Udara masih bergetar dengan energi yang baru saja Hana lepaskan. Lolongan serigala yang menjauh perlahan menghilang, digantikan oleh desahan napas berat pria itu dan ringkikan lemah kudanya. Keheningan yang menyusul terasa padat, berisi detak jantung Hana yang berdebar kencang dan tatapan biru yang penuh selidik dari seberang padang rumput.
Hana berdiri kaku. Tongkat kayu masih terangkat setengah. Dia belum pernah berinteraksi dengan manusia—bukan dengan cara seperti ini. Biasanya, dia mengamati dari balik pepohonan saat mereka tersesat di pinggiran hutan, atau mengusir mereka dengan ilusi dan suara angin saat mereka mencoba masuk lebih dalam. Berbicara? Menghadapi tatapan langsung mereka? Itu hal yang sama sekali berbeda.
Pria itu adalah yang pertama bergerak. Dengan hati-hati, dia menurunkan pedang, menghunjam ke tanah lumpur sebagai penopang. “Terima kasih,” ucapnya tenang. “Kau telah menyelamatkan kami. Aku William. William Alistair Grimshaw.”
Hana mengangguk sembari menyisipkan nama barusan ke dalam ingatan, tetapi lidahnya seakan kelu. Dia melihat ke arah kuda putih tadi. Binatang itu masih gemetar, kaki depan terangkat, jelas terkilir atau bahkan patah. Mata kuda yang besar dan gelap penuh dengan rasa sakit dan ketakutan.
“Kudamu,” Hana memulai ragu-ragu. “Dia terluka.”
Tanpa menunggu jawaban, Hana melangkah mendekat. William mengawasi dengan penuh perhatian, tetapi tidak menghalangi. Dia mengikuti setiap gerakan Hana, penuh keingintahuan yang tak disembunyikan.
Hana berlutut di samping kuda itu, membelai lehernya yang berkeringat, berbicara dengan suara rendah dan menenangkan dalam bahasa hutan yang universal bagi makhluk berjiwa. Kuda itu merendahkan kepala, seolah mengenali kebaikan dalam nada suara Hana. Dengan lembut, tangan Hana meraba kaki yang terluka. Terkilir, untungnya tidak patah. Tapi bengkak dan energi kehidupan di area itu terasa kacau, terperangkap dalam pusaran rasa sakit.
Dia tidak membawa ramuan khusus untuk hewan sebesar ini. Tapi sebagai Penjaga, kekuatannya adalah ramuan itu sendiri. Menutup mata, Hana menempelkan kedua tangan di sekitar pergelangan kaki kuda yang bengkak. Kulitnya hangat dan berdenyut tidak beraturan. Hana menarik napas dalam-dalam, menyelaraskan dirinya dengan denyut jantung bumi di bawahnya, dengan aliran getah kehidupan di pepohonan di sekelilingnya.
Energi hijau pucat yang sama seperti tadi, tapi kali ini lebih halus dan terkonsentrasi, memancar dari telapak tangannya. Dia tidak menyembuhkan secara instan—itu akan menghabiskan energi dan mengejutkan jiwa kuda itu. Alih-alih, Hana menyalurkan energi penenang, mengurai simpul-simpul rasa sakit, mendorong peredaran darah yang sehat, dan mempercepat proses alami penyembuhan tubuh kuda. Dia bisa merasakan energinya sendiri terkuras, seperti aliran sungai yang dialihkan, tapi itu adalah pengorbanan yang dia lakukan tanpa pikir panjang.
Setelah beberapa saat yang terasa lama, bengkak di kaki kuda itu perlahan mulai mereda. Kuda itu mengeluarkan desahan panjang, memijakkan kaki dengan hati-hati ke tanah. Masih lemas, tapi sudah tidak lagi menanggung beban rasa sakit yang tajam.
Hana menarik napas lega dan berdiri, sedikit pusing. Dia menyembunyikan kelelahan itu, menoleh kepada William yang telah mengikis jarak.
“Dia bisa berjalan sekarang, tapi perlahan,” kata Hana, menghindari tatapan William. “Jangan bebani dia.”
Kekaguman di mata William kini bercampur dengan sesuatu yang lain—ketakjuban yang mendalam. “Kau ... menyembuhkannya?”
Hana menggeleng. Rambut peraknya berkilauan di bawah cahaya sore. “Aku hanya membantunya menyembuhkan dirinya sendiri.” Akhirnya, dia memberanikan diri menatap William. “Apa yang kau lakukan di sini? Ini adalah jantung Hutan Aethelvera. Berbahaya bagi manusia.”
William menghela napas, mengusap wajah yang kusut. “Aku tersesat. Dikejar oleh ... ah, itu tidak penting. Kuda yang aku tunggangi panik dan membawaku jauh ke dalam. Aku berusaha mencari jalan keluar ketika serigala-serigala itu mengepung kami.” Dia membungkuk sedikit, gestur formal yang terasa aneh di tengah hutan. “Bolehkah aku mengetahui namamu, jika kau berkenan?”
“Hana,” jawabnya pendek. Memberi nama pada manusia terasa seperti memberi mereka sesuatu yang sangat pribadi. “Hana saja.”
“Hana,” William mengulang, seperti meresapi setiap suku kata yang membuat d**a Hana berdebar tanpa alasan. “Nama yang indah. Seperti pemiliknya.”
Panas merona di pipi Hana. Elf tidak biasa dengan pujian langsung seperti ini. Mereka memuji melalui tindakan, melalui penjagaan terhadap alam. Dia salah tingkah. Tangannya meraih ujung kepangan rambut peraknya.
“Kau ... kau harus pergi,” ucap Hana, berusaha keras terdengar tegas. “Matahari akan segera terbenam. Hutan lebih berbahaya di malam hari, bahkan bagi...” Dia hampir mengatakan ‘bagi manusia sepertimu’, tetapi menghentikannya.
“Aku tahu,” kata William. Dia masih mengamati Hana, seakan mempelajari setiap detail wajahnya, dari alis yang halus hingga bibir yang berkerut karena kekhawatiran. “Hanya saja, aku tidak tahu mana arah yang benar. Bisakah kau menunjukkan jalan? Aku berjanji tidak akan menyusahkan lagi setelah itu.”
Hana menggigit bibir. Aturan tak tertulis sebagai Penjaga adalah menjaga jarak, tidak terlibat. Tapi dia sudah terlibat. Dan, membiarkan mereka tersesat lebih dalam hanya akan mengundang lebih banyak bahaya, mengganggu keseimbangan. Selain itu, ada sesuatu tentang ketenangan William, tentang cara dia berdiri meski kelelahan dan terluka, yang membuat Hana sulit menolak.
“Baiklah.” Akhirnya dia menghela napas. “Aku akan menuntunmu ke tepian Timur. Itu jalan terdekat menuju pemukiman manusia—maksudku, kalian.”
Rasa lega yang tulus terpatri pada wajah William. “Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikan ini.”
Mereka pun memulai perjalanan. Hana berjalan di depan, bergerak lincah di antara akar dan semak, menunjukkan jalur yang paling mudah untuk kuda yang masih pincang. William mengikuti dari belakang, menuntun kudanya dengan sabar. Keheningan kembali turun, tetapi kali ini berbeda. Terisi oleh suara langkah mereka, ringkikan kuda yang sesekali, dan oleh kehadiran satu sama lain yang terasa begitu nyata.
Hana sangat sadar akan tatapan di punggungnya. Dia bisa merasakan sorotan mata biru itu, mengamatinya. Itu membuatnya gugup. Dia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini. Sean memandangnya sebagai sahabat, penghuni hutan yang lain memandangnya sebagai penjaga. Tapi William memandangnya sebagai—dia tidak tahu. Sesuatu yang asing. Sesuatu yang sulit dijelaskan.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka mendekati sebuah sungai kecil yang airnya jernih. Jalan di seberangnya lebih terbuka, sebuah padang rumput yang membentang menuju tepi hutan yang sudah terlihat samar-samar.
“Kita hampir sampai,” ucap Hana, menunjuk ke arah cahaya yang lebih terang di kejauhan. “Sebentar lagi kita akan—”
Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Dengan gerakan yang cepat dan terlatih, tiba-tiba William meraih pinggang ramping Hana. Dunia berputar. Teriakan tercekik keluar dari bibir Hana saat dia diangkat dengan mudah dan diletakkan di atas pelana kuda. Sebelum dia bisa protes atau bahkan menarik napas, William sudah melompat dan duduk di belakangnya. Tubuhnya yang tegap dan hangat membungkusnya dengan erat.
“Apa yang kau lakukan?!” tanya Hana. Suaranya meninggi karena terkejut dan bingung.
“Menghemat waktu,” jawab William di dekat telinganya. Terselip tawa pelan yang membuat Hana bungkam. “Dan, tenaga. Tahan.”
Dia tidak memberi Hana pilihan. Dengan satu tangan meraih tali kekang dan yang lainnya melingkari pinggang Hana untuk menahan keseimbangannya, William mulai memacu kudanya. Kuda itu, seolah mendapatkan kembali semangatnya, mendengus dan melangkah cepat, lalu mulai berlari kecil menyusuri padang rumput.
Angin menerpa wajah Hana, menerbangkan helaian rambut yang terlepas dari kepangan. Dia terpaksa harus memegang pelana erat-erat. Panas dari tubuh William di belakangnya terasa seperti bara, menembus kain tipis tuniknya. Detak jantungnya—atau mungkin jantung William—berdebar kencang di punggungnya. Ini sangat intim. Sangat asing.
“Hana, tunjukkan jalannya,” pinta William.
Hana, dengan pikiran yang berkecamuk, hanya bisa menunjuk ke arah celah di antara dua pohon raksasa di ujung padang rumput. Itu adalah pintu keluar. Kuda itu berpacu lebih kencang, mengikuti petunjuknya.
Perjalanan ini singkat, tetapi Hana seperti terjebak di antara rasa pelanggaran atas ruang pribadi dan pengakuan aneh bahwa ini adalah cara tercepat—dan mungkin paling aman—untuk membawa William keluar. Dia juga merasakan, dari ketegangan di tubuh William, bahwa ada sesuatu yang dia hindari, sesuatu yang membuatnya ingin cepat-cepat pergi.
Akhirnya, mereka menerobos garis pepohonan terakhir. Cahaya matahari sore yang hangat dan terbuka menyambut mereka, berbeda dengan cahaya tersaring di dalam hutan. Di depan terbentang padang rumput luas yang berakhir di sebuah jalan tanah.
Pemukiman.
William segera menarik kekang, memperlambat kuda menjadi berjalan, lalu berhenti. Untuk sesaat, mereka hanya duduk di sana, di atas kuda, dengan napas yang masih tersengal-sengal—Hana karena kejutan dan William karena usaha.
Kemudian, sangat hati-hati, William melonggarkan dekapan dan turun dari kuda. Dia mengulurkan tangan untuk membantu, sementara Hana menatap tangan itu—tangan yang kuat, terdapat bekas luka, tapi terlihat terhormat. Dia menolak bantuan William, meluncur turun dengan anggun, meski hatinya masih berdebar kencang.
Mereka sekarang berdiri berhadapan, di perbatasan antara dua dunia. Di belakang Hana adalah hutan yang bergemerisik dan penuh rahasia. Sedangkan, di belakang William adalah jalan menuju kerajaan manusia.
William memandangi Hana dengan intensitas yang membuatnya ingin mundur.
“Hana,” ucapnya, lebih lembut. “Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua yang telah kau lakukan hari ini.”
Hana menggeleng kemudian menatap tanah. “Jangan kembali ke hutan. Itu sudah cukup.”
Dia mendengar William menarik napas, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi dia mengurungkannya. “Aku berjanji.” William berbalik pada kudanya, memeriksa kakinya sekali lagi, lalu kembali menatap Hana. Ada keteduhan di sana, keinginan untuk memahami sesuatu yang tidak bisa dijangkaunya. “Bisakah aku bertemu denganmu lagi?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Hana membeku. Bertemu lagi? Itu bukan bagian dari harmoni. Itu adalah pintu menuju komplikasi, menuju keterikatan yang bisa mengganggu kewajiban sebagai Penjaga Alam.
“Ini adalah perpisahan kita, William,” jawab Hana. “Jagalah dirimu.”
William mengangguk pelan, seakan sudah mengantisipasi jawaban itu. Namun, senyuman kecil yang sedih mengembang di bibirnya. “Maka, biarkan menjadi yang terakhir ... untuk hari ini. Terima kasih, Hana.”
Perkataan William menimbulkan kerutan samar pada dahi Hana, tetapi pria itu sudah membungkuk perlahan, lebih dalam, kemudian dengan langkah pasti, dia membalikkan badan. William menarik tali kekang kuda dan mulai berjalan menyusuri jalan setapak.
Dia tidak menoleh lagi.
Hana berdiri di sana, di tepi rimba, menyaksikan sosoknya yang semakin mengecil diterpa cahaya jingga senja. Udara yang tadinya hangat oleh kehadirannya kini terasa dingin. Keranjang ramuannya masih tertinggal di pondok. Sean akan mencari 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵𝘴𝘩𝘢𝘥𝘦 untuknya. Malam ini.
Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang telah bergeser. Melodi asing telah masuk ke dalam simfoni tenangnya dan meski dia telah pergi, gema dari melodi itu—dari suara yang dalam, dari tatapan biru yang penuh rasa syukur, dari sensasi kuatnya lengan yang melingkari pinggangnya—masih bergetar pelan, mengusik kedamaian yang selama ini dia kenal.
“Menjadi yang terakhir, ya?”