Bertemu Kembali.

1280 Words
Kabut masih menggantung rendah di antara batang-batang pohon Aethelvera, menyelimuti hutan dalam kesunyian. Hana telah meninggalkan pondok sejak fajar menyingsing. Energinya, yang biasa dirahasiakan seperti mutiara di dasar lautan, kini dengan sengaja dipancarkan ke sekeliling. Getaran halus, lembut dan terus-menerus, merambat melalui akar-akar pepohonan, menyusuri aliran sungai kecil, hingga menyentuh sarang-sarang di dahan menjulang. Selayak panggilan bagi yang terluka, sinyal bahwa Penjaga hadir untuk membantu. Sejak mentari masih terlelap, dia telah merawat sayap patah seekor burung hantu, menjahit luka di kaki rusa muda yang terperangkap duri, dan menetralkan racun pada anak rubah yang tak sengaja memasuki kawasan terlarang. Sentuhan penyembuhan memberi kelegaan kecil pada jiwa Hana yang gelisah, tetapi tidak cukup untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kepergian Sean. Sean. Nama itu bergema di benak seperti dentang lonceng peringatan. Sejak dia menghilang tadi malam, melesat ke dalam kegelapan dengan mata penuh kengerian terhadap dirinya sendiri, tak ada lagi jejak yang tertinggal. Hana telah memeriksa tempat-tempat biasa: tebing di mana mereka menyaksikan matahari terbenam, gua kecil di dekat air terjun tempat Sean sering beristirahat setelah berpatroli, bahkan batas wilayah perburuan rusa di perbukitan Timur. Tidak ada. Sean, sang Werewolf yang biasanya begitu besar kehadirannya, seolah menguap ditelan bayangan hutan. Kegelisahan Hana tumbuh secepat tanaman rambat. Apakah lukanya baik-baik saja? Apakah dia terlalu malu, atau terlalu marah, untuk kembali? Sambil mencelupkan jari ke dalam aliran sungai jernih untuk membersihkan sisa ramuan, Hana menutup mata, berusaha merasakan kehadiran Sean melalui ikatan persahabatan mereka yang lama. Tapi yang dia tangkap hanyalah keheningan hutan yang terdengar lebih dalam, seakan-akan Aethelvera sendiri tengah meredam sesuatu. Tiba-tiba, indra Hana yang tajam bergetar. Bukan binatang yang kesakitan, juga bukan energi primal Sean. Ini sesuatu yang lain; kehadiran yang asing, tapi tak sepenuhnya tidak dikenali. Kehadiran yang bergerak dengan sengaja, bahkan agak ceroboh, mengacaukan harmoni alam sekitarnya. Hana membeku. Jemarinya masih menyentuh air yang dingin. Dia berdiri perlahan, matanya—yang memancarkan cahaya kelabu dalam bayangan hutan—menerawang ke arah datangnya gangguan itu. Dia berharap itu adalah Sean, meski hatinya tahu bukan. Dari balik pepohonan yang lebat, sosok itu muncul. William. Hana menghela napas dalam-dalam, campuran rasa jengkel, khawatir, dan keheranan mendesak di d**a. Pria yang dia selamatkan kemarin berdiri di sana, berpakaian lebih santai dibanding pertemuan pertama. Dia mengenakan kemeja linen berwarna krem yang sedikit terbuka di leher, celana panjang dari bahan yang kokoh, dan sepatu boots tinggi yang terlihat nyaman untuk menjelajah. Pedang yang kemarin tergantung di pinggangnya kini tidak terlihat, tapi ada sebuah kantong kecil dan sebuah buku catatan yang diselipkan di sabuknya. Wajahnya tersenyum, ramah, seolah-olah dia hanya sedang berjalan-jalan di taman kerajaan, bukan di tengah hutan tak terjamah yang penuh dengan makhluk ajaib dan bahaya yang tak terlihat. “Hana,” sapa William hangat. Dia mengangkat tangan dan menempelkannya di d**a. “Senang bisa bertemu denganmu lagi.” “William,” balas Hana, mencoba menjaga suara tetap netral meski jantungnya berdebar lebih kencang. “Aku sudah memberitahumu. Hutan Aethelvera terlarang bagi manusia. Ini adalah tempat suci, dilindungi oleh perjanjian ‘kami’. Kehadiranmu ... berisiko. Bagi dirimu sendiri, dan bagi keseimbangan tempat ini.” William melangkah mendekat. Senyumannya tidak pudar. Cahaya matahari yang menembus kanopi hutan menyinari rambut pirangnya yang terurai. “Aku memahami kekhawatiranmu, tapi izinkan aku menjelaskan.” Dia menjabat kedua tangan di belakang punggung, mengambil pose yang percaya diri. “Kedudukanku sebagai ... seorang bangsawan dengan hak tertentu di wilayah kerajaan sekitarnya, memberiku kelonggaran. Perjanjian-perjanjian itu, bagaimanapun juga, masih harus melalui otoritas kerajaan. Dan, secara teknis, aku memiliki izin untuk berada di sini. Untuk studi, kau tahu. Botani, fauna, hal-hal seperti itu.” Hana mengerutkan kening. Alasan itu terdengar dipelintir, seperti mencoba memutarbalikkan hukum alam dengan kata-kata. “Kedudukanmu tidak mengubah fakta bahwa hutan ini mengenalmu sebagai penyusup. Energimu asing. Itu menarik perhatian ... makhluk-makhluk lain.” Pikirannya tertuju pada Sean dan bagaimana reaksinya jika mencium aroma William lagi hari ini. “Aku berjanji akan sangat berhati-hati,” ucap William, seolah tidak menangkap atau mengabaikan peringatan tersirat itu. Netranya, biru seperti danau di musim panas, memandang Hana dengan rasa ingin tahu yang tulus. “Sebenarnya, menemukanmu adalah keberuntungan. Kau mengenal tempat ini lebih baik dari siapa pun. Bisakah kau mengantarku berkeliling? Anggap saja ... tur kecil? Sungguh, aku ingin memahami keindahan Aethelvera dan siapa yang lebih baik sebagai pemandu, selain kau, bukan?” Dia mengulurkan tangan dengan sopan, sementara Hana memandangi wajah William. Mengusir secara paksa mungkin akan menimbulkan masalah, terutama jika klaim tentang ‘kedudukannya’ itu benar. Mungkin, dengan mengawasi langsung, dia bisa memastikan William tidak mengganggu apa pun, dan kemudian membujuknya untuk pergi dengan damai. Setidaknya, selama bersamanya, dia bisa mencegah William jika tanpa sengaja menyusup lebih jauh ke wilayah-wilayah yang lebih berbahaya—atau lebih dijaga. “Baiklah.” Akhirnya, Hana mengalah. “Aku akan mengantarmu melihat sebagian kecil dari hutan ini, tapi dengan satu syarat: setelah ini, kau harus pergi. Dan, kau berjanji tidak akan kembali tanpa izin yang sebenarnya, bukan sekadar ‘kedudukan’.” William tersenyum lebih lebar. Terselip kilauan kemenangan kecil di matanya. “Tentu. Setelah tur ini, aku akan pergi dengan patuh.” Tangannya masih menyambut Hana. Namun, Hana mengabaikan uluran itu dan berbalik, memulai langkah di jalur sempit. “Ikuti aku. Dan, jangan sentuh apa pun yang tidak kuizinkan.” Perjalanan mereka dimulai. Hana memimpin William melalui bagian hutan yang relatif aman, menunjukkan keajaiban-keajaiban kecil Aethelvera: kubangan air sejernih kristal, ladang jamur bioluminescent yang bersinar redup di siang hari, dan pohon Willow Purba yang dahan-dahannya bergerak sendiri, mengeluarkan melodi lembut. Dia menjelaskan dengan singkat, lebih fokus mengawasi lingkungan daripada menjadi pemandu yang antusias. William, di sisi lain, terpikat. Dia bertanya banyak, mencatat di buku kecilnya, dan memandang sekeliling dengan kekaguman yang tampak nyata. Dia bercerita tentang hidupnya di istana, tentang betapa membosankannya urusan politik, dan tentang ketertarikannya yang mendalam pada hal-hal ajaib yang selalu dianggap dongeng oleh orang-orang di tempatnya. “Kau tidak seperti bangsawan mana pun yang pernah kudengar,” komentar Hana, saat mereka berhenti di sebuah tebing kecil yang menghadap ke lembah hijau di bawah. “Kebanyakan dari mereka takut pada hutan atau hanya ingin mengeksploitasinya.” William berdiri di samping Hana, menatap pemandangan. “Mungkin aku berbeda. Bagiku, keajaiban itu nyata dan layak untuk dihargai, bukan ditakuti.” Ada kehangatan dalam ucapannya yang membuat Hana sedikit tidak nyaman. Dia mengalihkan pandangan. “Keajaiban bisa berbahaya, William. Keindahan ... sering kali adalah kamuflase.” Percakapan mereka berlanjut, lebih santai seiring waktu berjalan. Hana menemukan dirinya, meski dengan hati-hati, mulai menikmati pertukaran pikiran. William cerdas, penuh perhatian, dan tampaknya memiliki rasa hormat yang tulus. Untuk sesaat, kegelisahannya tentang Sean dan larangan hutan agak mereda. Hingga, perubahan itu datang. Mereka sedang berjalan menyusuri tepi sungai dan William sedang bercerita tentang sebuah buku kuno yang dia temukan di perpustakaan keluarganya. Tiba-tiba, suaranya terputus. Dia berhenti di tengah kalimat. Hana menoleh dan melihat wajah William yang mendadak kehilangan warna, berubah pucat seperti lilin. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Napasnya menjadi tersengal, pendek-pendek. “William?” Hana mendekat, kewaspadaannya kembali muncul dengan kuat. “Apa yang terjadi?” “Aku ... aku tidak tahu,” desis William serak. Tangannya mencengkeram d**a sebelah kiri, tepat di atas jantung. Sebelum Hana bisa bereaksi lebih jauh, kaki William tertekuk dan dia ambruk ke tanah, terjatuh dengan tubuh lemas di antara bebatuan sungai. Hana bergegas berlutut di sisinya. “William!” Hana langsung mengecek denyut nadi di lehernya. Detak jantungnya cepat dan tidak teratur, seperti burung yang terperangkap. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah energi yang sekarang terpancar dari tubuhnya—getaran gelap dan asing yang sebelumnya tersembunyi. Matanya yang tajam langsung tertuju pada tangan William. Dari balik sarung tangan kulit halus yang dikenakannya, memancarkan aura kehitaman yang samar, seperti asap racun. Tanpa pikir panjang, Hana meraih tangan William yang tergenggam itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD