78

1058 Words

Setelah kepergian ayah, kuhampiri Mas Albi yang masih terduduk di lantai dekat kursi, wajahnya sudah penuh lebam, babak belur tak beraturan. Dia tertunduk diam, termangu, bahkan saat pandangan kami bertemu, pria itu masih diam membisu. "Mas ... kamu baik baik aja?" "Iya," jawabnya menyentuh lenganku. "Kamu marah padaku dan ayah?" "Tidak, justru aku senang, ayahmu memberiku kesempatan, meski pun ia melampiaskan kemarahan, akan kuanggap itu sebagai perhatian," jawab Mas Albi sambil menatap mataku dan menyentuh tanganku. " ... aku lega ayahmu mengizinkan kita serumah lagi. Tak bisa kubayangkan andai ayah mertua menolak kedatanganku. Aku akan hancur dalam stress dan penyesalan." "Ayo bangun, akan kukompres wajahmu dengan handuk dingin." "Baiklah,"jawabnya mengangguk lalu mengikutiku ban

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD