95

951 Words

Seminggu setelah kejadian pahit di rumahku. Kini, sidang perceraian Filza dan Mas Albi akan dilaksanakan. Pagi di hari Rabu, di jadwal sidang perdana, kubangunlan suami pagi pagi sekali. Dia yang tertidur dalam posisi telungkup tanpa mengenakan pakaian dan hanya ditutupi oleh kain selimut, aku bangunkan dengan perlahan hingga ia sadarkan diri. "Mas, kamu harus bangun pagi untuk izin ke kantor lalu pergi ke persidangan," ucapku. "Hmm, rasanya malas sekali untuk bangun dan menghadapi kenyataan ini. Aku lelah," keluhnya dengan suara yang masih parau dan malas, dia menjawab dengan posisi wajah yang masih membenam di bantal. "Tapi, kau harus menyelesaikan semua yang sudah dimulai, aku mohon bangunlah." "Tunggu, kemarilah," ucapnya sambil menahan tanganku. "Ya ...?" Aku kembali duduk di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD