"Kemari, Sayang."
Langkah kaki penuh luka itu memapaki tanah berkerikil yang tajam. Deru napasnya yang berat dan terasa tercekat memenuhi relung dadanya hingga dia berharap untuk kali ini saja, biarkan dia mati.
Bilur-bilur lebam yang berubah ungu kehitaman membekas di kedua kakinya yang bergetar. Tertatih mencoba berpijak dengan sisa tenaga yang dia miliki. Dia terus bertahan. Menembus dinginnya malam dan angin yang berhembus tiada henti untuk meruntuhkan sisa semangatnya yang hampir padam.
"Sayangku. Levantku."
Kedua tangan itu membuka. Membawa tubuh ringkihnya ke dalam pelukan yang erat. Di antara warna kelabu dan hitam pekat, rasa asing yang tak menyenangkan itu perlahan menyusup masuk ke dalam.
Mata senada hijau hutan itu menilai penampilan lusuh dan kotor dari dirinya yang hanya mampu menunduk, malu dengan dirinya sendiri yang kotor dan penuh debu. Berbeda dengan wanita cantik yang tampil sempurna tanpa cela.
"Bibir ini ... bibir yang membuatku candu. Bibir yang tidak bisa membuatku tidur nyenyak karena merindukan sentuhan lembutnya."
Wanita itu menarik bahunya untuk mendekat, menyesap bibir penuh luka dan rasa karat menemani ciuman penuh hasrat dirinya. Lidahnya masuk, membelai penuh godaan dinding-dinding di dalam mulutnya.
Ciumannya terlepas. Senyum terpatri di wajah pucatnya. "Kau kedinginan? Kemari, mendekat. Akan kupeluk dirimu."
Langkahnya mendekat, masuk kembali ke dalam pelukan panjang. Bibir dingin itu menyusup masuk ke belakang telinganya. Memberikan getaran samar dan kejutan yang mendebar di dalam dadanya.
"Sentuh aku dimana pun yang kau mau, Levant."
"Kakak Athena?"
"Kakak?"
Mia menggoyangkan tubuh rapuh Athena yang terbaring telungkup di atas ranjang mungilnya. Athena kelelahan karena mendengarkannya berceloteh tentang kehidupan dan masa kanak-kanaknya sampai Mia tertidur dan Athena ikut tertidur di sisi ranjang gadis itu.
"Ah, ya?" Athena tersentak kaget. Sampai mana dia?
Mia menatap Athena dengan mata kucing yang berbinar polos. Dia tersenyum geli menatap kebingungan yang melekat di wajah manisnya. "Kakak tertidur."
Athena menatap senyum polos itu dan dia ikut tersenyum ramah. "Benarkah? Ah, aku merasa sangat lelah akhir-akhir ini."
Mia mengangguk dengan senyum manis. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia benar-benar merasa memiliki seorang teman. Tangan kurusnya terulur mengusap punggung tangan Athena dengan lemah. "Kakak jangan terlalu lelah. Penyakit lebih mudah menyerang mereka yang terlalu banyak memforsir tenaga."
Sudut bibir Athena tertarik. Dia mengulum senyum hangat dan mengusap pipi pucat Mia dengan lembut. Kenapa wajah Mia semakin pucat?
"Kau sudah merasa lebih baik?" Athena benar-benar merasa cemas sekarang. Mia tidak terlihat kesulitan bernapas atau menunjukkan gejala dia sekarat. Hanya saja, wajahnya terlihat sangat pucat. Melebihi sebelumnya.
Mia menggeleng lemah. "Aku merasa sehat," katanya, berdusta pada Athena karena dia sedang mati-matian menahan rasa sakit di dadanya, terutama pada jantung dan bagian paru-parunya. "Aku baik-baik saja."
Athena menghela napas panjang. Usapan tangannya terus merambat naik sampai ke rambut kemerahannya. Senyum Athena perlahan timbul. "Terakhir kau bercerita, kau memiliki kalung milik ibumu. Siapa nama ibumu?"
"Karenina," pekik Mia bangga. "Namanya sangat bagus."
Karenina?
Kening Athena mengernyit dalam dan tanpa sadar dia menghentikan usapan tangannya pada rambut Mia. Mata pekat berbentuk kucing itu berbinar saat dia terus bercerita tentang surat peninggalan sang ibu bersama kalung perak dengan bandul bertuliskan nama Karenina. Mia memang tidak pernah tahu siapa sosok ibunya, tetapi dari penuturan bibir kecilnya, Mia seakan-akan mengenalnya dengan baik.
Kenapa di dalam mimpi buruknya nama Karenina muncul?
Mia menatap ekspresi bingung Athena. Tangannya menyentuh lengan Athena dan gadis itu terlonjak. Athena mengerjap, merasakan kulitnya meremang dan kepalanya berdenyut. "Kakak baru saja bermimpi buruk?"
Kepala Athena mengangguk pelan. Tangannya tanpa sadar saling mengusap satu sama lain. Getaran rasa takut dan sedih bersamaan hancur masih melekat dalam benaknya. Bagaimana Sang Jenderal yang menamparnya, bagaimana saat Letnan Edsel menodongkan pistol ke pelipisnya dan bagaimana saat nama Karenina muncul sebagai masalah baru di babak hidup Athena.
Mia tidak terluka dan Athena menoleh tepat ke arah pintu yang tertutup. Semua baik-baik saja dan mimpi buruk yang baru dia alami akan hilang. Ya, dia yakin.
Alis Athena terangkat saat pintu terbuka dan Sang Jenderal masuk bersama dokter paruh baya yang menangani Athena sebelumnya. Lantas, dia berdiri. Tanpa sadar tangannya bergetar hebat kala sang dokter menutup pintu dan langkah sepatu boot Sang Jenderal mendekat ke arahnya.
Akankah Jenderal akan menampar atau mencekiknya?
Pandangan mata setajam elang itu menilainya. Alisnya menekuk tajam. "Kenapa kau di sini?"
"Kenapa kau ada di sini?" Athena balik bertanya dan Sang Jenderal hanya mengangkat alis tanpa menjawab.
Dokter itu segera mengecek kondisi lemah Mia dengan hati-hati. Mia tidak banyak bicara dan dia segera menurut ketika tangan terampil dokter itu meraba-raba pergelangan tangan dan menekan urat nadi di lehernya.
Pandangan dingin Sang Jenderal masih tertuju pada sang istri yang bungkam. "Athena, pergilah. Anak ini akan menjadi urusanku."
"Dia tidak bersalah."
Sang Jenderal menipiskan bibir. Tatapan mata itu kembali menantangnya. Dan dia sedang tidak dalam suasana ingin ditantang sekarang.
"Kau membuat kesepakatan untuk bekerja sampai usia kandunganmu lima bulan. Aku menyanggupinya," mata Sang Jenderal melirik dingin pada dokter paruh baya itu. Lalu, kembali terpaku pada sepasang iris hijau milik istrinya. "Jangan buat aku memaksamu untuk tetap di rumah sampai kau melahirkan."
"Jangan mengancamku."
"Aku memberikanmu peringatan untuk tidak ikut campur terlalu jauh dalam urusan pemerintahan, Athena." Sang Jenderal memandangnya dingin dan Athena menghela napas. Dia merasa kalah sekarang. Jenderal benar. Sekuat apa pun Athena mencoba menahan diri agar dia tidak melukai mereka, dia tetap tidak punya kendali.
"Hanya saja ... dia tidak bersalah." Athena mencoba membujuknya sekali lagi.
Sang Jenderal mengetatkan rahang tak sabar.
Athena mendesis dingin. Mengerling tajam pada Sang Jenderal saat dia berjalan pergi meninggalkan mereka berdua dan membuka pintu kamar.
Mia melambai dengan senyum ke arah Athena yang terpaku diam, menatapnya gamang dan penuh emosional ketika gadis kecil itu tersenyum lebar seolah bebannya tidak akan lagi membelenggunya terlalu lama.
Jelaga hitam itu melirik ke arah Mia yang tersenyum dan pada Athena yang ikut tersenyum ramah, menganggukkan kepala dan berlalu pergi setelah melemparkan tatapan peringatan padanya. Sang Jenderal berjalan mendekat, menemukan napas Mia berubah satu-satu dan gadis kecil itu mulai tercekik oleh napasnya sendiri.
"Letnan Edsel memerintahkan Ami untuk memberikan obat terbaik bagi Mia agar sehat. Nyatanya, obat itu tidak mampu bekerja di dalam tubuhnya. Itu malah mempercepat kerusakan di dalam jantung dan paru-parunya." Sang dokter bersuara paru sesaat setelah dia memeriksa keadaan Mia yang semakin lemah.
"Kau bawa barang yang kuperintahkan sebelumnya?"
Dokter itu mengangguk pelan dan dia mengeluarkan jarum suntik dari kantung jas dokternya.
Kepala Sang Jenderal mengangguk samar. Dia bersedekap di depan d**a dan mengamati ekspresi bingung di mata Mia yang sayu. Gadis itu tengah berpikir apa yang akan dilakukan sang dokter padanya.
"Kami akan melenyapkan rasa sakitmu—"
Dokter itu mulai menusukkan ujung jarum ke dalam lengan Mia tepat di pembuluh darah merahnya. "—untuk selamanya."
Mia menjerit histeris. Dia berteriak kesakitan saat cairan hitam kental itu masuk ke dalam tubuhnya dan jeritan yang memekakkan telinga sekaligus membuat hati siapa pun yang mendengarnya tersayat, perlahan berubah samar dan semakin lama ... lenyap. Hanya ada deru napas yang berubah pendek, pendek, kemudian tak lagi ada.
Letnan Edsel merangsek masuk dengan mata melebar saat dia mendapati tubuh rapuh Mia terbaring di atas ranjang. Alat monitor jantung milik gadis kecil itu tidak lagi menunjukkan adanya tanda kehidupan selain satu garis lurus yang konstan.
Sang Jenderal mengangguk pada sang dokter yang kembali memasukkan jarum suntik itu ke dalam kantung jas dokternya.
"Awetkan dia sebelum militer akan membakar mayatnya. Athena mungkin mencari gadis ini untuk salam perpisahan yang terakhir kalinya."
Setelah Sang Jenderal memberikan mandat, dokter itu meminta izin untuk undur diri dan pergi dari ruangan itu secepatnya ketika Letnan Edsel bergerak menggantikan posisinya berdiri di samping ranjang yang kaku. Tubuh Mia berubah dingin, sangat dingin dan begitu menyengat saat tanpa sengaja kulit jemari Letnan Edsel menyentuh telapak tangannya.
"Usahamu untuk menyelamatkannya gagal, Letnan Edsel." Sang Jenderal mendesis dingin menatap datar pada sosok mungil yang terpejam untuk selamanya. "Aku tidak tahu kalau kau begitu peduli pada orang lain. Jelas kau paling tahu, kalau Karenina pantas mati. Dan keturunannya, tidak pantas hidup di Dalla."
Letnan Edsel menghela napas panjang. Dia menatap wajah pucat itu dengan sorot tajam. "Aku dan Panglima Sai memang merencanakan akan melenyapkannya ketika waktunya sudah tepat, Jenderal."
Sang Jenderal mendengus tajam. "Benarkah? Jika dia dibiarkan sebentar lagi, aku rasa jiwa terpendamnya akan bebas dan dia akan semakin liar. Kau tahu, menggulingkan kekuasaanku hanya karena darah Amante mengalir di dalam dirinya."
Letnan Edsel berpaling, memandang wajah kaku Sang Jenderal yang menyorot dingin pada tubuh tak bernyawa Mia. "Kau benar."
Sudut bibir Sang Jenderal tertarik samar. "Jika pun ada yang pantas duduk di kursi tahta nomor satu sebagai Jenderal baru penggantiku, itu haruslah dari keturunanku sendiri. Darah dagingku sendiri. Orang lain hanya bisa bermimpi untuk dapat duduk di kursi yang kutempati saat ini."
Letnan Edsel terpaku diam.
Sang Jenderal menolehkan kepala. Dia memutar badan berbalik hendak pergi meninggalkan kamar.
"Aku rasa lebih baik kau yang membakar mayat itu dan membuangnya kemana pun yang kau mau."
Letnan Edsel mengangkat alis saat tangan Sang Jenderal bersiap memutar gagang pintu. "Kau bisa membuangnya ke luar Benteng Dallas."
Alis Letnan Edsel saling menekuk tajam. Dia menunggu ucapan yang keluar selanjutnya dari bibir Sang Jenderal dengan penuh antisipasi.
"Seperti yang dilakukan Jenderal Akram sepuluh tahun lalu. Dimana dia membuang abu Karenina ke luar Benteng Dallas."
***
Mata Panglima Sai yang awas menangkap sosok Green Ariana yang tiba-tiba menempel dengan seringai lebar di balik jendela satu arah Rumah Sakit Jiwa Dalla.
Panglima Sai mendesis menahan rasa kaget luar biasa yang menghantamnya karena selanjutnya dia bergegas masuk dan Green Ariana melompat duduk ke atas ranjang. Dia memang hidup tanpa jiwa, jiwa yang bebas dan benar-benar sebagai boneka hidup. Hanya saja efek melemahkan seluruh sistem syaraf otak itu belum berlangsung sempurna. Beberapa kendali tangan dan gerakan mimik wajah masih bisa dikendalikan oleh otaknya walau dalam bentuk perintah samar-samar.
Wajah menua Green Ariana membuat Panglima Sai meringis. Ariana tidak memiliki penampilan yang buruk dari segi manapun sebagai perempuan sejati. Dia kuat, tangguh, dan tak terkalahkan di kelasnya.
Panglima Sai berjalan keluar pintu kamar setelah menguncinya dan membiarkan kunci itu menggantung pada gagang pintu. Dia kembali berjalan, kali ini mendengar teriakan dari bilik kamar sebelah barat saat dia mendengar suara gedoran senjata tajam seperti hendak membongkar paksa pintu berbahan baja tebal itu.
Panglima Sai berlari dengan decakan tajam ketika dia memperbaiki topi militernya dan menatap dingin pada sosok muda yang berusaha memberontak dengan beringas ketika Sang Panglima masuk ke dalam ruangan, memukulnya dengan tangan kosong hingga jatuh ke atas lantai.
Sang Panglima bebas melepaskan pengendalian dirinya di depan para pemberontak maupun tawanan. Ini karena Jenderal Dalla memberikannya kebebasan mutlak dalam menghabisi lawan yang sekiranya pantas menjadi tandingannya.
Dengan balok kayu hasil dari patahan ranjang, Panglima Sai menyilangkan tangannya guna melindungi kepalanya dari amukan pemuda ini. Dia mengeluarkan pisau lipat miliknya dan melemparkannya tepat ke titik nadi vital di leher pemuda itu.
Dia tewas seketika.
Panglima Sai berdiri santai dan tampak tenang saat goresan darah akibat pukulan balok dan kuku tajam pemuda itu berhasil membuat luka di lengannya. Dia mendesis, melepas seragam militernya saat hanya pakaian berlengan panjang hitam terdapat bercak merah yang merembes menjadi dimensi berbeda di warna pakaian pekatnya.
Dia membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang d**a. Dan terdapatlah bekas luka menakutkan menjalar sepanjang bahu bagian bawah tertarik lurus membentuk bercak mengerikan sampai ke perut. Panglima Sai meringis, mengusap bekas luka itu dengan tatapan dingin.
Ini luka bakar.
Kelopak mata Sang Panglima terpejam erat. Dia menarik napas, mengembuskannya kasar selagi dia bisa berdiri dengan tenang, dan berekspresi layaknya manusia tanpa hati.
Karena itulah memang dirinya.
Sorot matanya merendahkan pada sosok pemuda yang mati sia-sia di tangannya dengan bekas tusukan pisau yang berlubang dan darah terus mengalir hingga membasahi lantai putih yang dingin. Bersamaan dengan langkah Sang Panglima yang menjauh dari sana dengan siulan santai.