Sejak kemarahan Mas Albi semalam pada filza, aku agak segan untuk mengajaknya bicara lagi. Kubiarkan dia tertidur hingga fajar menjelang. Setelah bangun dan salat subuh suamiku seperti kebiasaannya selalu mencari kopi di meja. Dia duduk dengan tenang dalam balutan baju koko sambil sesekali mengesap kopi beraroma khas di cangkirnya. "Mas, kamu akan berangkat kerja kan?" "Iya." "Bisa langsung antar anak anak sekolah?" "Ya tentu," jawabnya. "Bagaimana keadaanmu, apakah perasaanmu baik baik saja?" "Jujur aku pusing sekali," jawabnya sambil memijit keningnya. "Jangan terlalu dijadikan beban Mas, temui dia sore nanti dan bicaralah padanya dengan baik." "Dia tak akan puas sebelum aku memberinya sesuatu yang lebih besar darimu, aku benar benar pusing." "Jangan sampai wanita itu meliba

