“MAS BANYUUUUU! KITA INI UDAH MAU JALAN, KAMU MALAH MASIH TIDUR. JANGAN MENTANG-MENTANG MERASA PALING TUA DEH JADI BISA SEENAKNYA SENDIRI! INI BUKAN PERTAMA KALINYA LOH KAMU MEMBUAT ANGGOTA YANG LAIN MENUNGGU!”
Oh my, pagi-pagi Keket udah marah-marah. Semalam aku ga bisa tidur jadi aku tidur terlalu larut. Aku bangun lalu duduk di tepi ranjang yang empuk dan masih terbuai alam mimpi.
“Berisik banget sih kamu, kita ini lagi wisata bukan lagi latihan militer, santai sedikit mbak!” Aku membalasnya masih dengan mata tertutup.
“Astaga... Kita memang wisata, tapi dalam kelompok, kalau Mas Banyu wisata sendiri sih aku ga perduli sama kamu, kamu itu harusnya ngerti dong mas, ga bisa semaunya sendiri kalau berkelompok begini...”
Bla bla bla aduh cerewet banget sih gadis ini. Aku bangkit berdiri mendekatinya, lalu aku cium bibirnya. Pertama hanya menempelkan bibir ini, lalu aku lepas saat melihat wajah terkejutnya, wajah yang memerah dan bibir yang menggoda, aku menciumnya sekali lagi, kali ini aku sedikit melumatnya. Keket bergeming.
-diam-
Aku tersenyum “Akhirnya diam juga ya kamu, aku akan turun sebentar lagi.” Tapi Keket masih diam mematung, lucu sekali, aku tidak tahan untuk menggodanya lagi. “Aku mau ganti celana renang, kamu masih mau disini melihat ku berganti celana.”
Keket lari terburu-buru, aku tertawa tapi langsung merutuki diriku, what have I done? Why I kissed her? Bodoh! Ini bibir nyosor aja, ga tahan amad sama bibir seksi! Aku memukul-mukul bibirku ini, mengacak-acak rambutku, bagaimana aku harus bersikap sekarang? Ahh bomad ahh. I’m so sorry Honey, I don’t meant it.
Setelah ciuman pagi ini, Keket menjauh dari ku, bahkan dia tidak menatap mataku. Hal ini membuatku tertawa, si singa betina sekarang jadi kucing malu. Namun membuatku semakin mempehatikannya, apakah ini karena rasa bersalahku sudah mencium anak orang sembarangan.
“Keket tuh bule mana? Kok rambutnya merah gitu ya?” tanyaku santai pada Langit.
“Asli Irlandia dia, tapi karena orang tuanya duta besar di Indonesia, dia lama tinggal di Indonesia lalu dia jadi lebih senang hidup disini.”
“Oh gitu...” Jadi dia orang Irish, pantas saja rambutnya merah, kulitnya pucat dengan bintik-bintik kecoklatan, bibirnya merah, hidungnya mancung, cantik sekali.
“Kenapa mas? Jangan naksir loh mas, jatah aku, aku lagi deketin dia, tapi ga dapet-dapet.” Jawab Langit.
“Hahahaha, butuh bantuan? Seusia kamu dulu, aku udah menikah, udah ena-ena. Kamu kurang tampan sepertinya.”
“Kamu sama aku yang gantengan aku dong mas. Masalahnya Keket itu belum pernah pacaran, dia fokus sama studinya. Selain jadi dokter magang, dia juga lanjut kuliah bioteknologi, jadi waktunya habis untuk penelitian.”
“Emh... gadis kaku rupanya.” Pantas saja sekali aku cium langsung mematung. Perawan dong, kalau belum pernah pacaran, uhh pasti sempit itu... HEY!! Banyu kendalikan dirimu, kenapa malah mikir jorok. Aku pukul kepalaku.
“Kenapa mas, pusing?”
“Ngga, ya kamu dekati dia aja sekarang mumpung lagi ga sibuk penelitian dia.”
“Udah mas, tapi tetap aja dia dingin.”
“Ya sudah menyerah saja, cari yang lain, itu artinya dia tidak tertarik sama kamu. Mungkin kamu bukan tipenya.”
“Saran yang sangat tidak membantu, luar binasa...” Langit tersenyum sengit padaku.
“Hahahaha, semoga berhasil ya, kalau ga berhasil jangan bunuh diri di pohon toge yeee...”
Kami melewati seharian ini wisata di Pulau Komodo, suasana yang baru, asri dan banyak hal menarik lainnya, hanya saja yang lebih menarik adalah Keket yang selalu salah tingkah saat aku pandangi.
Waktu berlalu, sekarang kami sudah berada di Raja Ampat, Papua.
Luar biasa indah sekali pemandangan dan alam lautnya, sungguh membuat hati yang merana menjadi cerah ceria. Aku langsung jatuh cinta dengan tempat ini, air yang jernih, dan suasana yang teduh, sungguh tempat yang cocok untuk orang sepertiku.
Kami ada di Kepulauan Wayag, semua orang segera menikmati tempat ini, tidak ada yang mau rugi dengan melewatkan panorama yang luar biasa indah ini.
Langit segera mendekati Keket untuk berfoto, Lintang sibuk dengan kameranya untuk mengambil beberapa gambar, yang lain sudah ada yang bersiap untuk diving, aku masih duduk di tepi pantai, di atas potongan pohon yang terdampar.
Aku memandangi Chaterine dari jauh, entah mengapa mataku seakan seperti besi yang bertemu magnet, selalu saja tertarik untuk melihat kearahnya, selalu mencari kemana perginya dia, dan ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Aaakh entahlah, aku hanya ingin memandangnya saja, dan melihatnya salah tingkah seperti candu bagiku. Menyenangkan.
“Mas, aku udah nyewa speed boat, ayo kita diving.” Langit mengajakku diving.
“Berangkat. Tapi aku ke toilet sebentar.” Aku menjawab antusias karena sungguh tempat ini membuat penasaran, karena apalagi wisata bawah lautnya, ini yang terbaik di dunia. Sementara yang lain pemanasan, aku sibuk di toilet.
Di atas speed boat, menikmati deru angin dan ombak yang menerjang kapal, membuat rambut berkibar bak iklan sampo, terlebih rambut Keket yang keriting mengembang, membuat wajah mungilnya menjadi lebih cantik dipandang. OH Mataku! Berhenti melihatnya! What’s wrong with you?!
Sebelum diving aku pemanasan dulu, kapok wis, setelah kejadian di Bali kemarin, sebaiknya pemanasan yang benar.
-byur-
-byur-
-byur-
Semuanya nyebur, wooaahh... cantik sekali alam bawah laut ini, sungguh sangat menyenangkan dipandang. Kami semua diving dengan peralatan lengkap dan aman dan bersama pemandu tentunya. Saking asik menyelam dan mengambil gambar dengan kamera tahan air, aku sampai menjauh dari teman yang lain, saat sadar aku segera berenang mendekati arah kapal, speed boat kami kira-kira 50 -60 meter dari arah ku, tidak terlalu jauh pikirku, aku bisa berenang kesana, namun saat naik ke permukaan kakiku mengalami kram lagi, padahal aku sudah pemanasan, ouch! Sakit sekali rasanya, kramnya bukan hanya di betis kali ini, kram sampai paha atas, rasanya aku tidak sanggup berenang, aku lambaikan tangan ke arah kapal, aku berharap ada yang melihat ku dan segera menolongku, aku berusaha menenangkan diriku, aku tidak boleh panik tapi entah apa yang terjadi, kepalaku pusing sekali lalu berkunang-kunang pandanganku, lalu gelap. Apakah kita akan segera bertemu Hon?
-uhuk uhuk uhuk- suara batuk.
Aku membuka mataku, aku sudah di kapal, ada gadis cantik ini di depanku lagi.
“KAMU MEMANG TROUBLE MAKER YA, SUDAH TAHU UDAH TUA, FISIK LEMAH, MASIH SOK BERENANG MENJAUH DAN TENGGELAM. KALAU MAU COBA BUNUH DIRI JANGAN DISIN! b******n!”
Aku melihat ke sekeliling, kenapa hanya ada Keket? Kemana yang lain?
“Why you angry? Don’t help me if you won’t.” Dengan masih kelelahan aku menjawab omelannya, heran banget sama ini gadis, cakep-cakep hobinya marah-marah.
“Lain kali kalau mau mati jangan sampai aku melihat kamu!” Dia masih marah dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, cantik, aku mendekatinya, lalu...
-cup- aku mengecup bibirnya.
“Thanks for saving me.”
-bruk-
Keket mendorongku sampai aku terjatuh.
“b******n! Kamu mengambil keuntungan dariku!” Wajah Keket memerah, itu marah atau malu ya aku cium?
“Jangan marah cantik, aku hanya membalas kamu, kamu yang mengambil keuntungan lebih dahulu dariku, kamu mencium ku lebih dahulu.” Aku tetap menggodanya.
“WHAT? YOU... YOU JERK!”
“Kamu kasih aku CPR kan, mouth to mouth, itu artinya, kamu udah cium aku lebih dulu sayang.” Aku menggodanya, entah kenapa bibirnya begitu menggoda untuk dicium.
“Aku menyesal menyelamatkanmu lagi! Seharusnya aku biarkan kau mati saja! ARRRGH!” Keket marah dan berlalu dari ku. Aku masih tersenyum, entah mengapa, aku senang melihat dia marah seperti itu, imut sekali.