Batas Kemampuan.

1440 Words
Hana mengikuti jejak energi yang samar—jejak kemarahan, kesedihan, dan kekuatan liar yang hanya dimiliki oleh seorang Werewolf yang sedang kehilangan kendali. Jejak itu membawanya ke perbatasan barat hutan, tempat pepohonan mulai menipis dan bebatuan besar menjulang. Dan, di sanalah dia menemukannya. Sean berdiri di hadapan sebuah batu besar setinggi dua kali tubuh manusia, dengan permukaan yang ditumbuhi lumut dan retakan-retakan kasar. Tapi bukan batu itu yang menarik perhatian Hana, melainkan keadaan Sean. Dia berada dalam wujud setengah serigala. Posturnya lebih besar, berotot, dengan bulu abu-abu perak yang tumbuh lebat di lengan, punggung, dan bagian samping wajah. Telinganya runcing, menggantung di sisi kepala, dan cakar panjang yang tajam tumbuh dari ujung jari-jarinya. Dia sedang mencakari batu itu. Ayunan tangannya meninggalkan goresan dalam di permukaan batu. Suara gesekan kuku terdengar keras dan menyakitkan. Napasnya berat dan keluar seperti uap di udara dingin. Matanya—masih berwarna kuning-emas, tapi kini dipenuhi kegelapan dan penderitaan—terpaku pada batu seolah-olah itulah sumber segala kesedihannya. Hana berhenti beberapa langkah di belakangnya. Hatinya sakit melihat keadaan Sean. Dia tahu apa yang dirasakan Sean—rasa terasing, ketakutan akan diri sendiri, kemarahan pada takdir yang membebaninya dengan bentuk ganda ini. Tapi dia juga tahu bahwa kemarahan seperti ini hanya akan menarik perhatian kekuatan gelap yang mungkin sedang mengintai. “Sean,” panggil Hana lembut, tetapi terdengar jelas di keheningan hutan. Sean berhenti seketika. Tangannya masih terangkat dan cakar berdarah tergantung di udara. Dia tidak menoleh, tapi tubuhnya yang tegang perlahan mulai melunak. Napas beratnya berangsur-angsur menjadi lebih teratur. Hana mendekat perlahan, tanpa rasa takut. Dia tahu Sean tidak akan pernah melukainya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun. Ketika dia sudah berada di sampingnya, dia melihat luka di tangan Sean—kuku-kukunya terkoyak, darah mengalir dari ujung jarinya, bercampur dengan serpihan batu. “Lihat apa yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri,” lirih Hana penuh kepedihan. Sean akhirnya menoleh, bersitatap dengan Hana. Ada perasaan malu di balik kegelapan itu. “Aku ... aku tidak bisa mengendalikannya, Hana. Rasanya seperti ada sesuatu yang mendidih di dalam untuk mencari jalan keluar.” “Aku tahu,” kata Hana sambil mengulurkan tangan. “Biarkan aku membantumu.” Sean menarik napas dalam, tetapi tidak menolak. Dia menyambut uluran Hana dengan jemari penuh luka kemudian Hana memegangnya perlahan. Sentuhan gadis itu lembut dan penuh perhatian. Dia kembali memusatkan energi penyembuhan—meski dia tahu cadangan energinya sudah hampir habis—dan cahaya keperakan yang lebih redup dari sebelumnya mulai memancar dari telapak tangan. Energi itu mengalir ke luka Sean, menutupi goresan dan mempercepat penyembuhan. Sean mengerang pelan, kali ini bukan karena sakit, tetapi karena kelegaan. Dia merasakan energi Hana seperti aliran sungai sejuk yang menyingkirkan kegelapan di dalam dirinya. “Kau terlalu banyak menggunakan kekuatanmu hari ini,” kata Sean sambil memperhatikan wajah Hana yang semakin pucat. Hana tersenyum kecil. “Dan, kau terlalu banyak menggunakan cakarmu. Kita berdua memang bukan ras yang paling bijaksana.” Sean nyaris tersenyum kembali. “Mungkin, itu sebabnya kita cocok.” Saat Hana terus menyembuhkan, perubahan mulai terjadi pada Sean. Bulu-bulu di tubuhnya menyusut perlahan. Cakarnya memendek dan kembali menjadi kuku manusia. Proporsi tubuhnya kembali normal. Dalam beberapa menit, Sean telah sepenuhnya kembali ke wujud manusia—seorang pria muda dengan rambut cokelat acak-acakan, bermata kuning-emas, dan ekspresinya menunjukkan kelegaan. Namun, ketika Sean melihat lebih dekat pada Hana, sesuatu yang aneh menarik perhatiannya. Dari hidung Hana, sesuatu menetes. Bukan darah merah seperti manusia, bukan pula darah keperakan seperti elf murni. Ini adalah darah berwarna hijau terang—hijau seperti daun muda di musim semi, hijau seperti cahaya yang memancar dari inti hutan. Tetesan darah hijau itu jatuh ke rerumputan di bawah kaki mereka. Dan, sesuatu yang ajaib terjadi. Di mana darah itu jatuh, rerumputan yang tadinya layu dan kering tiba-tiba hidup kembali, tumbuh subur, dan dari tengah-tengahnya muncul setangkai bunga yang indah—bunga dengan kelopak transparan yang memancarkan cahaya hijau-perak lembut, sesuatu yang bahkan Sean—sebagai Werewolf yang telah hidup selama puluhan tahun di hutan ini—belum pernah lihat sebelumnya. Sean terkesiap dan membelalak. “Hana, kau baik-baik saja?” Hana mengangkat telunjuk, menyentuh hidungnya, dan melihat darah hijau di ujung jarinya. Dia tidak terkejut, tetapi lebih seperti penerimaan yang penuh kesedihan. “Oh,” bisiknya rendah, “itu mulai lagi.” “Apa maksudmu ‘mulai lagi’?” tanya Sean. Suaranya meningkat karena panik. “Kau tidak bilang ada yang salah denganmu! Apa ini? Sejak kapan? Apa kau terlalu memaksakan diri?” Hana menarik napas dalam. “Darah ini? Dari ibuku, Sean. Aku mewarisi kemampuan dan ... apapun yang dimiliki ibuku dulu.” “Hana, aku tidak bodoh. Sejauh yang aku tahu, baik Werewolf maupun Elf, darah mereka tetap tidak berubah,” protes Sean. “Kebanyakan ... memang tidak,” Hana mengaku. Dia duduk di atas batu saat keseimbangan mulai goyah. “Ibuku bukan Elf biasa. Dia adalah Penjaga sebelum aku dan darah ini ... merupakan tanda kehidupan murni. Energi kehidupan yang terkonsentrasi, tapi itu juga berarti—” Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi Sean bisa membaca yang tersirat. “Berarti cadangan energimu benar-benar habis. Berarti kau menggunakan terlalu banyak kekuatan hari ini. Hana, kau harus kembali ke pondok. Sekarang.” Hana menggeleng, meski gerakannya lemah. “Tidak. Aku harus pergi ke Kawasan Terlarang. Jika ada Werewolf lain, Werewolf bermata merah yang tidak kita kenal di perbatasan barat dan Orc di perbatasan timur, maka pasti ada petunjuk di tempat tertua di hutan ini. Aku harus tahu apa yang sedang terjadi.” “Kau tidak dalam kondisi yang baik untuk pergi ke mana pun!” Sean membentak, penuh kepanikan yang tidak biasa. “Lihat dirimu! Kau hampir pingsan!” “Aku baik-baik saja,” bantah Hana, berusaha berdiri. Tapi begitu dia bangkit, dunianya berputar. Pepohonan di sekelilingnya bergerak-gerak, bumi terasa goyah di bawah kakinya. Dia limbung ke depan. Dengan sigap, Sean melompat dan menangkapnya sebelum dia jatuh. Tanpa berpikir dua kali, Sean mengangkat Hana dengan mudah—tubuhnya yang ringkas ternyata lebih kuat dari yang terlihat—dan menggendongnya di depan d**a. “Sean, turunkan aku,” pinta Hana lemah. “Tidak,” jawab Sean tegas. Dia mulai berjalan cepat menuju pondok Hana di jantung hutan. “Kau selalu merawatku ketika aku terluka. Sekarang, giliranku.” Perjalanan kembali terasa jauh lebih pendek dari yang seharusnya. Sean bergerak cepat melalui jalur-jalur setapak, melewati pohon-pohon tinggi yang seakan membuka jalan untuk mereka. Hana, yang awalnya masih memprotes, akhirnya menyerah pada kelelahan. Kepalanya bersandar di bahu Sean dengan napas pelan dan teratur. Sepanjang perjalanan, pikiran Sean dipenuhi pertanyaan. Darah hijau. Bunga ajaib. Warisan elf yang tidak biasa. Seberapa banyak yang tidak dia ketahui tentang Hana? Seberapa dalam rahasia yang dia sembunyikan? Namun, yang lebih mengkhawatirkannya adalah ancaman yang disebutkan Hana. Werewolf lain yang mengacau? Itu bukan hanya penyusup—itu pertanda buruk. Dalam legenda Werewolf, mata merah adalah tanda kutukan yang sangat tua, kegelapan yang menggerogoti jiwa. Jika makhluk seperti itu berkeliaran di perbatasan Aethelvera— Dan Hana, dengan energi yang terkuras, ingin menghadapinya sendirian. Tidak. Tidak akan terjadi. Sean menggigit bibir kemudian tekad mengeras di matanya. Apapun yang terjadi, dia akan melindungi Hana. Dia berhutang segalanya padanya—tidak hanya karena dia menyelamatkannya berkali-kali, tetapi karena dia adalah satu-satunya yang melihat lebih dari sekadar monster dalam dirinya. Ketika mereka akhirnya tiba di pondok Hana, matahari sudah mulai terbenam. Sean memasuki pondok dengan hati-hati, menidurkan Hana di tempat tidur yang nyaman di sudut ruangan. Dia mengambil selimut yang terbuat dari sutra yang lembut dan menyelimuti Hana. Hana membuka mata, melihat Sean dengan pandangan sayu. “Kau seharusnya membiarkanku pergi ke Kawasan Terlarang.” “Dan, kau seharusnya memberitahuku tentang batas kemampuanmu,” balas Sean. Dia duduk di bangku kayu di samping tempat tidur. Hana diam sejenak. “Aku takut.” “Takut akan apa?” “Takut kau akan melihatku sebagai monster juga.” Tatapan Sean melembut. “Setelah semua yang kau lihat dari diriku—setelah semua bentuk mengerikan yang kau saksikan, semua kemarahan dan ketidakwarasan yang keluar dariku—kau pikir ... entah apapun tentangmu, akan membuatku takut?” Hana tersenyum kecil. “Ketika kau menyatakannya seperti itu...” “Istirahatlah,” kata Sean. “Besok, jika kau sudah pulih, kita akan pergi ke Kawasan Terlarang bersama-sama. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian.” Hana mengangguk perlahan lalu mulai terpejam. “Janji?” “Janji,” tegas Sean. Beberapa menit kemudian, Hana telah terlelap. Sean tetap di sampingnya, menjaga sembari mengamati dalam diam. Dia mengulurkan tangan, terhenti sejenak di udara ketika keraguan tiba-tiba menghampiri, sebelum usapan pelan mendarat di puncak kepala Hana—mengapit sedikit helaian rambut perak yang selalu berkilauan di bawah gemerlap cahaya rembulan. “Aku berjanji akan menjagamu, Hana.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD