Banyu : Anjing lebih berharga dari kamu.

1088 Words
Sebulan berlalu setelah traveling itu, kadang-kadang masih teringat gadis rambut merah itu. Apa kabar dia sekarang? Ahh apa yang aku pikirkan? Tidak, hatiku hanya untuk Kirana. Berkendara ditengah hujan deras dan kemacetan ibukota, kaliah tahu bagaimana rasanya, ahh menyebalkan, beruntung sudah dekat dengan kantorku. Ditemani lagu-lagu yang dimainkan sebuah radio, cukup menghibur. Dihalte bis dekat kantorku, aku melihat si rambut merah itu sedang duduk melamun sendirian, aku menepi. “Ket? Keket?” Aku memanggilnya dari dalam mobil, Keket celingukan mencari sumber suara. Aku keluar dari mobil dan mendekatinya. “Ngapain kamu disini?” Tanyaku padanya, tapi ekspresi wajahya seperti menyesal bertemu denganku. “Malah bengong! Ditanya juga!” Cibirku, kesal juga lihat ekspresinya, udah kayak abis nginjek eek aja muke lu! “Lagi duduk nunggu hujan reda. Mas Banyu ngapain disini?” “Kantorku di dekat sini, aku ga sengaja lihat kamu. Kamu mau kemana?” “Mau pulang tapi mobilku mogok, tuh.” Keket menujuk ke arah mobilnya. “Oh... sudah telpon bengkel?” “Belum... hp ku mati.” “Aku telponin bengkel langgananku aja ya?” “Boleh mas. Makasih.” Aku mengambil gawaiku lalu aku telepon pegawaiku yang jago memperbaiki mesin mobil, tidak sampai 10 menit pegawaiku sudah sampai di halte. “Kok cepat sekali?” Tanya Keket padaku. “Iya, dia pegawaiku, kamu ikut aku aja yuk ke kantor daripada begong disini, biar Dado dan Adi yang memperbaiki mobilmu, nanti kalau sudah selesai biar dibawa ke kantor.” “Emhh... serius?” “Seriuslah...” Lalu Keket menuju mobilnya, aku meminjamkan payungku padanya, sepertinya banyak sekali barang bawaannya, ada ransel dan... ASTAGA! Gede amad! “Mas, aku bawa Olive, masih boleh ikut ke kantor mu?” Tanya Keket dengan wajah yang penuh dengan senyuman manis yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya tidak akan mampu menolak permintaannya, tapi... Olive itu anjing jenis... jenis apa ya, yang dower dower ileran, garang banget mukanya. “Kalau keberatan sama Olive, aku ga usah ikut aja mas.” “Oh... boleh dong, tapi ga galak kan?” “Ngga, Olive itu Boxer, dia baby dog, manja sekali.” “Oh... oke, aku suka yang manja-manja... Yang punya manja juga ga?” “Apa mas?” Aku tersenyum dan menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal ini. “Gak papa, yuk masuk.” Hanya memakan waktu 20 menit untuk sampai kantor, kami berjalan masuk, semua mata memandang ke arah kami, lebih tepatnya ke arah anjing boxer itu. Biasanya karyawati disini mereka akan menatapku dengan penuh pemujaan, kecuali siang ini, saingan gue anjing. Merebut fans gue hanya dengan menjadi anjing! Dasar anjing! Di lobi kantor kami bertemu dengan sekretarisku, Siska, memberikan tatapan penuh tanda tanya, karena kami sudah lama bekerja sama jadi aku tahu benar arti dari tatapannya dan ekspresi wajah yang Siska berikan. “Uri cingu ya... (Temen ku ya...).” Aku menjawab Tatapan Siska menggunakan Bahasa Korea. Sebagai orang yang bekerja di dunia entertainment, harus bisa mengikuti laju entertain saat ini, salah satunya Bahasa Negeri K-Pop dan K-Drama ini “Jinja?(sungguh?).” Tatapan mata Siska meragukan jawabanku. Aku juga jadi sedikit ragu dengan jawaban ku, karena aku tidak pernah membawa tamu wanita masuk selain istriku dulu, Kirana... aku jadi merindukanmu Honey... “Ket, ini sekretarisku” “Halo, saya Siska, sekretaris Pak Banyu, merangkap seksi repot.” Siska orangnya memang suka bercanda. “Halo saya Cathrine, temannya, saja.” Catherine juga mencoba melucu. “Dan siapa ini yang paling ganteng disini? Kuchi kuchi kuchi lutuna...” Siska bertanya dengan nada imut pada Olive. “Dia cantik sebenarnya, karena dia betina.” Jawab Catherine. “Owh... kamu cantik sayang... sini ikut aunty, akan aunty rawat kamu.” Siska membawa Olive pergi ke taman, ayo Olive kita beri ruang pada mereka semoga saja si cupid segera datang. Aku mengajak Cahterine ke ruanganku di lantai paling atas. “Ket, kamu bisa tunggu mobil kamu disini, kalau kamu mau istirahat di sebelah ada ruangan pribadiku, kamu bisa pakai, senyamannya kamu aja ya. Aku akan bekerja disini.” “Baik sekali, makasih ya.” Catherine tersenyum manis sekali. -Deg deg deg deg- Kenapa jantungku? Senyumnya membuat serangan jantung rupanya, bahaya nih. “Aku juga akan mengerjakan tugas-tugasku disini ya Mas, boleh ya?” “Tentu saja, kalau ada perlu apa-apa panggil aku saja.” Catherine pergi ke ruangan pribadiku dan aku sibuk mengerjakan pekerjaanku, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari sudah semakin sore, dan hujan juga belum reda. Aku merasa lapar, Keket lapar juga ga ya? Aku mencari Catherine, saat aku masuk ke ruangan, aku melihat dia sedang bekerja dengan laptop, buku tebal dan pulpennya, sedikit kelelahan karena dia meregangkan otot lehernya. Kacamata yang dia kenakan membuatnya terlihat semakin, emh gimana gitu. Rambutnya yang tergerai dikuncir keatas memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus, kalau main vampir-vampiran enak kali ya tuh leher, sedooot... WHAT?!! Kenapa piktor mulu sih nih gue! Sadar Banyu, sadar! “Kenapa Mas?” Catherine bertanya dengan mengernyitkan dahinya. “Laper ga?” “Banget.” Jawabnya. “Ke kantin yuk?” “Yuk, aku juga mau nyari Olive.” “Oke.” Kalah saing gue sama anjing. Guguk dasar! Di kantin semua mata memandang ke arah kami, well, Catherine memang cantik, dia bule yang cantik, tingginya mungkin sekitar 180 cm, hanya beda 5 cm dari ku, aku suka gadis tinggi. Badannya proporsional, cocok banget jadi model. “Ket, kamu makan itu semua?” Aku bertanya sambil menujuk semua menu yang ada di meja kantin ini. “Iya, kenapa? Mau?” “Itu banyak banget Ket, habis po?” “Habis, tenang aja Mas, aku ga pernah menyia-nyiakan makanan.” “Ga nyangka ya, badan kurus gini makannya all you can eat. Ga takut gemuk?” Catherine tersenyum, lagi, dan jantungku berdegup kencang, lagi. “Itu sebuah anugerah, aku bisa makan apa saja yang aku mau tanpa harus memikirkan timbangan.” “Ya.Tapi pasti kamu mikirin tabungan.” “Hahaha, iya benar, tabunganku ludes kalau aku makan enak terus seperti ini.” Kami ngobrol seperti sudah kenal lama, aku menyesal dulu saat wisata bareng, kami malah bermusuhan, ternyata dia orangnya asik buat diajak ngobrol, wawasannya luas, rendah hati juga. Saat asik ngobrol di kantin seorang pegawai ku datang, melaporkan insiden yang di alami salah satu model kami, namun karena model tersebut sudah ada kontrak pemotretan untuk sebuah sampul majalah maka kami harus segera mencari penggantinya, tapi ternyata pihak majalah menginginkan gadis cantik yang tepat berada di depanku ini. “Ket, kamu bisa tolong aku ga?” “Jadi model?” Aku menganggukan kepala dan memberikan tatapan penuh harap padanya. “Tapi aku ga pengalaman Mas.” “Kalau kamu bersedia, nanti tim yang akan mengarahkan kamu. Gimana?” “Kompensasinya apa?”  Tanya Catherine, bussiness talk. “Tentu kamu akan dibayar profesional.” “Tapi aku ga butuh uang sekarang.” Jawabnya dengan rendah hati tidak ada nada sombong disini. “Lalu kamu maunya apa Ket?” “Aku mau jadi model, asal aku boleh nitip Olive disini selama aku di Jakarta. How?” “Deal!” Hanya dititipin anjing, apa sulitnya? Hahaha Kamipun membuat perjanjian kerja, dan ternyata, menjaga anjing itu sulit, maksudnya permintaan Catherine meyulitkaku. “Are you serious Ket? Ini banyak banget tuntutannya. Satu, Olive tidak boleh di ikat lebih dari 7 jam, dua, Olive harus diajak jalan-jalan setiap hari minimal 1 jam, lalu ketiga, Olive harus tidur dengan seseorang setiap malam. Ket... ini banyak banget.” Aku protes, masa aku harus tidur ngelonin anjing? hambok, sik duwe wae tak kelonin.(kenapa ga yang punya aja yang aku kelonin.) “Mau ga? Kalo ga mau, ya sudah aku juga ga mau jadi model dadakan.” “Oke. Deal!” Kami berjabat tangan sepakat. Catherine menuju studio pemotretan.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD