Banyu

945 Words
Memang benar ya kata ibu “anak kecil main sama anak kecil, jangan gabung sama orang tua!” begitu kata ibuku kalau aku lagi pengen gangguin ibu yang asik ngobrol sama teman-temannya. Sekarang aku merasakan, berkumpul bersama sepuluh orang yang usianya jauh dibawahku, aku merasa tua, obrolannya sudah ga nyambung, apa yang mereka bicarakan banyak yang aku ga mengerti, tapi ada enaknya juga, karena lebih tua jadi lebih hormat aja mereka dan selalu dilayani. Ada tujuh laki-laki dan tiga perempuan, ada satu gadis yang menarik perhatianku, dia adalah ketua rombongan ini, dia yang merencanakan trip ini, dia tinggi mungkin karena bule, tinggi pas untukku jadi kalau ciuman ga terlalu capek leherku nunduk, eits... piktor! Kenapa kamu jadi mikirin ciuman? Oh my... aku sudah terlalu haus belaian. Maaf honey, aku tidak sengaja berikir seperti ini, hanya kamu satu-satunya. “Temen-temen ini schedule ya udah aku share ya di WA grup, juga ada yang udah aku print, satu lembar buat tiga orang ya, biar hemat kertas. Pagi ini kita masih menikmati Bali ya, nanti jam 4 sore kumpul di Sanur, lalu berangkat ke Padang Bai untuk melajutkan naik kapal feri, jangan telat ya, biar bisa tiba di Senggigi tepat waktu saat sunrise.” Catherine namanya, teman satu kampus Langit di UGM Yogyakarta. Panggilannya Keket, saat mendengar namanya pertama kali aku menahan tawa, karena aku langsung teringat ulat keket warna hijau yang jalan merambat dengan perutnya, hahahaha, mungkin karena aku orang audio visual, imajinasiku terasa nyata sekali. “Siap!” semua serempak menjawab. “Sekali lagi tolong jangan telat ya, yang telat akan kita tinggal ya.” “Siap!”  Aku rasa semua orang menikmati trip ini, kecuali aku, semua menghabiskan waktu mereka di pantai, ada yang main jet ski, banana boat, surfing, hanya aku yang tidak melakukan apa-apa. Kenapa sih ibu maksain aku banget untuk menemani Langit dan Lintang, aku ga nyaman, menemani backpaker yang apa-apa pakai kelas ekonomi, aku harus naik moda ekonomi, nginep di guest house, ahhh buat apa aku kerja keras, punya banyak uang, kalau hanya trip seperti ini uangku rasanya lebih dari cukup. Kalau bukan karena ibu, aku ga mau deh tersiksa begini. “Mas, ga main? Malah ngedomblong (bengong)!” Lintang adik ku yang paling bontot, dia cukup pendiam dibandingkan Langit, dia seniman rupa, dulu kuliah jurusan patung di ISI Yogya, selain mematung dan melukis, Lintang juga suka fotografi, memang dia paling baik di dunia visual ini. “Kamu juga ga main Tang?” tanyaku. “Aku masih asik hunting foto, mas mainlah sana, pakai credit card ayah aja buat bayarnya. Hahahaha.” “Sorry nih ya, duit mas juga banyak. Ga kayak seniman kere dan dokter kere.” “Iya deh iya yang banyak duitnya, nanti kalau salah satu karyaku laku, ga aku traktir Mas Banyu! Hah!” “Apa perlu aku beli karyamu biar kamu bisa traktir-traktir?” “Hahahaha” Lintang tertawa dan memberikan jari tengahnya padaku f**k you katanya. Daripada bengong, aku memilih berjalan-jalan menyusuri pantai yang ramai ini. Terlalu banyak pasangan romantis disini, membuatku teringat akan Kirana, andai kamu ada disini Hon. Ahh kenapa jadi sedih begini sih? Sudah lebih baik aku ke Bandara, cari tiket pesawat ke Lombok, aku ga mau naik kapal. *** “Ket, ini sudah jam 5, nanti kita ketinggalan kapal.” “Tunggu 10 menit lagi ya teman-teman.” Rombongan trip harus menunggu Banyu yang sudah asik di Lombok. “Tang, Mas Banyu udah bisa di telpon belum?” “Ga aktif Ngit dari tadi. Pulang kali dia?” “Masa tas nya ditinggal, kalau pulang?” “Kali aja dia mau nyusahin kita?” “Iya juga sih, ya udah tinggal aja deh, udah tua ini dia, ga mugkin diculik kan?” Langit dan Lintang yang merasa tidak enak dengan rombongan, harus meninggalkan Banyu. “Ket, ayo kita tinggal Mas Banyu, maaf ya bikin nunggu.” “Serius? Atau kalian pergi saja duluan, aku tinggal sebentar lagi disini.” “Ga usah Ket. Ayo kita jalan.”                 *** Ternyata sunset di Pantai Sengigi sungguh sangat indah. Kenapa mereka tidak langsung ke Lobok saja ya? Daripada berlama-lama di Bali. Ahh, bisa santai dulu disini, untung masih ada gitar disini, setidaknya bisa menemani malam ini. Aku mencipta sebuah lagu untuk mu Kirana, aku harap kamu mendengarnya. Sedalam dalam hati  hanya engkau yang menghiasi Walau kau telah jauh dan tak tergapai Walau hati telah patah Walau air mata telah mengering Hanya kenangan yang akan abadi Rindu ini selalu ada untukmu Sampai kita bertemu lagi di keabadian. Aku ambil gawaiku, ingin rasanya mendengar suaranya lagi, ahh baterainya habis, dan aku tidak membawa tas ku tadi. Honey, pantai indah ini tidak seindah itu tanpamu. Aku sebaiknya istirahat. Mereka tidak mungkin mencariku. Aku menginap di hotel dekat pantai, kalau sesuai dengan agenda trip, mereka akan sampai disini besok pagi. Aku akan menemui mereka besok. Pagi hari ditepi pantai, udara yang segar, bersih, debur ombak yang menenangkan pikiran, cuaca yang cerah, dan secangkir kopi hitam, sungguh nikmat luar biasa, hanya tanpa mu, serasa tidak ada artinya. “MAS BANYU!” Langit dan Lintang berteriak dan berlari ke arahku, dengan wajah lelah dan masam. “Kenapa telat banget nyampenya kalian?” “Mas Banyu! Mending kita one on one aja yuk!” Lintang sudah siap mengajak berkelahi. “Kenapa sih kalian?” “Mas Banyu ga boleh seenaknya dong, kita ini satu kelompok, mas ga bisa menghilang seenaknya sendiri, tanpa kasih kabar. Kami telat karena harus menunggu kamu lebih lama, kami bahkan harus terburu-buru mengejar kapal terakhir.” Keket marah padaku, salahku dimana, pagi-pagi udah dipelototin semua orang. “Kenapa kalian semua jadi marah sama aku, kan kamu sendiri ketua kelompok yang bilang ‘yang telat ditinggal ya’kenapa malah nungguin aku? ”  Aku membela diri, karena memang ga salah kan? “Ihhh, Langit, Lintang mulai sekarang kalian urus sendiri kakak kalian. Aku ga perduli lagi!” Keket menghentakan kakinya lalu pergi meninggalkan kami. “Si Bule, kenapa marah?” tanyaku heran pada Langit dan Lintang. “Ya marahlah dia, dia yang kena sasaran amarah anggota yang lain, karena harus menunggu Mas Banyu lebih lama. Untung aja kapalnya delay, kalo ngga, makin diamuk Keket sama yang lain.” Jawab Langit. “Nih tasnya.” Lintang melempar tasku, masih kesal rupanya si bontot ini. “Chargerku mana?” “Mana kami tahu, kami asal ambil aja, ga kami periksa lagi, salah sendiri!”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD