"Abi tunggu," ucap Filza menyusulnya. Sebelum dia keluar dari pintu wanita itu membalikkan wajah dan mendelik padaku. "Ini semua karena Mbak," ujarnya kesal. "Hei, kenapa menyalahkanku, dasar tak tahu malu!" Aku menggeram sambil menyusul dan menutup pintu kencang kencang. Kusenderkan diri sambil menarik napas dalam dan mencoba berpikir tentang apa yang harus aku lakukan. Karena malam ini sudah berakhir dengan pertengkaran, maka hubunganku dan Mas Albi makin berjarak, kami akan saling canggung dan membenci dan itu tak bisa dihindari. Tapi jika aku mengejar dan minta maaf, maka terbukti sekali bahwa aku sama sekali tidak punya harga diri. Boleh jadi Mas Albi tidak akan pulang berhari hari karena masalah ini. Aku akan semakin kesulitan dan anak anak juga tak akan merasa nyaman. Ya Allah,

