BAB 11

1208 Words
“Tidak, selama ini dia tidak terlalu buruk. Dia memang arrogant dan egois tapi dia tidak pernah kasar padaku.”             “Kamu belum mengenalnya lebih jauh. Saat nanti dia marah dia akan melakukan hal-hal yang tidak akan kamu pikirkan sebelumnya.”             Dahiku mengernyit. Perkataan Nick membuat bulu tengkukku meremang. “Maksudmu?”             “Tiga mantan kekasih Al  mengaduh pada Travis dan aku kalau mereka mendapatkan kekerasan dari Al. Kamu tahu apa yang mereka minta dari kami?”             Aku mengangkat kedua bahu.             “Mereka minta agar Al menikahinya. Intinya mereka mengancam Al. Dan Travislah yang berusah payah mengurus mereka bertiga dengan memberikan uang yang jumlahnya tidak sedikit.”             “Mereka datang bersamaan?” tanyaku agak ganjil.             Nick mengangguk.             “Ada kerjasama di antara mereka dong.” Terkaku.             “Ya, benar. Aku yakin ketiga wanita itu bukan mantan kekasih Nick, mungkin wanita yang Al temui dimana atau dimana dan mereka melakukan hal konyol. Ya, entahlah. Hanya mereka yang tahu.”             “Kamu menanyai Al? Apa jawabannya?”             “Dia hanya diam. Tidak berkomentar apa-apa.”             “Anak itu ceroboh, Erica. Kamu harus berhati-hati dengannya.”             Kami saling menatap untuk beberapa saat. Aku tidak mencerna perkataannya dengan baik, aku tersihir akan kharisma Nick. Dan mata menakjubkannya itu. Dia tersenyum hingga lesung pipinya terlihat jelas.             “Travis menyuruhku jaga jarak denganmu, aku harus segera pergi dari hadapanmu, Erica.” Dia berdiri, meletakkan album potonya di sampingku. Lalu dia melangkah meninggalkanku.             Semua berjalan dengan natural. Suaranya, senyumannya, kharismanya dan kebaikannya. Berjalan senatural-naturalnya. Aku harus mengempaskan semua pikirkanku tentang Nick karena aku adalah istri Al William Herriot. Aku adik ipar Nick. Tapi, kenapa aku selalu merasa Nick menyukaiku. Nick membuatku merasa aman dengannya. Andai saja aku bisa menceritakan soal Cassandra pada Nick. Tapi, ya, aku tahu itu akan semakin membunuh harga diri Al.             “Dimana Noura?” tanya Nick dengan tiba-tiba. Dia tampak panik.             “Noura keluar, aku tidak tahu kemana dia bilang ada perlu.” Kataku dengan nada cepat karena Nick begitu panik.             “Astaga!”                                                            “Akan aku telpon.”             “Tidak usah. Aku sudah menelponnya, tidak diangkat.”             “Ada apa Nick?”             “Selina ada di rumah sakit. Aku harus segera ke sana.”             “Aku ikut!” seruku ikut panik.             Nick dengan kecepatan tinggi mengendarai mobilnya. Aku tahu dia sangat panik kalau terjadi apa-apa pada Selina.             “Apa yang terjadi sebenarnya pada Selina?” tanyaku.             “Dia pingsan di sekolah. Travis sudah ada di rumah sakit, dia menelpon Noura tapi nomernya tidak aktif.”                           Aku merasa rumah tangga Travis dan Noura tidak memiliki chemistry sebagaimana rumah tangga pada umumnya. Ada yang aneh dari rumah tangga mereka. Seakan mereka tidak memiliki perasaan apa-apa lagi. Sikap keduanya pun terlihat dingin satu sama lain. Ada apa sebenarnya dengan keluarga Herriot ini? ***             Erica             Aku beryukur karena Selina hanya kelelahan. Dia tidak bisa berolahraga terlalu lama tepat saat di sekolah Selina terus-terusan aktif berolahraga. Olah raga lari dan kriket. Di rumah Noura terus-terusan menangis. Merasa kalau dirinya bukan ibu yang baik. Dan Selina terus-menerus menghapus air mata ibunya dengan sapu tangan dan memerasnya di atas gelas air minum. Aku tersenyum melihat tingkah lucunya.             Travis hanya menatap adegan itu dengan sorot mata dingin. Mungkin saat Selina tertidur akan ada pertengkaran hebat di antara keduanya. Dan Nick pria itu sedang menggigit biskuitnya dan menawariku biskuit. Jangan tanyakan soal Al, kurasa tidak ada yang memberitahunya. Aku pun enggan memberitahu Al. Yang ada dia akan mengamuk-ngamuk karena Nick dan aku duduk berdampingan melihat adegan manis Selina yang memeras sapu tangan. Sayangnya, tidak ada air mata Noura yang jatuh dari sapu tangan itu. Namun, Selina terlihat senang-senang saja tanpa menyadari lebih dalam kalau ibunya menangis karena merasa bukan ibu yang baik.             “Ah,” mata Selina membelalak. “Aku lupa aku harus menonton film Toy Story di laptop Om Nick. Mah, aku ke kamar Om Nick dulu ya.” Dia menatap Nick. “Om, ayo!” serunya, berlari riang. Nick menyusulnya.             Aku memilih pergi ke dalam kamarku untuk memberikan ruang pada Travis dan Noura untuk menyelesaikan apa yang belum selesai. Aku tidak tahu Noura pergi kemana saat itu.             “Tante Erica!” seru Selina. “Maukah Tante ikut menonton film denganku dan Om?” tanyanya.             Aku tersenyum dan menggeleng. “Tidak.”             “Oke!” lalu secepat kilat dia lenyap dari pandanganku.             Aku bersyukur memiliki keponakan menggemaskan seperti Selina. Salah satu hiburan yang ada di keluarga Herriot yang penuh ketegangan ini adalah senyuman Selina. Anak itu punya senyuman yang mirip dengan Omnya. Senyuman memikat.                                                                         ***                              Saat semua orang sudah makan malam. Aku mendapati Al sedang menenggak wine di dalam kamarnya. Dia tersenyum kepadaku dan menawarkan aku wine. Aku menggeleng. “Kamu tahu apa yang terjadi dengan Selina tadi siang?” tanyaku mendekati pria berhidung mancung itu.             “Tahu. Selina pingsan, Noura tidak ada di rumah.”             “Sebelum meninggalkan rumah Noura bilang padaku kalau dia punya urusan penting.”             “Semua urusannya tidak penting. Dia hanya berpura-pura sibuk di luar rumah.” Celetuk Al. Dia kembali menenggak wine.             “Kenapa Noura berpura-pura sibuk di luar rumah?”             “Karena dia tidak betah di rumah.” Al menatapku.             “Kenapa—“                                                        “Usttt... jangan bahas lagi. Aku tidak mau membicarakan urusan rumah tangga kakakku. Lebih baik—“ dia menatapku dengan tatapan menginginkan. Aku mulai merasa tegang setiap kali Al menatapku seperti itu. “Kita bicarakan tentang kita saja, Erica. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan.”             “Ya, salah satunya mengenai kehamilan Cassandra.”             Dia tersenyum kecut. “Kalimat andalanmu itu selalu membawa-bawa nama Cassandra.”             “Kamu dalam masalah, Al. Bayangkan kalau Cassandra datang ke sini dan memberitahu orang tuamu.”             “Aku bersyukur karena orang tuaku tidak ada di rumah.” Al tersenyum sinis.             “Bagaimana kalau nanti Cassandra menelpon Mamahmu?” kataku dengan senyum kemenangan.             Sebelah sudut bibir Al tertarik ke atas. “Bagaimana kalau sebelum hal itu terjadi, kamu mulai mencintaiku dan kita mulai—“             “Jangan berhalusinasi, Al. Aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan pria sepertimu. Kita hanya perlu menunggu sampai waktu itu tiba dan aku akan menceraikanmu.”             “Kamu pikir bisa menceraikanku? Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Erica.”             Aku menatapnya tajam. Dia pria teregois yang pernah aku temui. Dan kini dia menajdi suamiku. Ya, aku memang mengaggumi visual Al tapi mengaggumi visual seseorang bukan berarti membuatmu jatuh cinta padanya kan?             “Kita lihat saja nanti, Al.” Aku melipat kedua tanganku di atas perut.             “Kita lihat saja nanti sampai kapan kamu menghindariku.” Dia tersenyum menyebalkan.             Aku berniat keluar dari kamar namun Al mencegahku. Dia menarik pergelangan tanganku dan memelukku dari arah belakang. Ada desiran halus yang mengaliri setiap tubuhku saat dia memelukku.             “Aku suka aromamu, Erica. Tetaplah di sini sampai aku melepaskan sendiri pelukanku.”             Bau wine menyerbu indera penciumanku. Aku merasakan tangannya yang membelai perutku lembut dan hangat kemudian belaian itu mengarah ke bagian dadaku aku segera menyingkirkan tangan nakal Al. Gerakan tangannya makin agresif saat aku mencoba melepaskan pelukannya. Dia mencium sebelah pipiku dengan rakus, aku masih berusaha memberontak.             Aku rasa Al mulai kehilangan kendali. Dia sedang mabuk.             “Al, lepaskan aku.” Aku masih memberontak mencoba melepaskan pelukannya dan gerakan bibirnya yang makin mengarah ke leherku.             Tidak ada sahutan apa pun selain napasnya yang terdengar di telingaku.                         ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD