan menunduk takut saat mata tajam Panglima Sai mengikutinya tanpa ampun.
Cassandra menatap ukiran cantik pada kalung itu dengan alis terangkat. "Karenina? Siapa Karenina?" Dia bertanya pada Mia yang mengintip takut-takut.
Manik pekat Sang Panglima melebar penuh. Dia sontak merangsek maju, merebut kalung itu secara paksa dan Cassandra menjerit saat tanpa sengaja Panglima mendorong tubuhnya hingga terjatuh.
"Karenina?" Panglima Sai membaca nama yang terukir pada kalung perak di telapak tangannya. Kalung itu bersinar di bawah terpaan sinar matahari yang mengintip dari celah daun rimbun hutan pohon pinus. Membuat tulisannya terbaca jelas.
Mia merapatkan pelukannya pada Cassandra. Dengan lembut, Cassandra mengusap tangan mungilnya dengan senyum hangat. "Tidak apa. Jangan takut.”
"Berapa usiamu?"
"Sebelas tahun."
Masih sangat muda.
Wise Cassandra melempar tatapan tajamnya pada Panglima Sai yang meremas kalung itu kuat hingga hampir meremukkannya.
"Kembalikan kalung itu padanya, Panglima. Kau tidak boleh mengambilnya begitu saja." Wise Cassandra menatapnya dingin, mencoba meraih kalung perak itu dan Panglima Sai menepisnya kasar.
Panglima Sai mendelik tajam pada Cassandra yang menutup rapat bibirnya dan tidak berani bicara apa-apa lagi.
"Siapa Karenina?"
Kepala gadis kecil itu menunduk dalam. "Di dalam surat yang k****a, dia ... ibuku."
Panglima Sai tidak bisa lebih terkejut lagi. Dia merangsek maju, membungkuk di hadapan gadis kecil itu dan menekan kedua pundaknya. "Kau bercanda?"
Wise Cassandra mengernyit tidak mengerti. Dia mencoba melepaskan tangan Sang Panglima dari bahu Mia yang menunduk kesakitan karena cengkramannya terlalu kuat. Gadis itu sangat ketakutan dan Panglima Sai tidak mengendurkan remasan tangannya.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu. Aku hidup sendiri di Distrik Jane. Orang-orang berbelas kasihan padaku. Mereka merawatku terkadang."
"Di mana ibumu?"
Kepala Mia menggeleng lirih. "Aku selalu mencari kemana ibuku. Tapi dia tidak ada. Penduduk sekitar tidak tahu kemana ibuku pergi. Dia hanya meninggalkan surat kecil dimana Karenina adalah namanya, nama ibuku dan kalung ini adalah peninggalannya."
Panglima Sai berdiri. Tangannya bergetar hebat ketika dia mendapati informasi yang sangat penting ini. Langkahnya tanpa sadar mundur dan tatapan matanya berkabut siap pecah.
Mia menatapnya dalam pandangan memburam. Tiba-tiba dadanya merasa sesak, napasnya tercekat dan gadis kecil itu kesulitan menggapai oksigen di sekitarnya. Dia menengadah, menatap teriknya matahari sebelum ambruk ke atas tanah kering dan tidak sadarkan diri dengan wajah pucat.
"Mia!"
Cassandra berteriak dan Panglima Sai merangsek maju, menggoncang bahu mungilnya dan tidak mendapatkan respon.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit di dalam benteng." Panglima Sai menggendongnya dan Cassandra menahan tangan Sang Panglima dengan ekspresi tajam. "Tidak. Aku akan ikut denganmu.”
"Tidak. Kau tetap di sini."
Setelah itu, Panglima Sai bergegas berlari menembus sesaknya semak-semak menuju mobil jeep miliknya. Meninggalkan Cassandra yang termenung dalam diam dan menatap kepergian mereka dengan pandangan bingung.
***
Athena mengangkat kepala, menemukan Maru bekerja seperti biasa dan dia memberikan Athena sepotong roti isi kelapa muda di atas meja dengan lembut.
"Terima kasih."
Athena tersenyum padanya. Menerima roti kelapa itu dengan senang hati saat dia menghabiskan gula-gula dan cokelat karamel yang sebelumnya ada di atas meja dengan riang.
Maru menatapnya dengan alis terangkat. "Sejak kapan kau menyukai cokelat?"
Athena menggigit bibir bawahnya. Dia menunduk menatap tiga bungkusan cokelat dan gula-gula manis yang dia yakini akan dibuang Jenderal jika melihatnya karena makanan ini tidak menyehatkan dan banyak mengandung lemak jahat.
"Ah, Maru sebenarnya—"
Kedua mata cokelat madu Maru melebar kaget. "Jangan katakan kalau kau ... hamil?"
Athena terdiam. Dia membuang wajahnya dan tidak mampu menatap sepasang bola mata Maru yang siap pecah. "Bagaimana dengan Kapten Gildan?" Maru tanpa sadar meninggikan suaranya. Mendesak Athena dengan tatapan terluka.
"Maru."
Kepala Maru menggeleng panik. "Kau akan melahirkan keturunan dari Jenderal Dalla. Mereka akan memiliki penurus kekuasaan abadi ini."
"Maru."
Maru mengangkat tangan. Menatap Athena tajam tanpa ampun. Menghunjam jantung Athena yang membuat gadis itu kesulitan bernapas. "Tidak, kau benar-benar membunuh perasaan Kapten Gildan."
"Apa aku punya pilihan?" Athena berdiri. Balas membentak Maru yang terus menyudutkannya tanpa ampun. "Jenderal Dalla itu mengambilku. Membunuh Bibi Fumi dan dia menawan Cassandra bersama anak-anak panti. Apa aku punya pilihan?" Athena membalasnya dengan kalimat yang menusuk.
Maru terdiam membisu. Menatap Athena dengan pandangan nanar.
Kedua bola mata Athena siap pecah. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Hal yang paling dia benci saat hormon ibu hamil mengguncangnya begitu hebat.
"Kau bukan anak bodoh yang mengabaikan bagaimana peraturan di Dalla tentang pasangan yang sudah menikah. Apa aku punya pilihan?" Athena berjalan maju, mendekati Maru yang bergeming di tempatnya.
Athena menahan isakannya saat dia berlalu pergi, meninggalkan ruangan dan Maru seorang diri. Dia seharusnya menuruti suaminya untuk tidak keluar selama kandungannya masih muda dan rentan. Tetapi lagi-lagi Athena menawarkan kompromi kalau dia akan beristirahat total sampai kandungannya menginjak bulan kelima.
Maru menundukkan kepala. Menarik sulur-sulur rambutnya dengan kasar dan menahan jeritan yang hendak meletus di dalam tenggorokannya.
Sore harinya saat Athena menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah sakit dan menemui dokternya sebagai pemeriksaan kandungan, dia melihat dua tangan kanan terbaik Sang Jenderal tengah berbicara serius di dalam ruangan yang pantas disebut kamar isolasi dibanding kamar rumah sakit di sini.
Athena mendekatinya dalam diam. Terlihat sekali wajah kalut Panglima Sai dan Letnan Edsel tergambar di depan matanya.
"Pemeriksaan DNA akan keluar besok pagi. Kita hanya perlu menunggu."
Panglima Sai berpaling. Dia memejamkan mata menahan perasaan yang siap meledak kapan pun jika pengendalian dirinya yang terburuk sudah pecah.
"Kita harus membunuhnya."
"Nanti. Setelah kita mengetahuinya," kata Letnan Edsel. Menenangkan perasaan Panglima Sai yang kalut.
"Pastikan Jenderal tidak tahu tentang ini."
"Tentang apa?"
Kepala Panglima Sai dan Letnan Edsel menoleh ke belakang. Mereka mendesis secara bersamaan menemukan Athena berjalan mendekati mereka dengan alis terangkat. "Ada yang kalian sembunyikan darinya?"
Panglima Sai berdecak halus. Dia menatap Athena seolah dia siap melenyapkan gadis itu kapan pun dia bisa. "Tidak ada." Balasnya dengan ekspresi gelap.
Letnan Edsel menipiskan bibir. Mengamati penampilan sederhana Athena yang serba putih dengan jepit rambut kecil di poni panjangnya. "Tidak ada yang perlu kau cemaskan."
"Aku tidak mencemaskan apa pun. Aku hanya bertanya."
Letnan Edsel menghela napas. Kepalanya mendadak terasa pening yang amat sangat kuat. Dia belum menyelesaikan satu masalah dan datang masalah lain. Istri Jenderal satu ini bisa menjadi malapetaka bagi mereka jika tidak berhati-hati mengambil sikap.
"Ada pemberontak baru dari Distrik Jane. Dia masih sangat muda dan berbahaya."
Alis Athena terangkat tajam. "Itu alasan kalian mengurungnya di dalam ruang isolasi?"
Letnan Edsel mengangguk pelan.
"Apa dia terluka?"
"Dia memiliki jantung yang lemah. Penggumpalan darah di dalam hati dan gangguan lambung. Para dokter sedang menelitinya."
Athena menghela napas panjang. "Kalian menjadikannya objek penelitian?"
"Kami melakukannya untuk rakyat Dalla."
Panglima Sai bergegas masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Athena bersama Sang Letnan yang tengah menghela napas panjang.
Athena membuka mulutnya untuk bertanya apa maksud Letnan Edsel meninggalkan dirinya di tengah hutan dan hampir membawanya ke dalam markas Immanuel Gildan. Tetapi tertahan di dalam mulutnya saat Panglima Sai keluar dengan mendorong ranjang rumah sakit itu bersama dua dokter lainnya keluar dari kamar.
Letnan Edsel bergerak memutar tubuhnya dan berjalan menyusul langkah Panglima Sai yang terburu-buru membawa gadis kecil itu keluar dari koridor itu secepatnya.
Alis Athena menekuk tajam memikirkan kemungkinan kedua tangan kanan terbaik Sang Jenderal itu berbohong padanya sangatlah besar. Gadis itu tampak rapuh dan lemah. Tidak memiliki kekuatan besar sebagai seorang pemberontak yang memiliki tekad dan kemampuan mumpuni.
Terlebih dia memiliki kumpulan penyakit yang menyulitkan dirinya untuk bertahan hidup di kondisi yang sulit. Athena benar-benar berempati pada gadis itu.
Dia tersentak ketika dia harus pergi untuk sampai pada tujuannya. Meninggalkan koridor yang sepi itu dan berlalu pergi.
Sang Jenderal berjalan santai di tengah rumah sakit yang ramai dan mereka terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa dari mereka yang melihatnya segera menyapa dengan hormat.
Sesampainya di penghujung lorong dia menatap pada Panglima Sai yang mondar-mandir dengan kepala tertunduk. Wajahnya tetap sedatar biasa, namun sorot matanya berkabut kalut. Sang Jenderal membacanya dengan jelas.
Tidak lama, Letnan Edsel keluar dari dalam ruangan. Rasa penasaran itu pecah saat Sang Jenderal memperbaiki letak topi militernya dan mendekat ke arah mereka. Panglima Sai sempat menahan napas menemukan kehadiran Sang Jenderal di tempat mereka.
Letnan Edsel lantas berbalik. Dia memasang wajah kaku saat membungkuk pada Sang Jenderal. "Salam, Jenderal."
"Sesuatu terjadi?"
"Bukan sesuatu yang besar."
Alis Sang Jenderal terangkat. Dia melirik tajam pada pintu baja yang tertutup dan jelas ada yang disembunyikan keduanya. Belum sempat Sang Jenderal membuka mulut, alarm darurat dinyalakan. Alat yang terpasang di telinga mereka bertiga berbunyi dari kantor pusat.
Mereka mendeteksi peledak aktif di gerbang masuk rumah sakit. Dan itu berkekuatan cukup besar.
"Organisasi Partai Merah. b*****h kalian." Panglima Sai berlari pergi berhamburan bersama para militer yang bersiaga melindungi orang-orang di dalam rumah sakit dengan membentuk formasi bertahan.
"Jenderal, istrimu di sini."
Sang Jenderal berdecak samar. Dia berlari untuk menemui dimanapun Athena berada dan Letnan Edsel segera memakai topi militernya, berlari tergesa-gesa memerintahkan pasukannya untuk berjaga dan menyisir lokasi agar peledak bisa dimatikan secepatnya.
Athena menatap kerumunan dengan pandangan bingung saat dia mendengar alarm tanda bahaya berbunyi keras. Membuat panik orang-orang sekitar dan mereka, para pasien yang terluka segera dipindahkan ke bunker bawah tanah dimana tempat itu adalah tempat teraman yang dibangun Dalla untuk keselamatan pasien maupun mereka yang bekerja di dalamnya jika sesuatu genting terjadi.
Athena ikut berlari. Dia tidak peduli lagi dengan kondisi di sekitarnya. Bagaimana dirinya dan hanya memikirkan agar dia dan calon anaknya selamat dari kejadian selanjutnya yang tidak bisa dibayangkan.
Kenapa dia sangat dekat dengan kematian?
Athena tersudut di depan balkon rumah sakit lantai dua. Dia mendesis pelan. Menatap ke luar saat para militer mengangkat kode guna menyelamatkannya yang terjebak di dalam rumah sakit.
Helikopter pun diturunkan. Letnan Edsel ada di lantai dasar dan memberi instruksi pada bawahannya agar helikopter itu segera turun dan membawa istri Jenderal segera pergi dari sini.
Sesaat setelah semua menyingkir dan helikopter itu tampak ragu turun ke bawah. Athena samar-samar mendengar teriakan Panglima Sai bahwa peledak siap meledak dalam hitungan sepuluh detik.
Dia menatap ke bawah dan menemukan tidak ada pilihan lain selain dia melompat ke dasar dan melindungi perutnya sendiri. Athena akan berharap pada keajaiban kali ini bukan pada dirinya sendiri.
Ledakan itu terjadi. Berskala kecil sampai sedang dan bangunan rumah sakit berguncang hebat. Athena menahan jeritannya ketika dia siap melompat, tangan lain menariknya untuk ikut melompat dan menjadikan dirinya sendiri sebagai bantalan di atas tanah sesaat setelah peledak itu meledakkan segalanya hingga hanya kepulan asap hitam yang terlihat.
Immanuel Gildan mendesis dingin dari atas pohon pinus dimana dia menatap segalanya dengan teropong miliknya. Dadanya bergemuruh hebat tatkala dia melihat bagaimana aksi heroik Sang Jenderal menarik Athena untuk ikut melompat ke bawah dan dia menjadikan badan kokohnya sebagai bantalan agar Athena tak terluka.
Tidak ada cara lain bagi Immanuel Gildan untuk mendapatkan Athena lagi setelah dia mengetahui bahwa di dalam diri Athena, hidup penerus Jenderal Dalla yang lain.
Bunyi dua helikopter di atas kepalanya yang melemparkan peledak dan berondongan tembakan ke dalam hutan membuat Gildan harus segera melarikan diri sebelum dia menjadi korban keganasan militer Dallas sekali lagi.