“Aku yakin aku sangat menarik bagi siapa pun.” Kata Cassandra pada Deemi. Dia menyesap rokoknya dalam-dalam.
“Kamu sedang hamil kan, kenapa kamu merokok?” Deemi menatap Cassandra dengan kecurigaan yang sama persis seperti kecurigaan Al.
“Bayiku itu kuat. Dia akan seha-sehat saja, Deemi.” Cassandra tersenyum dan kembali menyesap rokoknya dalam-dalam.
“Ayo, kita periksa kandunganmu.”
Cassandra menoleh tajam pada Deemi. “Aku sudah memeriksanya sendiri. Aku akan kirim hasil USG nanti ke Al. Kamu tenang saj, Deemi. Jangan khawatirkan kehamilanku.”
“Aku tidak mengkhawatirkannya. Aku hanya memastikan.” Kata Deemi sebelum meninggalkan Cassandra.
Cassandra mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Aku akan buktikan kalau aku memang hamil dan mengandung anak dari Al. Dia akan menjadi salah satu pewaris tahta keluarga Herriot.” Cassandra tersenyum licik.
Dia meraih ponselnya dan menelpon salah satu putra Herriot. “Halo, Nick. Aku ingin bertemu denganmu siang ini bisa?”
***
Nick menyesap caffe lattenya.
“Seharusnya Al bertanggung jawab padaku kan? Tapi, dia membiarkan aku begitu saja. Dia—“ Cassandra berpura-pura menangis di depan Nick. “Uhuk-uhuk—“ dia meraih segelas air putih yang baru saja disajikan pramusaji.
“Kamu harus membantuku, Nick. Al harus bertanggung jawab.”
Nick hanya menatap Cassandra. “Aku tidak bisa membantu apa-apa. Al sudah dewasa dan dia tahu apa yang harus dilakukannya.”
“Ada keponakanmu di dalam sini,” Cassandra membelai perutnya.
Nick menatap perut rata Cassandra. “Kamu mau aku bagaimana? Bilang pada orang tuaku kalau Al sudah menghamilimu?!” Nick tidak akan mau mengambil resiko membuat papahnya kembali sakit.
“Aku ingin dia bertanggung jawab, itu saja.”
“Menikahimu dan menjadikanmu menantu orang tuaku?”
Cassndra terdiam. Lalu dia tersenyum. “Anak ini perlu diakui sebagai keturunan keluarga Herriot.”
Nick menggeleng. “Bicarakan kemauanmu pada Al.” Dia bangkit dan melesat pergi.
“Tidak kakaknya tidak adiknya sama saja.” gerutu Cassandra. “Tapi aku menyukai keduanya. Dan Al, bersiaplah untuk menjadi seorang ayah.”
***
“Nick dan Al tidak akan pernah akur sampai suatu hari salah satu diantara mereka menghilang.” Noura berkata santai pada Erica.
“Kenapa mereka saling membenci?” tanya Erica penasaran.
Noura ingat kejadian bertahun-tahun lamanya itu. bagaimana Al berubah menjadi seorang pendiam, murung, seperti orang yang mau mati beberapa bulan lamanya sebelum senyumnya kembali bersinar cerah. Noura ingat bahagianya Nick kala wanita yang dipujanya menerima cintanya. Wanita itu tetangga rumah mereka. Dan sekarang dia sudah mati membawa seluruh cintanya.
“Nick dan Al bersahabat dengan tetangga yang baru pindah dari Australia. Dia cantik, mungil dan baik. Sayangnya, dia mengalami kelumpuhan permanen yang membuatnya tidak bisa berjalan dan hanya duduk di kursi roda. Al salah persepsi saat Laura memberikan perhatia lebih padanya. Dia mengira Laura menyukainya seperti Al menyukai Laura. Nick menyatakan cintanya pada Laura dan Laura menerima cinta Nick.” Dia menatap Erica untuk melihat ekspresi tercengang wanita itu.
“Lalu?” tanya Erica mulai terbawa suasana mendebarkan.
“Al marah pada Nick dan pada Laura. Laura yang malang dan rapuh merasa bersalah pada Al. Kemudian dia memilih bunuh diri karena merasa sudah menyakiti Al.” Noura masih teringat pemakaman Laura yang membuat Al berhari-hari tak makan.
“Dari situ, Al sangat membenci Nick. Dan peristiwa itu terjadi setahun setelah aku menikah dengan Travis.”
Erica terdiam merasakan kepiluan yang dialami kedua kakak beradik itu.
“Hanya keajaiban yang akan membuat mereka kembali akur.” Noura melipat kedua tangannya di atas perut.
“Kenapa aku merasakan hal yang sama saat Nick dan Al bertengkar karenamu, Erica.”
“Eh?” Erica menoleh refleks.
“Kamu paham kan akan sikap yang Nick tujukan padamu?”
Erica membayangkan sikap Nick padanya. Pria itu memang cenderung peduli padanya. Apakah itu artinya Nick menyukainya? Asumsi Erica terlalu dini bisa saja Nick memang peduli pada setiap orang.
“Aku sarankan agar kamu dan Al tinggal di rumah sendiri.” kata Noura. “Jangan tinggal di sini bersama dengan Nick. Terkadang aku takut kejadian yang sama terulang lagi, Erica. Apalagi Nick tahu kalau kamu dan Al menikah karena perjodohan. Dan termasuk bisnis di dalamnya kan.”
Erica menatap kakak iparnya sambil menimbang-nimbang saran dari Noura.
Tunggu... apakah Erica yakin kalau tinggal terpisah dari Nick pernikahannya akan langgeng mengingat Cassandra yang sedang hamil?
***
Erica
Aku merasa Al dan Nick memang memiliki konflik lama dalam diri mereka. Mau bagaimanapun mereka itu kakak-adik kan, mereka tetap harus saling menyayangi. Seharusnya sih begitu. Mungkin Nick masih ingin memperbaiki hubungan dengan Al, tapi sepertinya Al tidak menginginkan itu. Al ingin benar-benar memutus tali persaudaraan di antara mereka dan itu terlihat jelas dari mata gelap Al.
Aku melihat-lihat album poto masa kecil Travis, Nick, dan Al. Di poto ini mereka sangat akrab. Saling tertawa dan saling memeluk. Saat kakak dan adik sudah mulai dewasa mereka berubah. Tapi, bukan berarti tak ada lagi rasa sayang di antara Nick dan Al. Aku yakin mereka masih menyayangi satu sama lain. Tapi kehilangan seseorang yang sangat dicintai sangatlah menyakitkan. Al hanya belum bisa menerima kalau Laura mencintai Nick bukan dirinya.
“Erica,” Noura membuyarkan lamunanku tentang masa kecil Al dan Nick. “Aku harus pergi sekarang. Ada keperluan mendesak. Kalau nanti Travis pulang dan menanyakanku, bilang saja aku keluar.”
Aku mengangguk. Aku kembali memusatkan pikiranku pada gambar pria berlesung pipi. Ya, Nick punya bakat menjadi pria paling berkharisma di antara kedua putra Herriot lainnya. Dan Al, dengan segala pahatan sempurna wajahnya, membuat wanita tergila-gila padanya termasuk Cassandra. Desainer sinting itu!
Aku masih belum bisa memahami cara berpikir wanita itu. kenapa dia harus mengancamku? Harusnya dia datang kemari dan mengatakan kalau dia kekasih Al dan Al seharusnya menikah dengannya bukan denganku? Bukankah seharusnya begitu? Dan seharusnya juga dia mengatakan dirinya sedang mengandung anak Al. Lalu, yang akan terjadi nanti, Al bukan lagi anak kesayangan Mamahnya. Dia merusak citra keluarga Herriot. Aku yakin kehamilan Cassandra memberikan dampak yang sangat merugikan bagi bisnis keluarga Herriot.
“Jangan suka melamun seperti itu.” aku mendongak, melihat Nick yang tersenyum. Dia duduk di sampingku.
“Kamu tidak ke kantor?” tanyaku waswas. Kalau Al juga datang ini akan menjadi masalah lagi di antara kami.
“Aku baru pulang.” Nick melipat lengan kemejanya.
Dia menatapku dengan cara yang berbeda dari cara pria lain yang menatapku. Aku... menyukai caranya menatapku. Astaga!
Aku mengerjap-ngerjapkan mata.
“Kamu kenapa, Erica?”
“Tidak. Aku rasa aku kelilipan.” Aku belum berani menatap mata Nick yang menakjubkan itu. Jangan biarkan aku jatuh hati pada pria ini ya Tuhan.
“Kamu sedang melihat album poto masa kecil kami?”
“Ya, Noura memberikannya padaku.”
Nick tersenyum kecil. “Aku masih ingat saat kami semua menikmati cokelat pemberian Mamah. Mulut kami penuh dengan cokelat dan Papah memotret kami.”
“Kalian terlihat sangat akur.” Komentarku.
Nick menatap potonya dengan sendu. “Aku bersalah pada Al. Dan sekarang aku kembali membuatnya membenciku. Aku yakin dia sudah sangat membenciku—“ Nick menolehku lalu tersadar akan gumamannya sendiri.
“Apa kamu pernah minta ma’af pada Al?” Aku tidak menanyakan masalah apa yang terjadi karena aku pun sudah tahu tentang permasalahan mereka.
Sebelumnya Bibi Ella memberikanku teka-teki tentang permasalahan yang menimpa Nick dan Al sampai Noura yang memberitahukannya padaku. Setidaknya, aku tahu alasan mereka berkonflik dan saling membenci.
“Tidak. Dia bahkan selalu menghindar setiap kali aku ingin menyelesaikan permasalahan kami. Itu sudah sangat lama, Erica.” Nick tersenyum tegar.
Sebagai kakak aku tahu dia pun terluka dengan apa yang dilakukan Al padanya. Mungkin kalau Nick tahu Al mencintai Laura, Nick tidak akan menyatakan perasaannya pada Luara.
“Kalau Al memperlakukanmu dengan buruk, katakanlah padaku, Erica. Aku akan memberi anak itu pelajaran.”