Cassandra menggigit rotinya sembari menonton layar televisi yang menampilkan segala pencapaiannya sebagai seorang desainer gaun pengantin. Salah satu selebriti mengenakan pakaiannya dan dengan bangga mengatakan, “Cassandra adalah desainer favoritku. Aku akan menikah sebulan lagi dan gaun ini adalah gaun yang didesain khusus untukku. Thank you, Cassandra.” Selebriti itu membuat gerakan bibir yang memberikan sebuah kecupan di arah kamera.
Cassandra tersenyum ironi. “Itu gaun yang aku buat untuk pernikahanku nanti dengan Al.”
Deemi menatap sahabatnya dengan tatapan miris. Wanita berpakaian seperti laki-laki dengan rambut cepak itu menyesap tehnya.
“Tapi, Al tidak memilihku.” Cassandra mengatakannya dengan tatapan mata hampa.
“Dia sudah menikah, Cassandra. Lupakan dia.” Deemi mengambil roti bekas gigitan Cassandra di atas meja dan melahapnya dengan satu kali lahapan.
“Lalu aku harus membesarkan anak ini sendirian, begitu?” Cassandra membelai perutnya yang masih kecil dan menoleh pada Deemi. “Apa kata media nanti saat tahu aku hamil tanpa suami?”
“Kamu bisa menyembunyikan anakmu. Kamu bukan selebritis yang kehidupan pribadinya disorot media. Kamu desainer papan atas. Jangan buat orang-orang menghujatmu nanti.”
“Aku sudah mengirim pesan pada Erica. Aku sudah mengancamnya berkali-kali dan juga pada Al. Pria itu mengabaikanku.”
“Mereka menikah karena perjodohan. Al mungkin masih mencintaimu tapi dia sendiri tidak bisa meninggalkan Erica. Percayalah, suatu saat setelah Al tenang dia akan datang ke rumahmu dan menemuimu.”
“Aku ingin sekali main ke rumah Al. Memberitahu keluarganya tentang kehamilanku ini pasti akan menjadi drama paling mengesankan di sana.”
“Cassandra, tolong jangan. Aku yakin Al sendiri sedang berpikir dan mencari solusi.” Deemi tampak khawatir. Cassandra memang terkadang impulsif. Bisa saja saat dia lewat di jalan rumah Al lalu tiba-tiba main ke rumah Al padahal dia tidak punya niatan untuk ke sana. Dan Deemi bekerja sebagai manajer, asisten sekaligus pengontrol Cassandra.
“Dan berhentilah untuk mengancam Al ataupun Erica.” Imbuh Deemi.
“Tapi, aku mencintai Al. Aku hanya ingin dia bertanggung jawab pada janinnya.”
“Bagaimana kalau Al tidak bisa? Ini hanya berandai saja semisal Al tidak bisa.”
Cassandra menatap Deemi dengan tatapan seorang pembunuh berdarah dingin. “Mudah saja. Aku akan membuat sahamnya jatuh, ayahnya sekarat dan keluarganya berantakan. Aku punya kekuatan untuk melakukan tindakan paling berengsek yang tidak pernah Al bayangkan.”
Deemi menelan ludah. “Bagaimana pun juga kamu mencintai Al.”
“Tapi, pria itu sudah mengabaikanku dan anaknya.”
“Cassandra, fokuslah pada karirmu sekarang. Kamu itu kuat tanpa Al kamu bisa sukses tanpa Al kamu masih akan tetap hidup.”
“Dia sudah bermain-main denganku.”
“Dia tidak bermain-main denganmu. Dia hanya tidak tahu harus bagaimana karena posisinya dia sudah menikah dengan Erica.”
“Tapi kenapa dia mengabaikanku? Aku tidak suka diabaikan, Deemi.”
“Sudah kubilang dia sedang mencari solusi!” kata Deemi kesal pada Cassandra.
“Menurutmu kalau aku menemui Erica bagaimana?”
“Jangan!” Deemi menatap tajam Cassandra. “Erica tidak tahu apa-apa. Dia juga tidak terlibat dalam masalah ini. masalah ini hanya tentang kamu dan Al.”
“Erica seorang wanita, dia pasti mengerti akan kekhawatiranku.”
“Setelah kamu mengancamnya berkali-kali kamu pikir dia mau menemuimu?” Deemi bangkit berdiri, dia hendak meninggalkan rumah Cassandra.
“Aku punya banyak bukti kebersamaanku dengan Al. Aku bisa saja menyebarkannya dengan mudah tanpa perlu bertemu keluarga Al. Untuk menghancurkan Al semudah itu bukan?” Cassandra tersenyum.
Deemi menatap wanita yang menjadi temannya sejak lima tahun lalu itu. “Aku akan menemui Al dan memintanya untuk menemuinya. Jangan bertindak apa-apa kalau aku tidak mengizinkannya.”
“Oke,” Cassandra berkata dengan mengangkat ibu jarinya. “Bilang pada Al kalau aku merindukannya.”
“Ya,” sahut Deemi enggan.
“Aku merindukan ciumannya.” Cassandra tersenyum lebar.
“Kalau masalah itu bilang sendiri pada Al saat kalian bertemu.” Deemi melangkah cepat meninggalkan Cassandra.
Cassandra hanya tertawa.
“Well, sebentar kamu akan bertemu ayahmu, Nak.” Cassandra membelai perutnya yang masih kecil.
***
Nick menatap mejanya dengan tatapan kosong. Ruang geraknya untuk melindungi Erica dari kebrutalan temperament Al dibatasi. Keinginannya untuk bertemu Erica diawasi oleh kakaknya dan kakak iparnya. Apa yang harus dilakukannya sekarang selain menjauh dan mengabaikan Erica? Apa pun yang terjadi pada Erica selama ada Al, maka dia tidak perlu memusingkannya meskipun Al memang temperament. Tapi, hatinya selalu berkata untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya meskipun seluruh orang yang ada di sana tidak menyukainya. Atau dia mulai melupakan Erica dan membiarkan Al bertindak semena-mena ada Erica. Al kan suami Erica apa pun yang Al lakukan tidak akan jadi masalah kalau Erica menerimanya, yang jadi masalah adalah kalau Erica tidak menerimanya.
“Ini, kopi.” Sierra—sekretaris Nick memberikan secangkir kopi dan meletakkanya di atas meja Nick.
“Terima kasih.” Nick menyesap perlahan kopi buatan Sierra itu.
Sierra adalah wanita 27 tahun yang bekerja enam bulan lalu sebagai sekretaris Nick. Wanita itu memiiki rahang yang tegas namun anggun, hidungnya mancung dan alisnya tebal. Rambutnya berwarna cokelat sebahu. Wanita itu selalu diam-diam menatap Nick dengan tatapan kagum saat Nick sibuk dengan berkasnya atau laptopnya.
Tapi sejak kemarin, pria itu terlihat masam seperti ada masalah.
“Pak, kenapa Anda akhir-akhir ini sering berdiam diri?” tanya Sierra.
Nick terbahak mendengar pertanyaan sekretarisnya itu. “Aku tidak berdiam diri, Sierra. Aku hanya sibuk memikirkan banyak hal, termasuk pekerjaan.”
Nick mungin bisa berakting kalau dia baik-baik saja, tapi Sierra dapat merasakan ada yang berbeda dari Nick. Bosnya yang selalu ceria itu.
“Kembalilah ke mejamu, aku baik-baik saja kok.” Kata Nick dengan senyum yang dibuat-buat agar tidak menimbulkan kecurigaan Sierra.
Kamu bisa saja bilang baik-baik saja, Nick. Tapi aku tahu ada yang tidak beres denganmu. Aku mengenalmu sebagai pribadi yang ramah dan ceria. Ceritakanlah padaku tentang masalahmu itu. aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu.
“Kenapa masih duduk di situ?” kata Nick yang membuyarkan pikiran Sierra.
“Saya permisi, Pak.” Sierra menunduk sopan.
“Ya, ya, silakan.” Ujar Nick, meraih ponselnya dan berpura-pura mengetik pesan agar Sierra tidak mengganggunya lagi.
Ada saat dimana seseorang butuh sendirian dalam pikirannya sendiri tanpa mau menceritakan permasalahnnya dengan siapa pun. Nick tahu Sierra menyukainya karena dia sering melihat Sierra menatapnya. Dan Nick dapat merasakan perhatian kecil Sierra saat dia sibuk di ruangannya dan tidak sempat untuk makan siang. Sierra akan datang dengan membawa nampan berisi makanan siang. Tapi, mau sekeras apa pun usaha Sierra, Nick hanya menganggap Sierra tak lebh dari sekretarisnya saja. apalagi pada saat ini pikirannya hanya terfokus pada Erica.
Dan lagi, percintaan bos dan sekretarisnya tentu akan membuat urusan kantor runyam. Karyawan yang iri, dan Nick mungkin tidak bisa memarahi Sierra kalau pekerjaannya tidak beres. Bukan itu saja, bagaimana kalau dalam urusan asmaranya Sierra sedang ngambek dan mereka harus tetap profesional dalam pekerjaan.
Itu sebabnya Nick menutup akses pada Sierra. Lebih baik berpura-pura tidak tahu dan bagi Sierra lebih baik berpura-pura tidak menyukai Nick.
***
Al menatap Deemi dengan menyembunyikan kegelisahannya.
“Cassandra ingin kamu menemuinya, Al.”
Al menarik napas perlahan. “Bukannya aku tidak ingin bertemu Cassandra, tapi posisiku sekarang sedang sulit. Papahku sedang sakit dan aku bukan lagi pria lajang. Lagian,” Al ingin mengatakan keraguannya atas kehamilan Cassandra. “Aku tidak yakin Cassandra hamil. Kamu tahu malam terakhir pesta ulang tahunnya kan? Kita semua mabuk parah dan tidak aku tidak mungkin bisa melakukan apa-apa saat kepayahan.”
Dahi Deemi mengernyit. “Tapi kalian kan memang sering bersama, kamu bahkan sering menginap di rumah Cassandra.”
“Aku tidak sebodoh itu sebelum orang tuaku mengizinkanku menikahi Cassandra.”
Deemi paham maksud dari Al bahwa Al tidak mungkin melakukannya tanpa pengaman.
“Jujur saja, mental anak itu mulai terganggu.”
Kali ini dahi Al yang mengernyit. “Maksudmu?”
“Iya, dia sekarang seperti orang sinting, Al. Dia sering berbicara sendiri, aku tidak tahu mungkin dia mengajak berbicara anak dalam kandungannya.”
“Apa dia sudah mengeceknya lewat testpack?” tanya Al.
“Dia bilang sudah.”
“Kamu melihat hasil tespacknya?”
Deemi menggeleng.
“Cassandra sudah periksa ke dokter?”
Deemi mengangkat bahu.
“Kenapa kamu tidak tahu? Apa dia tidak memintamu menemaninya untuk periksa ke dokter?” Cerca Al.
Deemi menggeleng. “Aku sibuk dengan pekerjaanku, Al. Dia hanya di rumah dan mengabariku sesekali kalau ada desain yang sudah diselesaikannya.”
Meskipun, Deemi adalah teman sekaligus merangkap manajer dan asisten Cassandra tapi dia netral dalam hal ini. dia tidak memaksa Al dan menyetujui keinginan impulsif Cassandra.
“Seharusnya kamu tahu secara pasti kehamilan Cassandra.”
“Kamu mencurigainya hanya berpura-pura hamil?” sebelah alis Deemi terangkat tinggi.
“Cassandra akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya. Dia sering mengancamku bahkan Erica. Erica pernah menceritakan padaku kalau dia dan Cassandra bertemu. Aku perlu berhati-hati kalau sampai Cassandra membuat ulah, aku tidak akan tinggal diam, Deemi.”
“Tapi, bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Apa yang akan kamu lakukan, Al?” desak Deemi.
“Well, aku tidak tahu harus melakukan apa kalau hal itu sampai terjadi. Papahku sedang sakit dan aku tidak ingin membuatnya kepikiran akan masalah ini. aku mohon padamu, Deemi, cegah Cassandra kalau dia berniat melakukan tindakan apa pun, aku akan menemuinya. Secepatnya setelah kondisi Papahku benar-benar membaik.”
***