Pemulihan Hana.

1503 Words
Udara pagi di Hutan Aethelvera masih menyimpan dingin yang menusuk tulang, meski sinar matahari mulai menembus celah-celah dedaunan. Di dalam pondok kayu yang hangat, Hana duduk di tepi tempat tidur, merasakan sisa-sisa kelemahan masih melekat di persendiannya. Kejadian dua hari lalu masih membekas di benak Hana, pengingat akan batas yang hampir terlampaui. Namun, hari ini napasnya sudah lebih ringan dan cahaya lembut di matanya perlahan kembali. Sean, yang telah berjaga hampir tanpa henti, memperhatikan perubahan kecil itu dengan pandangan waspada. Kekhawatiran yang bersemayam belum sepenuhnya lenyap. Bagaimana jika Hana mengalami hal serupa akibat terlalu memaksakan diri? Dia paham bahwa para Elf memiliki energi penyembuhan alami, tetapi itu tidak berlaku bagi diri mereka sendiri. Selain melakukan pemulihan selayak manusia biasa, perlu lebih banyak waktu untuk menstabilkan energi. “Kau terlihat lebih baik,” ucap Sean, sengaja dibuat datar untuk menyembunyikan gelombang kelegaan yang menyerbu. “Aku merasa lebih baik,” sahut Hana seraya tersenyum kecil. “Terima kasih sudah menjagaku, Sean.” Sean hanya mengangguk singkat. Tiba-tiba, dia berbalik dan berjalan ke meja di sudut ruangan, di mana sebuah kantong kulit kasar tergeletak. “Aku pergi sebentar,” katanya tanpa menoleh. “Pergi? Ke mana?” tanya Hana. Alisnya berkerut. “Mencari sesuatu. Untukmu.” Jawabannya singkat dan sebelum Hana sempat bertanya lebih lanjut, Sean sudah melesat keluar pondok, meninggalkan pintu yang berderit pelan. Hana menghela napas. Dia tahu sikap keras kepala itu dan tidak ada gunanya berdebat. *** Selama tiga hari berikutnya, Sean menghilang pada pagi hari dan kembali saat senja, kadang dengan debu atau lumpur di pakaiannya, kadang dengan goresan halus di lengan. Hana bertanya, tetapi jawabannya selalu samar: “𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘢𝘯,” atau “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘢𝘯.” Hana tahu dia berbohong, tetapi memilih untuk mempercayainya. Pada hari keempat, saat Hana sudah mampu berjalan pelan di sekitar pondok, Sean kembali lebih awal. Wajahnya penuh keringat, tetapi matanya bersinar dengan pencapaian. Di tangannya, kantong kulit itu tampak menggembung. “Ini,” katanya, meletakkan kantong di depan Hana dengan agak kikuk. “Ambilah. Untuk ... memulihkan kekuatanmu.” Hana membuka kantong itu dengan penuh kehati-hatian. Aroma kompleks—manis, pahit, dan segar—langsung memenuhi udara. Di dalamnya, tiga jenis tanaman bersinar dengan cahaya alami mereka sendiri. Stardew Moss, sekumpulan lumut berwarna biru keperakan yang tampak seperti galaksi miniatur. Lumut ini hanya tumbuh di lereng tertinggi The Sleeping Dragon’s Spire, di bebatuan yang terkena sinar pertama matahari, tetapi selalu dibasahi kabut dingin. Getahnya dikenal dapat menstabilkan energi magis. Sean pasti memanjat tebing yang berbahaya untuk mendapatkannya. Pulse-Root, umbi berbentuk aneh, berwarna cokelat kemerahan, yang berdenyut pelan seolah memiliki hidupnya sendiri. Ditemukan hanya di Deep-Rooted Valley, tempat aliran energi bumi paling kuat. Mendapatkannya berarti harus bersaing dengan makhluk penjaga bawah tanah dan merasakan tekanan energi yang bisa membuat hilang kesadaran. Dan, Lunar Petal, bunga indah yang memancarkan cahaya keperakan seperti sinar bulan. Bunga ini mekar hanya satu malam dalam sebulan, di tepi The Lake of Shadows, dan akan layu jika disentuh oleh sinar matahari langsung. Sean pasti berjaga sepanjang malam untuk memetiknya pada saat yang tepat. Hana memandangi bahan-bahan langka dan sulit didapat itu lalu menatap Sean. “Sean, aku tidak memintamu untuk melakukan ini. Sangat berbahaya.” Sean menyilangkan lengan di d**a, mencoba tampak tidak terpengaruh. “Kau selalu meracik ramuan untuk menenangkan transformasi-ku, untuk menyembuhkan lukaku. Kau tidak pernah meminta apa pun. Biarkan aku melakukan ini. Sekali saja.” Tatapan Hana meneduh hingga bulu mata lentiknya menyentuh permukaan pipi yang menghangat. “Baiklah. Bantu aku menyiapkannya.” *** Hana membersihkan setiap bahan. Stardew Moss direndam dalam air embun murni hingga memancarkan cahaya biru samar. Pulse-Root dihancurkan perlahan menggunakan alu batu, denyutnya berangsur menyatu menjadi cairan merah keemasan. Sementara, Lunar Petal dibiarkan mengapung di mangkuk kristal—menghantarkan aroma yang menenangkan. Sean duduk diam di sudut. Dia mengamati setiap gerakan Hana; konsentrasi di wajahnya, alis yang sedikit berkerut, bibir yang melafalkan mantra bangsa Elf. Di saat-saat seperti ini, Hana tampak seperti makhluk dari dunia lain. Tak terjangkau dan begitu menakjubkan. Setelah beberapa jam, ramuan itu selesai dan memancarkan warna ungu kebiruan yang berkilauan, seperti langit senja yang berbintang. Hana menuangkan sedikit ke dalam cawan kecil, memandangi cairan itu sejenak, kemudian menatap Sean dengan senyuman yang mengembang hangat. “Cobalah, Sean,” pintanya seraya menyodorkan cawan yang menampung ramuan. Sean ragu. “Ini untukmu. Untuk memulihkan energimu.” “Hanya seteguk. Aku ingin tahu pendapatmu,” bujuk Hana. Dia agak membungkuk lalu menyelipkan helaian rambut yang tergerai bebas ke balik telinga. Secara tiba-tiba, Sean mengambil cangkir itu. Dia mengendus aromanya—kebiasaan para Werewolf yang telah melekat sejak lama, sebelum meneguk secara perlahan. Dampaknya langsung terasa, tetapi sama sekali tidak seperti yang dia kira. Bukan kehangatan energi, bukan pula sensasi penyembuhan. Sebaliknya, rasa geli yang aneh menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuhnya. Dia merasakan telinganya—bukan telinga manusia biasa—bergerak, memanjang, dan menjadi runcing, berdiri tegak di atas kepalanya. Di pangkal tulang belakangnya, sesuatu yang lama terpendam muncul dengan sendirinya: ekor berbulu lebat, abu-abu keperakan, yang bergoyang-goyang hampir tanpa kendali. Sean membeku. Matanya membelalak. Dia menepuk-nepuk kepala, merasakan bentuk telinga yang baru, lantas menoleh untuk melihat ekornya yang bergerak-gerak cepat seakan memiliki kehidupan sendiri. “Apa—apa ini?!” teriaknya, bernada tinggi karena shock. Hana tidak bisa menahan lebih lama lagi. Tawa lembut, seperti gemerisik daun, lolos dari celah bibirnya. Dia menutup mulut oleh tangan, tetapi bahunya tetap berguncang. “Hana!” geram Sean. Wajahnya memerah karena campuran rasa malu sekaligus bingung. Ekornya mengibas-ngibas dengan gusar. “Maaf! Maaf!” Hana masih tertawa. Dia terengah-engah hingga matanya berkaca-kaca. “Ramuan itu—oh, Sean. Ramuan itu bukan ramuan pemulih.” “Tentu saja!” bentak Sean, mencoba—dan gagal—untuk mengendalikan ekornya yang bergoyang acak. “Ramuan itu adalah Elixir of Revealing,” jelas Hana sambil berusaha menenangkan diri. “Tidak berbahaya. Hanya ... mengubah seseorang ke dalam wujud asli mereka, dari ras apapun yang mengonsumsinya, sekitar dua puluh persen. Hanya sementara, Sean. Mungkin, bertahan satu hari. Seharusnya, untuk memastikan aliran energiku sudah seimbang, tapi kau meminumnya—” Tawa Hana kembali mendesis. Sean menatap dengan ekspresi cemberut yang dalam. “Jadi, ini ... guyonan?” “Lebih kurang,” sahut Hana ringan. “Lihat, telingamu sangat ... runcing. Dan, ekormu—oh, itu terlihat lucu!” Ekor Sean seakan setuju, bergoyang-goyang dengan gembira, bertolak belakang dengan ekspresi wajah pemiliknya. “Lucu?” Sean mendengus. Dia berusaha untuk tetap duduk secara tegap, tetapi ekornya yang lebat secara naluriah melingkar di sekelilingnya, memberikan kesan yang justru lebih seperti kucing yang sedang kesal daripada serigala garang. “Aku adalah Werewolf, bukan ... bukan setengah-serigala berekor lucu!” Hana berusaha serius, tetapi matanya masih berbinar. “Aku minta maaf, Sean. Sungguh. Aku tidak berniat begitu. Kau sangat bersemangat dengan ramuan itu, dan ... mungkin ada sedikit keinginanku untuk membalas dendam karena kau terlalu keras kepala.” Dia berdiri dan mendekati Sean, yang masih duduk dengan bahu turun dan telinga (yang sekarang runcing) terkulai lesu. Hana mengulurkan tangan dan mengusap kepala Sean. Jemarinya menyentuh rambut cokelat yang acak-acakan kemudian menyelusuri pangkal telinga Sean yang sensitif. Seketika itu juga, segalanya berubah. Bagi Sean, sentuhan Hana bukan sekadar usapan. Itu selayak sambaran petir; gelombang sensasi yang begitu intens, begitu primal, mengalir dari setiap titik di kulit kepalanya, terutama di dasar telinga runcingnya dan menjalar langsung ke seluruh sistem sarafnya. Perasaan yang melampaui kenyamanan—keintiman yang mendadak dan luar biasa yang membuat seluruh tubuhnya menegang. Reaksinya spontan. “Hentikan!” bentak Sean. Suara yang keluar lebih keras dan lebih kasar dari yang dia maksudkan. Dia melompat mundur. Mata kuning-emasnya membelalak penuh keterkejutan yang hampir seperti ketakutan. Ekornya, yang tadi bergoyang, sekarang tegak dan bulu-bulunya berdiri. Hana terhenti. Tangannya masih terangkat di udara. Semua keceriaan barusan lenyap dari wajahnya, digantikan oleh kebingungan sekaligus terluka. “Sean? Aku minta maaf. Aku tidak—” “Aku tahu!” potong Sean. Napasnya agak tersengal. Dia tidak bisa memandang mata Hana. Rasa malu yang membara—atas reaksinya, atas sensasi yang baru saja dia rasakan, telinga dan ekor yang mempermalukannya—membuat dadanya sesak. Dia perlu keluar. Dia perlu udara. “Aku ... aku harus pergi. Menemui kawanan Werewolf sambil melihat keadaan. Dan, akan kubuatkan makan siang untukmu.” “Sean, tunggu—” Namun, Sean sudah berbalik. Dengan gerakan kikuk, dia berusaha menyembunyikan ekornya dan bergegas ke pintu. “Istirahatlah, Hana!” perintahnya, masih terdengar kasar karena emosi yang campur aduk. “Jangan kemana-mana! Aku akan kembali!” Pintu tertutup keras, meninggalkan Hana sendirian di tengah keheningan pondok yang tiba-tiba terasa sangat besar. Dia menatap tangannya—tangan yang baru saja menyentuh Sean, dan menyebabkan reaksi yang begitu tak terduga. Rasa bersalah mulai menggerayangi hatinya, menggantikan tawa yang tadi. Apa yang baru saja terjadi? Apakah dia melanggar batas yang tidak terlihat? Hana masih berdiri, menghadap ke pintu yang bungkam. Perlahan, ujung telinganya meruncing, memanjang hingga menyibak setiap helaian rambut yang semula menghalangi. Partikel-partikel cahaya berpendar dari punggung Hana, menyebar lebih luas dan mengepak ringan udara—membentuk sepasang sayap yang membentang tenang hingga menyentuh dinding pondoknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD