Sepertinya, jawabanku seakan menohok hatinya. Dia langsung terdiam dan tak mampu berkata kata. Aku yang tak mau ambil pusing segera merapikan jilbabku dan sekali lagi mematuhi di depan cermin untuk memastikan penampilanmu untuk terakhir kalinya. "Baiklah aku sudah siap, aku akan berangkat naik motor," ucapku pada suami yang masih sibuk mengenakan kemejanya. "Sebaiknya kau tunggu aku saja," jawabnya. "Jangan Mas, kantor kita tidak searah dan aku pun tidak mau terlambat di hari pertama bekerja," jawabku tegas. "Setidaknya kita bisa sarapan dulu." "Aku sudah siapkan bekal dan sarapan di kantor." "Begini kan, jadinya, nantinya lama-lama kau tidak akan punya waktu untukku hari pertama bekerja saja kau tidak mau sarapan denganku." Ya ampun belum apa-apa dia sudah mengeluh. "Mas, mengerti

