“Apa ini?” tanya Hana seraya melepas sarung tangan itu perlahan.
Seketika, Hana terkesiap dengan napas tercekat.
Di pergelangan tangan kanan William, membelit seperti ular berbisa, terdapat bekas luka. Bukan luka sembarangan. Itu adalah tiga garis paralel yang dalam dan berjarak rapat, jelas-jelas bekas cakaran. Cakaran yang besar, kuat, dan liar. Cakaran serigala—atau sesuatu yang lebih besar.
Kulit di sekitarnya berwarna keunguan, pembuluh darah terlihat jelas dan berwarna hitam, menjalar dari tepi luka. Dan yang paling menyeramkan, dari luka itu memancar energi gelap yang Hana rasakan. Energi itu hidup, bergerak, seperti parasit yang menggerogoti dari dalam. Ini bukan infeksi biasa. Ini kutukan atau racun magis yang sangat kuat.
“Dari mana kau dapat luka ini?” tanya Hana, berusaha tetap tenang. Dia menyalurkan kekuatan penyembuh secara hati-hati karena beberapa energi bisa saling bertolak belakang.
William, dengan napas tersengal dan mata setengah tertutup, berucap lirih, “Malam ... sebelum kita bertemu. Di tepi hutan sebelah barat. Serigala besar dan hitam.”
Serigala hitam? Itu bukan deskripsi Sean, kalau-kalau sang Werewolf itu kehilangan kendali tanpa sepengetahuan Hana. Sean, dalam bentuk aslinya, berbulu abu-abu perak dengan mata kuning-emas. Ini adalah Werewolf lain atau sesuatu yang sangat berbeda dari dugaan semula.
Energi gelap itu semakin aktif, seakan-akan merasa terancam oleh kehadiran energi penyembuhan itu. Hana tidak punya waktu untuk bertanya lebih lanjut. Dia harus mengeluarkan energi jahat ini, sekarang, sebelum itu merenggut nyawa William atau menyebabkan kerusakan permanen.
“Tahan, William,” pinta Hana lirih.
Dia meletakkan kedua tangan di atas luka yang mengerikan itu. Hana memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, menyelaraskan diri dengan aliran kehidupan alam sekitarnya. Energi keperakan perlahan bangkit, memancar dari dalam d**a, mengalir melalui lengan, dan terkonsentrasi di telapak tangannya. Cahaya lembut, hangat, dan murni menyelimuti luka William.
Begitu energi penyembuhannya bersentuhan dengan energi gelap itu, desisan terdengar, seperti air yang dituangkan ke atas bara api. William menjerit kesakitan, mencoba menarik tangannya, tapi Hana memegang dengan kuat.
“Jangan melawan!” seru Hana.
Pertarungan terjadi di tingkat yang tak kasat mata. Energi gelap itu melawan, mencoba merambat ke tangan Hana, tetapi kemurnian dan kekuatan energinya sebagai Penjaga—warisan langka dari garis keturunan Elf-nya—bertahan. Hana mengalunkan mantra kuno, seperti gemerisik daun dan embusan angin, memanggil kekuatan pembersih dari inti Aethelvera sendiri.
Kabut berkumpul di sekitar mereka dan hewan-hewan hutan diam menyaksikan dari kejauhan. Akhirnya, dengan teriakan teredam dari William, gumpalan asap hitam pekat keluar dari lukanya, menguap di udara sebelum terdispersi oleh cahaya matahari yang menembus kanopi pepohonan. Warna keunguan di kulitnya memudar, meski bekas cakarannya tetap ada. Terlihat seperti luka lama yang sudah sembuh dan tidak lagi terinfeksi.
William terengah-engah. Tubuhnya lemas, tapi warna telah kembali ke wajahnya. Dia membuka mata, melihat Hana dengan campuran rasa sakit, kelegaan, dan rasa terima kasih yang tak terkira.
“Apa itu tadi?” bisiknya lemah.
Hana menarik tangan, merasa sedikit pusing karena mengeluarkan banyak energi. Dia memandang William lamat-lamat, penuh pertanyaan dan kekhawatiran yang lebih dalam.
“Energi gelap. Racun atau mungkin ... kutukan, yang melekat pada lukamu.” Hana menjawab sembari menatap tajam ke arah William. “William, yang menyerangmu bukan serigala biasa. Dan, lukamu bukan dari malam sebelum kita bertemu. Energi ini butuh waktu untuk berkembang. Kau sudah membawa ini selama beberapa hari, mungkin sejak saat diserang. Mengapa kau tidak memberitahuku?”
William menunduk, melihat bekas luka di pergelangan yang sekarang hanya berupa jaringan parut biasa. “Aku pikir itu hanya luka. Itu sakit, tapi aku mengira akan sembuh. Aku tidak tahu.” Dia terdiam sejenak lalu balas menatap Hana. “Kau menyelamatkanku. Lagi.”
“Jawab pertanyaanku,” desak Hana. “Di mana tepatnya serangan itu terjadi? Dan, seperti apa persisnya makhluk itu?”
William menggambarkan lokasi—sebuah daerah terpencil di perbatasan barat Aethelvera, dekat dengan pegunungan tandus. Dan, deskripsinya tentang ‘serigala’ itu semakin mengkhawatirkan Hana: ukurannya jauh lebih besar dari serigala biasa, berbulu hitam legam, dan menurut pengakuan William, mata serigala itu bersinar semerah darah. Perilakunya tidak seperti binatang buas yang lapar, tapi lebih terarah, lebih licik, seakan-akan sengaja menyerang dan melukai.
Hana berdiri, memandang ke arah barat, ke arah pegunungan. Pikirannya berputar-putar. Werewolf hitam dengan mata merah? Itu bukan ciri-ciri klan Werewolf lokal, yang dikenal karena bulu abu-abu atau coklat dan mata kuning atau hijau. Ini adalah penyusup. Ancaman baru. Dan, jika makhluk itu bisa melukai dengan kutukan atau racun magis seperti ini—
Koneksi yang mengerikan muncul di benak Hana. Serangan Orc pada Sean di perbatasan Timur. Apakah keduanya terkait? Apakah ada sesuatu—atau seseorang—yang menggerakkan kekuatan-kekuatan gelap di perbatasan Aethelvera, menguji pertahanannya dari dua sisi?
Dan, Sean, di mana dia sekarang? Apakah dia juga merasakan ancaman baru ini atau apakah kemarahan dan rasa malunya telah membuatnya lengah?
“Kau tidak bisa tinggal di sini,” kata Hana tiba-tiba. Dia berbalik, berhadapan langsung dengan William. “Dan, aku harus pergi. Ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang lebih besar dari yang kita duga.”
William berusaha berdiri, meski masih terhuyung-huyung. “Biarkan aku membantumu, Hana. Setelah apa yang baru saja kau lakukan untukku—”
“Tidak!” potong Hana tegas. “Ini bukan urusan manusia. Ini urusan hutan. Kau harus pergi. Sekarang. Ambil jalur yang kubimbing tadi, dan jangan berhenti sampai kau mencapai pinggiran desa. Jangan kembali.”
Dia melihat ketidakrelaan di mata William, tetapi juga pengertian. William mengangguk perlahan. “Aku akan pergi, tapi ... berhati-hatilah, Hana.”
Hana tidak membuang waktu lagi. Dengan satu pandangan terakhir pada William yang mulai berjalan tertatih-tatih meninggalkan hutan, dia berbalik dan melesat ke arah yang berlawanan. Dia tidak lagi memancarkan energi penyembuhan. Sekarang, dia memusatkan seluruh indranya, seluruh kekuatan Penjaga-nya, untuk satu tujuan: menemukan Sean.