Kenapa menciumku?

951 Words
Sejak kejadian itu, Banyu memilih untuk pergi dinas keluar negeri, dia pergi ke Korea untuk menindaklanjuti kerja sama dengan perusahaan enterainment disana. “BANYU!” Siska berteriak mengagetkanku! “Astaga! NGAPAIN TERIAK SIS?!” Aku kepal tanganku lalu aku tiupkan dan ku taruh didekat telinga entah berfungsi atau tidak tindakan ini, hanya sudah terbiasa saja. “Bengong aja sih! Orang ngomong juga ga di dengerin!” Siska sekretaris yang juga sahabatku. “Makanya, kalau lagi kerja jangan mikirin Keket terus!” “Siapa yang mikirin dia sih? Aku lagi mikirin proyek ini ya.” “Ck... sangkal aja terus, sangkal sampai dia dipinang Langit, sampai dia jadi adik iparmu, baru kamu tahu rasa. Nyaho sia!” Siska dengan wajah ketus dan tangannya meremas seprti ingin meremasku. “Ck... kamu tuh sok tahu.” Sambil tetap memandang ke arah proposal namun pikiranku memikirkan perkataan Siska. “Aku bukan sok tahu, tapi status WA Langit setiap hari itu pasti dengan Keket. Kamu tahu, cewek kalau diperhatikan terus menerus pasti lama-lama akan luluh juga, lama-lama si cinta datang juga.” “Ya sudah, biar saja mereka.” “Ya sudah!” Siska menghentakan kaki lalu pergi meninggalkan ruangan. Aku keluar, menikmati Seoul, banyak muda mudi yang berjalan bergandengan tangan, aku masih sibuk dengan pikiranku. Memikirkan Langit dekat dengan Catherine membuat d**a ini sesak dan panas. Tangan ku masih memegang telepon genggamku, ingin rasanya aku menghubungi Catherine, tapi selalu saja ada keraguan yang menghentikan tanganku. Ahh ya benar! “Ngit.” “Tumben mas? Video call segala.” “Tanya kabar dulu kenapa, sama kakaknya juga!” “Nanti aja ya mas, aku lagi di barber shop nih.” “Kamu mau potong rambut?” Langit si gondrong mau potong rambut, habis dapet rejeki nomplok dia? “Ini karena aku mau kencan malam ini.” “Hah? Sama siapa?” “Ya sama wanita impiankulah... Catherine O’Sullivan... yang akan segera menjadi My Wife.” “APA!?” “Ya, Mas juga ga nyangkakan? Aku juga masih belum percaya, kalau Keket mau menerima ajakanku berkencan, malam ini aku mau nembak dia Mas.” -Tut tut tut- Aku matikan telepon genggamku. Ku hubungi sekretarisku. “Sis segera pesan pesawat, kita pulang hari ini.” Galau, jadi seperti ini rasanya, aku tidak mencintai Catherine tapi aku tidak rela kalau dia dekat dengan laki-laki lain selain diriku. Aku punya ide. “Den, minta Keket jadi model lagi, bilang malam ini harus pemotretan, kamu yang cari alasannya. Pastikan dia ada di studio malam ini! Kalau perlu kotrak dia selama sebulan penuh! Kalau sampai gagal, kamu saya pecat!” Aku matikan telepon genggamku dengan kasar. Aku harap rencana ini berhasil, aku ga rela kalau Langit menyatakan cintanya pada Catherine. “Ehem... ehem...” Siska membuyarkan lamunanku. “Maaf ya Banyu, aku sekarang memposisikan diriku sebagai temanmu, kalau caramu untuk mendapatkan Keket seperti ini, itu... bukan hal yang benar, kalau Keket tahu, bisa-bisa dia beni kamu.” “Huffft! Ya makanya jangan sampai dia tahu Sis!” Belum pernah aku bertindak tanpa pertimbangan seperti ini. Jelas ini hanya dorongan egoku saja. Hanya resah dan gelisah yang menemaniku selama 7 jam di dalam pesawat, penerbangan Seoul – Jakarta ini sungguh menyiksaku, aku ingin segera bertemu Catherine. Dini hari, sesampainya di Jakarta aku langsung menuju kantoku, aku biasa tidur di kantor kalau lagi lembur, Siska dan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing. Studio pemotretan yang sepi, aku nyalaka lampunya, apa Keket datang? Atau dia besama Langit? Hufft. Aku tidak bisa tidur, hanya berputar-putar di kasur. Setelah kelelahan baru terlelap, dan tidur hingga bangun karena lapar. Ke kantinlah makan. Aku lebih suka makan di kantin kantor, karena rasa masakan yang enak, sesuai seleraku. Di kantin aku melihat Langit dan Catherine sedang makan siang bersama, tapi tidak ada Olive. Aku memilih dan mengambil makananku lalu menuju meja mereka. “Olive mana?” Tanyaku pada mereka. Aku duduk di bangku disebelah Langit . “Woy Mas! Bukannya di Korea?” Langit tampak ceria hari ini. “Udah pulang semalem.” Catherine tidak merespon pertanyaanku, dia fokus dengan makanannya. “Olive mana?” Aku ulangi pertanyaanku tadi. “Olive lagi di taman belakang, lagi di ajak main Bram.” “Oh.” Aku menganggukan kepala dan kembali makan, aku perhatikan Catherine nampak sedang bad mood. Aku dicuekin? Baru kali ini ada cewek berani nyuekin aku! Catherine berdiri dan segera pergi. “Ket tunggu, aku ikut. Bye Mas...” “Emh...” Aku hanya mengangguk walau sebenarnya kecewa juga. “Oh iya mas,semalem aku udah nembak Keket.” Mataku terbelalak, tidak percaya, usahaku untuk menggagalkan kencan mereka sia-sia. “Lalu? Diterima ga?” “Emh... nanti malam dia akan jawab setelah pemotretan.” Kepalaku mendadak pusing, otakku mencari cara, bagaimana caranya untuk membuat Keket menolak Langit. Malam tiba aku semakin gelisah, aku menunggu Catherine selesai pemotretan, begitu dia keluar dari studio, aku langsung menariknya menuju ruangan wardrobe yang ada di ujung gang dan tidak ada orang disana. “Apa-apaan sih Mas?! Lepas!” Aku melepaskan tangannya, nampaknya cengkramanku terlalu kuat, dia memegang tangannya yang memerah. “Maaf.” “Maaf? Untuk apa minta maaf?” Catherine memalingkan wajahnya, wajahnya memerah karena menahan marah. “Kenapa kamu mengabaikanku?” Dagunya aku tarik agar wajahnya menghadapku. “Kenapa kamu menciumku?” Tanya dia dengan nada penuh selidik. “Lalu, kenapa kamu membalas ciumanku?” Balasku, mataku menatap lekat bibirnya yang merah dan membuatku penuh gairah ingin rasanya mengulumnya lagi. “Kalau kamu jawaban dari pertanyaanmu, lalu, kenapa kamu meminta maaf dan pergi meninggalkanku begitu saja?” Balasnya dengan nada yang sengit. Aku hanya memandang bibirnya yang cantik, entah bagaimana menjelaskan situasiku padanya, aku hanya ingin merasakan kehangatan bibir ini lagi. Aku cium bibirnya, dia menolak dan mundur menjauh dariku, aku tidak terima ditolak seperti ini, aku tarik dia, aku cium dengan paksa, dia meronta tapi aku tidak perduli. “Aww...” Catherine menggigit bibirku. “I hate you!” Ada butiran bening di sudut kedua matanya, aku tersadar, aku sudah menyakitinya. Catherine berlari. Mungkin dia segera pulang . Aku tidak mengejarnya. Aku tidak siap untuk menjawab pertanyaannya. Langit datang membawa Olive. “Sini Olive aku bawa pulang.” Langsung saja aku menyambar leash Olive dari tangan Langit dan segera pulang, tanpa memedulikan Langit yang mencari-cari Catherine.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD