Demi menjaga ketenangan dan kenyamanan Mas Albi kuputuskan untuk melindungi suamiku dari gangguan mantan istri keduanya. Kututup pintu kamar lalu berjaga jaga di sekitar koridor dan lift, menunggu wanita itu datang sehingga aku bisa menghalau dia untuk merangsek masuk ke kamar suamiku. Lima menit kutunggu, belum datang juga. Kurasa mungkin, ia hanya menggertak atau menakuti diri ini. "Ah, sebaiknya aku masuk saja ke kamar dan beristirahat," gumamku pelan. Namun baru saja kulangkahkan kaki, tiba tiba seseorang menarik bagian bahu gamisku. "Mana mas Albi?" tanyanya. "Kenapa? Apa yang kau butuhkan, suamiku sedang tidur, jadi tangan ganggu dia!" "Dia juga suamiku!" "Tak ingatkah kamu bahwa surat cerai kalian sudah terbit dan diantar ke rumahmu, beraninya kau menyebut mas Albi sebagai

