24

2567 Words
"Kakak Cassandra sedikit lagi." Wise Cassandra kesulitan mengambil layang-layang cokelat yang anak-anak panti terbangkan dan harus tersangkut di atas pohon pinus berukuran sedang. Cassandra harus rela memanjat untuk mengambil layang-layang itu dengan susah payah demi mereka. "Ayo, sedikit lagi." Sorak anak-anak semakin ramai. Mereka memekik senang saat Cassandra berhasil menggapai benang yang terputus itu dan sedikit kesulitan ketika menariknya tersangkut di dahan yang panjang. Berulang kali dia mencoba menariknya dan selalu saja benang itu tergelincir dari telapak tangannya yang mulai berkeringat. Suara deru mesin mobil jeep membuat lamunan anak-anak terpecah. Mereka berangsur-angsur membentuk lingkaran guna melindungi diri saat dua militer hitam Dallas datang dan melompat turun dari mobil jeep itu lengkap dengan seragam militernya. Letnan Edsel melompat turun dari jeep yang dikendarai Panglima Sai. Sang Letnan berjalan mendekati anak-anak yang dengan spontan bergerak mundur menjauhi mereka dengan tatapan panik bercampur bingung. Panglima Sai menghela napas panjang. Merasakan teriknya sinar matahari yang begitu menyengat siang ini sampai menembus ke dalam seragam militer Dallas miliknya. Letnan Edsel memiringkan kepala. Memindai dalam diam kemana Wise Cassandra pergi di saat semua anak-anak tengah bermain di tengah hutan tanpa pengawasan? Panglima Sai berkacak pinggang. Menatap datar anak-anak yang memandang balas tatapannya dengan pandangan polos dan kebingungan. Beberapa anak yang lebih besar menatapnya ketakutan dan tampak bingung. Kepalanya menengadah ke atas. Panglima Sai mengangkat alis menemukan Wise Cassandra tengah menggapai benang layang-layang yang tersangkut di atas pohon pinus. Alis Sang Panglima terangkat sebelah, kepalanya sedikit miring. "Kau sedang apa?" Wise Cassandra terkejut dengan suara yang tidak lagi asing di telinganya itu. Dia menunduk, kedua matanya melebar menemukan dua tangan kanan terbaik Sang Jenderal ada di bawah kakinya. "Aku—ingin melepas layang-layang yang tersangkut ini." Letnan Edsel mendengus pelan. Dia menggelengkan kepala samar saat Wise Cassandra kehilangan pijakan kakinya dan tangannya yang berhasil menggapai benang layang-layang itu terlepas, dia terpeleset dan hampir saja membentur tanah yang keras jika tidak ada sosok lain yang menangkapnya ke dalam gendongan. Anak-anak memekik histeris saat kakak tertua mereka hampir saja terluka atau mungkin patah tulang karena terjatuh. Tetapi Panglima Sai berhasil menangkapnya, membuat pikiran buruk mereka seketika lenyap. Tergantikan dengan raut lega yang amat sangat. Letnan Edsel menahan tawa hampa. Dia bertepuk tangan menatap aksi heroik Panglima Sai yang sangat jarang terjadi. Alis Sang Letnan terangkat jenaka. Bermaksud menggoda. "Tangkapan yang bagus. Insting dan kecepatanmu dalam bergerak belum berubah." Jelas sekali Letnan Edsel sedang meledeknya. Panglima Sai mendesis dingin mendengar ledekan dari Letnan Edsel saat dia melempar tubuh Wise Cassandra ke atas tanah dan gadis itu merintih sembari mengusap punggung dan bokongnya dengan kasar. "Lain kali tidak perlu bertindak sok pahlawan di depan anak-anak kalau kau tidak mampu melakukannya." Panglima Sai mencibir pada gadis itu dengan sorot tidak suka yang kentara. Wise Cassandra menggeram dalam suaranya. Dia berdiri, menahan ringisan akibat benturan dengan tanah pada b****g dan punggungnya. "Aku bisa melakukannya. Aku terbiasa memanjat pohon di panti. Jangan remehkan aku." Letnan Edsel memutar mata bosan. Dia berjalan pergi menuju mobil jeep dan Panglima Sai tidak punya pilihan selain menjelaskan maksud dan tujuan mereka berdua datang seorang diri karena Letnan sialan itu malah pergi. "Rumah untuk anak-anak panti sudah selesai. Jenderal memberi kami perintah untuk membawa kalian ke rumah baru." Anak-anak tampak kebingungan dan mereka yang paham langsung bersorak senang. Cassandra menoleh, memberi isyarat dengan menggeleng samar agar mereka diam. "Lalu?" Panglima Sai memberi kode pada minibus militer yang berjalan memasuki hutan. "Kalian akan dipindahkan sekarang." Tanpa mengalihkan pandangannya dari Wise Cassandra yang terpaku bingung. Panglima Sai menepuk bahu militer Dallas yang turun dari dalam minibus dan mengangguk. Tidak lupa senapan laras panjang melingkar di d**a seragam militernya. Lantas, dia berlari menuju mobil jeep-nya dan membiarkan Letnan Edsel yang mengemudi sekarang. Athena berjalan memutari ruang Departemen Kesehatan saat dia mengecek pemasokan distribusi obat-obatan bagi Distrik Jane yang terserang wabah penyakit akibat hama di ladang cukup menimbulkan kepanikan pada distrik mereka. Dia terburu-buru dan tanpa sadar hampir tersandung kakinya sendiri. Athena menarik napas, membuangnya perlahan. Dia harus tetap tenang dan fokus agar dia bisa menjaga kandungannya dengan baik. Athena mendorong pintu ruangan setelah sampai kemudian ia menemukan Ami tengah mencoba sesuatu dari dalam tabung ke dalam suntikan baru, dan memasuki ruangan kecil yang tertutupi tirai putih. Langkah kaki Athena teredam suara bising dari mesin pencampur obat. Dia berjalan, memicing tajam pada tirai yang tenang dan tak ada suara yang terdengar dari dalam sana. "Ami?" Ami menoleh kaget saat Athena mengejutkannya dengan alis terangkat. Gadis itu tersentak, menahan napasnya dan tanpa sadar menjatuhkan suntikan yang telah kosong isinya. "Nona Athena." Athena mengintip ke dalam dan menemukan gadis kecil yang dibawa Letnan Edsel dan Panglima Sai kemarin ada di dalam sana. Dia sekarang menjadi objek penelitian dan Athena membulatkan mata menatap wajah pucatnya. "Siapa dia?" "Namanya Mia. Letnan Edsel membawanya ke sini untuk sampel percobaan obat kami." Athena menahan napas. Melihat keringat dingin yang terlalu deras membasahi wajah mungil Mia. "Dia baik-baik saja?" "Ini hanya efek sementara, Nona Athena. Jangan cemas. Lima belas menit lagi semua akan membaik." Ami membuang suntikan itu ke tempat sampah dan mencuci tangannya setelah melepas sarung tangan dengan gerakan pelan. Mia merintih menahan sakit. Dia menggeliat di atas ranjang. Mencoba menahan diri dari rasa sakit yang membakar dalam tubuhnya. Gadis kecil itu sekuat tenaga mencoba untuk tidak menangis karena efek yang ditimbulkan obat itu. Athena menggigit bibir cemas. Dia memerintahkan dua perawat yang tengah sibuk mencatat hasil temuan mereka untuk membawa Ami ke rumah sakit cadangan sekarang juga. Dia harus segera ditangani dan istirahat dengan baik. Ami tidak bisa menolak saat Athena memberi perintah. Dia membungkuk merasa bersalah dan Athena tersenyum, menepuk bahunya pelan. "Tidak apa. Kau sudah lakukan yang terbaik." Ami mengangguk pelan. Dia tersentuh dengan kebaikan hati istri Sang Jenderal sebelum berani mengangkat kepala dan mengusap pelipisnya yang basah. Senyumnya perlahan timbul seiring perasaannya yang mulai menghangat. *** "Siapa kau?" Athena menarik sudut bibirnya. Membentuk senyuman samar. "Athena. Senang melihatmu. Kau merasa lebih baik?" Kepala Mia mengangguk lirih. Dia menatap alat monitor jantung di sampingnya dan menunduk menatap pakaian rumah sakitnya. "Apa aku akan sembuh?" Mia tampak sedih dan Athena hanya bisa tersenyum sebagai bentuk penghibur padanya. Alis Athena terangkat samar. Dia menunduk, karena kesembuhan pada hakikatnya bukan miliknya, dia tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk gadis malang ini. "Kau mungkin akan bertahan jauh lebih lama." Senyum pucat Mia terlihat. Dia terlihat mampu bernapas dengan baik setelah melewati rasa sakitnya akibat dosis tinggi obat itu. Athena menghela napas panjang. Matanya berpendar menatap kamar inap rumah sakit yang tidak terlalu besar seperti kamar yang biasa dia tempati sebelumnya. Karena memang seukuran inilah kamar umum di dalam rumah sakit cadangan Dalla. "Apa mereka akan menyakitiku?" Mata Athena mengerjap bingung. "Siapa?" "Dua militer hitam yang mengerikan. Mereka menatapku dingin seolah mereka ingin membunuhku." Kedua matanya terpejam miris. Letnan Edsel dan Panglima Sai punya rencana lain yang tidak dia ketahui. Dan pastinya mereka tidak sembarangan dalam mengambil keputusan. Jika benar mereka harus membunuh, pastilah anak ini berbahaya bagi masa depan Dalla. "Aku tidak tahu," kepala Athena menggeleng lemah. "Aku sendiri belum bertemu mereka hari ini." Kepala Mia menunduk. Dia meremas selimutnya dengan tangan gemetar saat pintu kamar terbanting keras dan Sang Jenderal masuk, meremas kertas di tangannya dengan napas memburu. "Jenderal." Athena mendorong kursi kayu itu menjauh dan dia menatap bingung pada sang suami yang masuk tanpa menatapnya dan tatapan tajam itu ditunjukkan untuk Mia seorang. "Kau yakin ibumu sudah mati?" Mia menatap Sang Jenderal ketakutan dan panik. Tubuhnya bergerak mundur sebagai respon rasa bingung bercampur gelisahnya sendiri karena dia melihat sosok Sang Jenderal langsung di depan matanya. Apakah ini karena kesalahan fatalnya telah mencuri makanan? "Jangan membentak anak kecil. Jaga bicaramu." Athena merangsek maju guna menghadang langkah Sang Jenderal yang diliputi amarah luar biasa. Mata pekat Sang Jenderal turun menatap istrinya yang terang-terangan menantangnya. Dia sedang tidak ingin ditantang oleh siapa pun bahkan dengan istrinya sendiri. "Minggir." Kepala Athena menggeleng tegas. "Tidak. Sebelum kau menjelaskan apa maksud kedatanganmu ke sini." Sang Jenderal mendengus tajam. Dia memejamkan mata sejenak kemudian mendorong tubuh Athena hingga gadis itu terbentur meja kecil agak keras dan vas bunga berjatuhan, mengenai lengannya dan berdarah. "Awh!" Sang Jenderal tidak memedulikannya. Dia merangsek maju mendekati ranjang kecil Mia dan gadis itu berteriak ketakutan. Dia menjerit keras, saat sepatu boot milik Sang Jenderal menendang kaki ranjang itu dan bergeser agak kencang. "Di mana ibumu?" Jenderal membentak dengan nada keras. Membuat Mia bergetar ketakutan dan dia hanya mampu menangis di bawah tatapan bengis Sang Jenderal yang tajam. Kepala Mia menggeleng parau. Dia histeris. Menatap Athena yang mencoba bangun dan menarik napas panjang, dia harus bergerak untuk menghentikan amukan Sang Jenderal tanpa alasan. "Berhenti, Jenderal." Athena menarik tangannya, meremasnya agar Sang Jenderal mau berhenti menarik lengan mungil Mia dengan cengkraman kuat dan lagi, Jenderal berhasil menepis tangan Athena dengan kasar. Sang Jenderal memicing sinis. Memandang tubuh rapuh Athena yang kembali bangkit, menantangnya terang-terangan dan tangan kokoh Sang Jenderal berhasil menggapai bahu mungil itu, menariknya hingga salah satu tangannya melingkar untuk mencekik lehernya. Athena menahan napas. Merasakan kedua kakinya mulai terangkat dari lantai dan dia melayangkan tangannya, mencakar muka Sang Jenderal hingga sampai batas terakhirnya, menampar pipi kiri Sang Jenderal sangat keras. "Mati saja kau!" Athena terjatuh sembari terbatuk-batuk hebat di atas lantai yang dingin. Mia ingin membantunya dan dia tidak tidak bisa lakukan apa pun selain menangis. Sang Jenderal meremas kertas hasil salinan laporan tes DNA yang diberikan Departemen Kesehatan untuk Letnan Edsel. Setelah dia mengetahuinya, amarahnya tidak mampu terbendung lagi. Semua pengendalian dirinya rusak dalam sekejap mata. "Sadarlah, Jenderal." Athena memekik parau saat dia tidak mampu berteriak lagi dan Sang Jenderal menarik kerah pakaiannya, menyeretnya ke tengah ruangan dan memberikan satu tamparan keras hingga Athena limbung. Mia menjerit histeris. Dia berteriak keras ketika dua militer hitam Dallas masuk dan Letnan Edsel bersama Panglima Sai terpaku selama beberapa detik yang berlalu guna menilai penampilan remuk Athena yang sedang mencoba mempertahankan diri. "Dasar gila." Letnan Edsel melompat untuk memberikan satu pukulan kerasnya ke wajah Sang Jenderal yang kaku dan tidak menampilkan guratan rasa penyesalan sedikit pun. "Nona Athena, kau baik-baik saja?" Panglima Sai datang menghampirinya. Dia hendak membawa Athena untuk bangun dan melarikan diri, tetapi Athena menolak secara halus. Dia menggeleng, mencoba tersenyum walau rasanya seluruh permukaan bibirnya mati rasa. "Ada sesuatu yang membuat Jenderal kalian meradang." Panglima Sai membeku mendengar ucapan lirihnya. Athena menatap sayu pada Sang Jenderal yang tengah membanting tubuh Letnan Edsel ke atas lantai dengan keras. "Jangan hentikan aku, Letnan." "b*****h kau, Jenderal." Letnan Edsel menarik kerah seragam militernya, membalas pukulan ke d**a Sang Jenderal dengan keras. Athena membuang muka. Merasakan hantaman rasa sakit yang luar biasa karena Sang Jenderal, untuk pertama kalinya mampu melukainya sejauh ini. Membuat rasa sakit itu menyebar kemana-mana di seluruh tubuhnya. Saat Sang Jenderal hendak menembak kepala Letnan Edsel, saat itulah Panglima Sai berlari, dia mendorong tubuh kokoh Sang Jenderal membentur tembok dengan keras dan menendang pistol peledak kepala itu menjauh dari hadapannya. "Jenderal. Jangan lakukan ini." Panglima Sai menatapnya dingin penuh cela. Jenderal biasanya memiliki pengendalian yang cukup baik dan matang. Kenapa bisa hancur dan rapuh dalam sekejap mata hanya karena Mia? Sang Jenderal mendesis dingin. Dia menatap kedua mata tangan kanan terbaiknya dengan sorot membunuh yang kental. "Dimana Karenina?" "Persetan denganmu." Letnan Edsel memberi hantaman pukulan kerasnya ke wajah belur milik Sang Jenderal yang menyeringai dingin ke arahnya. Letnan Edsel terengah-engah dan dia mencari kematiannya sendiri jika menyerang Jenderal di saat kemampuan bertarungnya dalam level tingkat tinggi. Sang Jenderal terbangun dengan kekehan pahit. Athena yang terpaku hanya bisa menatapnya dalam diam. Meringis dalam hati menatap Sang Jenderal yang tampak berbeda. Seperti ada jiwa lain yang merasuk ke dalam tubuhnya. "Temui aku di lapangan, Letnan Edsel." Sang Jenderal mengusap sudut bibirnya dan berjalan pergi keluar ruangan saat dia melirik tajam pada Mia yang berhenti menangis dan hanya berganti dengan isakan lirih. Panglima Sai menarik napas kasar. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan decakan marah luar biasa. "Jenderal sudah tahu, Letnan Edsel." Letnan Edsel bangkit dengan mata terpejam. Seolah rasa sakitnya mampu dia tahan dengan baik, dia berdiri, menarik napas panjang. "Bawa Nona Athena ke lapangan. Kita akan membuktikan sesuatu hari ini." Sang Jenderal berdiri dengan tangan bersedekap di depan d**a. Memejamkan mata menahan amarah yang menggelegak di dalam d**a. Letnan Edsel berjalan tenang menyusuri rumput pendek dengan sepatu boot miliknya. Dia bahkan masih sempat menyapa Sang Jenderal dengan sopan ketika Letnan Edsel menyerangnya lebih dulu, dan Sang Jenderal mampu menangkisnya dengan baik. Panglima Sai mendesis dalam suaranya. Dia menunduk dan melirik dingin pada Athena yang penuh luka. Sorot matanya berubah hampa. "Apakah Letnan Edsel akan baik-baik saja?" Kepala Panglima Sai menengadah menatap pemandangan mengerikan di depannya. Gelengan kepala samar dari Sang Panglima sudah menjawab rasa bimbangnya. Saat Letnan Edsel memberi kode pada Panglima Sai untuk mendorong Athena mendekat ke arah mereka, Panglima Sai melakukannya. Dia mendorong Athena hingga Letnan Edsel menangkap tangannya, menarik Athena agar tidak jauh darinya. Gerakan tangan Sang Jenderal terhenti seketika. Kedua matanya menyipit tajam ketika Panglima Sai menembakkan peluru api ke atas langit sebagai tanda bubar untuk para militer Dallas menonton aksi bunuh diri kedua petinggi Dalla dan segera kembali sebelum Panglima Sai membunuh mereka. Sang Jenderal menarik napas panjang. Pandangannya menyapu dingin penampilan lusuh sang istri dan bagaimana lengan itu terluka dan mengeluarkan darah. Wajah itu memiliki bilur yang membekas dan goresan tajam di lehernya. Athena menatap kosong pada pipi kanan Sang Jenderal yang membekas akibat cakaran kukunya. Goresan itu mengering tapi pastilah terasa perih karena sedikit menganga. "Kau tahu siapa Mia, bukan?" Letnan Edsel mendesis seraya memegang pistol di belakang saku celana seragam militernya. "Dan kau ingin membunuhnya?" "Aku akan membunuhnya. Setuju atau tidak. Aku akan tetap membunuhnya." Letnan Edsel tertawa pahit. Mata birunya mendingin kala menatap mata pekat Sang Jenderal yang tajam. "Bagaimana dengan Karenina? Dia putrinya. Kau tidak mungkin menghancurkan putri dari wanita yang kau cintai, Jenderal." "Jaga bicaramu." Letnan Edsel tersenyum dingin. Dia meraih pistol itu dan mengarahkan moncongnya ke pelipis Athena. "Tidak akan ada korban lagi, Jenderal. Ini yang terakhir." Sang Jenderal dengan gesit ikut menodongkan pistol miliknya ke arah kepala Sang Letnan. Athena hanya menatap mata suaminya dengan pandangan berkaca-kaca. "Bayangan Karenina harus mati hari ini." Alis Sang Jenderal terangkat tinggi saat dia bersiap menarik pelatuk pistolnya. "Aku akan meledakkan kepalamu, Letnan Edsel." Panglima Sai yang menonton aksi mendebarkan itu hanya bisa mendesis. Dia selalu menjadi pihak yang tidak bisa lakukan apa-apa sebagai penengah di antara Jenderal dan Letnan. Athena mendesis dingin. Dia menatap tajam mata Sang Jendera saat Letnan Edsel bersuara tajam. "Kesempatanmu hanya satu, Jenderal. Kembalikan istrimu pada Immanuel Gildan dan bunuh calon bayimu yang ada di dalam kandungannya." "Apa kaulakukan ini karena Green Ariana?" Letnan Edsel mendesis dingin. Kepalanya menggeleng pelan dengan yakin. "Aku lakukan ini untukmu." Letnan Edsel tersentak. Begitu pula dengan Sang Jenderal yang memicing tajam melihat aksi nekat Athena yang menarik pistol itu dari tangan Sang Letnan, dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri. Panglima Sai tidak bisa lebih terkejut lagi dari ini. "Jika kehadiranku adalah kesalahan, maka aku akan pergi dengan cara yang sekiranya membuat kalian puas," mata Athena memicing tajam memaku pandangan hampa dari Sang Jenderal. "Ada yang ingin kau katakan untukku sebelum peluru ini meledakkan kepalaku?" Sang Jenderal menipiskan bibir. Tangannya mulai gemetar menahan pistol hitam itu tetap di udara. Athena mendengus dengan senyum dingin. "Tidak ada?" Letnan Edsel menatap gelisah pada keberanian Athena yang diluar batas menurutnya. Dia mencoba menahan tangan gadis itu, tetapi Athena semakin berani menekan moncong pistol itu ke pelipisnya. "Kau akan kehilangan segalanya, Jenderal." Panglima Sai memejamkan mata mendengar bunyi letusan pistol menggema di tengah lapangan yang sunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD