"Kau yakin dengan ini? Jika kau merasa tidak baik-baik saja, Gibran boleh kau titipkan dulu pada kami?" "Tidak usah, aku sudah rindu anakku dan ingin membawanya pulang." "Tapi Filza ...." "Tolong kemasi barang Gibran!" Wanita itu memberi penekanan dengan perintahnya yang terdengar sangat tegas. "Baiklah," gumamku lirih. "... Kami memang tidak berhak menahan anakmu tetap di sini Jadi kau tidak perlu terlalu tegang dan marah." "Aku akan berterima kasih jika kau melakukannya dengan cepat Mbak," jawabnya. "Iya, baiklah." Aku beranjak ke kamar sambil memperhatikan wajah Mas Albi sementara pria itu hanya terlihat bingung dan tercenung. Kukemasi barang barang Gibran, pakaian selimut, batal, botol s**u hingga buku edukasi dini yang setiap malam kubacakan untuknya. Entah kenapa, hatiku meras

