BAB 8

1441 Words
Erica membaca pesan singkat yang dikirim Cassandra ke nomornya.             Erica, katakan pada Al, anak dalam kandunganku sedang merindukannya.             Kedua daun bibir Erica terbuka. Terdiam beberapa saat sebelum kembali membaca pesan dari Cassandra. Erica mencoba meyakinkan diri kalau pesan dari Cassandra memang seperti itu adanya.             “Cassandra hamil?” gumamnya.             “Astaga...” Erica mendadak merasa mual.             Erica mengganti pakaiannya dengan rok haighwaisted kesukaannya yang berwarna hijau tosca dan blouse warna putih. Ia meraih tasnya dan melangkah cepat. Tepat saat dia di depan pintu keluar rumah, Nick datang. Mereka berhadapan dan saling menatap.             “Kamu mau kemana?” tanya Nick.             “Ke kantor Al.” Jawab Erica tangannya agak gemetar. Pesan dari Cassandra membuatnya dilanda ketakutan.             “Al tidak ke kantor.”                         Sebenarnya, Erica bisa saja menelpon Al dan menanyai pria itu apakah Cassandra memang hamil, tapi dia tidak ingin ada satu orang rumah pun yang tahu mengenai hal ini. Tanpa diketahuinya kalau Nick, Travis dan Selina sudah tahu akan hal itu. Meskipun kebenarannya belum jelas apakah ayah dalam janin Cassandra adalah Al atau bukan.             Nick menatap Erica curiga.             “Aku—“ Erica tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap kakak iparnya itu.             “Aku lihat Al sedang bersama Deemi.”             Dahi Erica mengernyit. “Deemi...”             Nick membuang wajah sesaat dan menyadari kalau dia keceplosan.             “Deemi siapa?”             “Teman Al.”             “Dimana Nick sekarang? Aku harus menemuinya.”             “Memangnya ada apa?” tanya Nick dengan sebelah alis terangkat ke atas curiga.             “A—“ Erica menunduk, dia semakin bingung.             “Apa ada hal yang penting?”             Erica menggeleng. “Tidak, aku rasa aku tidak perlu menemuinya. Aku mau ke rumah ibuku.” Erica melewati Nick dengan wajah menunduk menghindari tatapan mata kakak iparnya.             “Ada apa sebenarnya?” gumam Nick menatap punggung Erica yang semakin menjauh. ***             Saat di jalan, Erica menelpon Al.             “Al, kamu dimana?” tanyanya saat Al menyahut dari balik telepon.             “Aku di kafe bersama Dareen, kenapa?”             “Ada yang harus kita bicarakan.” Kata Erica dengan nada suara dingin yang mendesak.             “Kamu dimana sekarang? Aku akan ke sana? Di rumah?”             “Tidak aku sedang di halte dekat rumah.”             “Oke, aku akan menjemputmu.”             Selang beberapa saat mobil sport mewah Al datang, Erica masuk ke dalam mobil mewah itu. Al menatapnya tanpa berkedip untuk beberapa saat ketika Erica duduk di sebelahnya.             Erica menoleh. “Kenapa?” tanyanya.             Al membuang wajah. “Semakin hari kamu semakin menggoda, Erica.” Katanya sembari tersenyum sinis tanpa menatap Erica.             Erica tidak suka mendengar perkataan yang membuat wajahnya memerah. Antara kesal dan malu. Jelas, perubahan warna wajahnya bukan karena terkesima. Berani-beraninya pria itu...             “Di saat seperti ini kamu sempat melontarkan omong kosongmu itu.” balas Erica pedas.             Al menoleh sekilas sebelum dia kembali fokus menatap jalanan di depannya. “Memangnya apa yang perlu kamu bicarakan? Apa Nick mengganggumu?”             “Kakakmu tidak pernah menggangguku. Aku percaya kalau dia pria baik, Al.”             Wajah Al berubah masam.                   “Ini tentangmu.”             “Tentangku?” Al menepikan mobilnya dan dia mematikan mesin mobil. “Apa?”             “Lebih tepatnya tentang kekasihmu.”             Al menarik napas perlahan. “Apa dia mengirimimu pesan?”             “Ya, dia bilang anak dalam kandungannya sedang merindukan ayahnya.” Erica berkata dengan nada yang sarkastik.             Jeda sejenak.             Dengan ekspresi mencemooh Erica bertanya, “Sekarang apa yang akan kamu lakukan, Al. Kekasihmu hamil dan kamu mengabaikannya begitu saja.”             Al membasahi bibirnya yang kering.             “Kamu diam saja? Tidak bisa membela diri sendiri ya?” Erica merasa posisinya berada di atas angin. “Jangan pernah macam-macam denganku, Al.” Dia menatap suaminya dingin. “Kalau kamu berani menyentuhku, aku akan memberitahu isi pesan yang dikirim kekasihmu itu pada Mamah dan Papah. Aku akan berpura-pura sedih dan menangis di depan semua orang.”                                                                 Al hanya menatap Erica. “Dengar, Erica, kamu pikir kamu akan menang dengan hanya mengandalkan pesan yang dikirim Cassandra. Kamu tidak kenal Cassandra, Erica. Dan jangan pernah berpikir aku takut dengan ancamanmu.” Sebelah sudut bibir Al tertarik ke atas. ***             Nick menatap adiknya dengan tatapan seperti seorang pria yang harus bersikap baik pada musuhnya. Al tampak memakan makanannya dengan lahap. Dia tidak terlihat terbebani tapi tidak ada siapa pun yang tahu bagaimana kedalaman isi hati Al yang sebenarnya.             Tatapan mata Nick berubah lembut saat matanya melihat Erica yang dengan anggun menghabiskan suapan terkahinya. Lalu, mata mereka bertemu. Nick tersenyum hangat, Erica membalas senyum Nick dengan senyuman kaku. Mata Travis menangkap hal itu dan Travis seketika merasa kesal. Bagaimana kalau Nick dan Erica menjalin hubungan? Ini akan menajdi skandal yang menghancurkan keluarganya.             “Ekheeem,” Travis berdeham. “Aku rasa Al dan Erica perlu bulan madu.” Semua mata tertuju pada Travis termasuk Selina.             “Apakah Om dan Tante akan makan madu di bulan?” tanyanya polos.             Erica refleks tersenyum lebar mendengar pertanyaan Selina.             “Bukan, Sayang, bukan makan madu di bulan.” Noura membelai kepala putrinya.             “Lalu apa artinya bulan madu, Mom?”                   “Artinya... Om dan Tante akan menghabiskan waktu di tempat liburan.”             Wajah Selina berbinar. “Kalau begitu Selina ikut, ya?”             Noura dan Travis saling bertemu pandang. Sebelum Noura kembali menatap putrinya dan berkata, “Kita akan liburan sendiri, Sayang. Kalau kamu ikut Om dan Tante, itu artinya mereka tidak bulan madu.”             Selina menatap ibunya tanpa bisa memahami kalimat terakhir ibunya.             “Jadi, kapan kalian akan bulan madu?” tanya Travis pada Al dan Erica.             Al menatap Erica sebelum menjawab pertanyaan kakaknya. “Aku ingin bulan madu secepatnya nanti setelah Mamah dan Papah pulang.” Al sempat melirik ke arah Nick sekilas untuk melihat ekspresi kakak sekaligus  musuhnya itu.             “Bagus, Mamah dan Papah akan pulang seminggu lagi.”             “Kalau nanti Nyonya Erica pulang dan hamil, itu akan mnejadi kado luar biasa yang membahagiakan bagi Nyonya dan Tuan Herriot.” Kata Bibi Ella dengan senyum cerah, dia meletakaan puding di atas meja makan.             “Erica,” Travis memanggilnya.             “Ya,” sahut Erica.                                              “Bilang saja nanti pada Al kalian mau pilih tempat honey moon di mana.”             Erica mengangguk. “Iya.”             Al memandang Nick sinis dan Erica melihat kesinisan Al pada kakaknya.             Pasti ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Pasti ada hal lain yang membuat mereka menjadi musuh seperti ini.             Erica teringat akan pesan dari Cassandra.             Erica, katakan pada Al, anak dalam kandunganku sedang merindukannya.             Dia mendadak agak mual. Cassandra hamil? Dan Al sekarang suaminya.             “Erica, kamu kenapa?” tanya Nick yang peka terhadap perubahan wajah Erica.             “Tidak.” Erica menggeleng.             “Ayo, Selina kita ke sekolah.” Ajak Travis.             Selina dan Noura bangkit dari kursi, melesat pergi keluar rumah.             Nick yang merasa kacau balau karena sesuatu hal yang dia sendiri tidak mengerti mengambil jas yang tersampir di belakang kursinya. Dia melesat pergi menyusul Travis, Selina dan Noura.             Erica menatap keji suaminya. “Berhati-hatilah, Al.” Katanya dengan nada ancaman.             “Tentu, Sayang, aku akan selalu berhati-hati.”n             Bibi Ella tersenyum mendengar percakapan pengantin baru itu. “Pengantin baru memang selalu perhatian ya.” Kata Bibi Ella tanpa bisa mengenali nada suara kepalsuan dari keduanya. “Semoga pernikahan kalian langgeng dan selalu romantis.”             Mendengar perkataan Bibi Ella, Erica ingin sekali muntah.             “Iya, Bibi Ella. Kami sangat mencintai satu sama lain.”             Erica menoleh pada Al, memasang ekspresi seakan melihat kucing yang memakan tikus hingga darahnya mengotori lantai. Bibi Ella melesat pergi membawa makanan ikan. Dia melesat pergi ke kolam ikan yang berada di teras belakang rumah. “Yang kamu katakan pada Bibi Ella adalah kebusukanmu, Al.” “Kamu bisa bilang seperti itu. Bagaimana nanti kalau apa yang aku ucapkan terjadi? Kita saling mencintai.” “Aku tidak akan mencintai pria yang sudah menghamili kekasihnya.” Kata Erica dingin. Dia beranjak dari kursinya namun Al menarik pergelangan tangannya. “Kenapa kamu tidak mengatakannya kepada semua orang yang ada di sini, Erica?” “Mengatakan apa?” tanya Noura yang tiba-tiba muncul setelah suami dan putrinya pergi. Al dan Erica menoleh pada kakak iparnya. “Mengatakan apa, Al?” tanya Noura mendekati mereka. “Erica ingin bulan madu ke Eropa.” Al berpura-pura tidak tahu kalau sebenarnya Noura pun tahu tentang kehamilan Cassandra. Noura mengangguk-ngangguk. “Pilih tempat yang romantis untuk bulan madu kalian.” “Iya, terima kasih.” Kata Al. Dia kembali menatap Erica yang tersenyum mengejek padanya. Dalam banyak hal, Erica dan Al memang dua sosok yang berbeda. Saat perbedaan itu disatukan akan lebih rumit untuk menata rumah tangga mereka yang hanya berlandaskan pada perjodohan semata. Bukan hanya itu, Cassandra adalah masalah utama yang sebenarnya. Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya mereka memiliki ketertarikan satu sama lain. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD