Matahari musim semi menembus kanopi Hutan Aethelvera, menciptakan mozaik cahaya keemasan yang menari-nari di permukaan tanah. Udara beraroma humus, bunga liar, dan kehidupan yang tumbuh dengan subur. Di sebuah telaga kecil yang jernih, di mana cahaya terpantul sempurna, Hana tengah berlutut. Rambut perak panjangnya dikepang longgar di samping, menyentuh lumut zamrud yang menutupi batu.
Dengan gerakan penuh kasih, jari-jari ramping Hana menyentuh kelopak bunga 𝘮𝘰𝘰𝘯𝘣𝘭𝘰𝘴𝘴𝘰𝘮 yang hampir layu. Senandung rendah, nyaris berupa bisikan, keluar dari bibirnya. Energi hijau pucat, hangat dan berdenyut, mengalir dari ujung jemari Hana, menyelimuti tanaman itu. Kelopak yang layu perlahan menguat kembali, memancarkan cahaya mutiara sesaat sebelum kembali berdiri tegak.
Senyuman kecil mengembang di wajah Hana.
“Sekarang, istirahatlah,” lirihnya pada pohon raksasa di dekatnya—pohon yang akarnya membentuk lekukan sempurna untuk duduk di sana.
Hana mengusap kulit pohon yang bertekstur, merasakan getaran kehidupan yang tenang dan kuat di dalamnya. Ini adalah rutinitasnya. Menjaga, menyembuhkan, mendengarkan. Setiap hari dimulai dengan menyapa hutan, memastikan keseimbangan tetap terjaga.
Dia berjalan menyusuri jalur yang hanya diketahui oleh penghuni hutan. Keranjang anyaman rotan tergantung di sebelah lengan. Netra hijau seperti daun muda yang baru tumbuh, dengan cekatan memindai sekitar. Di sela-sela akar, dia memetik 𝘴𝘪𝘭𝘷𝘦𝘳𝘭𝘦𝘢𝘧 untuk penurun demam. Di bawah batu berlumut, dia mengumpulkan 𝘴𝘵𝘢𝘳𝘳𝘰𝘰𝘵 yang bagus untuk menyembuhkan luka.
“Hana! Ada yang butuh bantuanmu!”
Suara itu berasal dari semak belukar. Seekor rubah berekor perak terhuyung-huyung keluar. Kaki depannya terkulai.
“Oh, Kael,” seru Hana terkejut. “Terjebak perangkap manusia lagi?”
Hana membelai kepala rubah itu, menenangkan, sementara tangan yang lain sudah menyiapkan beberapa 𝘴𝘵𝘢𝘳𝘳𝘰𝘰𝘵 dan getah pohon penyembuh dari botol kecil di ikat pinggangnya. Perlahan, dia membersihkan luka, mengoleskan getah, dan membalutnya dengan daun. Energi hijau kembali memancar, mempercepat penyembuhan alami. Rubah itu menjilat punggung tangan Hana; berterima kasih, sebelum melesat kembali ke dalam hutan.
Setelah mengisi keranjang, Hana menuju ke pondok kecil yang tersembunyi di balik tirai tanaman merambat berbunga. Dia mulai mengolah ramuan. Lesung dan alu berirama dengan suara yang menenangkan. Wajah Hana damai, penuh konsentrasi karena inilah dunianya—memiliki harmoni dan tujuan.
“Busuk! Aroma ramuanmu selalu membuat hidungku gatal!”
Hana tak terkejut. Dia tak perlu menengok untuk tahu siapa yang datang. “Kalau kau tak suka, Sean, kau bisa saja tetap dalam wujud serigala dan pergi berburu tikus besar. Bukankah itu lebih menyenangkan?”
Pria yang muncul dari bayangan pohon itu tinggi besar, berotot, dengan rambut cokelat berantakan dan mata kuning keemasan yang selalu berbinar dengan kenakalan. Sean, sang werewolf. Dia mengenakan pakaian dari kulit dan kain kasar, mencerminkan sifatnya yang serampangan.
“Tikus? Ah, hari ini seleraku lebih tinggi. Aku mengincar kue berry panggangmu,” goda Sean, mendekat dan mengendus-ngendus udara di dekat meja kayu Hana.
Hana mendesah dramatis, tapi matanya berbinar. “Siapa bilang ada kue? Aku sibuk membuat ramuan untuk anak beruang yang cakarnya terinfeksi.”
Sean menyandar di ambang pintu, melipat lengan. “Selalu sibuk dengan pasien. Kapan terakhir kali kau duduk dan hanya menikmati bulan purnama, Han?”
“Beberapa malam lalu,” jawab Hana tanpa ragu, menumbuk beberapa akar dengan tekun. “Saat aku menyambut sinarnya untuk memberkati ladang jamur.”
Sean menggeleng-geleng. “Elf. Kalian terlalu serius. Dunia tidak akan kiamat jika kau berhenti sebentar.”
“Mungkin tidak, tapi tanaman 𝘸𝘩𝘪𝘴𝘱𝘦𝘳𝘮𝘰𝘴𝘴 di tebing Utara bisa layu jika aku lupa menyiramnya,” balas Hana, tersenyum. “Lalu, kupu-kupu kristal di sana akan kehilangan rumah. Itu penting, Sean.”
“Baiklah, sang Penjaga,” Sean menyerah, tapi senyumannya menjadi lebih hangat. “Ada yang perlu aku bantu? Perutku kenyang setelah makan kelinci tadi. Sekarang butuh kegiatan.”
Hana berpikir sejenak. “Kalau kau tidak keberatan ... ada beberapa bunga 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵𝘴𝘩𝘢𝘥𝘦 biru yang mekar hanya di gua dekat air terjun Barat. Aku butuh kelopaknya untuk ramuan penenang. Kau tahu, yang bisa menenangkan hewan yang ketakutan.”
Sean mengangguk. Sikap semena-menanya hilang sejenak. “Gua di balik air terjun. Nanti malam aku cari, saat bulan sudah tinggi. Bunga 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵𝘴𝘩𝘢𝘥𝘦 lebih kuat di bawah cahaya bulan langsung, 'kan?”
Hana terkejut dan tersentuh. “Kau ingat.”
“I—itu hal biasa bagi Werewolf hebat sepertiku,” Sean menggerutu sambil mengusap hidung. “Aku pergi dulu. Ada bau manusia tua di perbatasan Timur. Ingin aku usir sebelum mereka berani masuk lebih dalam.” Dia berbalik, tapi sebelum pergi, dia menatap Hana. “Jangan bekerja terlalu keras. Hutan punya caranya sendiri untuk bertahan.”
“Aku tahu. Terima kasih, Sean.”
Dengan anggukan cepat, Sean melompat ke semak-semak dan dalam sekejap, bayangan serigala abu-abu besar yang gesit melesat pergi, menghilang di antara pepohonan.
Hening kembali, hanya diselingi kicau burung dan gemerisik daun. Perasaan hangat mengisi d**a Hana. Persahabatannya dengan Sean, dengan semua penghuni hutan, adalah bagian dari harmoni itu. Dia merasa senang.
Senyuman masih mengembang di bibirnya ketika tiba-tiba, suara itu pecah.
Kuda.
Dan, bukan kuda hutan biasa. Ringkikan tinggi, panik, berasal dari kedalaman hutan yang seharusnya bebas dari manusia.
Hana membeku. Lesung dan alu berhenti. Manusia jarang masuk sejauh ini, dan kuda yang panik berarti ada masalah—entah kuda itu kabur dari pemiliknya, atau pemiliknya sedang dalam bahaya.
Dia meletakkan segala sesuatu ketika naluri penjaganya mengambil alih. Tanpa pikir panjang, dia mengambil jubah dan sebuah tongkat kayu berukiran tanaman indah yang selalu menyertainya, lalu melesat keluar pondok.
Hana bergerak cepat dan senyap di antara pohon-pohon, mengikuti sisa-sisa suara ringkikan dan derap kaki yang tergesa-gesa. Kecemasan itu membayangi langkahnya.
Sampailah dia di tepi sebuah padang rumput kecil yang dibelah sungai dangkal. Dan di sana, pemandangan itu menyergapnya.
Sekelompok serigala hutan—bukan werewolf, tapi hewan buas biasa—tampak sedang mengepung seekor kuda putih yang masih mengenakan pelana mewah, terperosok di lumpur. Sementara, di depan kuda itu, dengan pedang terhunus dan tegap, berdiri seorang pria.
Pria itu berpakaian manusia yang kusut dan berlumpur. Rambut pirangnya tertiup angin. Dia pucat, penuh keringat dan kotoran, tapi matanya—biru seperti danau di pagi hari—terkesan tenang, meski bahaya tengah mengancam. Dia melangkah, waspada dan penuh perhitungan, menjaga serigala-serigala yang mengendap mendekat dari segala arah.
Napas Hana tertahan. Manusia. Di jantung hutan.
Dia tidak punya waktu untuk berpikir. Penjaga harus bertindak.
Tongkat kayu diangkat kemudian melodi kuat dan penuh wibawa mengudara. Bukan dalam bahasa manusia, tetapi dalam bahasa kuno yang tidak semua ras paham. Cahaya hijau memancar dari ujung tongkat, menjalar ke tanah di antara pria itu dan serigala-serigala.
Serigala-serigala itu melompat mundur, melolong ketakutan, merasakan kekuatan yang lebih besar dari alam. Mereka memandang Hana sekali, lalu berbalik dan lari menghilang ke dalam hutan.
Pria itu terengah-engah, bersandar pada kudanya yang meringkik lemah. Matanya yang berkilauan biru kini tertuju padanya, penuh dengan keheranan yang tak terbendung, terpesona, dan—Hana bisa melihatnya—rasa syukur yang luar biasa.
Di sanalah, di bawah cahaya matahari sore yang menyemburat jingga melalui daun-daun, dengan napas yang masih tersengal dan dunia yang sunyi, pertemuan itu terjadi.