23

2389 Words
Panglima Sai menelengkan kepala saat dia mengintruksikan pada Organisasi Partai Merah bahwa kesalahan yang mereka lakukan ini fatal. Mereka menyerang rumah sakit dimana hal itu dilarang karena banyak orang-orang tak bersalah dan para rakyat yang hanya bekerja tanpa tahu kemelut masalah yang membingkai di dalam tubuh pemerintahan. Dia menangkap setidaknya ada tiga anggota Immanuel Gildan yang terkena berondongan peluru dari helikopter di tangan dan kaki mereka. Membuat mereka mau tak mau harus menyerah dan pasrah akan kematian mereka sendiri di tangan hukuman yang menanti dari Dalla. Letnan Edsel mendekat ke hadapan Sang Jenderal yang meringis pelan. Berusaha untuk duduk saat sang istri tidak mengalami luka apa pun selain goresan ringan dan dia tidak sadarkan diri karena terlalu terkejut. Letnan Edsel menghela napas lega diam-diam. "Dia tidak akan tidur di rumah sakit. Aku akan membawanya pulang." Sang Jenderal bangun dari rasa sakitnya. Dia menegakkan punggung, menunduk mengamati kotoran dan debu yang menempel di sepanjang pakaian dan wajah sang istri. Letnan Edsel mengangguk pelan. Dia mengangkat tangan dan helikopter hitam yang menunggu kini terbang di atas mereka, mendarat sempurna sampai Sang Jenderal masuk ke dalam dan helikopter itu baru pergi setelahnya. Panglima Sai menghela napas panjang menemukan bangunan rumah sakit yang bagian depannya hancur tanpa sisa. Hanya bagian depan, peledak yang mereka matikan berjumlah tiga buah dan dia menggeram karena jika semua peledak itu meledak, rumah sakit ini akan rata dengan tanah. Dan korban yang ditimbulkan akan lebih banyak. Sejak kapan Organisasi Partai Merah menjadi pengecut seperti ini? "Letnan." Letnan Edsel menoleh. Dia menemukan Panglima Sai mendekat dengan topi militernya. "Para pasien dan dokter sudah diamankan di bunker bawah tanah. Bagaimana kalau mereka kita pindahkan ke rumah sakit cadangan sampai pembangunan rumah sakit ini selesai?" Kepala Letnan Edsel terangguk pelan. "Baik. Aku akan mengawasi langsung kepindahan mereka. Berikan perintah bagi Departemen Kesehatan untuk memasok obat-obatan lebih banyak lagi sementara waktu." Panglima Sai menggangguk dan kemudian berbalik, berlari memenuhi tugasnya. *** Sang Jenderal menurunkan hati-hati sang istri di atas tempat tidurnya. Setelah memberi mandat pada pelayan rumah mereka, dia memberikan kebebasan bagi wanita separuh abad itu untuk membersihkan istrinya dari kotoran dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang nyaman. Jenderal keluar kamar. Menemukan dua militer hitam Dallas berjaga di bibir tangga, dia berbalik menjauh untuk pergi menuju balkon, menghirup napas dalam-dalam dari sana dengan kepala yang memutar terus berpikir keras. Immanuel Gildan melakukan penyerangan bukan tanpa sebab. Kemungkinan berita tentang kehamilan istrinya menyebar sampai ke telinga pemimpin Partai Merah itu. Dia tidak punya pilihan selain membunuh Athena walaupun dia merasa mati untuk selamanya. "Dasar bodoh." Sang Jenderal bergumam sinis. Mengacak rambutnya sendiri seraya memaki dalam hati. Kepeduliaannya terlewat batas dan dia sama sekali tidak mengeluh tentang hal itu. Athena sedang hamil, dan itu anaknya. Calon keturunan Dalla di masa depan yang harus dia lindungi mati-matian dari para pemberontak yang membencinya. Darah daging itu miliknya. Dan sudah menjadi tugasnya untuk melindunginya. "Jenderal." Kepala Sang Jenderal menoleh dan menemukan wanita paruh baya itu telah selesai mengurus segala keperluan Athena dan dia bergegas untuk pergi sebelum tubuhnya mati rasa ketakutan di bawah tatapan tajam Sang Jenderal yang mengerikan itu. Langkahnya menyusuri lantai kayu dan membuka pintu ketika Athena sudah sadarkan diri. Duduk di tepi ranjang dengan segelas air putih hangat, memejamkan mata sebentar, kemudian menghela napas panjang. Pintu tertutup dan Athena tidak perlu bersusah payah menoleh untuk tahu siapa yang masuk ke dalam kamar. "Karena kau tidak terluka ..." Sang Jenderal terdiam sejenak. "Adakah bagian dimana sekiranya kau merasa nyeri karena benturan?" Mata hijau itu melirik sendu padanya. Cukup lama sampai akhirnya Sang Jenderal mendapat balasan berupa gelengan kepala samar. Kenapa di saat krusial seperti ini justru istrinya terlihat rapuh dan tak berdaya? Kemana Athena yang biasanya menantang dan selalu keras kepala? Sang Jenderal menghela napas pelan. Sejujurnya, dia benci terjebak di dalam situasi melemahkan seperti ini. Otaknya dituntut untuk selalu berpikir dan berpikir. Isi kepalanya terbagi dua; satu untuk Dalla dan satu untuk Athena. Alat di telinganya berbunyi samar. Dia memiringkan kepala guna meresapi siapa suara yang akan berbicara setelahnya. "Semua baik-baik saja, Jenderal." Sang Jenderal hanya diam dan tidak ada lagi suara karena sang pelapor tahu di mana Jenderal mereka saat ini. Tanpa perlu menebak-nebak, Sang Jenderal mendengarkan. "Aku harus pergi." Athena menolehkan kepala dalam wajah datar. Dia mengangguk sekilas dan berbaring memunggungi tubuh tegap Sang Jenderal untuk memeluk gulingnya. "Militer hitam yang berjaga di dalam rumah akan segera mengabariku jika terjadi sesuatu padamu." Kepala itu mengangguk lagi. Athena tidak punya kekuatan untuk bicara setelah apa yang menimpanya. Dia terlalu kaget, bingung bercampur panik yang tidak tahu harus diungkapkan seperti apa. Pintu tak lama tertutup pelan. Athena baru bisa menarik napas panjang guna mengusir rasa pilu yang menggerogotinya dari dalam. Dia ingin menangis, tapi entah menangis karena apa. Dia terlalu lelah hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kematiannya sendiri karena terjebak bersama Sang Jenderal di dalamnya. Tangannya tanpa sadar beristirahat di atas perutnya. Seolah dia menguatkan diri kalau dia mampu melewatinya karena ini semua demi sang anak yang belum lahir. Meskipun anak ini akan jadi penerus Dalla, dia tetaplah anaknya. Athena adalah ibunya dan seorang ibu berhak atas masa depan anaknya sendiri. Setetes demi setetes air mata jatuh ke atas bantal dan Athena merasakan kepalanya nyeri sampai dia tertidur karena menahan rasa sakit. *** Maru menatap datar pada Immanuel Gildan yang berulang kali mengumpat marah dan mengamuk di ruang pribadinya. Membuat isi meja itu berserakan dimana-mana dan ruangan yang biasanya tampak rapi kini berantakan. Pancingan tentang Athena yang hamil benar-benar membuat Immanuel Gildan kalap sampai dia tidak bisa berpikir yang benar dan mana yang salah. Rumah sakit adalah daerah terlarang untuk dijamah, dan Gildan melakukannya hanya demi ambisi sesaatnya hingga Maru berani bertaruh kalau Sang Kapten dilanda perasaan bersalah yang hebat. Ini semua jelas karena efek Athena padanya. Menggulingkan kekuasaan Jenderal Dalla yang sekarang sangatlah sulit, terlebih dia akan memiliki keturunan? Partai Merah tidak akan bisa bertahan lebih lama. Mereka tidak ada niat untuk melakukan kudeta secara terang-terangan seperti yang dilakukan Distrik Sopa. Mereka hanya ingin kebebasan yang kekal, yang bisa membuat hak mereka terekspos dengan bebas tanpa di bawah bayang-bayang ketakutan. Mereka hanya ingin merdeka. Hal ini sangat ditentang oleh Jenderal Akram di masa kepempiminannya. Pertemuan mereka selalu berakhir alot dan buntu, tidak pernah menemukan hasil yang pasti. Kekeraskepalaan Sang Jenderal tidak bisa luluh dengan atas nama rakyatnya. Dan sekarang Jenderal Levant juga lakukan hal yang sama. Meski mereka tidak pernah mengadakan pertemuan-pertemuan penting, Jenderal Levant sedikit memberi kelonggaran pada para pemberontak untuk menunjukkan taring mereka dan sejauh mana mereka mampu menentang keputusan tetap Dalla yang mutlak. Sampai jika dia mendapat keuntungan, Sang Jenderal akan menumpas habis seluruh pemberontak itu hingga ke akar. Immanuel Gildan terlihat kalut dan lemah. Dia menunduk, seraya menarik sulur-sulur rambutnya sendiri hanya demi meringankan beban hatinya yang berat. "Athena pasti membenciku setelah ini." Maru mengangkat kepala dari buku-buku yang berserakan di atas lantai. "Tidak." Immanuel Gildan mendengus pelan. "Tidak salah lagi?" Dia terkekeh pahit. "Athena ada di sana. Aku ingin mengalihkan perhatian Sang Jenderal untuk membuatnya jauh dari Athena dan aku bisa mendapatkannya kembali. Tapi kau lihat? Jenderal malah menyelamatkannya." "Ini karena bayi di dalam kandungannya." Alis Gildan terangkat tinggi. "Benarkah? Ini semua demi keturunan?" Maru menghela napas. Dia merapikan buku-buku yang berserakan juga kertas-kertas strategi mereka yang digambar langsung oleh Immanuel Gildan kembali ke atas meja. "Jelas. Keturunan lebih penting dari nyawa sekali pun. Jika ibu yang mengandung terluka, bayi di dalam kandungan akan terancam." Immanuel Gildan memejamkan mata. Mendengus pelan seraya tersenyum dingin. "Kalau begitu, kita bisa membuat Athena dibenci Sang Jenderal karena tidak mampu menjaga bayinya dengan baik. Dan Athena akan diterlantarkan lalu dibuang.” Maru terdiam sejenak. Dia tahu kemana arah pembicaraan ini mengarah. "Dan aku akan ada untuknya. Untuk Athena. Memberikan bahu sebagai sandaran dan akan menghujaninya dengan cinta selama hidupnya. Membuat Athena selamanya tidak akan pernah mengenal Jenderal yang membuat hidupnya sengsara.” Yang bahkan sudah Maru duga kalau rencana mereka tidak akan semulus itu untuk berhasil. Mana tahu hati seseorang? *** Panglima Sai bersamaan dengan Letnan Edsel menatap datar di ruang pasien yang terisolasi karena ini yang diperintahkan Letnan Edsel untuk gadis kecil bernama Mia. Meminta para dokter untuk tidak mengganggu ruangan ini tanpa izin darinya. Satu barang bukti yang Panglima Sai temukan hanya kalung. Dia belum menyusuri Distrik Jane guna mencari tahu keberadaan Mia selama ini. Dan tidak menemukan apa-apa selain rumah yang tampak kotor. Letnan Edsel terlihat menahan napas berulang kali, wajahnya tergambar jelas kekacauan yang terjadi. "Sepuluh tahun berlalu. Jenderal Akram terlalu rapi menyimpan segalanya dengan baik. Aku tidak menyangka bahwa dia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih buruk." Panglima Sai membuka mata, bersedekap di depan d**a saat menatap gadis kecil yang tengah terlelap dalam damai itu lekat-lekat. Sorot matanya begitu dingin. Panglima Sai tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Mia walau dia masih kecil dan mungkin, gadis itu tidak tahu apa pun siapa dirinya. "Aku sudah pergi ke Distrik Jane untuk menyisir barang bukti. Kita tidak boleh menduga-duga sebelum memiliki bukti. Dan sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa.” Sudut bibir Letnan Edsel tertarik samar. "Kalung ini sudah menunjukkannya," dia mengangkat kalung berbandul perak itu di hadapan Sang Panglima. "Ini kalung yang selalu Karenina kenakan semasa hidupnya. Jika kau ingat dengan kalung ini, dia identik dengan Karenina.” Panglima Sai mendesis dingin. Tidak ada yang bisa mereka lakukan guna menghentikan aksi Karenina yang telah lama berlalu. Gadis kecil ini berusia sebelas tahun. Dan sepuluh tahun tepat setelah kematian Karenina, gadis kecil ini sudah lahir. Tapi kemana Karenina membawanya pergi? Terlalu banyak pertanyaan berkecamuk membuat kedua tangan kanan terbaik Sang Jenderal tidak menyadari bahwa Sang Jenderal masuk ke dalam, menatap datar pada gadis kecil yang terpasang alat monitor jantung dan bantuan pernapasan di samping ranjang. "Siapa dia?" Letnan Edsel menoleh. Sebisa mungkin menyembunyikan rasa terkejutnya dengan ekspresi kaku. Sedangkan, Panglima Sai menipiskan bibir. Dia sama sekali tidak mampu memasang mimik lain selain datar. "Pencuri di Distrik Jane. Aku menemukannya saat dia tidak sengaja menabrak Wise Cassandra yang tengah berbelanja di sana," jawab Panglima Sai pelan. Letnan Edsel mendelik padanya untuk tetap bungkam dan Panglima Sai tidak peduli. Sang Jenderal mengangkat alis. Menemukan bagaimana isyarat mata Sang Letnan untuk menyuruh Panglima Sai tetap diam. "Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah kalian berdua paham bahwa hukuman untuk pencuri adalah pancung?" Letnan Edsel menarik napas panjang. "Dia mengalami gangguan hati dan lambung. Jantungnya begitu lemah dan kronis. Dia bilang, dia mencuri karena lapar." Sang Jenderal terdiam selama beberapa menit berjalan. Hanya ada rekam suara alat monitor jantung yang berbunyi menemani mereka di dalam ruangan. "Setelah dia sadar. Bawa dia ke Departemen Kesehatan. Meminta pada salah satu ilmuwan di sana untuk memberikannya sampel obat penyembuh. Dia masih sangat muda, kita bisa menyelamatkannya dengan memberikan kebaikan jika dia diarahkan menjadi lebih baik, jiwanya tidak akan liar.” Panglima Sai memalingkan muka. Perintah Sang Jenderal adalah mutlak dan mereka tidak akan punya kuasa untuk menolaknya bahkan membantah. Letnan Edsel mendesah lelah, dia mengangguk singkat dan Sang Jenderal memutar badan bersiap pergi. "Dan satu lagi." Alis Panglima Sai terangkat penuh antisipasi. "Berikan dia pada panti yang sempat dikelola Athena sebelumnya. Aku yakin gadis berambut pirang itu mampu merawatnya dengan baik." Letnan Edsel dan Panglima Sai hanya mengangguk. Mereka membiarkan Sang Jenderal pergi dan menghela napas panjang. Ruangan sedikit gelap, dan mereka sedikit lega karena Jenderal tidak bisa melihat bagaimana ciri fisik anak ini secara langsung. Atau mungkin mereka melupakan kemampuan Sang Jenderal yang mampu merasa dan melihat di dalam gelap sekali pun. Panglima Sai memejamkan mata. Jelas sekali bahwa masalah Mia bukan hanya masalah dirinya semata. Gadis ini membawa petaka bagi babak kehidupan Sang Jenderal yang baru bersama istrinya. "Permisi, Letnan, Panglima." Keduanya menoleh dan mendapati dokter paruh baya itu baru saja kembali dari laboratorium Departemen Kesehatan untuk memberikan laporan hasil tes DNA Mia yang mereka tunggu sejak tadi. "Hasilnya keluar lebih cepat." Dokter itu menyerahkan seberkas laporan tentang Mia pada tangan Sang Letnan yang terulur. Mereka membacanya dalam diam dan dokter itu segera pergi setelah memberikan hasilnya. Mata Letnan Edsel bergerak mengikuti tulisan demi tulisan yang ada di dalam kertas. Bersama dengan Panglima Sai yang berdiri di sisinya, satu demi kata terkuak sudah tentang identitas siapa gadis kecil yang tampak rapuh dan kehilangan arah ini. "Sudah kuduga." Panglima Sai mengusap pelipisnya dengan tawa pahit. "Persetan dengan kaliman santun. Si jalang itu membuatku muak." Panglima Sai menunduk, terkekeh pahit. Karenina, bahkan di tengah kematianmu kau masih bisa membelenggu kami? Letnan Edsel meremas kertas dokumen itu dengan tangan terkepal. Bibirnya bergetar menahan amarah yang menggelegak sampai ke atas kepalanya. Dia menatap tajam Mia, gadis kecil yang pulas dan seolah perlu perlindungan dari kejamnya dunia. Gadis kecil yang malang. "Karenina." Panglima Sai menyebut namanya pahit. "Kau berhasil membuat kami terjebak di rasa sakit kami dan selanjutnya? Dia benar-benar ingin Jenderal Levant hancur." "Bedebah." Letnan Edsel membakar kertas bukti itu dengan pematik yang dia bawa di dalam saku seragam militernya. Asap kecil timbul dan Mia mulai terbatuk-batuk pelan karena mencium asap dari kertas yang terbakar. Panglima Sai menajamkan pandangannya. Saat tubuh kurus itu menggeliat di atas ranjang, mata pekat Mia langsung terarah pada dua sosok militer hitam Dallas yang mengerikan. Memandang dirinya dengan tajam dan terang-terangan menunjukkan rasa tak bersahabat yang kental. Mereka berniat membunuhnya. Ibu, tolong aku. Dokter paruh baya itu memekik pelan. Napasnya tercekat berhenti sampai di tengah tenggorokan ketika salah satu tangan kokoh itu melingkari erat lehernya dan dalam gerakan sekali cengkram, dia yakin tulang lehernya akan remuk. "Jenderal." Dia terbata-bata menatap mata Sang Jenderal yang pekat. Napasnya perlahan berubah sesak dan Sang Jenderal mengendurkan sedikit cekikan pada lehernya walau belum melepas seutuhnya. "Apa yang kau bawa untuk Letnan Edsel dan Panglima Sai?" Bibirnya menipis kaku. Keringat dingin membasahi pelipis dan turun ke kedua pipi berkerutnya. Dia sudah bersumpah untuk tidak membocorkan apa pun yang dia temukan pada orang lain. Tapi yang dihadapannya sekarang adalah Jenderal. Apa yang harus dia lakukan? "Hasil dari tes DNA." Cengkraman tangan Jenderal pada lehernya mengendur total. "Tes DNA?" Keningnya mengernyit walau wajahnya masih datar. "Ya. Letnan Edsel memberi perintah untuk mengecek hasil tes DNA anak bernama Mia." Sang Jenderal menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Dokter tua itu mengamati penampilan Sang Jenderal yang begitu berwibawa sampai dia tidak sanggup menatapnya terlalu lama karena ketakutan. "Bawa hasilnya juga padaku." Dokter itu mengangguk tanpa kata. Dia membungkuk untuk meminta maaf dan segera berlari mengambil hasil salinan untuk Sang Jenderal yang masih bersandar pada celah tembok untuk bersembunyi. "Apa yang mereka sembunyikan dariku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD