12

1057 Words
Setelah kepergiannya meninggalkan rumah sembari membawa amarahnya yang besar, tingallah diriku sendiri. Menangis sambil menyandarkan kepala ke sisi dinding dan memeluk kedua lututku. Aku menyesal, mengapa aku tidak berkuat saat itu, mengapa aku tidak menentang pernikahan Mas Albi dengan segala usaha dan kemampuanku. Mengapa aku begitu lemah dan mau mau saja di madu? Mengapa aku begitu bodohnya. Selaksa asa di dalam jiwaku mengajak diri ini untuk mundur saja dari mahligai yang sudah kami bangun bertahun tahun. Buat apa bertahan dalam luka, buat apa mencintai tapi cinta tidak dibalaskan, buat apa berkorban jika orang yang kita tak tunggu tidak peka dengan perasaan. Semakin hari, bukan bahagia yang akan kudapatkan, tapi derita dan kesengsaraan yang menumpuk. Namun, aku sangat mencintai suamiku, jujur aku tak bisa hidup tanpanya. Membayangkan sehari tanpa dia saja hidupku sudah hampa dan kesepian, bagaimana akan kujalani sisa hidup ini dengan kenangan tentangnya. Aku akan sepanjang waktu merindu sementara cinta dan kerinduan itu hanya tinggal hasrat kosong yang tak akan terbalaskan. Aku semakin terpuruk dengan luka sementara dia akan bahagia dengan istri barunya. Ini tak adil. "Lalu, apa yang adil untukku Tuhan?" Aku mulai bertanya, aku mulai ingin menggugat jalan takdir yang menyakitkan ini. Kata orang, masih mending dipoligami dalam keadaan berkecukupan daripada ditinggal menggantung tanpa nafkah atau kabar. Kenyataannya, tidak ada istilah 'mending' semua pilihan hidup dari wanita yang dimadu sangat menyakitkan dan dilema. Ingin lepas dan pergi jauh, tapi cinta ini menahan langkah. Ingin bertahan, tapi bertahan di atas bara api. Semuanya serba salah. "Mana Abi?" tanya anak anak kepadaku ketika mereka makan siang. "Hari ini mereka di rumah Tante Filza," jawabku tanpa semangat. "Oh, waktu berjalan cepat ya, terasa singkat sekali waktu Abi bersama kita," ujar Fatimah, putriku yang tipikal pemikir dan kritis. "Ya. Abi kan punya dua rumah, dia harus bersikap adil," jawabku dengan senyum terpaksa. "Apa .... Abi masih menyayangi kita?" tanya Fatin, anakku yang duduk di kelas satu SD. "Tentu saja." "Tapi, belakangan, ummi dan Abi jarang saking bicara," protes Fatimah. "Kami hanya lelah, Nak." "Abi selalu pulang membawa kelelahannya dan tidur di rumah. Dia sudah jarang duduk dan tertawa bersama kita dia lebih sering di rumah Gibran. Apakah Abi lebih menyayangi anak laki-laki daripada anak perempuan?" "Tidak juga, semuanya sama, Nak." Aku mengelus punggung anakku dengan penuh kasih. "Kalau sama tentu tidak akan seperti ini." "apa maksudnya?" tanyanya mengernyit. "Rumah ini sudah sepi dan keadaannya berubah." Fatin berkata sambil tetap melanjutkan makannya. "Iya, Dulu pulang sekolah terasa menyenangkan karena Fatimah bisa bertemu Abi dan ummi, tapi sekarang ... pulang ke rumah rasanya tidak nyaman karena ada rasa sepi yang aneh setelah bermain dengan teman-teman dan ceria di sekolah." "Apakah kalian tidak bahagia di rumah?" Tak menjawab, kedua anakku hanya saling pandang dan mengangkat bahu merekam Sebegitu burukkah kondisi rumah ini menurut penilaian anakku, hingga mereka tak nyaman pulang ke rumahnya sendiri? Mestinya sebuah rumah adalah surga bagi penghuninya, mestinya keluarga adalah tempat terbaik untuk melabuhkan kelelahan dan kegundahan hati, apakah semuanya sudah berubah? Tuhan, mengapa jadi begini? Tolong jangan renggut apa yang tersisa dari kami. Sekarang, aku hanya punya anak anak yang bisa menjadi alasan untuk diri ini bertahan, kalau mereka sendiri juga tidak bahagia, lalu aku harus bagaimana? * "Naiklah ke kamar kalian dan kerjakan PR, tidak perlu membantu Bunda membereskan meja, Bunda bisa mengerjakan semuanya," suruhku pada kedua anakku. "Baik Bunda, tapi bunda baik baik aja." Sungguh, perhatian kedua Anakku sangat membuat diri ini terharu. "Iya, Nak, Bunda baik kok, gak apa apa, piringnya hanya sedikit," jawabku sambil menciumi kening mereka berdua. "Habis kerjakan PR, silakan langsung tidur ya, besok sekolah." "Baik, Bunda, tapi, jika belum mengantuk bolehkah kami bermain tablet?" "Boleh, tapi sebentar saja ya. Serta, jangan melihat konten yang tak berguna dan aksi joget joget tidak karuan." "Baik, Bunda." "Terima kasih atas kerja sama kalian, anak anakku," jawabku sambil tersenyum dan memperhatikan mereka naik ke lantai dua dengan cara beriringan. Kulanjutkan cucian piring, merapikan meja serta mengelap kitchen set. Sewaktu mencuci tangan dan menyekanya, pintu utama terbuka. Mas Albi datang dari sana dengan wajah cemberutnya. "Assalamualaikum." Dia tetap ucapkan salam meski sakit hati dan kesal. "Walaikum salam." Tanpa banyak basa-basi lagi dia langsung ke kamar dan menutup pintunya dengan kencang. Aku yang penasaran segera menyusul dan masuk ke tempat paling privat untuk kami berdua. "Ada apa?" "Aku akan mengambil baju," jawabnya sambil membuka lemari. Dia mengambil beberapa helai kemeja dan celana juga dalaman. "Pakaianmu sudah banyak di rumah wanita itu, apa sekarang kau mengambilnya dan hendak pindah?" "Mengapa setiap kalimat yang keluar dari bibirmu selalu merupakan duri yang menusuk hatiku? Mengapa kau kejam sekali?" tanyanya menghentikan kegiatannya. Lucu! Dia bilang aku yang kejam padahal selama ini yang membuat hati ini terlunta-lunta dan tersiksa adalah, dia. "Kau belum jawab Mas, kau mau kemana?" "Ada urusan pekerjaan di luar kota." "Apa harus berangkat sekarang, ini aneh sekali. Biasanya kau angkat berangkat pagi hari sekaligus pergi ke kantor dan selanjutnya kau akan berangkat dari sana, mengapa tiba-tiba malam-malam begini kau datang dan mengambil pakaianmu." "Aku akan menginap di rumah filsa dan dari sana aku akan berangkat kerja dan langsung keluar kota." "Baik, itu masuk akal. Tapi, yang tidak masuk akal mengapa Kau mengambil stok baju dari rumahku, sementara jatah waktumu bersama Filza artinya dalam jatah waktu tersebut dia yang harus melayani dan menyiapkan pakaianmu, apakah wanita itu tak sempat mencuci dan menyetrika?" "Dia sedang beranak kecil, Aini. Dia kerepotan." "Seperti biasa kau akan mengambil pakaian bersih dan mengembalikan yang kotornya kepadaku. Aku serasa jadi asisten sekalian tukang cuci untukmu, bukan istrimu," protesku tanpa berpikir panjang lagi. "Ya Tuhaaaaaan ...." Mas Albi mengeluh sambil mengusap kasar wajahnya, dia menatapku dengan marah serta roman wajah putus asa, "Adakah sedetik saja kau tak membuat gara gara? Hatiku lelah Aini, aku lelah dengan drama yang kau buat!" "Lantas, aku harus bagaimana Mas?" "Ini hidup, bukan drama India! Berhentilah memantik emosi dan menguji kesabaranku, aku lelah. Astagfirullah ...!" pria itu menudingku dengan Mata melotot. Sampai di sini, aku kehilanga kata kata. Rasanya, lututku lemas mendengar teriakan tinggi Mas Albi, bahkan kini, dari jendela aku bisa melihat tetangga melongok ke arah rumah kami. Mungkin mereka kaget, sebagian juga ingin tahu mengapa kami bisa bertengkar sehebat ini. Aku bisa bayangkan, tetangga sedang menertawai kehidupan kami yang rumit. Menertawai bodohnya aku yang mau saja dipoligami lalu menjalani konsekuensi yang pahit. Semua itu semakin menambah kesedihan dan dan beban hidupku, aku benar benar hancur karena perbuatan suamiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD