22

1019 Words

Tak payah harus memaksakan wanita itu untuk mencerna apa yang terjadi, harusnya, sebagai wanita terpelajar dia sudah paham bagaimana konsekuensi menikahi pria beristri. Namun beraninya dia datang kemari untuk memprotes apa yang terjadi. Apakah dia ingin hanya dia yang bahagia dalam rengkuhan suaminya. Lalu apa kabar dengan kami? Tolonglah jangan egois atau konyol seperti itu. Atau ... haruskah dia aku sadarkan? "Minumlah tehmu," suruhku. "Tidak, masih panas," tolaknya dengan wajah masam. Wanita ini sepertinya tak pandai bersikap elegan dan menyembunyikan perasaan. Dia sangat frontal dan blak blakan. "Jadi, katakan, apa kau sudah mengerti tentang perasaanku sekarang?" "Sedikit," jawabnya, aku tersenyum dan berterima kasih. "Mas Albi sepertinya harus ditatar oleh ayahku. Aku tidak berd

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD