Di ruang keluarga dengan dinding warna putih yang dihiasi dengan banyak foto sepasang insan, aku merebahkan diriku di sofa, lelah setelah seharian bekerja. Ruangan yang selalu sunyi karena tidak ada orang lain selain aku, asisten rumah tanggaku hanya datang dan pergi, aku juga tidak punya hewan peliharaan.
“Madu... aku capek, pijetin dong...”
“Madu ini anniv kita, kamu masak apa? Masak semur jengkol ga?”
“Madu... Madu... kenapa kamu tidak marah? Aku memanggilmu Madu!”
Haah. Aku mendesah nafas kasar. Dibuka lagi gawainya, dimainkannya sebuah video.
“Honey, Mas Banyu sini, ayo nyanyi aku rekam video nih, kamu nyanyi ya aku joget.”
never know how much I love you
never know how much I care
when you put your arms around me
i’ve got a fever that so hard to bear
(-fever- dipopulerkan oleh Michael Bubble)
“hahahah, kenapa jadi joget koplo gitu sih Hon?”
“Biar, buka sithik joss, gitu mas.”
“hahahahaha.. udah udah matiin, maluuuuu Honey...”
“No, jangan jangan dimatikan, harusnya kita lebih lama lagi merekam, harusnya kita merekam setiap kejadian, harusnya aku tidak menghentikanmu... madu... aku rindu...”. Pecah tangisanku. Biarkan saja, teriakan saja semua beban ini, aku rindu kamu Honey. Dadaku sesak, masih segar diingatanku hari dimana kamu pergi, karena virus sialan itu, aku bahkan tidak dapat menyentuhmu untuk yang terakhir, mereka hanya memberikan aku waktu beberapa menit untuk melihatmu dari jauh. I miss you tremendously. Siapapun tolong aku, tolong kembalikan kekasih ku, kembalikan separuh jiwaku.
Hari ini, tiga tahun lalu, kami masih bersama, masih merayakan hari pernikahan kami. Kami selalu merayakannya berdua, dinner romantis atau traveling atau hanya sekedar menemaninya menonton drama Korea. Tapi karena Covid-19 sialan itu, dia merebut kekasihku, separuh jiwaku. Tapi kenapa aku tidak kau bawa serta hey penyakit jahat? Kenapa aku tdak tertular? Bahkan kami selalu bersama, kenapa? Kenapa? Aku ingin bunuh diri rasanya, tapi kalau aku bunuh diri aku masuk neraka dan tidak akan bisa bertemu lagi dengannya. Tapi sampai kapan aku hidup kesepian tanpa kamu honey?
“Kamu bahkan tidak hadir dalam mimpiku, aku berharap memimpikan kamu, tapi kamu tidak pernah datang. Kenapa Hon?”
Dewi Kirana, aku memanggilnya Honey terkadang Madu, tapi dia selalu marah kalau dipanggil Madu, seperti pelakor katanya. Aku mencintainya. Sungguh.
Hari ini seharusnya jadi anniversarry kami yang ke sebelas, kalau Kirana masih ada, namun sekarang? Hufft.
Aku membuka lemari pakaian, aku memandangi ruang kosong dalam lemari yang dulu adalah tempat menaruh pakaiannya. Ada kotak kenangan disana, aku menyimpan beberapa benda kenangan didalamnya. Aku kembali membuka kotak hijau ini.
Ada album kenangan kami, ku buka lembar demi lembar, ku pandangi foto demi foto, aku ingat-ingat kejadian apa yang terjadi saat foto itu di ambil. Ada foto perayaan ulang tahunnya yang ke 28, aku iseng mengerjainya, aku adakan pestanya di restoran cepat saji khusus anak-anak, jadi ada badut dan pakai topi ulang tahun untuk anak-anak. Dia terkejut dan malu, tapi kami tetap bergembira.
“Kamu lucu Hon dengan topi itu.”
Ada banyak benda disana, ada cincin pernikahan kami, foto pernikahan, dompet Abekani kesayangannya, ada handphone nya dan lain-lain. Handphone, kami selalu menghargai privasi masing-masing, aku tidak pernah membuka handphonenya, tapi kali ini aku ingin melihat isinya, aku ingin lihat foto-foto di galerinya. Karena itu aku mengambil charger handphone lalu aku isi dayanya, aku tinggal untuk makan makanan yang sudah dingin ini. Makanan enak ini terasa sangat hambar karena kamu tidak ada disini.
Aku mengambil handphone yang sudah terisi dayanya. Handphonenya terkunci, lalu aku menebak password yang Kirana gunakan, passwordnya adalah tanggal pernikahan kami. Benar ternyata. Aku tahu kamu juga sangat mencintaiku. Aku melihat galeri fotonya.
“Oh Honey, bagaimana mungkin kamu menyimpan foto aibku? Astaga foto lagi mangap ngiler juga, Hon, Hon.” Aku tersenyum melihat foto-foto jahil di galerinya, dan menjadi sedih saat melihat foto-foto selama dia dikarantina di rumah sakit, selang infus alat bantu pernapasan dan banyak alat deteksi lain yang terpasang.
“Kenapa harus kamu, Hon? Kenapa Tuhan? Kenapa Kau ambil dia tanpa mengambil aku? Apa maksud-Mu?” Aku masih menyalahkan Tuhan untuk keadaanku ini, aku masih marah pada Tuhan, aku bahkan memutuskan untuk tidak mempercayai-Nya lagi. Bagaimana Sang Maha Baik memberi kesedihan seperti ini? Tidak, aku tidak mau mempercayai-Mu lagi!
Ada beberapa video di album video, aku melihat semua album video, mulai dari yang pertama, video pernikahan kami, saat kami masih muda. Lalu video saat kami traveling, dan ada video lain, aku lihat tanggalnya, video itu dibuat saat dia ada dikarantina, dan yang akan membuatku menyesal membuka video ini.
Kirana mengenakan pakaian rumah sakit, wajahnya tampak pucat dan tirus menandakan dia kehilangan banyak berat badannya. Tapi dia masih tersenyum manis, senyum yang selalu aku rindukan. Seperti tanah gersang merindukan hujan, begitu juga hatiku, melihat video ini aku seperti bertemu dengan Kirana lagi, seolah-lah dia hidup kembali.
“Hai honey, Mas Banyu I miss you, kamu pasti juga kangen aku kan?”
Aku menjawab setiap pertanyaan di video rekamannya.
“Aku kangen banget Madu...” aku usap handphone ini dan menitikan air mata.
“Don’t call me madu, I hate it!” dia bilang benci tapi dia tertawa saat mengatakannya.
“Aku tidak tahu, ini hanya imajinasiku saja, atau aku sudah terlalu hafal dengan kamu setelah delapan tahun pernikahan kita.” Masih tetap dengan senyuman manisnya dia berbicara.
“Kamu terlalu mengenalku Hon.” Jawabku.
“Aku merekam ini hanya untuk berjaga-jaga jika aku tidak selamat.” Ada jeda sejenak, aku mulai menangis. “No, don’t cry mas, I hate you when you crying like that, kamu kalo nangis tuh hidung mu merah, ingusan, trus mata kamu jadi sipit karena sembab, jangan nangis ya Honey.”
Aku menghapus air mataku, mengaur nafasku, aku tidak akan mengangis Honey, aku tersenyum padanya. Pada layar gawai.
“Nah gitu, senyum. Apakah sekarang sudah ditemuka obat atau vaksin untuk virus jahat ini mas?” aku mengangguk. “syukurlah kalau sudah, lalu apakah kamu sudah bisa traveling lagi?” aku mengangguk lagi.
“Sudah sayang, tapi aku tidak kemana-mana.”
“Mas, sekarang hari anniversary kita ya?” aku mengangguk, bagaimana kamu bisa tahu seperti ini?
“Yang keberapa mas? Tunggu jangan jawab, karena kamu selalu menjaga privasi aku, mungkin sekarang anniversary yang ke... sebelas? Iya mas?” aku kembali mengangguk. “Tapi aku harap kamu tidak perlu selama itu untuk membuka pesanku ini. Aku harap segera setelah kepergianku kamu membuka hape ku ini.”
“Honey, aku ingin kamu mencari penggantiku, temukan lagi cinta yang baru, cari seseorang yang mencintai kamu dengan tulus.”
“No, Honey, no. Kenapa kamu sama seperti mereka semua?! Kenapa? Kenapa kamu juga ingin aku melupakan mu? TIDAK! AKU TIDAK AKAN MELUPAKAN MU SEUMUR HIDUPKU! TIDAK. Honey, maaf semua keinginan kamu pasti akan aku turuti, tapi untuk yang ini, aku tidak mau. Aku tidak bisa. Aku cinta kamu.” Tangisan ku semakin pecah, hati yang terluka semakin sakit dan kecewa. Kenapa orang yang aku cintai juga ingin aku mencari cinta yang lain.
Ada satu lagi video, aku enggan membukanya, tapi rasa penasaran dan rinduku pada Kirana membuat jari ku membukanya.
“Aku tahu, kamu pasti menolak keinginanku yang ini. Karena kamu mencintaiku. Tapi Mas Banyu, akupun mencintaimu.” Kirana terdiam, menahan isak tangis. “Aku tidak ingin Mas Banyu larut dalam kesedihan dan kesepian. Aku ingin kamu kembali tertawa, bahagia, mempunyai istri yang akan merawat kamu, menyediakan makanan bergizi untuk kamu, menyediakan pakaian bersih untuk kamu dan memberikan kamu anak-anak nakal yang lucu dan menggemaskan.”
“Tidak. Jangan minta aku bahagia tanpa kamu Honey.”
“Sebenarnya itu impianku mas, mempunyai banyak anak dengan kamu, tapi maaf aku tidak bisa hamil, bahkan dengan bayi tabungpun aku tidak bisa. Maaf aku menyimpan banyak penyakit ditubuhku, sehingga aku harus meninggalkan mu terlebih dahulu.”
“Kamu ga salah Honey, jangan minta maaf. Ini takdir kita, takdir.”
“Mas Banyu, kamu sudah setia sampai maut memisahkan kita. Sekarang kamu harus mencari wanita lain, jangan mencari yang seperti aku, cari wanita yang mau menerima aku sebagai masa lalu kamu. Dan jangan salahkan Tuhan. RencanaNya selalu mendatangkan kebaikan. I love you Mas Banyu Gesang. Emmuach.”
Tangisku kembali pecah.
“Honey jangan pergi, kembalilah. Honey...”