Suka atau tidak?

924 Words
Langit, Olive dan aku pulang setelah makan malam kami, Catherine membawa motornya sendiri. Sepanjang perjalanan Langit diam saja, mukanya masam sekali. “Sudah berapa lama mas?” Langit membuka suaranya. “Apanya?” tanyaku heran. “Mas Banyu dan Keket.” Jawabnya dengan nada sedikit kecewa. “Oh, bukannya Keket udah cerita tadi.” “Please Mas, jujur saja sama aku.” “Jujur bagaimana sih Ngit? Ga ngerti aku maksud kamu.” “Mas Banyu jangan menyangkal, sudah berapa lama, kalian saling menyukai?” “Hah? Ga salah kamu nanya gitu? Kamu tahukan Ngit siapa yang selalu ada di hatiku? Jadi ga mungkinlah aku suka sama Keket.” Ya benar, memang tidak mungkin aku menyukainya, aku hanya cinta Kirana, selamanya hanya Kirana. “Mas Banyu pikir aku ini i***t? Sudah jelas sekali ada sesuatu antara kalian. Cara kalian memandang sudah berbeda mas.” “Langit! Kalau aku bilang tidak, ya tidak artinya, menurutku cara memandangku biasa saja, sama seperti aku memandang teman yang lainnya, tidak lebih.” “Kalau memang Mas Banyu ga ada rasa sama Keket, tolong jangan PHP-in Keket.” “Hey, kapan aku PHP-in dia? Ngawur!” “Oke, aku percaya sama Mas, Mas kan tahu aku sudah lama suka sama Keket, jadi tolonglah jaga jarak sama dia. Aku takut Keket yang suka sama kamu.” “Haiss... mana mungkin Keket suka sama aku?” Apa mungkin Keket menyukaiku? Aku tersenyum sendiri, kenapa harus memikirkan apakah dia suka atau tidak padaku? Karena aku berjanji pada Langit untuk menjaga jarak dari Catherine, maka malam ini aku mematikantelepon genggam handphoneku, aku tahu dia akan meneleponku untuk menanyakan Olive. Terdengar suara dering telepon genggam milik Langit, itu pasti Keket. Aku masuk kedalam kamarku, pintu aku biarkan terbuka, karena Catherine pasti mencari Olive, sementara aku masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam, memberikan ruang buat Langit dan Catherine. Cukup lama aku berendam, tapi masih terdengar obrolan antara Langit dan Catherine, muncul sedikit rasa suka, biasanya kalau meneleponku hanya sebentar saja, tidak lama seperti ini, aku lihat ke arah jam, sudah lebih dari tiga puluh menit mereka ngobrol. “Ck!” Aku berdecak sinis ke arah Langit. ku keluar hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi bagian bawahku. Mempelihatkan otot perutku yang kotak-kotak ini. Langit menerima telepon di dalam ruang penyimpanan pakaian, aku masuk, menuju lemari pakaian santai, mengambil kaos lalu memakainya, menuju lemari pakaian dalam, mengambil lalu membuka handuk untuk memakainya. ”Aaaak...” terdengar suara teriakan Catherine di telepon genggam milik Langit. Aku menoleh dan terkejut. “Wooy! Kenapa kesini arah kameranya! Langit!” Bagaimana bisa aku tidak sadar kalau arah kamera telepon genggam Langit tepat di sini. “Mas Banyu juga ngapain ganti baju di sini? Keket  jadi matiin teleponnya tuh.” “Hey pinter! Ini ruang pakaian, ya aku gantinya disinilah! Kamu yang ngapain ngobrol lama-lama di sini!” Langit keluar sambil mencoba menelepon ulang Catherine, namun sepertinya tidak diangkat oleh Catherine. “Akh! Mas Banyu nih, gangguin orang PDKT aja!” Langit membanting dirinya di kasurku. Aku tersenyum puas, sokooor ga diangkat. “Hey ngapain tidur disini? Sana pergi, najong tralala tidur sama kamuh cyin.” “Kamar tamu ga ada yang bersih mas.” “Salah sendiri ga ngabarin dulu. Sana tidur di sofa!” “Ya ampun Mas Banyu, kasur luas begini juga!” “No, aku tidur sama Olive di sini, kamu di sofa sana!” “APA? Anjing ini boleh di kasur, aku yang adik mu di sofa?” “IYA!” “GUUK...” “Tuh Olive aja setuju.” “Sejak kapan sih Mas Banyu tidur di kasur, bukan biasanya di sofa?” “Sejak ada Olive, aku tidur di kasur... ya sayang ku... kuci kuci kuci...” “Mas...” Langit memandangku dengan tatapan aneh. “Apa?” “Yakin kamu ga suka Keket?” “Astaga! Kesitu lagi! Keluar kamu! keluar!” Aku lempar Langit dengan bantal. Hufft. Apa aku menyukai Keket? Ya jelas tidak, hanya ada kamu Hon, aku akan selalu menjaga hati ini untukmu, hanya untukmu. Seminggu ini karena ada Langit, maka aku menjauhi Catherine. Walau aku sedikit tidak nyaman melihat mereka begitu dekat. “Ageda hari ini sudah selesai semua pak, ada lagi yang bapak perlukan?” “Tidak Sis, kamu boleh pulang lebih dulu.” “Baik. Emh, itu Langit lagi PDKT ke Keket” “Hem...” Jawabku masih tetap membaca laporan yang sudah selesai aku baca sebenarnya. “Kira-kira kalau Keket pacaran sama Langit gimana?” “Ya... gimana? Kenapa kamu tanya ‘gimana’ ke aku Sis?” “Oh, come on Banyu, penyesalan itu selalu terlambat loh.” Siska menatapku sambil memiringkan kepalanya. Aku hanya mengangkat bahuku, ada apa dengan semua orang? Aku ke kantin bawah, ada Catherie, Olive dan Langit disana, mereka tertawa, belum pernah aku melihat Catherine tertawa seperti itu, sampai memerah wajahnya. Aku berbalik dan kembali ke ruanganku. Ku lepas dasiku, ku lempar jasku, kenapa rasanya panas sekali melihat mereka bersama. Ku buka jendelaku, kubiarkan dinginnya angin malam masuk ke dalam ruanganku, ku lihat ke langit malam, bulan bercahaya terang tapi tidak membuatku senang melihatnya. “Kenapa berdiri disitu Mas? Nanti masuk angin loh.” Aku mendengar suara Catherine, tapi apa yang dia ucapkan seperti Kirana, dulu Kirana sering memarahiku kalau aku terlalu lama membuka jendela. Aku memutar tubuhku, aku hanya melihat Catherine sendiri, tanpa Olive dan Langit. Aku dekati dia, dia tersenyum, manis sekali, semakin dekat, dia tidak beranjak dari tempatnya, ku selipkan rambut ikalnya yang menutup mata ke telinganya.  “Kamu cantik.” Bisikku, pipinya merona, merah seperti tomat, semakin cantik. Ku pegang tengkuknya, ke kecup bibirnya lalu ke lepas, mata kami saling memandang, ku kecup lagi bibirnya dia membalasnya, ku lepas dan kupandangi wajah nya, semakin berderu gejolak dalam diri, ku lumat bibirnya, kudorong dia ke sofa, kami berpagutan menikmati hasrat ini, b******u hingga tangan ini meraba ke buah dadanya. “Ahhh...” Desahan itu seperti simfoni indah ditelingaku yang membuatku semakin rakus bermain dengan bibirnya, tanganku semakin liar menuju pangkal pahanya. “Ahhh... Mas... jangan...” Honey I miss you. Suara hatiku menyadarkanku, dia bukan Kirana ini Catherine, aku tidak boleh. Aku berhenti dan berdiri menjauh. “Maaf... Aku...” Aku bingung, aku pergi meninggalkannya di ruanganku. Damn! Apa yang kamu lakukan? Bagaimana aku harus menghadapinya nanti. Akh!  Aku mengacaukan segalanya! Saat aku akan turun, Langit keluar dari lift, beruntung Langit tidak memergoki kami, aku ambil Olive dari Langit, aku pulang bersama Olive dengan perasaan kacau.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD