Seharusnya aku tak banyak mengeluh tentang hidupku, harusnya aku jalani saja apa yang terjadi dan sisanya kupasrahkan pada Yang Kuasa. Aku akan duduk diam sambil mengukur kemampuan dan sabarku. Jika semua itu sudah diambang batas kemampuan, maka mungkin sudah waktunya untuk mundur dan menyerah.
*
Setelah menghidangkan nasi goreng dan telur ceplok, aku melanjutkan kembali tugas rumah yang tertunda. Kuantar anak anak ke bis sekolah, setelah mereka naik, aku lalu menutup kembali pintu gerbang rumah.
"Ummi, Sepatuku yang warna coklat di mana ya?" tanya Mas Albi.
"Ada di rak bagian bawah, Bi."
"Baiklah. Kemarilah," perintahnya.
"Ya?"
"Ummi lupa bahwa setiap pagi um selalu mencium tangan dan merangkulku? Mana ucapan selamat bekerja, yang setiap kali dikatakan pagi hari?"
"Maaf aku lupa," jawabku asal.
"Astagfirullah, mana bisa lupa."
"Sesekali wanita khilaf itu wajar Mas, asal khilafnya jangan parah," jawabku mencium tangannya.
"Aku tidak paham," ucapnya sambil mengernyit, aku memang sedang menyindir perasaannya dengan kalimat tadi.
"Selamat bekerja," ucapku mengalihkan pembicaraan dan beranjak ke meja makan untuk membereskan bekas sarapan.
"Kau tak mau menyaksikan aku berangkat, seperti tiap hari?" tanyanya yang terus menggelitik hatiku tentang begitu banyaknya kebiasaan yang juga dia lupakan setelah menikah lagi.
"Tidak usah."
"Kenapa?" Keheranannya membuatku makin gemas dan tak bisa menahan diri untuk tak jujur.
"Aku bosan," jawabku dingin. Aku lelah berpura pura baik baik saja dan bersikap manis, aku lelah bersandiwara sebagai istri sempurna yang rela suaminya berbagi cinta. Aku wanita normal yang masih punya kecemburuan dan sakit hati! Entah apa orang lain menyebutku, durjana atau pembangkang, aku sudah tak peduli.
"Astagfirullah, Um .... Ambillah waktu untuk istirahat atau pulang ke rumah orang tuamu, aku rasa kau butuh istirahat sejenak dari kepenatan tugas rumah tangga."
Jangankan sebentar, selamanya juga aku mau, aku lelah bersaing dengan wanita yang tidak selevel denganku. Anggaplah, aku telah lebih dulu dalam merawat Mas Albi, tapi kini aku digantikan oleh wanita baru yang tak tahu apa apa dan manja, dia gunakan anaknya dan kata lelah sebagai tameng untuk selalu dimanja dan minta perhatian suami. Dasar menjengkelkan.
"Aku akan mempertimbangkan usulmu, Abi, terima kasih ya." Kusunggingkan senyum pahit dengan hati yang benar benar sudah eneg.
*
Tuhan, apakah aku kurang bersyukur dengan hidupku? Suamiku pria yang selalu berusaha baik. Secara ekonomi kami sudah berkecukupan, anak anakku sehat, dan rumah kami cukup indah dan bisa dikatakan sejajar dengan rumah rumah lain di komplek ini. Lalu, mengapa aku tidak bahagia?
Apakah hubungan kami seperti s**u sebelanga yang dicampur dengan setitik racun? Mengapa kehadiran filza seakan merusak segalanya?
*
Seharian kuhabiskan waktu untuk duduk di kursi belakang sambil memikirkan apa yang terjadi. Kurenungi tiap detik dalam hidupku yang tadinya yang bahagia dan kini berubah hampa.
Kuhela napas seraya menatap lambaian tirai tipis di jendela yang tertiup angin. Semakin duduk sendiri seperti ini, aku makin merasa frustasi. Hatiku sedih dan hampa. Mungkinkah secara medis aku mulai depresi karena hubungan yang rumit.
*
Pukul sebelas siang suamiku pulang, dia masuk dan mengucapkan salam, berjalan mendekat padaku yang masih membeku duduk di kursi santai dekat jendela taman belakang.
"Kenapa tidak menjawab salam, apakah ummi sedang melamun?"
"Aku sedang memikirkan hidupku," jawabku sambil mendongak ke arahnya.
"Mengapa Ummi masih sedingin pagi tadi, apakah kemarahan di hatimu belum juga padam?"
"Aku tidak sedang marah, hanya bingung saja."
"Bagaimana kalau kita bertandang ke tempat Filza dan Gibran? Mereka pasti senang didatangi," ucapnya dengan mata berbinar. Tanggapanku untuk detik itu adalah terdiam, terpaku dan kecewa dengan tawarannya yang tak masuk akal.
Tidak sadarkah bahwa hal yang paling membuatku tak nyaman dalam hidup ini adalah Filza? Mengapa Mas Albi punya ide untuk mempertemukan aku dan dia, sungguh suamiku mulai kehilangan akalnya.
"Maukah pergi ke tempat Gibran bersama dengan kedua putri kita." Aku yang mulai muak mendecak keras sambil memutar bola mata sehingga dia perlahan menyadari bahwa ucapannya barusan salah. Tanpa banyak bicara lagi aku segera bangkit dan beranjak meninggalkannya.
"Maaf jika ucapanku menyinggungmu," ucapnya mencecar dan menyusulku.
"Tentu, tentu saja aku sangat tersinggung," jawabku menahan air mata. Sebenarnya ... maaf saja aku ingin menangis demi dia, tapi entah mengapa rasa kecewa dan sakit hati memaksaku untuk menggenangkan buliran panas di sudut mata.
"Maafkan aku, kupikir mempertemukan dan mendamaikan kalian adalah ide yang bagus, kita bisa bicara bertiga sebagai keluarga dan mengeluarkan apa yang selama ini kita pendam."
"Kamu pikir itu solusinya? Jika aku mulai mengutarakan sakit hati dan keberatanku,apa kalian berdua bisa terima? dan jika kalian tidak terima, boleh jadi itu akan menimbulkan pertengkaran, kan? Kau pikir istrimu Filza tidak punya hak untuk marah dan melawanku? Kami akan bertengkar dan kau akan kebingungan memilih yang mana yang mau kau bela!"
"Sepertinya kau benar-benar dengki dengan istriku," ucapnya lantang.
"Istrimu? Ya, istrimu, hanya dia satu satunya istrimu," jawabku sengit, kepalaku rasanya mendidih mendengar Mas Albi mengatakan itu.
"Jangan terlampau sinis, aku hanya ingin kau menyadari bahwa kedengkianmu itu tak berguna."
"Dengki katamu Mas? Kalau iya, lalu apa? apa kau tak mau aku keberatan? kau hendak balikkan aku ke rumah ibu?!"
"Apa kau mau seperti itu? Ayo kuantarkan!" jawabnya sambil menarik tanganku. Aku dan dia bersitatap dengan pandangan sengit, berkilat, penuh amarah.
"Kau yakin akan menceraikan aku?" tanyaku dengan air mata yang perlahan meleleh.
"Lantas apa maumu? bukan maksudku ingin kita seperti ini ... tapi kau ....." Suamiku mendesah sambil menepuk kening dan menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah.
"Tapi apa? Kenapa kalimatmu tidak disambung? Kau yang mengikis keyakinan dan harapanku!"
"Kau yang terlalu berprasangka berlebihan, aku baru selalu berusaha ingin membuat kalian bahagia tapi segala usahaku selalu terlihat salah di matamu!" ujar suamiku sambil meremas rambutnya.
"Baiklah jika kau tak tahan lagi, ceraikan saja aku!" Jawabku sengit.
"Astagfirullah, jangan jadi wanita fasik dengan ucapan melampaui batas!"
"Bukankah kau sendiri yang bersedia mengantarkan aku ke rumah ibuku!"
"Sekarang umi menyebut Abi dengan kata 'kau' yang kasar!?"
"Kamu ingin aku selalu menghargaimu tapi kamu sendiri lupa cara memperlakukanku!"
"Astagfirullah, Aini!"
"Kenapa Mas Albi, apa kau mulai muak?!"
Tak menjawab ucapanku pria itu segera mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah sambil menggebrak pintu.
Lihat kan, tidak ada solusi untuk kami.