Lolongan Tengah Malam.

1091 Words
Hana duduk di ambang pondok, menatap purnama yang menggantung seperti mutiara. Langit berkelap-kelip dan desiran angin sesekali membelai wajah jelita yang sedang menengadah. Tepat tengah malam, dedaunan berderak menyatakan kedatangan. Bukan suara menyelinap, tapi langkah-langkah percaya diri yang tak peduli siapa yang akan mendengar. “Hana, lihat apa yang aku dapat!" Sean berseru riang, memecah kesunyian. Dia muncul dari balik pepohonan, menjulang, disinari cahaya bulan sehingga bayangannya memanjang seperti raksasa. Tangan Sean yang besar memegang sekumpulan bunga 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵𝘴𝘩𝘢𝘥𝘦—kelopak ungu tua yang hampir hitam, dengan bagian dalam berwarna kuning pucat yang beracun. Dia menggenggam secara serampangan seakan itu hanya rumput liar, bukan salah satu bahan ramuan paling berbahaya dan berharga. “Kau terlambat,” sambut Hana, berusaha tersenyum. Tapi senyuman itu membeku di bibir saat dia melihat lebih dekat. Di lengan kanan Sean, dari pergelangan hingga ke siku, terbentang luka memanjang yang dalam. Kulit yang biasa sempurna sekarang terbuka, mengeluarkan aroma darah segar dan daging yang tersayat. Luka itu tidak sembuh dengan kecepatan normal seorang Werewolf. “Sean!” Hana melompat dari ambang pintu kemudian mendekat terburu-buru. “Lenganmu!” Sean hanya tertawa pendek dan angkuh. “Ah, ini? Cuma cakaran. Tidak apa-apa.” “Tidak apa-apa?” Hana sudah menarik lengan Sean, memaksa untuk duduk di bangku kayu di luar pondok. “Kau tahu ini bukan 'cuma cakaran'. Ini dari senjata besi, dan lukanya tidak menutup. Apa yang terjadi?” Sean menggeram, tapi tidak melawan saat Hana mulai memeriksa luka tadi. Dia membiarkan Hana menariknya lagi, masuk ke dalam pondok, di bawah cahaya lampu kristal kehijauan yang menggantung di langit-langit. Di dalam, aroma kering herbal bercampur dengan darah segar. “Sekelompok Orc keras kepala dari perbukitan Timur.” Akhirnya Sean mengaku. Mata kuning-keemasan itu berkilat, menyiratkan amarah yang tertahan. “Mereka mencoba masuk ke wilayah perburuan rusa. Aku memberi mereka peringatan lalu mereka menjawab dengan ayunan kapak.” Hana menggeleng. Dia mengambil wadah air bersih dan seikat lumut penyembuh. “Kau melawan mereka sendirian? Kau tahu mereka berkelompok, Sean. Kau harus lebih berhati-hati.” “Berhati-hati?” Sean mendongkak. Sepasang taring yang runcing terlihat. “Aku adalah penjaga perbatasan Timur, Hana. Tugasku adalah menjaga. Dan, aku tidak butuh bantuan siapa-siapa.” Namun, ketika Hana mulai membersihkan luka, mengoleskan ramuan herbal pada permukaan kulit, sikap keras kepala Sean perlahan mencair. Rahang yang tegang mengendur. Dia mengamati Hana. Begitu fokus. Begitu tenang dengan jemari ramping yang bergerak terampil. Kemudian, senandung pelan mengudara di antara mereka. Bibir Hana setengah terbuka, mengalunkan sebuah mantra penyembuhan. “Kau terlalu berharga untuk mengambil risiko seperti ini,” lirih Hana, tanpa mengangkat pandangan. “Apa jadinya jika luka ini terinfeksi oleh racun besi Orc? Jika mereka berhasil—” “Diamlah, Penjaga,” gerutu Sean lalu tertawa. “Aku di sini, tidak mati. Dan, aku membawakan bunga-bunganmu.” Dia menunjuk ke 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵𝘴𝘩𝘢𝘥𝘦 yang diletakkan di atas meja dengan gerakan kepala. Hana menutupi luka Sean oleh daun lebar yang diikat rapi di sepanjang jejak sayatan. “Selesai, tapi jangan gunakan lengan ini untuk berkelahi. Setidaknya, selama dua hari. Biarkan ramuan dan darahmu bekerja.” Sean menggerakkan lengan yang dibalut, sekadar menguji. Dia mendengus, tapi kemudian mengangguk. “Baiklah. Untukmu, aku akan berperilaku baik.” Tiba-tiba, dia menatap Hana dengan intensitas yang berbeda. “Kau terlihat gelisah.” Hana menghindari kontak mata, berbalik untuk membereskan perlengkapan pengobatan. “Aku baik-baik saja, Sean. Hanya ... hari yang melelahkan.” Hening sejenak. Tak lama, Hana mendengar Sean bangkit dari kursi. Dia berpikir sahabatnya akan pergi, tetapi dia merasakan kehadiran Sean tepat di belakangnya. Terlalu dekat. “Aku mencium sesuatu.” Suara Sean menjadi rendah, hampir seperti geraman. Hana terkejut. “A—apa?” “Aroma.” Sean mendekat. Hidungnya yang sensitif mengendus udara di sekitar Hana. “Di tubuhmu.” “Itu mungkin dari ramuan-ramuan tadi, atau—” “Bukan!” tegas Sean. Matanya mulai bersinar lebih terang dalam cahaya yang redup. Taringnya meruncing, memanjang, tanda bahwa insting Werewolf-nya bangkit. “Ini aroma yang asing. Aroma manusia.” Hana berbalik lantas mencoba menenangkannya. “Sean, tunggu dan dengarkan aku—mmh!” Sudah terlambat. Insting penciuman Sean telah mengambil alih. Dengan gerakan cepat yang tak terbendung, dia mencengkeram pinggang Hana, menahannya di tempat. “Siapa dia?” geramnya. Lebih dalam, lebih kasar, dan seakan mendesak. “Sean, lepaskan!” Hana memundurkan tungkai, berusaha menciptakan jarak lalu menarik diri, tapi lengan Sean yang kekar tak membiarkannya bergerak barang satu inchi pun. Werewolf itu tidak mendengarkan. Dia menunduk, mendekatkan hidung ke leher Hana, mengendus serta menghirup dalam-dalam. Napas yang hangat dan bergeram membuat Hana terpejam sembari menenangkan debaran d**a yang semakin kencang. “Sedekat apa kalian?” Sean meraup semua rambut perak Hana menggunakan satu tangan, menjambak ke belakang hingga gadis itu meringis kesakitan. “Sean, aku mohon!" teriak Hana, benar-benar ketakutan. Dia belum pernah melihat Sean seperti ini—primal, tak terkendali, dipenuhi kemarahan yang mengakar. Alih-alih melepaskan, Sean justru meremas helaian rambut dalam genggaman di belakang punggung Hana, sementara lengan di pinggang mendekap bertambah erat. “Kau membiarkan manusia menyentuhmu?” tanya Sean, seolah mencemooh. “Kau selalu menjaga jarak, Hana. Dan, kau membiarkan aroma manusia itu menempel padamu?” Dia mengendus lagi, lebih tergesa, dan tiba-tiba seluruh tubuh Sean kaku. Dia menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar aroma—jejak energi, kenangan yang tertinggal. Lengan William yang melingkari pinggang Hana. Kehangatan tubuhnya. Kedekatan yang intim saat mereka berkuda. Sean mendongak. Untuk sesaat, pandangan Hana bertemu dengan netra werewolf yang penuh konflik; amarah, rasa sakit, kebingungan, dan yang paling kentara adalah ketakutan. Tanpa diduga, Sean melepaskan Hana begitu saja sehingga gadis itu hampir terjatuh. Dia mundur beberapa langkah, sampai punggungnya membentur dinding pondok. Napasnya tersengal-sengal. Iris kuning terang yang masih bersinar penuh dengan kengerian atas apa yang baru saja dilakukannya. “Hana,” bisik Sean serak, kembali seperti manusia. “Aku ... sungguh—” Hana masih berdiri di sana, gemetar, memegang leher di mana napas panas Sean tadi menerpa. Dia melihat ketakutan di mata sahabatnya—ketakutan terhadap dirinya sendiri. “Aku minta maaf,” lirih Sean tercekat, seperti pengakuan yang menyakitkan. “Tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu karena...” Dan, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Sean memandang Hana—gadis elf yang kini menatap dengan campuran rasa takut dan iba—kemudian berbalik. Dia melesat keluar dari pondok, menghilang ke dalam kegelapan hutan sebelum Hana bisa mengucapkan sepatah kata pun. Di atas meja, sekumpulan 𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵𝘴𝘩𝘢𝘥𝘦 yang dibawa Sean tergeletak. Kelopak-kelopak ungu tampak hampir hitam dalam cahaya bulan yang menyusup dari jendela. Dari kejauhan, lolongan Werewolf menyobek kesunyian malam—menguasai hutan yang membalas dengan kebisuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD