Karena kami sudah sepakat, maka Catherine menjadi model dadakan di perusahaanku, hanya untuk kali ini saja. Sesi pemotretan berjalan lancar, aku sedikit curiga, mungkin dia pernah menjadi model, karena hasilnya sangat memuaskan sekali.
“Are you sure this is your first time?” Tanyaku pada Catherine.
“Yes, Why?”
“Kenapa bisa sempurna begini hasilnya? Klien juga puas banget sama hasilnya.”
“Aah, syukurlah kalau kliennya puas, aku pikir terlalu jelek hasilnya.”
“Bagus banget Ket, makanya aku tanya kamu, ini pertama kali buat kamu.”
“Terimakasih untuk pujiannya, mungkin karena photographernya sangat baik dalam mengarahkan, aku hanya mengikuti arahannya saja, dan juga karena aku pintar jadi bisa mengerti maksud photographer dengan baik.”
“Ahh ya, benar kamu memang pintar.” Narsis juga nih orang.
“Sudah malam, aku antar kamu pulang.”
“Mobilku sudah selesaikan? Aku bawa mobil saja.”
“Biar supirku yang bawa, kamu ikut aku saja, bersama Olive.”
Dia mengangguk, aku mengantarnya sampai di apartemennya, apartemennya ada di daerah Pakubuwono tidak jauh dari rumah ku di Pondok Indah, jadi kami sejalan.
“Bye. Tolong rawat Olive ya Mas.”
“Siap.” Jawab ku tegas.
“Bye bye baby, Mommy missed you already.” Catherine memeluk Olive, mencium dan membelai-belai Olive. Saya juga mau mbak. Hais!! Piktor!
Aku pulang bersama Olive.
Sampai di rumah Olive pergi ke dapur dan duduk di depan kulkas sambil menggaruk-garuk pintu kulkas.
“Kamu haus?”
Olive menggaruk-garuk kulkas. Aku membuka kulkasku yang kosong, hanya ada bir dan minuman ringan. Ahh, mungkin Olive lapar dan haus. Aku memberinya makan malam, nasi padang yang aku beli tadi sebelum pulang dan minum. Aku menggelar karpet di depan TV, supaya Olive tidur di sana, lalu aku mandi untuk segera tidur.
“Hey! Olive, turun! Kenapa tidur di kasurku! Hey! Huss huss... turun... turun.” Aku mendorongnya supaya turun tapi olive malah semakin menyamankan posisi tidurnya.
“You! Anjing manja! Pasti Mommymu memanjakanmu!”
Olive semakin menyamankan tidurnya, aku tersenyum, lucu juga ternyata anjiing ini. Aku merasa diriku gila karena berbicara pada seekor anjing.
Gawaiku berbunyi, siapa malam-malam begini menghubungi? Ada video call di aplikasi Whatsaap ku. Ulet Keket yang telepon.
“Hai, do you miss me?” Godaku padanya. Dibalas dengan bola mata yang diputar.
“You wish! Aku rindu Olive, dia sedang apa sekarang?”
“Ada yang lebih ganteng disini mbak, masa yang dicari malah anjing ini sih?”
“Guuk!” Olive menggonggong.
“Astaga. Kaget aku... hei kau tidak terima ya?”
Aku mengarahkan gawaiku pada Olive dan terjadilah percakapan yang sedikit anh menurutku, Keket berbicara pada Olive seperti berbicara pada anak balitanya.
“Anak mommy udah mau bobo ya? Kamu jangan nakal ya... be good to uncle ya big girl... emmmuch good night big girl, I love you.” I love you too, aku jawab dalam hati. Anehnya ini anjing seperti mengerti apa yang dikatakan oleh Catherine.
-tut tut tut-
Suara panggilan terputus. Demi apa ni orang? Aku tekan kembali nomor Ulet Keket ini.
“Ya, kenapa Mas?”
“Hey, kamu tidak sopan, kenapa langsung kamu matikan begitu saja? Kamu tidak menganggapku.. hah?”
“Oh.. . Maaf, hahaha sudah terlalu lelah, jadi aku berpikir kalau ini adalah handphone Olive.” Jawaban apa ini? Keket Keket, imut nya... WHAT? Imut?
“Ya sudah, bye.” Aku matikan gawai ku, tersenyum ke arah handphone ini.
Hampir setiap malam kami akan menelepon lewat video call, tentu saja membahas Olive, terkadang juga pekerjaan, dan hal-hal remeh lainnya. Hari-hariku mulai berubah, rutinitasku mulai berubah ada yang baru dan ini cukup menyenangkan.
Semakin hari, aku semakin dekat dengan Olive, rasanya cukup menyenangkan mempuyai hewan peliharaan, minimal hidupku tidak sekosong dulu, dan bonusnya aku bisa lebih sering bertemu dengan Catherine. Tapi tidak minggu ini, karena seminggu ini dia sibuk di laboratorium.
“Ngik... ngik... ngik.” Olive merebahkan dirinya dilantai sambil menangis.
“Kenapa kamu? Kangen mommy?” Tanya pada Olive, aku seperti orang gila berbicara pada hewan. Siska menatapku dengan aneh.
“Kamu kangen mommy ya Olive, sama dong kayak daddy kamu, kangen juga dia sama mommy.” Aku menoleh sinis ke arah Siska, sekretarisku.
“Aku bukan daddynya Olive!”
“Ngik... ngik... ngik.”
“Olive, jangan diambil hati ya, daddy emang gitu orangnya, suka ga peka, jangankan sama orang lain, sama perasaan sendiri aja dia ga peka Liv.”
“Hey hey hey, apa maksudmu itu Sis?”
“Maksudku jelas secara lisan Pak Banyu.”
“Yang mana? Aku ga peka sama diriku sendiri? Omong kosong macam apa itu Sis?” Aku membalas ucapannya masih dengan memeriksa dan menandatangani beberapa laporan.
“Oh come on Banyu, you like Keket. Itu terlihat jelas.”
Aku menyeringai. “Kamu selalu tahu kan Sis, hatiku untuk siapa?”
“Mungkin kamu yang tidak tahu Banyu, kalau hatimu sudah bergeser.”
“Omong kosong...”
Pintu ruanganku dibuka, lalu seperti ada sinar yang masuk ke dalam ruangan, membuat ruangan yang redup menjadi begitu bercahaya. Olive segera beranjak dari duduknya, ekornya bergoyang keras dan menyambut seseorang.
“Keket, hai...” Siska menyapa Catherine, mereka berpelukan dan cium pipi.
“Hai Sis, lama tidak ketemu, bagaimana kabarmu?”
“Aku sehat dan bahagia Ket, terlebih sejak ada Olive, bossku semakin bahagia dan jarang marah-marah lagi.”
Aku hanya menggelengkan kepala saja, omongan Siska aku anggap candaan saja.
“Dan kamu tahu, anak mu dan daddynya juga sangat merindukanmu.” Setelah berkata ambigu seperti ini Siska keluar dari ruanganku.
“Oh really...?” Cathrine mengusap-usap Olive dengan tatapan penuh kasih sayang. “My baby, I missed you... do you missed mommy too? Mommy minta maaf pergi lama, sebagai gantiya kita akan jalan-jalan sekarang.” Catherine memasangkan lease Olive dan melangkah mendekati pintu keluar.
“Hey nona! Kamu akan langsung pergi begitu saja?” Aku tidak habis pikir, dia masuk ke ruanganku dan mengabaikan ku, bahkan tidak menyapa diriku.
“Ohh... I’m sorry.” Catherine tersenyum manis sekali, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Dia mndekatiku di meja kerjaku.
-cup cup-
Dia mencium kedua pipiku. Refleks aku memegang pipiku yang mungkin sekarang memerah karena rasanya sedikit aneh.
-deg deg deg-
Jantungku... apa aku terkena serangan jantung?
“I miss you too.” Katanya dengan manja.
Aku sentil dahinya.
“Aww! Sakit ya.” Catherine merintih sambil memegang dahinya.
“Emangnya siapa yang kangen sama kamu? GR banget sih!”
Dia menatapku dengan cemberut dan itu membuat dia semakin imut.
“Maksudku, kamu mau ajak jalan-jalan Olive, padahal seminggu ini aku yang merawat Olive, bahkan oleh-oleh saja tidak ada untuk ku? Bagaimana sih kamu ini!?”
“Ahh iya, aku lupa kalau aku menitipkan Olive pada orang yang pamrih dan perhitungan seperti kamu.” Balasnya.
“Nah itu tahu.”
“Mas, aku ini seminggu di lab, kamu mau oleh-oleh apa? Virus? Atau bakteri yang sedang aku teliti? Hah?”
“Ya... minimal kamu harus traktir aku sekarang. Upah ku menjaga Olive.” Cathrine memutar bola matanya.
“Ya, aku traktir sehabis ajak jalan-jalan Olive.”
“Oke, aku ikut.”
“Guuk.” Olivepun senang jalan berdua mommy and daddynya. Aku tersenyum, ada perasaan hangat menjalar dalam diriku.
Kami berjalan disepanjang jalan perkantoran, memang bukan tempat yang tepat untuk mengajak jalan-jalan seekor anjing, tapi karena tidak ada taman disini, ya sudah kami nikmati saja jalan ini. Beruntung Olive anjing yang terlatih, dia mudah untuk diajak jalan.
Suasana malam hari yang cenderung sepi di jalan ini hanya ada beberapa kendaraan melaju, dihiasi lampu lampu penerang jalan, menambah kesyahduan malam ini. Kirana, dulu kita sering jalan berdua seperti ini, bergandengan tangan. Tanpa sadar aku menarik tangan Catherine, menggandengnya, kami bergandengan tangan, tanpa penolakan darinya. Kehangatan ini yang dulu aku rasakan.
“MAS... MAS BANYU!” Aku menengok ke arah sumber suara. Ahh, adek lucknut, ngapain lagi.
Damar Langit, adikku yang seorang dokter, yang juga teman seprofesi Catherine, yang juga sedang PDKT sama Catherie datang mendekat, berlarian kecil. Dia berhenti tidak terlalu jauh dari kami, sedikit terkejut melihat kami bergandengan tangan. Aku melepaskan tangan Cathrine.
”Ket, kamu ngapain disini?” Tanya Langit, dengan nada sedikit cemburu, aku rasa.
“Walking my dog.”
“Maksudku, kamu bukannya di Jogja?”
“Oh, aku masih disana tapi sekarang sedang ditugaskan di sini, penelitian.”
“Lalu kenapa bisa jalan berdua kalian?”
“Hey! Adik laknat! Sungkem dulu sama kakaknya, malah introgasi orang!” Aku semprot juga Langit.
“Ya elah Mas, sejak kapan kita sekaku itu? Jawab aja sih!”
“Aku nitip Olive sama Mas Banyu selama di Jakarta, karena apartemenku ga boleh bawa hewan peliharaan, aku ga sengaja ketemu Mas Banyu di sini.”
Kami makan malam berempat di kaki lima, aku cukup terkejut orang seperti Catherine bisa makan ditempat seperti ini, bukan tempat yang fancy.
Selama makan malam, kami mengobrol banyak hal, tetapi aku merasakan aura membunuh dari Langit, kenapa sih Langit?