Brak! Bunyi pintu mobil bergerak kencang dan seorang pria dengan perawakan tinggi dan pakaian yang cukup rapi masuk ke halaman rumah. Melihat keadaan ramai dan ada ketua RT serta mas seno menyambutnya pria itu menjadi heran sambil mengernyitkan alisnya. "Saya datang untuk menjemput fiilza, di mana dia?" "Dia ada dan sedang tertidur." "Bangunkan!" ucapnya lantang. "Sebelumnya kami ingin bicara Pak," ucap Mas Seno dengan lembut, ya arahkan lelaki yang selalu berwajah serius itu untuk duduk di sofa ruang tamu kami. Ketika berpapasan denganku gestur kebencian pria itu tidak mampu ia sembunyikan dari diriku terlebih saat melihat tanganku yang sudah dibebat oleh luka yang ditimbulkan oleh anaknya, pria itu semakin menggeleng-geleng saja. "Apa yang terjadi kenapa kalian menahan saya di sini

