Banyu

1137 Words
Sepertinya lebih mudah membuat musuh daripada teman, sepagi ini aku sudah dimarahi dua kali oleh gadis yang sama, menyebalkan memang. “Yah, nasi gorengnya habis ya?” Tanya Linda seorang dari anggota kelompok trip. “Harusnya sih pas ya nasi gorengnya, kamu belum maka Lin?” Tanya Catherine pada Linda, sebagai ketua kelompok dia sangat peduli dengan anggota kelompok. “Belum Ket.” “Kamu makan punyaku aja ya. Aku tanya dulu sama pemilik guest housenya, siapa tahu kurang nyiapin sarapannya.” Catherine mengalah demi keyamanan bersama. Lalu dia pergi mencari pemilik guest house. Catherine datang mendekatiku dengan wajah cantiknya yang kecut. “Mas Banyu, kamu makan nasi goreng berapa piring?” Tanya Catherine dengan ekspresi anehnya sambil bersidekap “Tiga.” Jawabku sambil masih membaca laporan pekerjaan di gawaiku. “Mas Banyu sadar ga sih kalau kita itu ada 10 orang dalam rombongan?” Tanyanya masih dengan ekspresi anehnya yang lama-lama menyebalkan kalau dilihat. “Lalu?” kenapa pertanyaannya ambigu begitu sih, to the point aja kenapa dek. “Astaga. Mas, sarapannya itu sudah dilebihkan 1 porsi oleh pemilik guest house tapi Mas Banyu malah makan 3, sadar ga sih mas, kalau ada yang belum kebagian?” Cerwetnya gadis ini. “Ya beli lagi aja, nanti aku yang bayar. Jangan kayak orang susah deh.” Jawabku santai. “Astaga... Oke. Fine!” Catherine merajuk lalu berlalu dari hadapanku. Kenapa sih dia kenapa harus cemberut gitu sih? Jadi mirip bebek. Hahahaha. Semua anggota trip sudah berkumpul, rencananya kami akan snorkeling. “Temans kita pemanasan dulu ya, biar ga kram kakinya, kita akan cukup lama main di air hari ini.” “Oke, siap Ket.” Aku cukup malas untuk ikut snorkeling, jadi aku tidak pemanasan tapi karena Langit dan Lintang memaksaku untuk ikut, jadi lah aku disini, diatas kapal menjadi fotografer dadakan.  Semua orang menitipkan gawai mereka padaku dan aku harus memotret mereka semua. “Turunlah mas, tjakep bener biota lautnya.” Langit mengajakku turun, tapi emh... “Udah jauh-jauh nyampe sini mas, rugi loh kalau ga lihat.” Lintang juga memprvokasi, dasar kembar. Byurr. Ku lepas kaos, memakai fin, goggle dan oksigen dan terjun ke laut. Wow. Amazing. Memang benar cantik sekali pemandangan dibawah sini. Aku rasa aku terlalu lama menyelam, dan terlalu jauh dari yang lain, saat aku memutuskan untuk kembali  ke kapal, oh no! kaki ku kram. Aku berusaha untuk tetap tenang dan perlahan berenang naik. “Langit, Lintang!” Aku berteriak, oh no, mereka terlalu jauh. Aku berusaha tenang, tapi kram di kedua betis ini semakin nyeri. Aku tidak bisa menahanya lagi, aku berusaha untuk berenang tapi terlalu sakit, semakin aku berusaha semakin sakit terasa, aku tidak bisa menggerakan kakiku lagi. Aku rasa aku akan tenggelam. Aku melihat nya berenang mendekatiku, apakah itu kamu Hon? Tapi kenapa rambut kamu merah begitu? Apakah akhirnya kita akan bertemu lagi Hon? Aku berusaha menggapainya tapi dia terlalu jauh, semakin jauh dan gelap semakin gelap. -uhuk uhuk uhuk- Aku terbatuk lalu duduk terbangun, rasanya hidungku panas dan sakit sekali karena mengeluarkan banyak air asin, tenggorokanku juga sakit, teligaku berdengung, mataku masih samar-samar melihat. “Damn you jerk! Kalau kamu mau bunuh diri jangan libatkan grup ini, pergi sendiri lalu mati sana! Ashole!” -uhuk uhuk uhuk- Aku masih terbatuk kenapa si Mbak Bule marah-marah melulu, siapa yang mau bunuh diri? Aku kram, kakiku kram. Tapi aku tidak dapat membalas komentarnya, aku terlalu lemah untuk berdebat. “Mas Banyu biar kami yang urus Ket, makasih ya Ket.” Langit berusaha menenangkan Chaterine. “Kakiku kram tadi.” “YA JELAS KRAM LAH, GA PEMANASAN SOK SOKAN BERENANG JAUH! UDAH PALING TUA, NGEREPOTIN!” Catherine semakin marah padaku. Ada apa dengan perempuan ini? Lagi PMS ya? “YAAAAA! SIAPA YANG MAU BUNUH DIRI? SIAPA YANG SOK SOKAN? SIAPA YANG TUA? SIAPA KAMU BERANI MARAHIN AKU?!” Dia berteriak, aku juga balas berteriak. “KAMU JAWAB AJA SENDIRI PERTANYAAN BODOHMU ITU! AKU UDAH GA MAU PERDULI LAGI SAMA KAMU! LANGIT URUS SENDIRI KAKAK KAMU INI! ARGGGH I HATE YOU!” “I HATE YOU MORE!” Aku balas berteriak lalu Caterine pergi meninggalkan kami, lalu aku mengamati sekeliling ternyata kami sudah kembali ke pulau. Itu berarti aku mengacaukan acara selanjutnya. “Mas, kamu harusnya terimakasih sama Keket, kalau ga ada dia, kamu udah jadi berita di koran.” Langit menasihatiku. Ternyata Keket yang menolongku. “Tapi dia marah-marah sama aku Langit, dia berteriak, aku belum pernah di teriaki seperti itu seumur hidupku, harga diriku terusik.” “Oh come on mas, kamu ga tahu dia sangat berusaha membawa kamu ke kapal, kapal sangat jauh dari posisi kamu teggelam, dan saat itu semua orang sudah sibuk dengan dirinya masing-masing, Keket sendirian yang harus mengangkatmu ke kapal, dia melakukan CPR sendirian, beruntung dia bisa fokus dan tidak terlalu panik. Jadi wajar saja kalau dia marah-marah sama kamu.” Langit menjelaskan. Sedikit yang aku tahu kalau Keket juga lulus kedokteran, dia teman seangkatan Langit, tapi dia melanjutkan kuliah di Bioteknologi tidak menjadi dokter magang di rumah sakit. “Emh... ya nanti aku akan berterimakasih dan minta maaf pada semua anggota.” Aku kembali ke guest house dan istirahat sementara yang lain masih melanjutkan agenda wisata mereka. Entah mengapa aku merasa lega tidak jadi mati, bukankah aku sangat ingin bertemu dengan Kirana? Waktu makan malam tiba, semua anggota sudah mulai makan, Langit dan Lintang memainkan alat musik dan bernyanyi. Jiwa ku ikut berdendang jika sudah mendengar lantunan nada, aku ikut bergabung bernyanyi , dulu aku sempat populer saat menjadi penyanyi dan bintang film, tapi sekarang hanya bekerja di balik layar saja. Semua orang menikmati permaian musik kami, kecuali si Keket itu, dia tidak kelihatan, terpadahal aku ingin berterimakasih sama dia. Aku semakin lapar karena terlalu menikmati bermusik. Aku menuju meja makan dan saat akan makan, semua makanan sudah habis. Lalu aku memandang sekeliling mencari Keket ketua trip ini, dan aku melihat dia baru masuk ke dalam guest house kami melewati pagar depan. “Ket, makanannya habis.” “Lalu?” Jawabnya acuh. Sambil terus berjalan masuk kedalam. “Hei, aku lagi ngomong sama kamu!” Kesal juga kalau diacuhkan begini. Keket berhenti lalu menatapku dengan muka datar dan tatapan tajamnya. “Lalu?” “Aku belum makan.” Jawabku. “Lalu?” Aish, menyebalkan sekali ketua ini. “Sebagai ketua harusnya kamu memperhatikan aku kan? Aku kan anggota kamu.” “Oh... wow, sekarang Mas Banyu mengakui aku sebagai ketua? Mas Banyu kan bisa tinggal beli aja, jangan kayak orang susah deh.” Sial. Dia membalas perkara tadi pagi. Untung cantik, kalau laki udah aku sleding juga nih. “Emh, jadi ini pembalasan kamu?” “Pembalasan? Bukan pembalasan, hanya karma datang begitu cepat.” Jawabnya acuh lalu pergi naik keatas untuk menerima panggilan teleponnya. Baru kali ini ada kaum hawa yang tidak tertarik dengan diriku, biasanya pesonaku sangat memesona mereka. Lihat saja kau Ket, akan aku buat kamu tergila-gila padaku! Aku kembali berkumpul bersama teman-teman, mencari Lintang untuk meminta snack yang dia bawa, aku terlalu lapar. Lintang sedang ngobrol dengan beberapa teman. “Gimana nih, Keket udah dapat kapal belum ya?” “Emang kenapa kapalnya?” tanyaku penasaran. “Kapal yang kita sewa mendadak cancel karena ada kerusakan mesin.” Jawab Rico “oh gitu...” “Keket dari tadi masih nyari kapal, karena lagi high season gini mungkin susah juga nyari gantinya.” “Oke, kalau gitu kita naik pesawat aja.” “Waaaa... mahal dong mas, budjet kitakan ga cukup.” “Tenang aja, Lintang yang bayar” “Heh? Kok aku yang bayar mas?” Lintang protes. “Pakai kartu hitamnya ayah...” “Waaaah... OKEEEE, dosa ditanggung bersama ya mas.” “Asal ibu ga tahu aja.” Kami toss persaudaraan. Masalah terpecahkan, kami terbang ke Labuan Bajo, Pulau Komodo.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD