Kalian tahu rasanya menderita sendiri? Pernah merasakanya? Saat semua orang bergembira, saat langit cerah, burung-burung bernyanyi, bunga-bunga bermekaran, tapi kalian merasa sendiri, sepi, dan hampa.
Aku rasa ini yang aku rasakan setiap harinya, bangun tidur, kerja, makan, pulang, tidur lagi, hanya rutinitas saja.
Malam hari adalah hal yang paling aku benci, aku rasa aku ingin pindah ke kutub utara agar selalu terang tidak perlu mengalami kegelapan. Malam hari bagaikan kutukan kesepian, saat dimana hantu nelangsa bergentayangan dan mengintai mangsanya, mungkin aku mangsa favorit mereka, setiap malam selalu hampa. Wine dan Bir adalah kombinasi terbaik untuk melenyapakan mereka, toh besok weekend, aku tidak perlu bekerja.
-tring- suara pesan WA masuk ke dalam gawai pintar ku.
Aku abaikan, tidak ada yang penting. Kembali kunikmati kesendirianku.
“Honey, hari ini kerjaanku sama seperti kemarin, boy band baru kemarin diterima masayarakat, single mereka meledak, film yang aku tulis naskahnya masuk box office, bagaimana? Kerenkan aku?” sambil memandang gelas wine, aku berharap ada Kirana disini, tapi... Apakah kenyataan harus semenyakitkan ini? Berbicara sendiri setiap malam, apa aku sudah gila? Aku berharap aku gila, bisa berhalusinasi tentang Kirana, nyatanya aku masih waras tapi kesepian.
“Mas Banyu...” akhirnya kamu datang juga ke mimpiku Hon.
“Mas... Mas Banyu...” tapi kenapa suaramu tidak seperti yang aku ingat Hon?
“Mas... bangun...”
-byur-
Basah, aku terbangun dari tidur, ada yang menyiramku! Sialan! Siapa yang berani nyiram?
“AAAAAARRGGGH b******n! SIAPA YANG NYIRAM?!” Aku berteriak marah.
“AYAH YANG NYIRAM KAMU! BANGUN! ANAK KURANG AJAR!” suara ayah.
Aku mengamati sekitarku, ada ayah, ibu, dan dua adik kembarku Langit dan Lintang.
“Ayah kenapa harus nyiram segala sih?” sambil bangkit dan terduduk di sofa, tiap malam aku selalu tidur di sofa, sejak kepergiannya.
“Ibu yang minta ayah buat nyiram kamu.” Ayah menjelaskan, duh, kalau ibu yang kasih titah, udah deh ga usah dibantah.
“Mas Banyu, kamu kenapa mabuk-mabukan begini? Kamu mau bunuh diri perlahan hah?” ibu ku kalau sudah marah begini, lebih baik nunduk aja deh, jangan dijawab nanti tambah runyam.
“Kamu itu sudah berapa umurnya? Kamu kasih contoh yang ga baik buat adik-adik kamu!”
“Maaf bu, tadinya ga niat mabuk, tapi ternyata malah mabuk.”
Ibu ku mendekat ke arah ku lalu mendorong kepalaku.
“Minum dua botol wine, sepuluh kaleng bir kamu bilang ga niat mabuk? Iya? Cah kenthir! Tiru-tiru sopo kowe?”
“Mbokne mesti (ibunya pasti).” Ayah bergumam.
“Mas, kapan aku mabuk?” Ibu protes.
“Kamu ga inget, mau aku ingetin kejadian dulu?”
“Mas!”
“Ampun sayang... bercanda”
Dua orang tua ini sungguh saling mencintai, kadang kami iri sama kemesraan mereka, tapi lebih sering bete nya, kalau tiap saat mereka ciuman didepan kami.
“Sekarang kemasi barang-barangmu, pergi temani Langit dan Lintang backpaceran.”
“HAH?” Kaget aku, ga salah denger nih?
“Bu, aku bukan brothersitter dan mereka itu 27 tahun bu, ngapain ditemenin. Ga mau! Kerjaan juga masih banyak, aku ga bisa!”
“Langit, Lintang, kalian dengar, Mas Banyu ga mau menemani kalian, jadi kalian bertiga harus ikut ibu dan ayah honeymoon.”
“APA?” Kami berempat serempak berteriak. Ayah juga sampai teriak.
“Tunggu, sayang, Gendis, ngapain kita ajak tiga b******n ini? Kita kan mau honeymoon.” Ayah ku juga protes, ini kakek nenek udah tua juga masih aja honeymoon.
“Mas Bian, justru kita harus ajak para b******n jomblo ini, biar mereka keracunan kasih sayang, biar cepet-cepet cari pasangan.”
“Ibu... please deh Bu, Mas Banyu, ayolah ikut kami aja, ga kasihan mas sama kami yang setiap hari sudah diracuni dengan kemesraan mereka, lalu sekarang kami harus ikutan bulan madu... Arggh?” Langit tenyata cukup menderita dengan tampilan kasih sayang orang tua ini.
“Ayo lah mas, kita jalan-jalan ke timur Indonesia, bareng-bareng sama grup backpaker dari seluruh Indonesia, asik mas acaranya.” Lintang mencoba meyakinkan aku. Aku memang dekat dengan dua adik kembar ini, karena mereka selalu mengidolakan ku.
“Tapi nanti perusahaan gimana?”
“Cahaya, yang akan urus.”
“Caya, bukannya sibuk bantuin Air di JB?”
“Banyu, turuti keinginan ibu!” Ayahku itu terlalu memanjakan ibuku, setiap keinginan ibu adalah perintah buat ayah, dan anak-anaknya juga harus ikut apa kata ibu.
Tapi aku tidak dalam kondisi hati yang senang untuk wisata, apa mereka tidak mengerti?
“Ayo mas, tiga jam lagi pesawat kita berangkat.” Langit sudah resah.
“Apa tiga jam lagi? Aku aja belum siap-siap.”
“Nih, udah aku siapin. Ayo berangkat, cuci muka sama ganti baju gih mas. BURUAN!” Langit dan Lintang menyeretku masuk ke kamar mandi.
Ya sudahlah, kasihan juga adik-adikku ini, kasihan juga kalau aku harus ikut bulan madu ayah dan ibu.
Kami berangkat menuju Bali, kata mereka, kami akan berkumpul dulu di Bali lalu nanti akan bersama-sama berangkat dari Bali. Aku cukup duduk manis saja, Langit dan Lintang yang mengatur semuanya.
“Kalian mampu bayarin Mas Banyu?”
Langit dan Lintang saling menatap. Lalu Langit mengeluarkan sesutau dari dompetnya dengan dua jari dijepitnya sebuah kartu kredit berwarna hitam dengan gaya songongnya, itu kartu kredit unlimited.
“Kamu kok bisa punya kartu itu? Memangnya dokter magang gajinya berapa?”
“Mas pikir aku ga bisa punya kartu kaya gini? Hah?” Langit membalas dengan gaya sombongnya dan wajah tengilnya.
“Ya ga bisalah mas, itu punya ayah, kita colong... hahahahaha.” Lintang yang menjawab.
“Cah kenthir! Kalau ayah tahu kalian bisa dicoret dari kartu keluarga!” Aku geleng-geleng ga percaya, memang mereka berdua ini nakal dari kecil.
“Tenang mas, ayah yang akan marah kalau tahu juga, asal jangan ketahuan ibu aja, kalau ibu tahu, ayah tuh langsung sok jadi galak.” Yah memang sih, ayahku itu terlalu bucin sama ibu, ibu nangis sedikit karena kami, kami bisa langsung dimarahi tanpa henti.
Kami menginap di hotel dekat pantai Kuta. Kami menikmati pantai Kuta, duduk di atas pasir, menikmati sunset, ahh andai kamu ada disini Hon. Malam kian terasa larut dan dingin, Lintang dan Langit berkumpul bersama teman-teman barunya, aku memutuskan untuk tidur duluan, aku merasa paling tua, ga nyaman dengan mereka.
“Mas, besok jangan terlambat bangun ya kita naik kapal besok.” Langit mengingatkan
“Hah? Kapal? Ga salah kalian? Ga pesawat?”
“Mas, kalau backpacker tuh begini, cari yang murah meriah bahagia.”
“Dan... Aku terjebak diantara kalian para wisatawan kere. Kenapa ga kerja dulu cari duit, ngumpulin duit buat wisata yang nyaman! Argghhh...” Aku kesal sekali kalau harus wisata tapi menyiksa.
“Tenang mas, pasti akan menyenangkan. Met bobok Mas Ganteng, emmuach..” Lintang memberi kiss bye. Iyaaks jijay. Dikira hombreng akika.