Semakin berkata seperti itu semakin saja aku tidak mampu menahan air mataku. Bukan karena takut dia akan pergi lalu aku tidak punya suami lagi. Perasaan ini begitu tersinggung rasanya ada sakit yang berkedip dan syok yang terkejut mendadak di hatiku. Aku tak menyangka bahwa orang yang sangat kucintai dan kuperlakukan layaknya telur di ujung jemariku, kini merendahkan diri ini dengan gaya bicara yang begitu sombong. Seberapakah hebat dia hingga menantangku untuk mencari suami baru, sebegitu pintarkah dia hingga dia yakin bahwa aku tidak akan menemukan orang yang lebih baik darinya? Mengapa ia menantangku sebegitu sengitnya? Apakah dia memang sudah benci dan bosan, memang sudah tidak tahan untuk melepaskanku atau bagaimana? Ingin ku tanyakan semua itu padanya tapi tenggorokanku sudah ter

