Athena melangkah gontai keluar dari pintu masuk Departemen Pangan ketika dia memutuskan untuk berjalan sejenak menikmati udara di siang hari yang sedikit mendung.
Langkah kakinya santai dan Athena terkadang bernyanyi guna melepas penat di benaknya. Dia tersenyum menatap bunga-bunga yang mulai bermekaran di musim semi dengan indah.
Militer Dallas yang diamanatkan Jenderal untuk terus mengawasi sang istri mereka lakukan. Walau mereka memberi jarak pantau—sesuai permintaan Athena, mereka menurutinya dan tetap mengawasi dengan seksama apa saja yang Athena lakukan selama Sang Jenderal tidak ada di dekatnya.
Samar-samar telinga mereka menangkap pergerakan asing tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Para militer bersiaga dengan tatapan fokus pada sepanjang hutan pohon pinus dan menemukan tendangan mematikan berasal dari atas pohon, membuat ketiga militer itu pingsan untuk sementara waktu sampai cairan yang disuntikkan ke tubuh para militer habis efeknya.
Athena menoleh, mengangkat alis saat dia melihat sepatu boot khas militer Dallas tergeletak di atas tanah. Dia ingin berlari, tapi ada tangan lain yang menariknya cukup kencang, membuatnya limbung dan akhinya terjatuh di dalam pelukan seseorang.
"Gildan?"
Kedua mata Athena membulat kaget. Dia terkejut bukan main karena Immanuel Gildan memberanikan diri bertemu dengannya di saat militer hitam Dallas sedang berpatroli.
"Waktuku tidak banyak, Athena. Aku hanya punya waktu sepuluh menit. Kekebalan tubuh para militer hitam Dallas sangat baik."
Kepala Athena mengangguk pelan. Dia menatap Immanuel Gildan dengan pandangan penuh rindu. Tangannya membuka untuk memeluk leher Immanuel Gildan dengan erat. Air mata terus menetes dari kedua matanya. "Kau tahu, betapa aku mencemaskanmu."
Athena akan tetap menjadi Athena yang dicintainya.
Immanuel Gildan membalas pelukan itu dan mengangkat tubuh Athena ke atas pangkuannya. Mengusap sepanjan rambut dan punggungnya ketika isakan Athena semakin keras.
"Jangan menangis, Athena. Katakan, apa Jenderal itu menyakitimu?"
Immanuel Gildan tidak pernah merasa sehancur ini saat dia bertanya tentang Sang Jenderal pada Athena, kekasihnya sendiri yang kini harus terbagi dengan Sang Jenderal yang amat dibencinya. Dia seharusnya berbicara penuh cinta dan tentang masa depan mereka. Bukan bertanya yang sebaliknya.
Terlebih dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Jenderal Dalla yang terkenal arogan, berego tinggi, bertangan dingin dan tak punya belas kasihan harus melompat dari balkon lantai dua bersama Athena hanya untuk melindunginya dari benturan yang mungkin bisa membunuh Athena dalam sekejap mata.
Ini semua tentang keturunan, Gildan.
Athena termenung sesaat. Dia memejamkan mata sembari menahan rasa sakit yang perlahan menyusup ke dalam hatinya. Dia sudah mengkhianati Gildan sejauh ini dan tidak ada jalan untuk kembali.
"Gildan, aku—"
Immanuel Gildan mendesis dalam suaranya. Dia menggeleng kecil pada Athena yang kembali mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menghela napas panjang. "Aku tidak mau dengar apa pun, Athena. Biarkan aku memelukmu hingga aku puas dan sayangnya itu tidak akan pernah membuatku puas." Immanuel Gildan tertawa pahit.
Athena menunduk, memejamkan mata guna menahan jutaan perasaan bersalah yang amat besar pada Gildan di luar hatinya.
"Aku mencintaimu."
Bibir Athena bergetar hebat. Dia semakin erat melingkarkan tangannya di leher kokoh Gildan dan menangis di bahunya. Sekadar menjawab kalimat yang sama kali ini benar-benar terasa sulit untuknya.
Dan Immanuel Gildan tidak perlu berpikir terlalu keras kalau dia merasa perasaan lain dari Athena untuk dirinya. Tangannya tanpa sadar gemetar hebat, menahan diri agar dirinya sendiri tidak ikut pecah dan larut dalam kesedihan yang begitu menyesakkan.
"Aku bersumpah akan membawamu lepas dari belenggu Jenderal Dalla itu dan kembali padaku."
Athena hanya diam, dia menganggukkan kepala samar dan tidak lagi mampu untuk sekadar bersuara agar perasaannya lebih baik. Namun, ternyata diam adalah jawaban terbaik yang dia miliki.
Immanuel Gildan melepas pelukannya ketika dia membiarkan Athena untuk pergi dan militer Dallas semakin dekat di sekitar mereka. Para anggota Organisasi Partai Merah memberi kode pada Gildan untuk segera pergi secepatnya.
"Jaga dirimu." Athena berani berkata setelah Gildan meraih wajahnya, memberikan ciuman panjang di bibirnya dan Athena hanya sanggup membalas lemah ciuman itu. Immanuel Gildan melepas ciuman mereka. Mengecup lama kening Athena dengan sayang dan beranjak pergi sebelum militer menangkap basah dirinya tengah bersembunyi.
Athena mematung di dalam detik yang berlalu begitu lama. Hingga berubah ke menit-menit yang menyakitkan. Pandangan matanya kosong mengamati hutan pohon pinus yang mulai menggelap karena senja. Dia berpaling, mengambil napas sebanyak mungkin dan memejamkan mata.
Saat Athena kembali membuka mata, dia tahu bahwa militer hitam Dallas telah kembali mengawasinya dari jarak yang memungkinkan Athena tahu keberadaan mereka. Dia berlalu acuh, tidak lagi peduli saat langkah ringannya membawanya kembali ke rumah dengan aman.
Panglima Sai memindai dengan tatapan dinginnya rumah dua lantai yang dibangun Jenderal guna menampung anak-anak panti dan salah satu orang terdekat Athena di sana. Karena melemparkan mereka kembali ke rumah yang lama, sama saja mencari kematian. Terlebih panti yang lama rata menjadi tanah, tidak akan ada harapan dan Sang Jenderal enggan membuatkan yang baru.
Panglima Sai berjalan pelan. Memasuki pelataran rumah yang terang karena berhiaskan cahaya lampu keemasan yang indah mengelilingi sekitar rumah yang bersih.
Bukan ini tujuannya datang kemari. Anak-anak pastilah sudah beristirahat di dalam rumah. Para militer yang berjaga sudah cukup untuk membuat rumah ini tetap aman dari serangan Partai Merah.
Langkah Panglima Sai berjalan menuju kegelapan hutan pohon pinus di belakang rumah. Dia berjalan santai, seolah masuk ke dalam kegelapan bukan hal yang menakutkan dan sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Wise Cassandra menghentikan kegiatannya mengelap piring sehabis dia cuci dan terpaku diam. Matanya menangkap sosok Sang Panglima yang berjalan tanpa topi militer dan hanya memakai seragam militer hitam Dallas. Dia mengernyit, membuka pintu belakang dengan pelan ketika bibirnya ingin membuka, tetapi dia urungkan.
Wise Cassandra menoleh ke belakang dan menemukan anak-anak tengah sibuk bermain di ruangan tengah. Dia menutup pintu, berjalan mengendap-endap dengan alas kaki seadanya untuk mengikuti langkah Panglima Sai.
Tidak hanya dia saja yang boleh diam-diam mengawasi. Dia juga bisa melakukannya.
Wise Cassandra terus berjalan. Dia terdiam saat langkahnya hampir tersandung bebatuan yang licin dan dirinya sengaja membuat Panglima Sai menangkapnya.
Alis Cassandra terangkat tinggi ketika Panglima Sai sampai pada sebuah kolam kecil. Tidak terlalu besar dan hampir terlihat seperti gazebo berukuran sedikit lebih lebar. Cukup untuk empat sampai lima orang di dalamnya.
"Aku bahkan baru tahu ada tempat tersembunyi seperti ini di dalam hutan."
Panglima Sai bergerak melepas seragam militernya dengan hati-hati. Seolah dia meresapi apa yang dia lakukan dengan pandangan kosong menyapu dasar kolam yang pekat.
Wise Cassandra membelalak kaget menemukan bekas luka bakar itu ketika Panglima Sai berbalik dan menaruh pakaiannya di bawah pohon pinus. Sang Panglima hanya bertelanjang d**a dan membiarkan celana hitam seragamnya terendam air ketika dia memasukkan separuh tubuhnya ke dalam kolam.
Sudut bibir Sang Panglima tertarik saat dia mengeluarkan wajah dan separuh dadanya ke permukaan kolam. Dia mengacak rambutnya dan turun ke wajahnya. Ketika bersandar pada tepi kolam, menghirup udara dalam-dalam.
Panglima Sai lantas berdiri. Tidak peduli dengan tubuhnya yang masih basah, dia berjalan santai menuju semak-semak yang belukar. Terus berjalan sampai Wise Cassandra belum sempat melarikan diri, tangan Sang Panglima sudah menahannya untuk tetap diam di tempat.
"Menikmati apa yang kau lihat?"
Tangan kurus itu meronta-ronta dan berusaha menepis cengkraman Sang Panglima yang nyatanya semua usahanya sia-sia belaka. Cassandra mendesis, menemukan sorot dingin pria itu membekukan tubuhnya. "Jika aku bisa, aku akan membunuhmu sekarang. Aku tidak akan menentang Jenderal hanya karena manusia tak berguna macam dirimu."
"Jaga bicaramu." Cassandra menggeram serak dan Panglima Sai memiringkan kepala, tersenyum dingin. "Aku akan berhati-hati lain kali jika menjadi dirimu." Dia menarik tangan Cassandra cukup kasar dan menyeretnya hendak masuk ke dalam kolam. Cassandra berteriak keras, para militer yang mengerti dari arah mana sumber teriakan itu, hanya sanggup diam dan memalingkan muka seakan-akan mereka tidak pernah mendengar suara apa pun sebelumnya.
Wise Cassandra terlempar ke dalam kolam dengan pakaian yang seluruhnya basah. Dia naik ke permukaan, meraup udara sebanyak-banyaknya ketika Panglima Sai menarik ikat rambutnya dan kembali menenggelamkan wajah itu ke dalam air dengan kasar.
Cassandra meronta-ronta dengan tangannya berusaha memegang lengan kokoh Sang Panglima. Tidak ada tanda Panglima Sai akan melepaskannya. Cassandra merasakan dadanya siap pecah dan dia tidak bisa bertahan lagi dari air yang masuk secara penuh ke dalam tubuhnya.
Gadis itu terbatuk-batuk hebat ketika Panglima Sai menarik tangannya. Membiarkannya menghirup udara bebas. Wajahnya pucat dan bibirnya bergetar menahan rasa dingin yang menusuk hingga tulangnya.
"Kau kedinginan?"
Panglima Sai memiringkan kepala saat dia berjongkok guna menikmati wajah tersiksa itu lebih lama lagi. "Kolam ini hangat kalau kau mau berendam lebih lama lagi."
Wise Cassandra mendesis marah. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan hendak bangun naik ke tepian ketika sebelah tangan Sang Panglima kembali mendorongnya dan Cassandra kembali jatuh ke kolam dengan keras.
Panglima Sai memasang raut datarnya ketika dia menceburkan diri ke kolam dan Cassandra kembali ke permukaan dengan paru-paru yang semakin sesak. Dia membuka mata, menemukan manik pekat Sang Panglima yang menyala-nyala penuh rasa sakit di dalam kedua matanya.
"Apa yang—"
Bibir Cassandra kembali terkatup rapat saat tangan Panglima Sai menariknya kasar dan membuatnya menabrak d**a bidang Sang Panglima dengan keras. Wajah pucat itu menunduk, mencari-cari bibirnya yang bergetar saat Cassandra berusaha membuang muka, kedua telapak tangan besar itu menahan pipinya agar tidak bergerak.
Ciuman ringan itu terlepas. Napas Cassandra terengah-engah dan keduanya saling beradu. Hidung Sang Panglima beralih mengendus aroma manis itu dan berhenti di belakang bahunya. "Aku bertanya-tanya apa yang dirasakan Jenderal dan Letnan pada wanita-wanita yang mereka tiduri."
Tatapan Sang Panglima merambat naik memandang sepasang mata sayu yang napasnya tersengal dan kedua tangan kurus itu meremas bahunya erat seolah hanya itu pegangan miliknya.
Panglima Sai menarik wajahnya untuk kembali memagut bibirnya secara liar dan kasar. Udara di sekitar mereka berubah menjadi uap panas terlebih Sang Panglima menarik dirinya dan Cassandra untuk masuk ke dalam air dan menyelam tanpa melepas pagutan bibirnya.
Wise Cassandra meronta. Terlebih dia tidak bisa berenang dan jelas menyelam sama sekali bukan keahliannya. Paru-parunya semakin sesak saat dia berusaha melakukan segala cara agar Panglima Sai melepaskannya dan membiarkannya bebas.
Panglima Sai memang melepaskannya. Membiarkan Cassandra mencari oksigen dengan tarikan napas kasar ketika Panglima Sai memiringkan kepala, menyeringai dingin pada wajah manis itu.
Wise Cassandra menatapnya dengan kerutan di dahi. Dia mengerti sekarang. Tatapan itu berubah liar dan panas. Dia belum sempat melarikan diri ketika tangan kokoh itu menariknya lebih dekat, memerangkapnya ke tepian kolam dengan seringai tipis.
Hidung Sang Panglima tenggelam dalam bahunya dimana pakaian hangatnya sudah merosot. Cassandra mencoba melepaskan diri dan Sang Panglima semakin beringas untuk membuat dirinya polos di saat keintiman mereka terlalu dekat.
Di antara banyak wanita di Dalla, kenapa harus dirinya?
Wise Cassandra menjerit tertahan saat semua ketakutannya menjadi nyata. Sang Panglima benar-benar membuatnya polos dan air kolam menekan seluruh titik-titik dalam tubuhnya dengan rasa dingin yang menyengat.
Tatapan Sang Panglima tidak mau lepas dari pemandangan menarik di hadapannya. Kedua matanya memicing tajam. Membuat gelenyar aneh Cassandra timbul di bawah tatapan mata tajamnya.
“Lepas, Panglima. Aku akan berteriak kalau kau tetap memaksa!” Wise Cassandra mengancam dengan napas memburu saat Panglima Sai menurunkan jajahan bibir dinginnya pada sepanjang titik-titik tubuhnya dengan sesapan menggoda.
Salah satu tangan Sang Panglima mendarat di atas bibirnya. Membekap mulut Cassandra dengan cengkraman kuat. Saat Panglima Sai mengangkat wajahnya hingga kedua mata mereka bertemu tatap. Satu ketakutan, satu lagi begitu tajam.
“Silakan saja. Jika ada yang berani menolongmu, kupastikan anak-anak panti itu tidak akan lagi melihat sosokmu ada di dunia ini.”
Wise Cassandra melotot tak percaya.
Panglima Sai memiringkan kepala. Melirik tubuh molek itu dengan tatapan mengintimidasi. “Percaya atau tidak, kehilangan akan membuat jiwa mereka terbelenggu sekali lagi. Setelah kematian ibu pemilik panti, tidak adanya sosok Athena lagi. Dan sekarang dirimu? Wah, Dalla akan memiliki pemberontak baru nantinya.”
“Lepas.” Wise Cassandra bisa bernapas lebih baik saat Panglima Sai menurunkan tangannya untuk membuat bibirnya mengeluarkan kata makian yang hanya bisa dia gumamkan samar karena ketakutan.
Panglima Sai tetap statis. Dia menyentuh inti pusat miliknya dengan kasar dan Cassandra terkesiap karena dia belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran tubuh Panglima Sai dengan benar.
“Jika kau memberontak sekali lagi, isi kepalamu akan keluar.”
Wise Cassandra menelan ludahnya gugup. Saat tatapan mencemooh Panglima Sai turun ke tubuhnya di antara gelapnya malam dan cahaya lampu dari arah bunker pribadi milik Sang Panglima bercampur cahaya bulan yang menyusup dari celah-celah daun pohon pinus.
“Aku menduga ini yang pertama kali untukmu.”
Sang Panglima tidak memiliki kelembutan sama sekali saat dia mendesak Cassandra semakin ke tepi dan menurunkan celananya sendiri dengan kasar. Membuat Cassandra menunduk, menggigit bahu Sang Panglima dengan keras dan dibalas rintihan pelan dari bibir dinginnya kala Panglima menghunjam kedalam pusat dirinya dengan kasar.
Semuanya berlalu begitu cepat. Sampai Wise Cassandra merasa dia akan mati sekarang juga. Desahannya tidak terdengar indah sama sekali melainkan penuh rasa sakit. Segala cakaran dan gigitan pada tubuh Sang Panglima nyatanya tidak membuat sosok itu berhenti menyetubuhinya bagai binatang liar.
Dan ketika pelepasan Panglima Sai di ujung, Cassandra hanya berharap dia tidak akan pernah mengandung anak dari iblis keji ini. Tidak akan pernah.